PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Nasib Sang Casanova


__ADS_3

Fedo berjalan mondar-mandir di dalam kamar saat panggilannya tak kunjung di jawab. Dia gelisah, pikirannya kalut setelah mendengar ucapan Kayo tadi.


"Angkat, Luri. Aku perlu kau mengkonfirmasi kebenaran tentang kompetisi itu. Awas saja kalau sampai dugaan Kayo benar. Malam ini juga aku akan langsung menculik dan menikahimu," gumam Fedo seperti orang gila.


Tepat di panggilan yang ke sepuluh, barulah Luri menjawab teleponnya. Fedo kemudian menarik nafas dalam-dalam sebelum mencecarnya dengan banyak pertanyaan yang sudah berkecamuk sejak tadi.


"Halo sayang, kau kemana saja. Kenapa lama sekali menjawab panggilanku. Apa yang sedang kau lakukan? Dan juga tolong beritahu aku tujuanmu mengikuti kompetisi itu. Kau tahu tidak kalau aku hampir menjadi gila gara-gara memikirkan hal ini?"


Hening. Dari banyaknya pertanyaan yang di layangkan oleh Fedo tak satupun yang mendapat balasan dari Luri. Fedo kemudian menatap layar ponsel, panggilannya masih terhubung. Tapi kenapa gadisnya hanya diam saja? Apa karena dia bicara terlalu cepat?


"Sayang, kau masih di sana kan? Kau dengar aku tidak?" tanya Fedo. Kali ini dia bertanya dengan sangat pelan, khawatir kalau-kalau tidak mendapat respon seperti tadi.


"Kak Fedo, saat kau bertanya tadi kau tidak lupa bernafas kan?" tanya Luri dari seberang telepon.


"Tentu saja aku bernafas sayang. Nafasku hanya akan berhenti kalau kau pergi meninggalkan aku," jawab Fedo membual. Dia kemudian merebahkan tubuh kekarnya di ranjang. Hilang sudah kekhawatiran yang tadi Fedo rasakan begitu dia mendengar suara lembut milik gadisnya.


"Maaf kalau tadi aku lama menjawab telepon Kakak. Aku sedang berada di kamar mandi untuk menyikat gigi dan membersihkan badan. Jangan marah, aku tidak kemana-mana dan tidak sedang bersama orang lain."


"Hmmm, jangan minta maaf padaku, sayang. Kau tidak salah apapun, aku saja yang terlalu berlebihan karena sudah bertanya seperti itu padamu," sahut Fedo sambil mengulum senyum setelah mendengar penjelasan Luri. "Oh ya sayang, bisa tidak kau memberitahuku tentang tujuanmu mengikuti kompetisi? Tadi Ayah menanyakan alasanmu mengikuti kompetisi itu, kemudian Kayo berkata kalau biasanya kompetisi seperti itu dilakukan untuk perlombaan memenangkan beasiswa kuliah di luar negeri. Itu benar atau tidak?"


Jantung Fedo begitu berdebar-debar saat Luri tak kunjung menjawab. Kekhawatiran yang tadi sempat menghilang kini kembali datang. Fedo sungguh tidak siap jika Luri sampai menjawab iya. Jadi sembari menunggu, Fedo berdoa dalam hati kalau tujuan Luri mengikuti kompetisi itu hanyalah untuk keren-kerenan saja. Atau jika tidak untuk mengasah kepintaran antar siswa yang bersekolah di sana.


"Memangnya kenapa Kak kalau benar tujuan kompetisi itu adalah untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri? Bukankah itu adalah suatu pencapaian yang bagus ya? Coba Kakak bayangkan, seorang gadis desa sepertiku bisa mendapatkan beasiswa gratis di sebuah kampus ternama. Pencapaian seperti ini adalah awal yang sangat baik agar aku bisa sesegera mungkin memantaskan diri. Memangnya Kakak tidak mau ya mempunyai kekasih yang memiliki pendidikan tinggi?"


Untuk beberapa saat Fedo seperti terbang ke awang-awang saat Luri menyinggung tentang istri. Istri, sepatah kata yang mampu menjungkirbalikkan perasaan Fedo yang sedang gundah. Fedo baru tersadar dari lamunannya ketika Luri kembali bicara dari balik telepon.

__ADS_1


"Kak, kalaupun benar aku akan kuliah di luar negeri, maka aku sangat berharap kalau Kakak akan mendukungku. Karena ini adalah salah satu jalan untukku meraih kesuksesan yang di idam-idamkan oleh Ayah dan Ibu. Tapi ini hanya perumpamaan saja ya, belum tentu benar."


"Benar atau tidak aku akan tetap merasa keberatan, sayang. Kau di Shanghai saja itu sudah sangat jauh menurutku, apa jadinya nanti kalau kau benar-benar melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Aku jamin aku tidak akan sanggup, sayang."


"Kau ini ada-ada saja si, Kak. Sudahlah, jangan bahas masalah itu lagi, semuanya pasti baik-baik saja. Ngomong-ngomong Kakak sudah makan malam belum? Sekarang sedang apa?"


"Aku sedang merindukanmu, dan tadi aku sudah makan malam bersama Ayah, Ibu dan juga Kayo. Tapi sayang, benarkan kalau kau tidak sedang menutupi sesuatu dariku? Aku sangat takut di tinggal olehmu, aku tidak mau," tanya Fedo yang masih khawatir. Entah kenapa dia merasa kalau Luri sedang memainkan sesuatu di belakangnya. Karena tidak biasanya Luri mengalihkan pembicaraan dengan cepat seperti tadi.


"Kak, yakin saja kalau apapun yang akan kulakukan adalah untuk kebaikan kita berdua. Entah itu aku akan pergi ke luar negeri atau tidak, yang jelas tujuanku hanyalah untuk masa depan. Kakak harus percaya kalau aku tidak akan mengkhianati apa yang pernah aku katakan. Jodoh memang Tuhan yang menentukan, tapi wajib hukumnya untuk kita terus berusaha. Kita sama-sama berdo'a saja ya semoga Tuhan telah mengaturkan nasib baik untuk hubungan kita. Jadi jangan khawatir, oke?"


Fedo diam merenung. Dia semakin yakin kalau Luri sedang menutupi sesuatu hal darinya. Tapi apa? Mungkinkah Galang telah berhasil merebut hatinya? Jika iya, maka bersiaplah terjadi perang dunia ke tiga. Fedo tidak akan pernah rela gadisnya di miliki oleh pria lain selain dirinya. Luri hanya miliknya, karena dialah yang pertama kali melihatnya di Shanghai.


"Kak Fedo, bagaimana kabar Paman Mattheo dan Bibi Abigail? Apa mereka baik-baik saja?"


Bersamaan dengan pertanyaan Luri, pintu kamar Fedo diketuk dari luar. Kesal karena ada yang mengganggu waktunya, Fedo dengan malas berjalan untuk membukanya. Dia lalu menarik nafas panjang begitu melihat senyum jahat di bibir sang adik.


"Sangat. Pergi sana, jangan mengacau!" usir Fedo sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya Kayo.


"Ckckck, kau adalah kakak terkejam yang pernah aku kenal, Kak. Sungguh malang gadis yang akan menjadi istrimu nanti. Aku turut prihatin!"


Kalau saja tidak ingat panggilannya masih tersambung, Fedo pasti akan langsung meneriaki adiknya ini. Benar-benar, entah apa yang di pikirkan oleh Kayo sampai tega bicara seperti itu ketika panggilan masih terhubung dengan Luri. Harga diri Fedo kan jadi sedikit tercemar.


"Luri, kau sebaiknya jangan mau menerima cinta dari pria jahat ini. Kakakku sebenarnya adalah seorang psikopat yang sangat mengerikan, kau bisa kecewa jika tetap bersamanya!" teriak Kayo sebelum akhirnya pergi melarikan diri sebelum kakaknya mengamuk.


"Kayo sangat manis ya, Kak. Hubungan persaudaraan kalian pasti sangat seru."

__ADS_1


"Seru apanya. Memangnya kau tidak dengar tadi bagaimana dia menghancurkan nama baik kakaknya sendiri? Kau jangan salah menilai, sayang. Akan sangat berbahaya jika kita menilai seseorang hanya dari luarnya saja karena cover bisa menipu," sahut Fedo bersungut-sungut sambil menutup pintu kamar. Dia lalu kembali berbaring di ranjang sembari mendengarkan deru nafas Luri yang begitu merdu.


Mungkin karena kebiasaannya yang suka celup sana-sini, lama kelamaan Fedo mulai terbakar gairahnya sendiri ketika pikirannya mulai membayangkan sesuatu yang panas di tubuh Luri. Dia menjadi tidak fokus ketika bagian dari tubuhnya mulai bangun.


Sialan, kenapa aku harus bergairah di saat yang tidak tepat sih. Bisa gawat kalau Luri sampai menyadari suara nafasku yang berubah. Batin Fedo panik sendiri.


"Kak, kau baik-baik saja kan? Kenapa nafasmu terdengar begitu berat? Kau kenapa, Kak?'


Nah, benarkan? Baru saja Fedo membatin sekarang Luri benar-benar menyadari perubahan nafasnya. Tak ingin ketahuan sedang menahan gairah, Fedo berusaha sekuat mungkin untuk mengatur tarikan nafasnya agar kembali normal seperti semula.


"Aku baik-baik saja, sayang. Tadi aku sedang membenamkan wajahku ke atas bantal, makanya nafasku terdengar sedikit aneh. Tenang saja, oke?" jawab Fedo berkilah. Padahal sekarang dia sedang panas dingin menahan sesuatu yang sudah mengamuk di bawah sana.


"Oh, aku pikir kenapa. Sudah ya Kak, ini sudah malam, waktunya untuk kita beristirahat. Besok Kakak masuk ke kantor kan?"


"Iya, sayang. Aku harus bekerja dengan rajin supaya nanti setelah menikah kita dan anak-anak kita tidak kekurangan. Aku calon suami dan ayah yang baik bukan?"


Fedo tertawa terbahak-bahak ketika panggilan langsung di putus sepihak oleh Luri. Dia bisa membayangkan kalau wajah gadis desa itu pasti sudah sangat memerah seperti kepiting rebus. Setelah puas tertawa, Fedo memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi. Dia butuh air dingin untuk menenangkan amukan juniornya yang tidak mau berdamai meski dia sudah berusaha untuk membujuknya.


"Hmm, tidak di sangka seorang Casanova sepertiku harus mandi air dingin malam-malam begini. Tapi ya sudahlah, anggap ini adalah suatu perjuangan mulia. Semangat Fedo, demi cinta gadis desamu," ucap Fedo menyemangati dirinya sendiri sambil menggigil kedinginan di bawah guyuran air shower.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


...πŸ’œJangan lupa untuk selalu dukung keuwuan pasangan felur kita ya gengss...


...πŸ’œIg: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ’œFb: Rifani...


__ADS_2