PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Pria Siaga


__ADS_3

Tepat pukul sepuluh malam Luri dan Nania sampai di rumah. Nania yang tidak terbiasa tidur malam tidak berhenti menguap sejak tadi. Luri yang melihatnya pun segera meminta sang adik untuk beristirahat di kamar. Sementara dia sendiri memilih untuk pergi menuju kamar orangtua mereka untuk melihat apakah ayah dan ibunya sudah tidur atau belum.


"Oh Nona Luri, kau sudah pulang?"


Luri yang saat itu hendak membuka pintu kamar orangtuanya segera menoleh ke belakang. Dia tersenyum ketika mendapati suster yang biasa merawat ayahnya ada di sana.


"Suster belum tidur?" tanya Luri sopan. Dia lalu mengurungkan niat untuk masuk ke kamar ayah dan ibunya.


"Belum," jawab suster dengan raut wajah bersalah. "Begini, Nona Luri. Tadi aku tidak sengaja membuka ponselmu saat membawa masuk pakaian ke dalam kamar. Ponselmu terus berdering, jadi aku memutuskan untuk menjawab karena takut itu adalah panggilan darurat. Maaf atas sikap lancangku, ya?"


"Ya ampun, Sus. Tidak perlu meminta maaf hanya gara-gara menjawab panggilan di ponselku," sahut Luri menertawakan sikap si suster. "Lagipula di ponselku tidak ada sesuatu yang penting. Jadi Suster tidak perlu merasa bersalah seperti ini. Ada-ada saja. Memangnya siapa sih yang tadi meneleponku, Sus?"


"Tuan Fedo, Nona. Dia menanyakan tentangmu yang tidak membalas pesannya."


Luri membulatkan mulutnya begitu tahu kalau Fedolah yang menelpon. Setelah itu dia berpamitan pada suster untuk masuk ke kamarnya. Karena tadi sedang terburu-buru, Luri lupa memberitahu Fedo kalau dia akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Jovan. Tak ingin membuat pria itu semakin khawatir, Luri pun segera melakukan panggilan. Dan tidak butuh waktu lama, begitu tersambung Luri langsung di cecar banyak pertanyaan oleh pria tersebut.


"Halo, sayang. Kau kemana saja, hm? Kenapa tidak membalas pesanku?"


Sebelum menjawab Luri menyimpan tasnya terlebih dahulu. Setelah itu dia mencuci kaki, baru setelahnya naik ke atas ranjang kemudian berbaring menyamping.


"Tadi aku pergi ke rumah sakit menjenguk Jovan, Kak. Dan aku lupa memberitahumu dulu karena Galang sangat mendadak saat mengabariku. Maaf ya membuatmu khawatir," jawab Luri.


"Jadi kau pergi dengan Galang? Kenapa tidak meminta sopir saja untuk mengantarmu pergi ke sana? Nania ikut tidak? Awas saja kalau dia sampai berani membiarkanmu pergi dengan laki-laki lain tanpa pengawalan. Saat aku datang ke Shanghai aku tidak akan memberinya uang jajan."


Nada cemburu begitu kentara di tunjukkan oleh Fedo dari nada suaranya. Luri yang mendengarnya pun tak kuasa untuk tidak tertawa.


"Tenang saja. Aku tidak akan mungkin di izinkan keluar malam tanpa ada Nania bersamaku, Kak. Lagipula kami kan perginya ke rumah sakit, jadi kau jangan berpikir macam-macam pada Galang," ucap Luri.

__ADS_1


"Tetap saja yang pergi bersamamu itu Galang, sayang. Kau tahu kan kalau aku sangat tidak suka padanya?"


"Iya aku tahu. Ya sudah jangan bahas dia lagi, nanti moodmu rusak karenanya. Ngomong-ngomong kau sedang dimana, Kak? Aku seperti mendengar banyak suara mobil di sana!" tanya Luri penasaran.


Dari dalam telepon memang terdengar suara yang lumayan bising. Sepertinya Fedo sedang tidak ada di rumah sekarang. Tapi dimana? Ini kan sudah malam, tidak mungkin Fedo baru pulang kerja kan?


"Oh, sekarang aku sedang berada di parkiran hotel, sayang. Salah satu kolegaku ada yang baru datang ke Jepang. Dan sebagai rekan bisnis yang baik tentu saja aku harus menyambutnya bukan? Jangan cemburu, kolegaku itu laki-laki. Kau tidak perlu cemas."


Luri tersenyum saat Fedo memberikan penjelasan tanpa harus dia bertanya lebih dulu. Kejujuran pria ini semakin membuat Luri yakin akan perasaannya. Tak ingin ketahuan kalau dia sedang bahagia, Luri pun mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain.


"Kau sudah makan malam belum, Kak? Kalau belum, makanlah dulu. Tidak baik membiarkan lambungmu kosong terlalu lama. Nanti kau sakit."


"Uhhhh, perhatian sekali gadisku ini. Sebelum kemari aku sudah makan malam terlebih dahulu. Tenang saja, aku tidak akan membiarkan lambungku sakit yang akan membuatmu menjadi cemas. Aku ini kan pria siaga, panas, dan juga menggoda. Jadi aku tidak akan membiarkan bagian tubuhku ada yang terluka. Calon kekasihmu ini sangat keren, bukan? Hehehe."


Sungguh, kenarsisan pria Jepang ini sangat tidak ada lawan. Luri kembali melanjutkan obrolan dengan Fedo yang tidak berhenti menggodanya. Cukup lama keduanya mengobrol sebelum akhirnya Luri mengakhiri percakapan karena malam yang semakin larut.


"Matikan saja, sayang. Tidak apa-apa. Aku tahu kau butuh istirahat setelah beraktifitas seharian. Ya sudah sana, tidurlah. Jangan lupa mimpi indah ya sayang."


Panggilan terputus setelah Luri mendapat sebuah ciuman jarak jauh dari Fedo. Sambil menepuk pipinya yang merona, Luri turun dari ranjang kemudian masuk ke kamar mandi. Dia perlu membersihkan badan sebelum tidur.


Sementara itu di Jepang, Fedo yang tadi terlihat bahagia saat mengobrol dengan Luri langsung berubah dingin ketika akan keluar dari dalam mobil. Sebenarnya tujuan Fedo datang ke hotel ini bukan untuk menemui kolega bisnisnya. Melainkan ingin menemui Kanita guna memberi pelajaran pada wanita itu. Fedo sudah sangat gerah dengan perbuatan Kanita dan juga ibunya. Apalagi setelah kejadian Nyonya Mili yang membuat kegaduhan di rumahnya, membuat emosi Fedo kian memuncak.


"Harusnya setelah ini kau tidak lagi menggangguku ataupun keluargaku, Kanita. Kalau saja ayahmu dan ayahku tidak berteman baik, sudah sejak lama aku membuat perhitungan denganmu juga ibumu. Tapi sayang, sikap netral ayahmu membuatku bersabar sampai detik ini. Ingat Kanita, hanya sampai detik ini saja. Tapi setelah kita bertemu nanti, aku tidak akan memberi kesempatan apapun padamu. Tidak akan!" ucap Fedo sembari melangkah masuk ke dalam hotel.


Tanpa harus bertanya pada resepsionis hotel, Fedo langsung masuk ke dalam lift. Orang-orang yang mengenal siapa Fedo tampak saling berbisik di belakangnya. Namun hal itu sama sekali tidak membuat Fedo merasa terganggu. Karena dia tengah sibuk menahan amarah yang sudah dia tahan sejak pagi tadi.


Tak lama kemudian sampailah Fedo di lantai yang dia tuju. Dengan langkah lebar dia segera mencari nomor kamar tempat Kanita menginap. Tepat ketika Fedo hendak mengetuk pintu kamar Kanita, pintunya tiba-tiba terbuka. Pandangan Fedo beradu dengan pandangan Nyonya Mili yang langsung melayangkan tatapan sengit ke arahnya.

__ADS_1


"Oh, kau rupanya. Ada urusan apa kau datang kemari, hah! Dasar tidak tahu malu. Tidak anak tidak ibu, kalian sama-sama berharga diri rendah. Menjijikkan!"


Mili sangat kaget saat Fedo tiba-tiba mencekik lehernya dengan sangat kuat. Dia lalu menepuk-nepuk tangan Fedo karena kesulitan bernafas.


"Jangan kira aku tidak berani untuk membunuhmu, Nyonya Mili. Beraninya kau menghina Ibuku. Kau ingin mati ya, hah!" amuk Fedo kemudian dengan kasar menarik ibunya Kanita masuk ke dalam kamar.


Tanpa merasa kasihan sama sekali Fedo langsung mendorong tubuh ibu Kanita hingga menabrak pinggiran ranjang. Tak sampai di situ, dengan marah Fedo kembali mencekik lehernya hingga membuat seluruh wajah wanita ini memerah.


"Astaga Ibu!!" pekik Kanita kaget. Dia langsung keluar dari dalam kamar mandi saat mendengar suara gaduh seperti orang berteriak. "Siapa kau! Lepaskan Ibuku. Kau... Fedo??"


"Ya, ini aku. Kenapa? Kau mau apa kalau aku tidak mau melepaskan ibumu, hah?" tanya Fedo tanpa melepaskan cekikan tangannya.


Kanita bingung. Jujur saja dia sangat takut sekarang. Raut wajah yang di tunjukkan oleh Fedo sama persis dengan yang Kanita lihat ketika Fedo hampir membunuhnya saat berkunjung di perusahaannya waktu itu. Namun melihat ibunya yang hampir mati membuat Kanita menjadi tidak tega. Dia dengan hati-hati mencoba membujuk Fedo. Kanita tidak mau ibunya mati di tangan pria yang sangat di cintainya ini.


"Fed, tolong tenang dulu. Lepaskan Ibuku, kita bisa bicara baik-baik. Oke?" bujuk Kanita sambil menelan ludah.


"Usir wanita brengsek ini sekarang juga. Aku ingin bicara denganmu," sahut Fedo kemudian melepaskan cekikan di leher Ibu Kanita. Dia lalu berjalan ke arah jendela sambil mengendurkan dasi di lehernya.


Mili langsung terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang terasa sangat sakit. Sungguh, dia tidak menyangka kalau Fedo akan seberani ini menyerangnya.


"Ibu baik-baik saja?" tanya Kanita cemas sambil membantu ibunya berdiri.


"Ibu akan melaporkan bajingan itu ke kantor polisi. Berani-beraninya dia menyerang Ibu seperti ini. Ibu tidak terima, Kanita!" jawab Mili dengan nafas terengah-engah.


"Laporkan saja kalau Ibu ingin mati di tangan Fedo. Dia sedang sangat marah, Bu. Tolong jangan menambah masalah. Sekarang lebih baik Ibu pulang dan tunggu kabar dariku. Aku mohon, Bu," bisik Kanita penuh harap. Dia sadar betul kalau keselamatan ibunya akan sangat terancam jika benar-benar melaporkan Fedo ke kantor polisi.


Meski tak rela, Mili akhirnya memilih untuk mengikuti apa kata Kanita. Dia juga masih sedikit trauma kalau-kalau Fedo akan kembali menyerangnya jika dia sampai bertindak gegabah. Sambil menahan sakit, Mili berjalan keluar dari kamar hotel. Membiarkan putri semata wayangnya tetap berada di sana bersama pria yang telah membuatnya jadi seperti ini.

__ADS_1


*****


__ADS_2