
Tidak terasa hari terus berganti bulan dan bulan telah berganti tahun. Tidak terasa pula Luri dan Galang sudah hampir menyelesaikan pendidikan mereka di London. Dan tahun ini adalah tahun terakhir mereka berada di sana.
"Lang, terima kasih banyak ya atas semua kebaikan yang kau beri padaku selama kita tinggal di London. Sungguh, aku tidak tahu harus apa jika tidak ada dirimu," ucap Luri di sela-sela makan siangnya dengan Galang.
Galang yang kala itu tengah mengunyah makanan tak langsung membalasa perkataan Luri. Dia menelan makanannya terlebih dahulu kemudian menyesap minuman yang dia pesan. Sambil menyeka mulutnya, Galang berbicara pada Luri.
"Kau tidak perlu berterima kasih atas apa yang sudah kulakukan untukmu, Luri. Kau tahu kenapa? Karena aku tulus melakukannya," ucap Galang seraya tersenyum penuh maksud.
Hampir lima tahun tinggal dan bersekolah di tempat yang sama dengan Luri membuat perasaan Galang kian membesar setiap harinya. Namun karena melihat Luri yang begitu fokus pada studynya, Galang selalu mengurungkan niat untuk kembali menyatakan perasaannya. Selama ini Galang hanya bisa menunjukkan rasa yang dia miliki dengan cara terus memberikan perhatiannya pada Luri. Dia bahkan selalu menolak para gadis yang ingin mengajaknya berkencan. Sedikit over memang. Tapi apa daya, hati tak bisa di bohongi kalau Galang hanya menginginkan Luri yang menjadi kekasihnya, bukan gadis lain. Dan hari ini Galang berencana mengungkapkan perasaan tersebut pada gadis ini.
"Luri?"
"Hmmm?". Luri menatap Galang. " Ada apa, Lang?"
"Aku menyukaimu. Dan rasa ini masih sama seperti yang kurasakan ketika kita masih SMA dulu," jawab Galang sambil menatap Luri dengan penuh cinta. "Dulu saat kau menolakku, kau bilang kau ingin fokus sekolah dan meraih cita-citamu. Aku mengerti, bahkan aku sangat mendukungmu meski hatiku sedikit kecewa. Tapi sekarang, kau telah berhasil meraih apa yang kau inginkan dan kita tak lagi terbebani oleh tugas sekolah. Jadi bisakah kita menjalin hubungan baru sebagai pasangan kekasih?"
Hening. Galang dan Luri sama-sama terdiam setelahnya. Tak lama kemudian Luri tersenyum, dan senyum itu berhasil menjungkirbalikkan dunia Galang yang saat itu memang sedang menantikan jawaban cinta darinya.
Whaatt? Luri tersenyum padaku? Apa ini artinya dia akan menerimaku sebagai kekasihnya? Astaga, jangtungku berdebar-debar sekali, batin Galang kegirangan.
"Lang, terima kasih karena kau sudah begitu setia pada perasaan yang kau simpan untukku. Benar kalau dulu aku menolakmu karena ingin fokus pada sekolahku, itu fakta!" ucap Luri. Dia sama sekali tidak merasa kaget akan ungkapan hati Galang. Luri sudah siap memberikan jawaban, sekalian memberitahu Galang kalau hatinya telah dimiliki oleh orang lain.
Sebelum melanjutkan perkataannya, Luri menoleh ke arah meja di mana ada seorang mahasiswi cantik tengah makan siang sendirian di sana. Mungkin karena merasa di perhatikan, mahasiswi tersebut menoleh kemudian tersenyum. Dan Luri pun membalas senyumannya dengan perasaan yang begitu gembira. Bagaimana tidak! Mahasiswi yang tengah tersenyum padanya itu adalah seseorang yang sengaja di pekerjakan Fedo untuk mengawasinya selama kuliah di London. Hal ini Luri ketahui karena dia pernah tidak sengaja memergoki mahasiswi tersebut membawa masuk seorang pria dengan pakaian aneh ke dalam apartemennya yang kebetulan berada tepat di sebelah apartmen milik Luri. Dan setiap kali pria aneh tersebut datang, mahasiswi ini selalu mengajaknya pergi jalan-jalan berdua. Entah itu berbelanja, menonton, mendatangi tempat wisata, dan semua biaya di tanggung penuh olehnya. Sebenarnya mereka tidak terlalu dekat, tapi mereka akan seperti saudara jika pria aneh itu muncul. Dari kejadian-kejadian aneh inilah akhirnya Luri menyadari kalau mahasiswi tersebut adalah mata-matanya Fedo. Pria Jepang itu benar-benar tidak kehabisan akal mencari cara agar bisa terus melihatnya di sela-sela larangan kedua orangtua Luri yang meminta Fedo agar jangan mengganggu sekolahnya dulu. Mau bagaimana lagi. Fedo tetaplah Fedo, pria penganut paham aneh di mana menurutnya sebuah larangan adalah perintah yang harus dilanggar.
__ADS_1
"Maaf Lang, jawabanku masih sama seperti saat kita SMA dulu. Aku tidak bisa menerimamu sebagai kekasihku. Namun kali ini alasannya bukan karena aku yang ingin fokus sekolah, tapi karena aku harus menepati janji pada seseorang!"
"Jadi aku di tolak lagi?" tanya Galang sambil tersenyum kecut. Padahal tadi dia sudah berbunga-bunga, siapa yang akan menyangka kalau dia bahagia karena harapannya sendiri.
"Lang, jangan marah. Aku tahu ini menyakiti perasaanmu, tapi mau bagaimana lagi. Kita tidak mungkin kan menjalin hubungan dalam keadaan hati terpaksa? Kau dan aku mungkin tidak bisa menjadi pasangan kekasih, tapi bukan berarti kita tidak bisa menjadi teman!" jawab Luri berusaha menghibur Galang yang lagi-lagi dia buat kecewa. "Sekarang kita sudah sama-sama dewasa. Aku yakin kau pasti bisa mengerti keputusanku!"
"Siapa seseorang itu? Apakah dia sudah lebih dulu menyukaimu sebelum aku? Atau dia adalah seseorang yang baru kau temui setelah kita datang ke London?" cecar Galang ingin tahu. Dadanya serasa di tusuk ribuan belati tajam. Hancur sudah penantiannya selama lima tahun ini. Cintanya benar-benar tidak terbalas.
"Kau mengenalnya. Dan ya, dia sudah lebih dulu menyukaiku bahkan sebelum kita menjadi dekat," jawab Luri. "Namanya Fedo!"
"Fedo?"
Galang langsung meneguk habis minuman miliknya. Sungguh, tidak terpikir sedikit pun kalau pria itu adalah seseorang yang berhasil memenangkan hatinya Luri. Padahal seingat Galang, tak pernah sekalipun Fedo muncul sejak dia dan Luri berada di negara ini. Tapi kenapa Luri bisa begitu yakin menolaknya demi seorang pria yang bahkan tak pernah datang untuk sekedar menjenguknya? Ini aneh, benar-benar sangat aneh.
"Galang, jangan berpikiran buruk tentang kami. Fedo tidak pernah datang kemari karena Ayah dan Ibuku yang melarang. Tapi di balik semua itu, dia adalah orang yang selama ini mempermudah urusan kita di London. Fedo memang tidak pernah datang, tapi perhatian dan dukungannya selalu ada untuk kita berdua. Dan mengenai pemikiranmu tentang alasanku menolakmu ... jujur, aku lebih nyaman kau menjadi sahabatku. Bukan aku tak menghargai usaha dan perjuanganmu menjagaku di sini. Tapi ya itu, aku hanya bisa melihatmu sebagai seorang sahabat. Dan juga, kau itu tidak benar-benar menyukaiku. Kau hanya sebatas terobsesi, kau penasaran mengapa aku bisa tidak tertarik padamu. Benar tidak?" sahut Luri yang akhirnya memberitahu tentang perasaan Galang sebenarnya.
"Aku terobsesi padamu?"
"Ya, rasa yang kau pendam untukku hanyalah sebuah obsesi semata. Kalau kau tidak percaya, coba selami perasaanmu sendiri. Nanti kau pasti akan menyadari semuanya,"
Galang terdiam. Benarkah yang di katakan oleh Luri kalau rasa sukanya hanya sebatas obsesi semata? Tapi bagaimana bisa? Selama ini Galang selalu memprioritaskan Luri sebagai yang utama. Dia bahkan menolak semua gadis yang mengajaknya berkencan karena mereka semua tidak ada yang serupa dengan Luri. Eh, tunggu-tunggu. Kenapa Galang jadi mengukur semua gadis harus sama seperti gadis desa ini?
Ya Tuhan, jadi benar aku hanya terlalu terobsesi pada Luri? Brengsek, kenapa aku baru sadar sekarang, batin Galang syok.
__ADS_1
"Lang, apa sekarang sudah paham?" tanya Luri sambil tersenyum. Dia lalu menyentuh tangan Galang, mengelusnya dengan penuh perasaan. "Tidak apa-apa. Semua itu bukan berarti kau tidak berhak menyukaiku. Karena pada dasarnya mencintai adalah hak semua orang. Jadi kau tidak perlu merasa menyesal ataupun bersalah. Oke?"
"Jadi selama ini aku di permainkan oleh obsesiku sendiri ya?" tanya Galang tak percaya.
"Entahlah, aku bingung bagaimana cara menjawabnya. Yang jelas sekarang kau sudah tahu kalau rasa yang kau simpan bukanlah rasa yang sebenarnya. Jadi saranku mulailah membuka hati untuk gadis yang benar-benar kau sukai," jawab Luri lega karena Galang tidak pergi menghindarinya.
"Apakah harus aku melakukan semua itu?"
"Emm, kita tidak akan pernah tahu kalau tidak mencobanya lebih dulu,"
"Tapi siapa?"
"Galang-Galang, kau ini bagaimana sih. Memangnya kau sudah lupa ya kalau selama kita tinggal di London ada banyak sekali gadis yang mengajakmu berkencan. Cobalah dekati salah satu dari mereka, kemudian tentukan kemana hatimu akan berlabuh!" sahut Luri.
"Kalau aku tetap tidak tertarik pada satupun dari mereka bagaimana?" tanya Galang meragu.
"Berarti sudah saatnya kau mendekati Jovan, Lang," seloroh Luri sambil terkekeh lucu.
Galang mencebik. Setelah itu dia tertawa, tidak menyangka kalau selama ini dia tersesat oleh perasaannya sendiri.
Luri, terima kasih sudah menyadarkan aku. Dan terima kasih juga masih mau tersenyum padaku meski selama ini kau tahu perasaanku padamu hanyalah sebuah obsesi saja. Hmmm, walaupun berat aku akan tetap mendoakan yang terbaik untukmu. Dan untuk Fedo, semoga saja dia adalah yang terbaik untukmu juga, ujar Galang tulus dari dasar hati.
****
__ADS_1