
Sementara itu di Shanghai, Galang terlihat murung sambil duduk sendirian di teras depan rumahnya. Pikirannya kacau dan hatinya terluka. Sungguh, perasaan ini membuat hati Galang menjadi tidak karu-karuan. Ingin rasanya dia berteriak sekuat mungkin agar rasa sakit di hatinya bisa sedikit berkurang.
"Luri, jadi alasanmu menolakku waktu itu karena kau sudah memiliki seorang kekasih ya? Tapi kenapa kau bilang padaku kalau kau tidak mau pacaran karena ingin fokus mengejar cita-cita? Apa ini artinya, Luri. Kau sengaja mempermainkan perasaanku atau bagaimana?" gumam Galang lirih.
Ya, Galang baru saja menonton berita yang menayangkan tentang seorang pria bernama Fedo Eiji yang terlihat sedang berbincang mesra bersama seorang gadis. Awalnya Galang tidak terlalu menyimak berita tersebut. Akan tetapi setelah Galang tak sengaja melihat foto gadis yang sangat cantik di layar televisi mendadak jantungnya jadi berdetak dengan sangat cepat. Bagaimana tidak! Gadis cantik yang sedang ramai di beritakan itu adalah Luri, si gadis desa yang begitu di sukainya. Sungguh, pada saat itu perasaan Galang menjadi campur aduk antara kecewa, marah, cemburu, dan juga sakit hati. Rasanya sungguh sangat menyakitkan melihat seseorang yang kita sukai tertangkap kamera tengah bermesraan bersama pria lain.
"Tidak-tidak. Aku tidak boleh berpikiran buruk dulu pada Luri. Sebaiknya nanti malam aku pergi ke rumahnya saja untuk meminta penjelasan atas berita ini. Aku yakin Luri bukan gadis yang seperti itu. Ya, itu tidak mungkin!" ucap Galang sambil memukuli keningnya sendiri.
Setelah berkata seperti itu Galang memutuskan untuk pergi ke rumah Jovan. Dia sedang butuh teman bicara sekarang. Dan tanpa membuang waktu lagi Galang segera bersiap kemudian memacu mobil menuju rumah temannya itu.
Selama dalam perjalanan ke sana, Galang tak henti-hentinya berpikir tentang kemungkinan Luri yang akan menjalin hubungan dengan si Fedo itu. Karena di dera rasa penasaran yang begitu besar tentang pria tersebut, Galang akhirnya mencari tahu latar belakangnya melalui internet. Dan hampir saja Galang menabrak mobil lain begitu tahu identitas pria itu.
"Astaga, jadi dia adalah kerabat dekatnya keluarga Ma. Ya ampun, kalau begini aku mana mungkin bisa melawannya," kaget Galang. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan. "Apa ini alasan Luri lebih memilih Fedo ketimbang aku? Tapi masa iya Luri adalah gadis penggila harta. Ah, tidak mungkin. Luri yang aku kenal bukan gadis seperti itu. Dia saja menolak saat aku ingin membayarkan biaya apartemen di London nanti. Ck, Ya Tuhan ... aku ini sebenarnya kenapa sih. Kenapa pikiranku jadi negatif thinking begini ya?"
Karena terlalu fokus berpikir, Galang sampai tidak menyadari kalau dia sudah berada di depan pintu gerbang rumah Jovan. Dia hanya duduk diam di dalam mobil sambil menatap kosong ke arah bangunan rumah Jovan yang begitu megah.
Mungkin karena sudah hafal dengan pemilik mobil yang sedang berhenti di depan gerbang, si penjaga rumah Jovan langsung berlari untuk membukakan pintu. Melihat mobil Galang yang tak kunjung bergerak masuk, si penjaga tersebut akhirnya berjalan mendekat. Dia lalu mengetuk kaca jendela mobil yang mana membuat Galang terperanjat kaget. Setelah itu Galang menurunkan kaca jendela mobilnya, kemudian tersenyum kikuk ke arah penjaga yang tengah menatapnya lekat.
"Tuan Galang, apa kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Emm iya, Paman. Aku baik-baik saja," jawab Galang sedikit malu.
"Oh, syukurlah. Paman pikir tadi kau kenapa karena tidak langsung memasukkan mobil setelah pintu gerbangnya terbuka," sahut si penjaga penuh kelegaan. "Kalau begitu silahkan masuk. Kebetulan Tuan Jovan baru saja pulang setelah keluar bersama Tuan dan Nyonya tadi."
"Baiklah, Paman. Maaf sudah membuatmu khawatir."
Setelah itu Galang segera melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah Jovan. Dia kemudian keluar dari sana lalu melangkah lesu menuju pintu utama rumah tersebut. Sambil menunggu pelayan membukakan pintu untuknya, Galang iseng-iseng mengambil foto Luri yang bertebaran di internet. Kedua bibirnya nampak tertarik ke atas saat membaca komentar orang-orang yang tidak henti memuji kecantikan di diri Luri.
"Kecantikanmu memang tidak ada duanya, Luri. Pantaslah jika laki-laki sekelas Fedo Eiji sampai tergila-gila padamu," gumam Galang lirih.
Tak berapa lama kemudian pintu rumah pun akhirnya terbuka. Namun yang muncul bukan pelayan, melainkan Jovan. Galang kemudian menarik nafas panjang ketika mendapati senyum aneh di bibir Jovan. Dia tahu kalau temannya ini pasti akan langsung mengejeknya.
"Hehehe, tahu saja kau kalau aku ingin mengejekmu, Lang," sahut Jovan sambil terkekeh pelan. "Ayo masuk. Aku tahu penyebab kau datang ke rumahku. Pasti ini berhubungan dengan berita tentang Luri kan?"
Galang mengangguk. Dia dengan gontai mengikuti langkah Jovan yang menyeretnya masuk ke dalam rumah. Setelah itu mereka berdua duduk di ruang tamu.
"Bagaimana? Apa pendapatmu tentang berita yang sedang naik daun itu?" tanya Jovan seraya menatap seksama ke arah sahabatnya yang terlihat begitu lesu.
"Fedo Eiji ternyata adalah kerabat dekatnya keluarga Ma, Jo. Aku sangat kaget begitu mengetahui latar belakangnya," jawab Galang. "Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana, Jo. Di satu sisi aku masih sangat menyukai Luri, tapi di sisi lain aku merasa tidak mampu jika harus bersaing dengan laki-laki itu. Sekarang ini aku hanyalah seorang siswa biasa yang masih membutuhkan uang dari orangtua. Sedangkan Fedo, dia bahkan sudah lama menjadi bos di perusahaan keluarganya. Kalau melihat dari sisi materi aku sangat kalah jauh darinya, dan akan sangat wajar jika Luri lebih memilih dia daripada aku. Benar tidak?"
__ADS_1
"Masuk akal. Akan tetapi aku akan sangat kecewa padamu kalau kau menyerah begitu saja, Lang. Memang sih di antara kalian tidak ada yang tahu siapa yang lebih dulu mengenal Luri, tapi kau harus ingat satu hal kalau Tuhan itu sangat membenci hambanya yang mudah putus asa. Kau pernah dengar tidak kalau hukumnya sah-sah saja untuk kita mengejar cinta seseorang selama orang tersebut belum membina rumah tangga? Ini artinya kau masih memiliki hak untuk membuktikan perasaanmu pada Luri karena dia dan Fedo belum menikah. Jangan patah semangat, Lang. Aku akan membantu sebisaku supaya kau tidak mati karena sakit hati!"
Galang langsung melayangkan tatapan tajam ke arah Jovan setelah mendengar kalimat terakhir yang dia ucapkan. Sungguh, ingin sekali Galang menggeplak kepala Jovan yang sudah berani mengejeknya secara halus. Benar-benar menjengkelkan.
"Kalau dari awal kau hanya ingin mengejekku, ya sudah ejek saja terus. Jangan malah berpura-pura memberi dukungan seolah kau adalah teman yang baik. Bagaimana sih!" protes Galang sambil mendengus kasar.
"Hehehe, iya-iya maaf. Begitu saja kau sudah langsung merajuk, Lang. Pantas saja Luri lebih memilih bersama Fedo. Dia mungkin kurang menyukai sikapmu yang masih kekanak-kanakan," sahut Jovan tanpa sadar kembali melontarkan ejekan.
"Sudahlah, lebih baik aku pulang saja. Sia-sia aku datang ke rumahmu, Jo. Bukannya mendapat pencerahan, yang ada kau malah semakin membuat kepalaku menjadi sakit. Payah kau!"
Setelah berkata seperti itu Galang langsung beranjak pergi dari sana. Dia benar-benar sangat dongkol karena di ejek seperti itu oleh Jovan.
"Eh, jadi Galang benar-benar merajuk ya? Wahh, buruk sekali sikapnya," gumam Jovan keheranan melihat Galang yang pergi sambil bersungut-sungut.
Merasa lucu dengan tingkah temannya yang sedang patah hati itu, Jovan memutuskan untuk menyusul Galang ke depan. Dan dia di buat tertawa terbahak-bahak saat Galang mengacungkan jari tengah ke arahnya sebelum masuk ke dalam mobil. Sungguh, patah hatinya seorang Galang menjadi hiburan tersendiri untuk Jovan. Kasihan sih, tapi ini terlalu lucu untuk tidak di jadikan bahan candaan.
"Lang-Lang, marahmu seperti para gadis yang sedang mengalami PMS saja. Lucu sekali," ucap Jovan kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya. Perutnya menjadi sedikit pegal gara-gara menertawakan kelakuan Galang tadi.
***
__ADS_1