PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Malam Yang Panjang


__ADS_3

Di sebuah apartemen, terlihat Jackson sedang berjalan menuju salah satu kamar yang ada di sana. Di tangannya ada sebuah undangan, yang mana undangan tersebut akan dia berikan pada orang yang sedang dia tuju.


Tok tok tok


Sembari menunggu pintu di buka, Jackson mengirim pesan pada calon istrinya. Dia tersenyum saat calon istrinya itu merespon cepat dengan langsung mengirim pesan balasan padanya.


"Hm, kau benar-benar sangat manis, Kayo. Aku jadi tidak sabar ingin segera menikah denganmu," ujar Jackson lirih.


Beberapa detik kemudian pintu apartemen akhirnya terbuka. Gleen yang saat itu sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk langsung menatap aneh begitu melihat siapa tamu yang sedang berdiri di hadapannya.


"Kau, Jack-Gal. Ada apa kau datang malam-malam begini ke apartemenku?" tanya Gleen sarkas.


"Gleen, apa kau ingin aku memelintir lidahmu yang sialan itu?"'sahut Jackson kesal. " Jackson, kalau kau lupa siapa namaku!"


"Cihh, aku juga belum pikun sampai-sampai kau harus menyebutkan ulang namamu," ucap Gleen seraya berdecih acuh. Dia mundur ke belakang kemudian membukakan pintu untuk si tamu tak di undang ini. "Masuklah. Aku khawatir tetangga kamar akan berpikir yang tidak-tidak kalau kita mengobrol di depan pintu seperti ini."


Sambil menahan kesal, Jackson melangkah masuk ke dalam apartemen milik Gleen. Setelah itu dia mengedarkan pandangan, mencari sosok wanita cantik yang sudah dia anggap seperti adik sendiri.


"Lusi sudah tidur. Dia sedang hamil muda, jadi gampang lelah dan mengantuk," ucap Gleen tanggap akan apa yang sedang di cari oleh Jackson. Dia kemudian berjalan menuju dapur untuk membuat minuman.


"Untuk trimester pertama pastikan kalian jangan sering bercinta dulu. Usia kehamilan Lusi sekarang masih rentan keguguran jika terlalu kelelahan," sindir Jackson. Dia adalah dokter, sudah pasti sangat tahu apa yang baru saja dilakukan oleh pasangan pemilik apartemen ini.


Dari arah dapur terdengar suara kekehan dari mulut Gleen. Jackson yang mendengarnya pun hanya diam saja. Terlalu malas untuk meladeni, karena nantinya dia juga akan berada di posisi yang sama seperti pria ini. Bersama Kayo-nya, Jackson akan melewati malam yang panas dan juga panjang. Memikirkan hal tersebut tanpa sadar membuat tubuh Jackson bergelenyar aneh. Segera dia mengalihkan fokus dengan cara membaca undangan yang ada di tangannya.


Sialan, baru membayangkannya saja aku sudah kelabakan seperti ini. Pesonamu benar-benar mengerikan, Kayo, ucap Jackson dalam hati.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau baca, Jack?" tanya Gleen yang datang sambil membawa dua gelas minuman di tangannya. Dia lalu meletakkan minuman tersebut ke atas meja sebelum akhirnya ikut duduk bergabung di sana.


"Setelah Group Ma berulang tahun, aku dan Kayo akan segera melangsungkan pernikahan. Dan aku secara khusus mengundangmu beserta Lusi untuk datang sebagai pihak dari keluargaku," jawab Jackson. "Entah jodoh atau tidak, nantinya kalian akan menjadi keluarga dari calon kakak iparku. Jadi aku ingin membangun hubungan baik sejak dari sekarang."


"Hmmm, memangnya si Casanova itu sudah yakin ingin menjadikan Luri sebagai istrinya? Adik iparku itu masih sangat muda, sedangkan Fedo sudah berumur setengah abad," sahut Gleen sembari mengambil undangan yang di sodorkan oleh Jackson.


"Aku tidak peduli dengan hal itu karena itu bukan urusanku. Yang penting aku sudah menyampaikan maksud kedatanganku ke apartemen ini."


Gleen mengangguk paham. Setelah itu dia membaca dengan seksama undangan di tangannya.


"Gleen?"


"Hmm. Ada apa?"


Kening Gleen mengerut. Dia lalu menatap penasaran ke arah Jackson begitu mendengar kalau si Casanova sedang mengalami masalah.


"Salah satu wanita yang pernah tidur dengannya hamil. Dan besar kemungkinan dialah yang akan menjadi tersangka utama dari ayah bayi itu," lanjut Jackson. "Jika Luri mendengar hal ini kira-kira akan seperti apa reaksinya? Akan tetap memilih Fedo, atau malah akan memilih pergi meninggalkannya."


"Jack, kau tidak sedang bercanda kan? Aku tidak percaya Fedo bisa melakukan kebodohan seperti itu. Dia kan sudah sangat ahli mengeluar-masukkan benih beracun yang ada di tubuhnya. Masa iya dia bisa kecolongan," cecar Gleen tak percaya. "Dan menurutku jika Luri sampai mengetahui hal ini dia pasti tidak akan bereaksi apa-apa. Luri sangat pandai menutupi perasaannya sendiri, aku yakin dia hanya akan diam dan memendam kekecewaannya terhadap Fedo."


"Lalu setelah ini dia akan melanjutkan pendidikan di universitas mana?"


Gleen diam mencerna kata-kata Jackson. Sedetik kemudian barulah dia sadar kalau laki-laki ini sedang mencari tahu tentang adik iparnya. Gleen kemudian teringat dengan pesan istrinya yang mengatakan jika Fedo masih belum mengetahui kalau Luri akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Hal ini sengaja di rahasiakan mengingat kegilaan seorang Fedo Eiji yang sudah pasti akan langsung melarang Luri agar tidak jadi berangkat. Tak mau Jackson memendam curiga, Gleen pun bersikap seolah tidak tahu apa-apa.


"Lusi belum mengatakan apa-apa padaku, Jack. Lagipula Luri kan baru saja menyelesaikan ujian, kami masih belum tahu apakah dia lulus atau tidak," ucap Gleen dengan gaya bicara yang di buat sesantai mungkin. "Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kau membahas tentang Luri? Kau tidak sedang memiliki niat untuk menikung Fedo kan?"

__ADS_1


"Bahkan undangan yang aku berikan masih belum selesai di baca dan sekarang kau malah menuduhku ingin menikung. Aku tidak seserakah itu ingin memiliki dua wanita sekaligus, Gleen!" sahut Jackson datar. Lama-lama emosi juga bicara dengan pria ini.


"Hehehe, aku hanya merasa heran saja, Jack. Kan aneh, yang seharusnya bertanya seperti itu adalah Fedo. Ini kenapa malah kau yang sibuk menanyakan padaku kemana Luri akan melanjutkan pendidikan. Jadi wajarkan kalau aku curiga seperti itu?" ucap Gleen membela diri.


"Aku hanya ingin jaga-jaga saja. Karena seperti yang kubilang tadi kalau salah satu mantan teman tidurnya Fedo hamil."


"Tapi itu belum tentu anaknya Fedo kan, Jack?"


Jackson mengangguk. Dia mengambil minuman di atas meja kemudian menyesapnya perlahan-lahan. Sebenarnya kedatangan Jackson ke apartemen ini selain untuk mengantarkan undangan, juga untuk mencari tahu kemana gadis desa itu akan pergi melanjutkan pendidikan. Ini dia lakukan atas keinginan Kayo, calon istrinya itu terus merasa tidak tenang setelah mengetahui kalau Kanita hamil. Jackson dan Kayo hanya mengambil langkah pencegahan sementara agar nantinya mereka bisa segera pergi menemui Luri jika masalah ini sampai membuatnya salah paham. Ya anggaplah kalau mereka mengikuti kata-kata pepatah yang menyebutkan agar sedia payung sebelum hujan.


"Aku pulang!" ucap Jackson setelah menghabiskan minumannya.


"Hei, kenapa cepat sekali. Duduklah dulu, mari berbincang tentang apa saja yang harus kau lakukan untuk menyambut malam pertamamu bersama Kayo nanti!" cegah Gleen tak rela tamunya pergi.


"Aku dokter. Jadi aku tidak perlu belajar dari siapapun tentang tugasku di malam pertama kami," sahut Jackson acuh.


Gleen tergelak. Dia lalu menatap Jackson dengan pandangan yang begitu horor. Selain berprofesi sebagai seorang dokter, dulunya Jackson kan ....


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku tidak mungkin mengajak Kayo melakukan operasi seperti yang sering aku lakukan di rumah sakit!" ucap Jackson tanggap akan arti tatapan mata Gleen.


"Hehehe, tahu saja kau kalau aku sedang berpikir seperti itu," aku Gleen seraya terkekeh pelan. "Sudahlah, ayo duduk lagi. Kita mengobrol, anggaplah ini sebagai obrolan terakhir sebelum kau berganti status dari pria lajang menjadi seorang suami."


Dan pada akhirnya Jackson memenuhi ajakan Gleen agar tidak pulang dulu. Mereka kemudian mengobrolkan sesuatu yang membuat keduanya tak henti tertawa. Dan obrolan mereka baru terhenti saat waktu sudah menunjukan lewat tengah malam.


*****

__ADS_1


__ADS_2