
Gleen dengan langkah cepat berjalan masuk ke sekolah tempat kedua adik iparnya menuntut ilmu. Wajahnya terlihat panik dan gelisah. Tadi saat Gleen sedang berada di perusahaan, tiba-tiba dia di hubungi oleh pihak sekolah yang mana memintanya untuk datang sesegera mungkin. Dan tanpa bertanya apa masalahnya, Gleen segera meluncur kemari tanpa memberitahu istrinya terlebih dahulu. Dia tidak ingin istrinya panik jika tahu kalau salah satu dari adik mereka mengalami sesuatu di sekolah.
"Oh Kak Gleen, kenapa Kakak datang kemari?" tanya Luri kaget melihat kedatangan kakak iparnya. Satu tangannya tampak meremas pinggiran tas dengan kuat. Luri cemas.
"Kepala sekolah kalian menelepon dan meminta Kakak untuk secepatnya datang kemari," jawab Gleen sambil bergantian menatap dua siswa laki-laki yang berdiri di samping adik iparnya. "Luri, apa mereka mengganggumu?"
Kening Luri mengerut. Dia lalu melihat ke arah Galang dan Jovan. Sepertinya kakak iparnya ini salah paham.
"Kalau benar mereka yang mencari gara-gara padamu, Kakak pastikan kedua bajingan ini akan di keluarkan dari sekolah detik ini juga!" ancam Gleen seraya menatap tajam ke arah dua siswa laki-laki tersebut.
"Kak, masalahnya bukan datang dari mereka. Ini namanya Galang, dia teman sekelasku. Dan yang itu namanya Jovan, dia juga temanku tapi kami berbeda kelas!" ucap Luri menjelaskan sembari memperkenalkan kedua temannya pada sang kakak ipar yang terlihat sangat marah. "Memangnya kepala sekolah tidak memberitahu alasan kenapa Kakak diminta untuk datang kemari ya?"
Gleen menggeleng. Setelah itu melintas wajah adik ipar yang satunya lagi di mata Gleen. Dan barulah dia tersadar kalau penyebab dia diminta datang kemari adalah karena gadis nakal itu.
Astaga, kenapa aku tidak kepikiran tentang Nania ya. Luri adalah gadis yang sangat santun dan baik hati, dia mana mungkin berani membuat onar di sekolah. Kali ini entah apalagi yang sudah dilakukan oleh gadis nakal itu. Heran, batin Gleen.
"Kak Gleen, apa Kak Lusi tahu kalau Kakak datang kemari?" tanya Luri penasaran.
"Tidak. Dan sebaiknya kakakmu itu tidak perlu tahu tentang hal ini. Kakak tidak mau membuat kakakmu gelisah," jawab Gleen sambil menarik nafas panjang. "Luri, apa yang sebenarnya terjadi pada adikmu? Apa kebar-barannya kembali menelan korban?"
__ADS_1
"Maaf menyela, Kak. Apapun yang dilakukan oleh Nania tadi, semua itu dia lakukan hanya untuk membela diri. Jadi aku harap Kakak tidak memarahinya nanti," ucap Jovan langsung memberikan perlindungan untuk gadis yang dia sukai. Jovan tidak rela kalau Nania sampai mendapat omelan dari kakak iparnya.
Sebelah alis Gleen terangkat ke atas. Dia menatap seksama ke arah siswa yang dengan terang-terangan berani membela Nania di hadapannya. Dan sebuah pemikiran langsung mencuat di benaknya Gleen. Mungkinkah siswa ini menyukai adik iparnya yang kelewat beracun itu?
"Kak Gleen, Kakak sebaiknya segera masuk ke dalam saja. Kasihan Nania, dia sudah cukup lama berada di sana!" ucap Luri mengingatkan. Dia tidak boleh membiarkan kakak iparnya tahu kalau Jovan menyukai Nania. Bisa gawat nanti.
"Ya sudah Kakak masuk dulu. Kau tetap di sini dan jangan pergi kemana-mana sebelum kami keluar. Mengerti!" sahut Gleen kemudian bergegas mengetuk pintu ruangan kepala sekolah.
Luri mengangguk. Dia lalu menghela nafas sambil melihat ke arah Jovan dan Galang.
Sementara itu di dalam ruangan kepala sekolah, Gleen yang baru saja masuk langsung memperhatikan kondisi adik iparnya dengan sangat teliti. Dia lumayan khawatir kalau-kalau gadis ini telah melakukan baku hantam yang mana membuat bagian tubuhnya cedera.
"Selamat siang, Tuan Gleen. Silahkan duduk!" ucap kepala sekolah sambil mengulurkan tangan dengan ramah. "Terima kasih sudah berkenan datang kemari."
Sebelum menjawab, kepala sekolah melihat ke arah Nania dan Marisa terlebih dahulu. Dia lalu menghembuskan nafas berat.
"Tuan Gleen, memang benar adik anda telah menerima sebuah perlakuan yang tidak mengenakan dari Marisa, siswi yang berdiri di sebelahnya. Mereka berdua bertengkar hebat karena suatu masalah yang menyasar pada tindakan bullying. Juga Nania yang melakukan kekerasan fisik pada siswi tersebut dimana dia ....
"Kak Gleen, aku menyerang anak menor ini karena dia mencari masalah terlebih dahulu. Pertama dia sengaja menabrakkan tubuhnya ke bahu Kak Luri. Dan yang kedua dia menghina Ayah dan Ibu dengan menyebut kalau Ayah dan Ibu tidak becus dalam mendidik aku dan Kak Luri!" ucap Nania dengan berani menyela perkataan kepala sekolah. "Di sini aku dan Kak Luri lah yang menjadi korban. Dan serangan yang tadi aku lakukan hanyalah bentuk pembelaan diri saja, Kak. Aku sama sekali tidak ada niat untuk menyakitinya."
__ADS_1
Nania langsung menatap tajam ke arah Marisa begitu dia selesai bicara. Dia masih tidak terima, pokoknya Nania tidak akan melepaskan anak satu ini dengan suka rela. Keluarganya adalah harta yang sangat berharga bagi Nania, terlebih lagi Ayah dan Ibunya. Jadi apapun caranya Nania bertekad memberi pelajaran yang cukup berat pada kakak kelasnya ini. Dia tidak peduli meski harus di keluarkan dari sekolah sekalipun.
"Lalu apa saja yang sudah kau lakukan untuk membela diri, Nania?" tanya Gleen dengan nada suara yang sangat datar. Sebisa mungkin dia menahan emosinya begitu tahu kalau kedua mertuanya telah di hina oleh seorang gadis ingusan. "Kakak harap jawabanmu tidak mengecewakan."
"Tadinya aku berniat menghajar anak menor ini sampai babak belur, Kak. Tapi Kak Luri, Kak Galang dan Kak Jovan terus menghalangiku. Jadi aku hanya sempat menarik rambutnya saja. Lihat ini, Kak!" jawab Nania sembari memperlihatkan gumpalan rambut yang berhasil dia ambil dari kepala Marisa.
"Ekhmmm Tuan Gleen, saya rasa pertanyaan anda sedikit tidak pantas untuk di ucapkan. Saya tahu apa yang dilakukan oleh Marisa sangat salah, tapi saya juga tidak bisa membenarkan kekerasan yang dilakukan oleh Nania. Tujuan saya mengundang anda kemari adalah untuk mencari jalan penengah dan juga menasehati Nania agar tidak mudah melakukan serangan secara fisik. Karena jika kita tidak bisa menemukan jalan penengah yang baik, saya khawatir keluarga dari Marisa akan menuntut pihak sekolah atas kejadian hari ini!" tegur kepala sekolah tak suka mendengar arah pembicaraan Nania dan kakaknya.
Sebuah smirk jahat muncul di sudut bibirnya Gleen begitu dia mendapat teguran dari kepala sekolah. Adik dan mertuanya di hina dan dia diminta untuk mencari jalan penengah? Oh s*ittt, bukan Gleen namanya jika dia tidak melakukan apa-apa ketika ketenangan keluarganya di usik.
"Nania, lain kali jika ada siswa yang berani mencari masalah lagi entah itu menghinamu atau menghina kakakmu, apalagi merendahkan orangtua kita, langsung saja dorong anak itu dari atas tangga. Dan kalau kau masih merasa belum puas, hajar saja anak itu sampai tidak sadarkan diri. Jangan khawatir, kalau pihak keluarga mereka ingin menuntutmu, maka Kakak siap bertanggung jawab. Keluarga kita sangat terhormat, jangan biarkan siapapun merendahkan kita. Paham!" ucap Gleen sambil menatap tajam ke arah kepala sekolah. "Dan untuk anda, kepala sekolah. Dengan tegas saya memperingatkan anda untuk jangan coba-coba menggertak kami. Percaya tidak, dalam waktu singkat saya bisa membuat anda di depak dari sekolah ini. Saya tahu anda hanya ingin bersikap adil, tapi keadilan yang anda maksud membuat saya merasa sangat tidak puas. Orangtua bukan sesuatu yang boleh di jadikan bahan bully-an. Coba anda bayangkan, dalam usia semuda ini anak didik anda itu bisa mengatai orangtua dari siswa lain dengan begitu rendah. Tidakkah menurut anda sekolah ini sangat krisis moral? Siswa anda itu sakit, kepala sekolah. Saya sarankan sebaiknya anda memberitahu keluarga gadis ini untuk melakukan konseling pada psikiater. Karena jika tidak, saya sendiri yang akan turun tangan langsung untuk mengajarinya!"
"Apa anda sedang mengancam saya, Tuan Gleen?" tanya kepala sekolah mulai panik.
"Ya, dan akan saya lakukan jika anda tidak memberikan sanksi tegas pada siswi ini," jawab Gleen kemudian berdiri. "Nania, ucapkan selamat padanya karena kau tidak akan menerima hukuman apapun dari pihak sekolah. Dan jika besok kau masih melihatnya datang ke sekolah, segera beritahu Kakak karena Kakak akan langsung mendatangi keluarganya."
Wajah Marisa pucat pasi saat Nania mendekat ke arahnya sambil tersenyum mengerikan. Dia langsung menelan ludah saat tangan adik kelasnya ini bertengger di bahunya.
"Bagaimana Marisa, apa kau masih memiliki nyali untuk merendahkan orangtuaku?" tanya Nania. "Aku harap remasan tanganku di kepalamu tadi cukup memberikan rasa nikmat yang bisa kau ingat seumur hidup. Selamat menjalani skorsing ya, kakak kelasku yang cantik. Bay!"
__ADS_1
Tanpa berpamitan pada kepala sekolah Gleen langsung merangkul bahu Nania kemudian mengajaknya keluar dari sana. Jika kalian penasaran mengapa kepala sekolah tidak berani berkutik, jawabannya adalah karena Gleen adalah salah satu penyumbang dana terbesar di sekolah ini. Dia sengaja melakukannya agar Luri dan Nania tidak di pandang remeh karena mereka berasal dari desa. Kalian pasti tahu sendiri lah kalau orang-orang kota selalu memandang orang lain melalui kasta dan latar belakang. Di tambah lagi sekolah ini adalah sekolah paling favorit yang ada di Shanghai. Maka status kekayaan para siswa menjadi tolak ukur dalam pertemanan antar siswa yang bersekolah di sini.
*****