PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Gadis Nakal


__ADS_3

Kenapa perasaanku terasa tidak tenang ya? Ada apa ini? batin Luri gelisah.


Saat ini Luri dan Nania sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Tadinya Luri berniat mengajak Nania untuk pergi jalan-jalan, tapi Nania menolak dengan alasan kalau tubuhnya sudah kelelahan. Alhasil mereka berdua akhirnya memilih untuk langsung pulang setelah pertandingan itu selesai. Namun ketika sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, tiba-tiba saja perasaan Luri menjadi sangat tidak nyaman. Dia merasa seperti ada sesuatu hal besar yang akan segera terjadi.


"Kak Luri, kenapa diam saja? Ayo jawab!"


Nania langsung menoleh ke arah sang kakak ketika tidak mendengar jawaban apapun darinya. Kening Nania mengerut, dia heran melihat kakaknya yang hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Penasaran gerangan apa yang membuat sang kakak menjadi tidak fokus begini, dengan usil Nania mencolek pinggangnya kemudian tertawa kesenangan begitu kakaknya memekik kaget.


"Hahahaha!"


"Astaga, Nania. Kenapa kau jahil sekali sih!" tegur Luri seraya mengelus dada. Adiknya ini benar-benar ya. Untung saja Luri tidak memiliki riwayat sakit jantung. Kalau ada, dia pasti bisa mati mendadak jika di buat kaget seperti tadi.


Bukannya merasa menyesal karena di tegur oleh kakaknya, yang ada tawa Nania malah semakin kencang. Sungguh, reaksi kaget di wajah kakaknya tadi terlihat sangat lucu. Hal ini seperti mendatangkan hiburan tersendiri untuk Nania yang kebetulan sedang sangat kelelahan.


"Ck, Nania. Berhenti tertawa," protes Luri sedikit kesal. Pikirannya sedang gelisah, dan dia sedikit kurang menyukai sikap adiknya barusan.


"Hehehe, iya-iya," sahut Nania patuh. "Lagipula Kakak juga sih. Aku bicara panjang lebar tapi Kakak malah diam saja saat aku bertanya. Jadi ya sudah, aku colek saja sedikit. Lumayan, untuk hiburan. Hehehe."


Luri menghela nafas. Dia berpaling menatap keluar jendela sambil berpangku dagu. Perasaan tak nyaman itu datang lagi, yang mana membuat dada Luri berdebar dengan sangat kuat.


Kak Luri kenapa ya? Aneh sekali. Tidak biasanya Kak Luri bersikap cuek begini padaku. Apa yang salah ya? ujar Nania dalam hati.


"Kak Luri, Kakak kenapa?" tanya Nania penasaran.


"Kakak tidak kenapa-napa, Nania. Sudah ya, jangan ganggu Kakak dulu," jawab Luri sedikit acuh. Dia sedang tidak berminat untuk membicarakan hal lain karena hati dan pikirannya sedang tidak karu-karuan.

__ADS_1


"Kak Luri, kalau ada masalah cerita saja padaku. Walaupun aku masih kecil, aku bisa kok menjadi pendengar yang baik. Kakak lupa ya kalau menyimpan masalah sendirian itu bisa membahayakan kesehatan mental Kakak?"


Nania bergeser ke sisi kakaknya kemudian mengelus bahunya pelan. Senakal-nakalnya dia, Nania paling tidak bisa melihat kakaknya murung seperti ini. Jadi dia berusaha memposisikan diri sebagai seorang teman, bukan seorang adik.


"Kak, ayo cerita. Jangan malu-malu," desak Nania ketika sang kakak tak kunjung membuka suara.


"Nania, entah kenapa sekarang Kakak merasa sangat gelisah. Tapi Kakak tidak tahu apa penyebabnya," sahut Luri seraya menghela nafas. Dia kemudian berbalik, menatap dalam ke arah Nania yang tengah menatapnya lekat. "Perasaan Kakak sangat tidak nyaman. Semacam ada firasat yang mengatakan kalau akan ada kejadian besar setelah ini. Menurutmu Kakak kenapa ya?"


"Kenapa ya? Aku jadi bingung, Kak," jawab Nania yang malah kebingungan sendiri.


Dan seperti biasa, pak sopir kembali ikut berbicara setelah mendengar percakapan kedua nonanya. Sebagai orang yang lebih tua, pak sopir berusaha memberi pengertian dari rasa gelisah yang sedang di rasakan oleh majikannya itu.


"Maaf menyela, Nona Luri. Jika ada orang yang tiba-tiba merasa tidak nyaman dan gelisah, biasanya itu adalah suatu pertanda kalau akan ada satu kejadian di hidupnya. Hal ini saya ketahui dari pengalaman pribadi."


"Benarkah? Lalu ... lalu apa yang harus aku lakukan, Pak? Kejadian seperti apa yang akan aku alami?" tanya Luri resah.


"Pak sopir benar, Kak. Kakak tidak boleh panik dan berpikiran yang tidak-tidak dulu. Berdoa, minta pada Tuhan agar semuanya baik-baik saja. Bisa juga kan perasaan gelisah yang Kakak rasakan berasal dari rasa lelah karena mengurus semua keperluan untuk kuliah di London? Belum lagi dengan kekhawatiran Kakak saat akan meninggalkan Ayah, Ibu, aku, dan juga Kak Lusi di sini. Semua itu kan sangat menyita waktu yang ada. Iya kan, Pak?" ucap Nania ikut menimpali.


"Iya, Nona Nania. Hal-hal semacam ini bisa saja terjadi ketika pikiran sedang lelah. Jadi saya sarankan lebih baik Nona Luri istirahat saja dulu untuk menenangkan pikiran. Nanti akan saya bangunkan setelah sampai di rumah."


Bola mata Luri bergerak gelisah setelah mendengar perkataan Nania dan sopir mereka. Sungguh, benaknya benar-benar sedang sangat kacau sekarang. Dan Luri yakin perasaan ini bukan berasal dari rasa lelah karena mengurusi banyak hal akhir-akhir ini. Luri percaya bahwa memang benar ada sesuatu yang akan segera dia alami. Entah itu datang dari keluarganya, atau malah datang dari dirinya sendiri. Tak tahan memikirkan hal tersebut akhirnya Luri memilih untuk merebahkan kepala di bahu Nania. Dia butuh ketenangan.


Kenapa Kak Luri bisa sampai segelisah ini ya? Ya Tuhan, tolong lindungi dan lancarkan segala keinginan kakakku yang ingin kuliah ke luar negeri. Dan tolong jauhkan Kak Luri dari semua hal yang bisa membahayakan hidupnya, doa Nania dalam hati.


Sambil mengelus-elus punggung kakaknya, Nania mengajak sopirnya mengobrol. Dia menceritakan tentang pertandingan bela diri saat di sekolah tadi.

__ADS_1


"Tadi itu lawanku sangat berat, Pak. Tubuhnya tinggi besar dan wajahnya terlihat sangat garang. Tapi untungnya aku berhasil mengalahkan dia di detik-detik terakhir. Ya walaupun aku sempat menerima beberapa pukulan darinya," cerita Nania dengan menggebu-gebu.


"Woaahhh, benarkah? Apa pukulannya sangat kuat, Nona?" tanya pak sopir dengan begitu antusias.


"Tentu saja sangat kuat karena mampu membuatku jatuh terpelanting ke belakang. Tapi Bapak tenang saja, aku sudah membalas pukulannya tak kalah kuat. Dan aku berani jamin kalau malam ini dia pasti tidak akan bisa tidur. Tubuhnya pasti sakit semua," jawab Nania sambil tersenyum lebar. Nania seakan lupa kalau malam ini dia juga akan merasakan hal yang sama seperti lawan mainnya tadi.


Nania tersenyum dengan sangat puas saat mendengar pujian dari sopirnya. Telinganya seperti mengeluarkan sayap ketika sopirnya menyebut Nania sebagai seorang gadis yang sangat hebat dan juga kuat.


Saat Nania sedang asik mengobrol dengan sopirnya, ponsel milik sang kakak berdering. Dengan sangat hati-hati Nania mengambil ponsel dari dalam saku kakaknya kemudian melihat siapa yang menelfon.


"Kak Fedo, ck. Mau apa dia menelpon Kak Luri?" gumam Nania sambil berdecak pelan.


Segera Nania menon-aktifkan ponsel saat mendengar lenguhan pelan dari mulut sang kakak. Nania kemudian menelan ludah, dia takut ketahuan oleh kakaknya ini.


"Kau kenapa, Nania?" tanya Luri sambil menutup mulutnya yang ingin menguap. Setelah itu dia tersenyum canggung, baru tersadar kalau tadi dia sempat ketiduran.


"Sudah, lebih baik Kakak tidur lagi saja. Kau terlihat begitu kelelahan, Kak!" bujuk Nania sambil tersenyum manis. Padahal ini hanya alibinya saja agar sang kakak tidak memeriksa ponsel yang sedang dia pegang.


Bukannya kembali tidur, Luri malah menatap lekat ke arah Nania. Dia kemudian mengulurkan tangan. "Kemarikan ponsel Kakak, Nania. Kakak tahu kau sengaja mematikan ponsel agar Kak Fedo tidak bisa menelponku."


"Hah? Jadi Kak Luri tahu ya?" kaget Nania.


"Kau ini ya. Selalu saja jahil pada Kak Fedo. Dasar gadis nakal."


Dengan gemas Luri menoel ujung hidung Nania kemudian mengambil ponselnya yang sudah di non-aktifkan. Dia kemudian melirik ke arah adiknya yang sedang tersenyum seperti tidak memiliki dosa.

__ADS_1


Nania-Nania, kenapa kau menggemaskan sekali sih, batin Luri.


***


__ADS_2