
Luri, Galang dan satu temannya lagi terlihat begitu serius saat mengerjakan soal yang di berikan oleh guru mereka. Ya, saat ini ketiganya tengah berada di dalam ruangan tempat kompetisi di gelar. Meskipun Luri sudah belajar sejak beberapa hari yang lalu, tapi dia masih saja merasa gugup. Bagaimana tidak! Ini adalah titik yang akan menentukan apakah dia akan memenangkan beasiswa itu atau tidak.
Ayo semangat, Luri. Kau harus yakin kalau hari ini kemenangan akan menjadi milikmu. Semangat, demi bisa membantu menyembuhkan orang-orang di luaran sana, batin Luri menyemangati dirinya sendiri.
Ekor mata Galang sesekali melirik ke arah Luri yang duduk tak jauh dari mejanya. Dia tersenyum. Tak peduli apakah nanti dia akan menang atau tidak, yang jelas Galang hanya akan melanjutkan pendidikan di mana gadis desa ini berada. Galang tidak mau terpisah dari Luri, dia ingin mereka terus bersama meski cintanya telah di tolak.
"Baiklah anak-anak, waktu yang tersisa tinggal lima menit lagi. Pastikan kalian telah menjawab dengan benar."
"Baik, Bu," sahut Luri, Galang dan satu temannya dengan kompak.
Ketiga siswa tersebut kembali mengerjakan soal-soal yang ada. Hingga akhirnya waktu yang tersisa pun habis. Sambil menarik nafas panjang Luri berjalan ke meja guru untuk menyerahkan lembar jawaban yang sudah dia kerjakan. Di susul oleh satu temannya kemudian barulah Galang sebagai peserta terakhir. Setelah itu mereka keluar dari dalam ruangan sambil berbincang kecil membahas tentang soal-soal yang mereka kerjakan di dalam.
"Lang, Luri, kalian duluan saja pergi ke kantinnya. Aku ingin ke toilet dulu."
Galang dan Luri menganggukkan kepala. Setelah itu mereka berjalan beriringan menuju kantin. Mengerjakan puluhan soal ternyata menguras tenaga juga. Perut mereka sampai keroncongan di buatnya.
"Luri, di mana kotak makan siangmu? Apa kau lupa membawanya?" tanya Galang yang tidak mendapati kotak makanan berwarna biru langit yang biasanya di tenteng oleh gadis desa ini.
"Oh, tidak Lang. Aku tidak lupa membawanya, tapi aku memang sengaja tidak membawa bekal dari rumah," jawab Luri jujur. "Karena terlalu sibuk belajar aku sampai lupa untuk memasak. Jadi ya sudah, sepertinya siang ini aku akan makan di kantin sekolah saja."
Mata Galang tiba-tiba berbinar terang begitu Luri menjawab kalau hari ini tidak membawa bekal. Kesempatan datang. Ya, akhirnya setelah sekian purnama menunggu kesempatan ini datang juga. Sejak mengenal Luri, Galang begitu ingin mentraktirnya makan. Namun gadis ini selalu menolak karena terbiasa membawa makanan dari rumah. Luri adalah gadis yang sederhana, dia tidak mau menghamburkan uangnya secara percuma.
Dari kejauhan, Nania yang sedang berkumpul dengan teman-temannya langsung berlari menghampiri Galang dan Luri yang tengah berjalan masuk ke dalam kantin. Wajah gadis beracun ini terlihat begitu semangat saat menanyakan tentang kompetisi yang baru saja mereka lewati.
"Kak Luri, Kak Galang, bagaimana? Apa kalian yang menjadi pemenangnya?" tanya Nania menggebu-gebu.
"Masih belum di putuskan siapa yang menang, Nania. Kami bertiga harus menunggu selama beberapa hari ke depan sampai para guru selesai mengoreksi kemudian mengumumkan siapa yang berhak mendapatkan beasiswa tersebut. Begitu," jawab Luri sambil tersenyum melihat tingkah lucu sang adik saat bertanya.
__ADS_1
"Oh, begitu ya. Aku pikir pemenangnya akan langsung di umumkan hari ini juga," sahut Nania sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Hmm, ya sudahlah tidak apa-apa. Tapi aku yakin sekali kalau kalian berdualah yang akan memenangkan beasiswa itu. Secara, kalian itu kan siswa paling pintar di kelas IPA. Pokoknya aku do'akan semoga apa yang kalian inginkan tercapai dengan mudah."
Galang menatap curiga ke arah Nania yang mendadak berubah menjadi begitu baik dengan memberikan doa untuknya dan juga Luri. Dia khawatir kalau gadis beracun ini sedang merencanakan sesuatu yang bisa membuatnya syok setengah mati.
"Kau kenapa, Kak Galang?" tanya Nania heran melihat cara si kakak kelas menatapnya.
"Tidak apa-apa sih. Aku hanya merasa heran saja melihatmu yang tiba-tiba menjadi begitu baik padaku," jawab Galang sekenanya. "Nania, kau tidak sedang merencanakan sesuatu untuk mengerjai aku kan?"
Nania langsung memicingkan mata saat mendengar tuduhan yang di layangkan oleh Galang. Setelah itu muncul niat jahat untuk mengusili sang kakak kelas yang ternyata sedang menaruh curiga terhadapnya.
Beraninya kau menuduhku melakukan hal yang tidak-tidak, Kak Galang. Karena sudah kepalang tanggung jadi jangan salahkan aku kalau fantasi liarmu itu akan aku jadikan kenyataan. Hahhahaa, batin Nania.
"Jangan mulai lagi, Nania. Kakak tahu kau ingin melakukan sesuatu pada Galang," ucap Luri yang langsung tanggap akan senyum aneh di bibir sang adik.
"Ck, Kakak sok tahu sekali sih. Memangnya apa yang ingin aku lakukan pada teman Kakak yang genit ini?" tanya Nania sedikit kesal saat sang kakak mengetahui rencana yang ingin dia lakukan.
Seulas senyum muncul di bibir Galang saat Luri membelanya di hadapan Nania. Sedetik kemudian Galang baru tersadar kalau Jovan tidak ada di antara mereka. Penasaran di mana mantan rivalnya itu berada, Galang akhirnya bertanya pada Nania.
"Nania, Jovan dimana? Biasanya kan dia selalu mengikutimu kemana-mana?"
"Mana aku tahu. Lagipula Kak Jovan itu kan bukan anakku, jadi aku mana tahu di mana dia sekarang. Bukankah yang seharusnya bertanya itu aku ya, Kak? Kalian itu kan best-ti-ver, masa iya kau tidak tahu di mana bestimu berada?" sahut Nania balas bertanya.
Galang dan Luri sama-sama mengerutkan kening saat mendengar perkataan Nania yang sangat aneh. Best-ti-ver? Kosakata macam apa itu? Menggelikan sekali.
"Best-ti-ver itu apa, Nania? Baru kali ini Kakak mendengar kosakata seperti itu?" tanya Luri ingin tahu.
Bukannya menjawab, Nania malah mengaitkan kedua jari telunjuknya kemudian mengarahkannya pada sang kakak. Dia sedang membuat simbol menggunakan kedua jari tangannya untuk mengartikan kata best-ti-ver yang dia maksudkan tadi.
__ADS_1
"Bicaralah dengan jelas, Nania. Kami mana tahu isyarat seperti itu," protes Galang yang tidak paham akan arti dari tindakan adik kelasnya ini.
"Aku sudah membuat kode dengan sebegini jelas dan kalian masih belum paham juga?" pekik Nania tak percaya. "Berat."
"Yakk, bagaimana mungkin kami bisa paham kalau kau hanya mengaitkan kedua jari seperti itu? Setidaknya kau harus menunjukkan kode lain yang bisa di mengerti oleh manusia seperti kami!" sahut Galang tak terima di ejek seperti itu.
Nania mendengus. Setelah itu dia melepaskan tautan tangannya kemudian berkacak pinggang sembari menatap lekat ke arah Galang dan juga kakaknya.
"Best-ti-ver itu singkatan kata, yang artinya best friend forever. Begitu!" jelas Nania kesal. "Tahu tidak apa itu best friend forever?"
"Kalau yang itu sih aku tahu. Lagipula siapa suruh kau membuat kode seperti orang kembar siam. Kalau bicara terus terang begini kan aku dan kakakmu jadi lebih mudah untuk mencerna!"
"Cihhh, alasan saja kau, Kak. Sudahlah, aku malas bicara lama-lama denganmu. Tidak asik!"
Luri dengan patuh mengikuti langkah Nania yang mengajaknya masuk ke dalam kantin. Dia kemudian tersenyum saat teman-teman Nania menyapanya dengan sopan.
"Nania, teman-temanmu ternyata sangat sopan sekali, ya. Kakak jadi tenang membiarkanmu bergaul dengan mereka," ucap Luri setelah duduk di salah satu kursi. Dia lalu melambaikan tangan ke arah Galang yang masih berdiri di tempatnya tadi.
"Sopan? Apa Kakak tidak salah bicara?" tanya Nania kaget. "Mereka sopan? Ohoooo, nanti sepulang sekolah aku akan mengajak Kakak pergi ke dokter mata untuk membeli kaca mata. Bisa-bisanya Kakak menganggap segerombolan anak belatung itu sebagai anak yang sopan. Cacing dalam perutku sampai terpingkal-pingkal mendengarnya, Kak."
"Tapi memang benar kalau mereka sangat sopan, Nania. Tadi kau dengar sendiri bukan saat mereka menyapa Kakak?" tanya Luri yakin dengan apa yang dia lihat.
"Tentu saja aku dengar, Kak Luri-ku tersayang. Teman-temanku melakukan semua itu karena tahu kalau kau adalah kakakku. Jadi mereka mana mungkin berani bersikap kurang ajar pada kakak tertua," jawab Nania menjelaskan. "Sudah ah, aku mau pesan makanan dulu. Kasihan cacing yang tinggal di dalam perutku. Mereka pasti sudah sangat kelaparan."
Galang yang baru bergabung nampak terheran-heran saat Nania memesan makanan dalam jumlah yang cukup banyak. Padahal sebelum dia dan Luri datang ke kantin, gadis ini kan sudah lebih dulu menikmati jajanan bersama dengan teman-temannya yang lain. Namun karena tak ingin menjadi korban ketajaman lidah Nania, Galang memutuskan untuk diam saja. Tak lupa juga dia memberitahu Luri dan Nania kalau dialah yang akan membayar semua makanan mereka. Dan apa kalian tahu seperti apa reaksi Nania? Gadis beracun itu tanpa malu-malu kembali memesan menu makanan yang lain. Ingin marah, tapi itu adalah Nania. Jadi ya sudahlah, lebih baik biarkan saja. Yang penting harga dirinya Galang aman.
*****
__ADS_1
BOM KOMENTAR GENGS BIAR ENTAR SORE EMAK UP LAGI BUAT NEMENIN MALAM MINGGUAN PARA JOMBLO 😅