
Sore hari setelah pulang sekolah Luri duduk sambil melihat-lihat bunga yang dia tanam. Entah kenapa pikirannya terus tertuju pada wanita yang siang tadi menyapa Galang. Luri bukannya merasa cemburu, tapi perasaannya seolah mengatakan kalau wanita itu datang untuk bertemu dengannya. Hal ini dia sadari dari raut wajah dan juga sikap Galang yang terlihat berbeda saat Luri menanyakan tentang siapa wanita itu.
"Kalaupun benar wanita itu datang untuk mencariku lalu tujuannya apa? Selama ini aku tidak pernah berhubungan dengan orang asing, aku juga tidak pernah berkumpul dengan kelompok-kelompok tertentu. Tapi kenapa hatiku terus mengatakan kalau ada urusan di antara kami?" gumam Luri bingung.
Luri terus mengingat-ingat apakah sebelumnya dia pernah terlibat masalah atau tidak. Namun sekeras apapun dia berusaha mengingat, tetap saja Luri tidak bisa menemukan apapun. Luri adalah gadis rumahan, dia keluar dari rumah hanya untuk hal-hal penting saja seperti sekolah dan berbelanja. Tapi desakan rasa penasaran di hatinya membuat Luri terus bertanya-tanya. Dia sungguh sangat penasaran.
"Tidak baik seorang gadis duduk melamun sendirian di sore-sore begini."
Nita tersenyum kecil kemudian duduk di samping putrinya. Dia lalu membelai kepala Luri dengan penuh sayang. "Sedang memikirkan apa, hm?" tanya Nita dengan suara yang sangat lembut.
"Ibu ... aku pikir siapa," jawab Luri. "Aku tidak sedang memikirkan apa-apa, Bu."
"Kalau tidak sedang memikirkan apa-apa kenapa tidak menyahut saat Ibu memanggilmu tadi? Apa kau sedang memikirkan Fedo?"
Luri sedikit kikuk saat sang ibu menyebut nama Fedo. Dia takut kalau-kalau ibunya telah mengetahui hubungan mereka. Tak ingin membuat sang ibu penasaran, Luri dengan cepat menepis perkataan itu.
"Bukan tentang Kak Fedo kok, Bu. Ini tentang sekolahku," kilah Luri kemudian tersenyum ke arah sang ibu. "Siang tadi ada seorang wanita asing yang datang ke sekolah kami. Dan wanita itu berbicara dengan Galang. Awalnya sih aku tidak berpikir apa-apa, tapi Galang jadi bertingkah aneh setelahnya. Dia seperti menghindar setiap aku menanyakan tentang tentang wanita itu. Aneh kan."
Kening Nita mengerut setelah mendengar cerita putrinya. Naluri sebagai seorang ibu langsung memberi tanda kalau putrinya sedang dalam masalah. Luri begitu cantik dan pintar, kedua hal ini bisa saja memancing kebencian seseorang di belakangnya. Khawatir kalau putrinya menjadi target seseorang, Nita dengan cepat memberi peringatan. Dia tidak mau putri kesayangannya ini sampai kenapa-napa.
"Sayang, apa kau melihat seperti apa rupa wanita itu?" tanya Nita dengan raut wajah yang sangat serius.
"Em hanya sedikit Bu. Wanita itu menutupi wajahnya menggunakan syal, jadi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas," jawab Luri jujur. "Kenapa Ibu bertanya seperti itu? Apa Ibu juga merasakan hal yang sama sepertiku?"
"Luri, saat ini kita tidak sedang tinggal di desa. Tapi ini adalah kota besar di mana ada banyak modus kejahatan dengan berbagai alasan sepele sebagai pemicunya. Ibu khawatir kalau kau sedang di incar oleh seseorang yang mungkin menyimpan rasa iri padamu di sekolah."
__ADS_1
Jantung Luri berdebar tidak karu-karuan. Kecurigaan ibunya cukup beralasan mengingat statusnya yang masih seorang siswa baru di sekolahnya. Belum lagi dengan kemenangan Luri yang berhasil mendapatkan beasiswa kuliah, sepertinya hal ini memang sedikit berhubungan. Tapi jika pun hal ini benar, kira-kira siapa di antara temannya yang ingin berbuat jahat padanya?
"Apa di sekolah kau mempunyai musuh?" cecar Nita mulai gelisah. Dia bicara sambil menatap wajah putrinya lekat-lekat.
"Tidak, Bu. Aku tidak pernah mempunyai musuh di sekolah. Akan tetapi ada beberapa siswi yang memang sedikit tidak suka padaku. Mereka merasa iri karena aku berteman dengan Galang dan Jovan," jawab Luri ikut merasa tak tenang. "Bu, bukannya tidak baik ya kalau kita berprasangka buruk pada orang lain? Karena belum tentu juga wanita itu memang benar-benar mencariku. Ini hanya sekedar perasaanku saja."
Saat Luri sedang berbincang serius dengan ibunya, dari dalam rumah keluarlah Nania yang datang sambil membawa cemilan di tangannya. Gadis itu terlihat penasaran melihat kakak dan ibunya yang sedang bicara dengan wajah tegang.
"Kak Luri, Ibu, kalian sedang membicarakan apa? Kenapa wajah kalian terlihat tegang seperti melihat hantu?" tanya Nania penasaran. Dia kemudian duduk di sebelah ibunya.
Sebelum menjawab, Nita menimang apakah dia perlu memberitahu putri bungsunya tentang wanita yang sedang mengincar Luri atau tidak. Dia khawatir kalau kekesalan Nania akan langsung meledak begitu di beritahu kalau ada seseorang yang ingin menyakiti kakaknya.
"Kenapa Ibu dan Kak Luri tidak ada yang menjawab sih?" desak Nania heran.
"Nania, kakakmu bilang tadi di sekolah ada wanita asing yang berbicara dengan Galang. Dan kakakmu merasa kalau wanita itu datang untuk mencarinya. Ibu dan kakakmu sedang menebak-nebak apakah wanita itu memiliki niat jahat atau bagaimana. Ibu sangat khawatir, sayang," jelas Nita akhirnya memberitahu putri bungsunya.
Kurang ajar. Jadi nenek peyot itu benar-benar datang ke sekolah lagi? Waahhh, ini tidak bisa di biarkan. Untung saja nenek peyot itu tidak bertemu dengan Kak Luri. Bisa gawat kalau Kak Luri sampai tahu wanita itu adalah mantan kekasihnya Kak Fedo. Mana mereka sudah pernah tidur bersama pula. Haiisshhhh, gara-gara kadal buntung itu sekarang aku jadi panik sendiri. Huuh, gerutu Nania dalam hati.
"Pelan-pelan saja makannya, Nania. Nanti kau tersedak!" ucap Luri khawatir melihat wajah adiknya memerah setelah menelan makanan.
"Kak Luri, apa Kak Galang mengatakan sesuatu padamu?" tanya Nania memastikan.
Luri menggeleng. Dia menatap dengan seksama ke arah adiknya. Ada yang aneh, begitu pikir Luri.
"Bu, malam ini aku ada janji dengan teman-temanku. Boleh tidak kalau aku keluar malam? Satu jam saja. Ya?" rengek Nania sambil mengacungkan jari telunjuk di depan wajah sang ibu.
__ADS_1
Nania berniat pergi menemui Galang. Dia perlu mengajak kakak kelasnya itu untuk bekerjasama melindungi sang kakak dari kejaran si nenek peyot. Sebagai adik yang baik hati, sudah sewajarnya Nania bersikap seperti ini. Dia tidak ingin kakaknya sampai di sakiti.
"Nania, tidak baik seorang gadis keluar malam-malam. Ibu yakin Ayahmu pasti tidak akan mengizinkan," sahut Nita pelan. Sudah menjadi aturan suaminya kalau putri-putri mereka tidak di izinkan keluar malam kecuali untuk hal-hal yang mendesak.
"Tapi Bu, ini demi kesehatan temanku. Siang tadi penyakitnya kambuh, dan dia berpesan pada kami semua kalau malam ini dia ingin di temani. Kasihan dia, Bu. Orangtuanya sedang berada di luar kota, dia di rumah hanya di temani para pelayan saja. Boleh ya Bu, ya?"
Sikap Nania yang tidak biasa ini membuat Luri semakin curiga. Dia mulai menebak kalau Nania sebenarnya sudah mengetahui siapa wanita itu tapi sengaja di tutup-tutupi. Jika benar seperti ini, maka artinya wanita itu tidak ada hubungannya dengan para siswa yang tidak menyukainya di sekolah. Melainkan ada hubungannya dengan Fedo. Ya, pasti ini ada hubungannya dengan pria Jepang itu. Apalagi semalam Fedo juga sempat menyinggung tentang kedatangan wanita yang mengaku sebagai kekasihnya, juga drama aneh yang di tonton oleh Nania. Jika di pikir dengan benar, semua masalah ini memang saling berhubungan. Mungkinkah wanita itu adalah wanita di masa lalunya Fedo?
"Memangnya temanmu itu sakit apa, Nania?" tanya Nita penasaran. Dia iba juga mendengar nasib teman putrinya ini.
"Jantung bocor, Bu. Dan itu sudah sangat parah. Makanya kami semua sepakat untuk pergi menjenguknya nanti malam. Boleh ya, Bu. Ini demi menegakkan kemanusiaan," jawab Nania penuh harap. Dia benar-benar sangat berharap kalau ibunya akan memberikan izin.
"Hmmm, bagaimana ya? Nanti Ibu akan coba tanyakan pada Ayahmu dulu ya. Dan ingat, kau hanya akan di izinkan pergi dengan di antar oleh sopir. Mengerti?"
Nania mengangguk dengan cepat. Setelah itu dia pamit untuk pergi ke kamarnya. Sambil berjalan masuk ke dalam rumah, Nania mengirimkan pesan pada Galang kalau malam ini dia ingin mengajaknya rapat penting. Tak lupa juga dia meminta alamat tempat tinggal kakak kelasnya itu supaya nanti tidak tersesat.
"Ayah, Ibu, Kak Luri.. Tolong maafkan aku karena sudah membohongi kalian semua. Jalan pintas ini terpaksa aku lakukan demi mencegah serangan si nenek peyot itu. Dan para malaikat, tolong jangan catat dosaku ke dalam buku, ya. Semua ini sedang dalam kondisi darurat. Mohon pengertian kalian," gumam Nania lirih.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan komentar...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...