
Setelah semalam melakukan rapat penting bersama Jovan dan Galang, Nania akhirnya bisa merasa sedikit tenang. Pagi ini kebetulan sekolah libur, jadi dia dan kakaknya bisa terbebas dari teror si nenek peyot untuk sementara waktu.
"Nania, bagaimana keadaan temanmu? Apakah sudah membaik?" tanya Nita sembari mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Maksud Ibu apa ya?" tanya Nania bingung mendengar pertanyaan sang ibu.
Nita yang hendak duduk langsung menatap heran ke arah putri bungsunya ini. Aneh, jelas-jelas semalam Nania berpamitan untuk pergi menjenguk temannya yang sedang sakit jantung. Tapi kenapa gadis ini memperlihatkan reaksi yang berbeda?
"Nania, bukankah semalam kau berpamitan pada Ibu untuk pergi menjenguk temanmu yang sedang sakit jantung ya? Kenapa sekarang kau terlihat bingung," timpal Luri pelan. Dia menyadari ada yang tidak beres, tapi Luri memutuskan untuk diam. Luri tak ingin berasumsi tentang sesuatu hal yang tidak ada buktinya. Biarlah, biar waktu saja yang menjawab apakah dugaannya benar atau tidak.
Mampus. Bagaimana bisa aku lupa tentang kebohongan yang aku buat sendiri? Nania-Nania, ayo cepat pikirkan cara agar Ibu dan Kak Luri tidak curiga. batin Nania panik.
"Jangan bilang semalam kau tidak benar-benar pergi ke rumah temanmu, Nania. Ayah akan sangat marah kalau kau sampai berkata bohong!" tegur Luyan tegas.
"A-Ayah, Ayah ini bicara apa sih. Aku itu tidak bohong, aku benar-benar pergi menjenguk temanku kok. Sungguh!" sahut Nania dengan suara tergagap. Nyalinya langsung menciut begitu sang ayah membuka suara.
"Lalu bagaimana keadaannya semalam? Ibumu menanyakan hal itu sejak tadi!" tanya Luyan sambil menatap tajam ke arah putri bungsunya. "Ingat, Nania. Ayah dan Ibu tidak pernah mengajarkan padamu dan juga pada kakak-kakakmu cara untuk berbohong. Mau sepahit apapun resikonya, kita harus selalu berkata jujur. Karena apa? Karena satu kebohongan bisa menjadi pemicu di diri kita untuk kembali melakukan kebohongan lain di kemudian hari. Dan kejahatan kecil seperti ini sangat tidak Ayah benarkan. Paham?"
Dengan tatapan penuh kebimbangan Nania menganggukkan kepala. Dalam hatinya dia terus meminta ampun pada Tuhan karena tidak memiliki keberanian untuk mengakui kebohongan yang sudah dia lakukan. Nania terpaksa melakukan hal ini karena tidak ingin kakaknya terluka, dia tidak mau melihat kakaknya bersedih.
Sambil mengaduk-aduk makanan di piringnya, Nania memberi penjelasan agar ayah dan ibunya tidak lagi merasa curiga. Dia juga terus melirik ke arah sang kakak yang terlihat begitu tenang tanpa menunjukkan reaksi yang berlebihan. Sungguh, terkadang Nania bingung sendiri menghadapi sikap kakaknya yang seperti ini. Dia jadi tidak bisa menebak apakah kakaknya sedang marah atau sedang bersedih.
"Semalam pelayannya bilang kalau keadaan temanku sudah jauh lebih baik Ayah, Ibu. Dia juga tidak perlu di rawat di rumah sakit lagi katanya. Temanku itu memiliki riwayat penyakit jantung bawaan, jadi setiap merasa kelelahan dia akan langsung drop. Aku kasihan sekali padanya," ucap Nania begitu hati-hati saat bicara. Dia menarik nafas pelan, lega karena berhasil berkata bohong dengan sangat lancar.
"Hmmmm, anak yang malang. Di usianya yang masih muda dia sudah harus menanggung kesakitan seperti ini. Beruntunglah karena Tuhan memberikan kesehatan pada kita semua!" ucap Luyan antara prihatin dan juga bersyukur akan nikmat yang di berikan oleh Tuhan pada dia dan keluarganya.
__ADS_1
"Iya, Luyan. Anak itu pasti banyak kehilangan masa mudanya gara-gara sakit. Benar-benar sangat memprihatinkan," imbuh Nita ikut merasa iba.
Luri mengangguk menyetujui keprihatinan yang sedang di tunjukkan oleh orangtuanya. Dia kemudian menoleh ke arah adiknya yang terlihat gelisah setelah bicara. Luri tersenyum.
Nania-Nania, kau itu sangat tidak pandai untuk menjadi seorang pembohong. Meskipun perbuatanmu ini sangat tidak benar, kakak cukup lega karena Ayah dan Ibu tidak menyadari apa yang sedang kau lakukan. Dasar gadis nakal, batin Luri.
"Em Bu, aku boleh bertanya tentang sesuatu tidak?" tanya Nania ragu.
"Boleh-boleh saja. Memangnya putri Ibu yang cantik ini mau bertanya apa sih? Kelihatannya serius sekali," jawab Nita sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Sebelum melanjutkan perkataannya, Nania menelan makanannya terlebih dahulu. Setelah itu dia minum, lalu menatap bergantian ke arah kakak, Ibu, dan juga ayahnya.
"Jika nanti aku ataupun Kak Luri mempunyai calon suami yang memiliki masa lalu gelap, apa yang harus kami lakukan? Tetap menikah dengannya atau pergi mencari calon suami yang baru. Aku tidak ingin bolak-balik menikah, Ayah, Ibu. Aku ingin seperti kalian yang selalu bersama dalam suka dan duka."
"Nania, kau ini bicara apa sih. Lihat, Ayah jadi tersedak kan?" tegur Luri yang sudah berdiri di samping kursi ayahnya. Dia lalu mengambilkan segelas air kemudian menepuk pelan punggung sang ayah. "Pelan-pelan, Ayah. Jangan tersedak lagi."
"Ck, aku ini sedang membicarakan sesuatu yang sangat mengganggu pikiranku, Kak. Aku merasa seperti sedang di teror oleh pernikahan yang gagal," jawab Nania melantur. Gara-gara kebohongan yang tadi dia lakukan, sekarang Nania malah jadi bicara tidak jelas. Ternyata apa yang di katakan ayahnya itu benar kalau satu kebohongan akan memicu diri kita untuk melakukan kebohongan yang lain. Dan sekarang Nania sedang dalam posisi seperti itu. Dia terjebak oleh kenakalan yang dia lakukan sendiri.
"Kau itu masih sangat kecil, Nania. Jadi belum waktunya untuk membahas semua ini. Kakak yang sudah besar saja tidak terpikir ke arah sana. Lalu kenapa kau yang masih bau bayi ini sudah terpikir tentang pernikahan? Lucu sekali."
"Isshhh, aku sudah besar, Kak Luri. Lihat, otot di lenganku sudah menggunung," sahut Nania tak terima. Dia lalu menyingsingkan kaos yang di pakainya kemudian menunjukkan otot yang ada di sana.
"Otot tidak bisa menjadi jaminan kalau kau itu sudah besar, Nania," ucap Luri sambil berjalan ke kursinya. "Usiamu baru seumur jagung. Harusnya kau masih sibuk membicarakan dunia bermainmu, bukan malah membicarakan tentang sesuatu yang masih sangat jauh dari jangkauan. Kau ini ada-ada saja sih."
Nita dan Luyan tertawa saat mendengarkan percakapan putri-putri mereka. Sebenarnya tidak salah sih kalau Nania bertanya seperti itu, hanya saja dia bicara di saat yang kurang tepat. Bahkan Luri yang usianya hampir dua puluh tahun belum pernah sekalipun membahas tentang pernikahan. Sementara Nania ... hmmm, gadis ini benar-benar di luar batas.
__ADS_1
"Sayang, setiap orang pasti memiliki masa lalu mereka sendiri. Begitu juga denganmu dan calon suamimu nanti," ucap Nita mencoba memberi pengertian pada putri bungsunya. "Jika calon suamimu memiliki masa lalu yang gelap, kau tidak harus meninggalkannya. Biarlah itu menjadi history dalam hidupnya, tugasmu hanyalah untuk mengingatkannya agar tidak melakukan hal yang sama ketika sudah bersamamu. Lagipula masa lalu gelap itu terjadi sebelum kalian saling mengenal. Jadi saran Ibu lebih baik di abaikan saja. Ajaklah dia untuk membuka lembaran baru yang jauh lebih baik lagi."
"Apa tidak apa-apa jika seperti itu, Bu? Lalu apa yang harus aku lakukan jika orang-orang dari masa lalu calon suamiku datang untuk merusak kebahagiaan kami?" tanya Nania berlarut akan penjelasan sang ibu. Dia lupa kalau pembicaraannya sedang di cerna oleh seseorang yang duduk di sampingnya. Ya, Nania tidak sadar kalau sekarang wajah sang kakak sudah berubah sendu.
"Sayang, kau sebenarnya kenapa sih. Apa kau sudah ingin menikah, hm?" tanya Nita meledek putrinya. Dia jadi gemas sendiri.
"Iya, Ayah juga heran. Lagipula ya Nania, kau itu kan pandai bela diri. Kenapa tidak langsung kau hajar saja orang-orang yang ingin merusak kebahagiaanmu dan calon suamimu? Ajak mereka untuk berduel. Tenang saja, Ayah pasti akan mendukungmu karena itu adalah salah satu cara untuk menjadi wanita terhormat. Daripada terkoar-koar tidak jelas di media sosial, lebih baik pulang dengan wajah babak belur demi mempertahankan sesuatu yang sudah menjadi hak milik kita. Paham!" sambung Luyan dengan begitu semangat.
"Paham, Ayah. Waahhh, ini adalah ide terkeren yang pernah aku dengar. Berarti hukumnya sah-sah saja ya Yah kalau aku membuat anak orang babak belur?" sahut Nania sambil membunyikan tulang-tulang di jari tangannya. Dia jadi tidak sabar ingin segera menghajar si nenek peyot itu.
Luyan dan Nita menelan ludah. Putri mereka sepertinya salah mengartikan nasehat barusan. Luyan jadi menyesal sendiri karena sudah menyarankan sesuatu yang berbau kekerasan.
"Hehehe, wanita berkelas adalah dia yang di rebutkan, bukan merebutkan. Tapi wanita yang memiliki harga diri tinggi ialah wanita yang bisa mempertahankan miliknya dengan baik. Benar begitu kan, Ayah, Ibuu?" tanya Nania sambil tertawa lebar.
Luri tersenyum melihat adik dan kedua orangtuanya tertawa terbahak-bahak. Dia suka dengan keharmonisan ini. Tapi sayang, semua kata-kata yang di ucapkan oleh Nania akan menjadi story dalam hidupnya. Luri hanya bisa berdo'a agar hatinya kuat dan sabar menghadapi segala cobaan yang mungkin sudah menantinya di masa depan.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan komentar...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1