PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Quality Time


__ADS_3

📢📢 BOM KOMENTAR


Seusai pulang dari sekolah, Luri dan Nania tak langsung kembali ke rumah. Mereka sudah meminta izin pada Ayah dan Ibu mereka untuk pergi ke salah satu gedung pusat perbelanjaan guna membeli beberapa barang yang akan di bawa Luri ke luar negeri. Tadinya mereka hanya akan pergi berdua saja, tapi Jovan yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Luri saat sedang menelpon ibunya langsung merengek meminta untuk ikut pergi berbelanja. Alhasil tidak hanya Jovan saja yang mengekor, tapi Galang juga.


"Aku heran sekali pada kalian berdua, Kak Jovan, Kak Galang. Kenapa sih kalian selalu saja mengekor kemana aku dan Kak Luri pergi. Ingin menjadi penguntit atau bagaimana sih?" protes Nania sambil berjalan masuk ke dalam mall. Mereka tadi berangkat dengan menaiki mobil masing-masing.


"Nania, sudahlah. Siapapun bebas untuk berbelanja di sini. Jangan mengomel!" tegur Luri seraya mengelus rambut adiknya. Bisa gawat kalau gadis beracun ini tidak segera di tenangkan.


"Kalau itu aku juga tahu, Kak. Tapi masalahnya mereka berdua datang kemari setelah tahu kalau kita mau berbelanja di sini. Jadi wajarkan kalau aku protes?" sahut Nania sembari melayangkan tatapan sengit ke arah dua kakak kelasnya.


Galang dan Jovan acuh-acuh saja saat mendengar perkataan Nania. Selain karena ingin selalu dekat dengan kedua gadis desa ini, juga karena mereka yang ingin membeli beberapa barang yang masih belum lengkap. Ya, saat Galang dan Luri sama-sama mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri, Jovan akhirnya memutuskan untuk kuliah di tempat yang sama dengan mereka. Dia sudah terlanjur dekat dengan kedua orang ini, jadi memilih untuk kuliah di universitas yang sama, tapi dengan jurusan yang berbeda.


"Oh ya, Jo. Apa kau sudah mendapatkan apartemen yang akan kau tinggali saat sampai di sana nanti?" tanya Luri seraya berhenti di depan toko pakaian musim dingin.


"Semuanya sudah di siapkan oleh Ayahku, Luri. Kau sendiri akan tinggal di apartemen atau di asrama?" jawab Jovan sambil mencuri-curi pandang ke arah Nania yang tengah memperhatikan satu model pakaian dingin yang terpasang di tubuh salah satu manekin. Dia terpana.


Ya ampun, kenapa Nania manis sekali jika sedang tenang begini. Apa iya aku sanggup berada jauh darinya nanti? ujar Jovan dalam hati.


"Aku belum tahu, Jo. Tapi aku akan tinggal di manapun tempat yang di setujui oleh keluargaku. Kalau di tanya, sebenarnya aku ingin tinggal di asrama saja karena aku tidak perlu memikirkan biaya sewa kamar. Akan tetapi tadi kakak iparku menghubungi kepala sekolah untuk menanyakan hal ini. Aku tidak mau di anggap sebagai adik ipar yang tidak tahu diri, jadi memutuskan untuk menanyakan persetujuan dari Ayah dan Ibu dulu. Apapun yang akan di pilih mereka nanti, asal tidak membuat keluargaku banyak pikiran maka aku akan patuh," ucap Luri. "Em, ngomong-ngomong kau ingin mengambil jurusan apa, Jo? Sama seperti aku dan Galang tidak?"

__ADS_1


Tidak ada sahutan. Luri dan Galang kemudian melihat ke arah Jovan, menarik nafas panjang ketika mendapati teman mereka yang sedang asik memandangi Nania. Jovan ternyata sedang membucin.


"Kak Luri, ayo kita masuk ke sana. Mantel itu terlihat sangat bagus, aku ingin mencobanya!" rengek Nania sambil menarik tangan kakaknya untuk masuk ke dalam toko. Dia tidak sadar kalau ada sepasang mata yang tengah menatapnya tak berkedip.


Jovan berjengit kaget saat ada seseorang yang menyenggol pinggangnya. Dia kemudian menoleh, menatap heran ke arah Galang yang tengah tersenyum aneh kepadanya.


"Kenapa kau? Sakit jiwa?" tanya Jovan sarkas.


"Jo-Jo. Bucin ya bucin, tapi ingat kau sedang berada di mana. Untung saja tadi Nania tidak sadar kalau kau sedang memandangnya penuh cinta, bisa mati berdiri kau jika Nania sampai tahu," jawab Galang sambil terkekeh lucu.


"Memangnya sejelas itu ya, Lang?"


Galang mengangguk. Dia lalu memperhatikan Luri dan Nania yang sedang sibuk memilih pakaian sambil tertawa bersama. Tanpa sadar Galang tersenyum, merasa ikut bahagia hanya dengan menyaksikan tawa di bibir gadis desa tersebut.


"Aku tidak munafik, bodoh. Dari awal kan kau sudah tahu kalau aku sangat tergila-gila pada Luri. Jadi wajarkan kalau aku seperti ini sekarang? Lihat ke sana, Luri benar-benar sangat cantik saat sedang tertawa seperti itu. Aura di wajahnya sungguh sangat memukau. Aku jadi semakin menyukainya," ucap Galang sambil menunjuk ke arah Luri.


Cepat-cepat dia menurunkan jari tangannya saat gadis desa itu menoleh ke arahnya. Galang kaget.


Jovan segera melihat ke arah yang tadi di tunjuk oleh Galang. Sedetik kemudian wajahnya berubah murung ketika melihat Nania yang sedang heboh berjalan kesana kemari sambil menenteng beberapa pakaian di tangannya. Jovan gelisah, dia takut Nania-nya menjadi milik orang lain saat dirinya sedang menempuh pendidikan di luar negeri.

__ADS_1


"Kenapa kau, Jo? Wajahmu jelek sekali?" tanya Galang keheranan saat menyadari perubahan ekpresi di wajah temannya ini.


"Lang, kira-kira aku dan Nania bisa menjadi pasangan kekasih tidak ya? Aku sanksi dia akan bersedia menungguku pulang dari luar negeri. Bagaimana nanti kalau sampai ada laki-laki lain yang mendekatinya? Menurutmu aku harus bagaimana sekarang, Lang?" sahut Jovan balik bertanya. Hatinya sangat gundah memikirkan kemungkinan seperti itu.


Galang tercengang heran mendengar pertanyaan Jovan. Di antara Jovan dan Nania kan belum terjalin hubungan apa-apa. Lalu kenapa Jovan bisa setakut ini? Aneh.


"Ayo jawab, Lang. Aku sudah hampir mati kebingungan memikirkan masalah ini!" desak Jovan tak sabar.


Jovan memekik kesakitan saat kepalanya di jitak oleh Galang. Dia memelototkan mata, menuntut penjelasan kenapa kepalanya harus menjadi korban.


"Kau ini sebenarnya masih bisa berpikir waras atau tidak sih, Jo. Sekarang aku tanya, apa kau sudah mengungkapkan isi hatimu pada Nania?" tanya Galang tak habis pikir.


"Belumlah. Aku tidak berani mengakui perasaanku pada Nania, Lang. Dia pasti akan langsung menelanku hidup-hidup kalau tahu aku menyukainya. Kau kan tahu sendiri kalau gadis itu hanya menyukai laki-laki yang kaya raya. Sedangkan aku, sekolah saja masih orangtua yang membiayai. Nania pasti akan menghinaku habis-habisan nanti!" jawab Jovan sambil mengelus-elus kepalanya. Rasanya masih sedikit nyeri.


"Sudah tahu begitu lalu untuk apa kau sekhawatir ini memikirkan Nania? Dengar ya, Jo. Saranku lebih baik kau fokus dulu ke kuliahmu saja. Lakukan segala macam cara agar kau bisa cepat kaya dan memiliki banyak aset. Dengan begitu aku yakin Nania akan menempel padamu. Masalah apakah dia akan jatuh ke pelukan laki-laki lain atau tidak, kita serahkan saja pada Tuhan. Tapi aku yakin tidak akan ada laki-laki yang mampu bertahan lama menghadapi ketajaman lidah Nania. Positif thinking saja, suatu saat Nania pasti akan menjadi milikmu. Ingat kata pepatah, usaha tidak akan menghianati hasil. Dan jadikan Nania sebagai tujuanmu di masa depan. Semangat!"


"Andai saja usia Nania sama seperti kita ya, Lang. Aku pasti akan mengikutinya kemana pun dia pergi melanjutkan sekolah. Haihhh, nasib-nasib. Beginilah jika jatuh cinta pada anak-anak!" keluh Jovan sembari menghembuskan nafas dengan kuat.


"Jangan salah, Jo. Nania adalah jenis anak-anak yang mampu menjungkirbalikkan dunia orang dewasa. Meski usianya masih sangat muda, dia sudah mempunyai magnet tersendiri yang mampu menarik lawan jenis dengan sangat kuat. Dia adalah gadis yang sangat mempesona asal kau tahu!"

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Galang mengajak Jovan pergi menuju toko lain. Mereka membiarkan Luri dan Nania menghabiskan waktu bersama untuk memilih pakaian di toko yang sedang mereka singgahi. Anggaplah ini sebagai quality time untuk pasangan adik kakak itu karena sebentar lagi Luri sudah harus berangkat ke luar negeri. Dan Galang pun cukup tahu diri untuk tidak mengganggu kebersamaan kedua gadis desa tersebut.


*****


__ADS_2