PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ ME-RE-SAH-KAN


__ADS_3

"Wooaahhhh, leganya!" ucap Galang sambil meregangkan otot di tubuhnya.


"Semoga saja kita terpilih untuk menjadi pemenang di kompetisi ini ya, Lang," ucap Luri sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada.


"Pasti kita yang akan terpilih, Luri. Aku yakin itu."


Luri tersenyum mendengar keyakinan yang di ucapkan oleh Galang. Ya, mereka baru saja menyelesaikan kompetisi yang di adakan oleh pihak sekolah. Berkat seringnya Galang dan Luri belajar bersama, mereka tidak menemukan kendala yang menyulitkan ketika sedang mengerjakan soal tadi. Meski cukup menguras otak, nyatanya hal itu tak membuat kedua siswa ini mengeluh. Malah keduanya terlihat begitu senang setelah keluar dari ruangan yang menjadi tempat kompetisi berlangsung.


"Untung saja waktu itu kau setuju untuk belajar bersama denganku, Luri. Jika tidak, di dalam tadi aku pasti mengalami kesulitan untuk menyelesaikan soal-soal itu," ucap Galang.


"Kau berlebihan, Lang. Aku sebenarnya yakin meski tanpa belajar bersama pun kau pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Di antara kita berdua kau jauh lebih pandai dariku, Lang," sahut Luri merendah.


"Mana ada seperti itu, Luri. Mungkin aku memang sedikit lebih pandai darimu, tapi di sini kau memiliki ketelitian yang sangat tinggi. Dari saat kita belajar saja sudah bisa di lihat betapa cerdiknya kau dalam memilih bahasan-bahasan yang kemungkinan besar akan keluar. Dan ternyata semua bahasan yang kau pilih benar-benar muncul di lembar soal tadi. Kau benar-benar luar biasa, Luri. Aku sungguh beruntung bisa memiliki teman yang cerdas sepertimu," puji Galang menggebu.


"Luri, ini untukmu!"


Jovan dengan santainya memberikan sebotol minuman pada Luri yang baru saja keluar dari ruangan. Dia lalu tersenyum miring ke arah Galang yang langsung berwajah masam ketika Luri menerima minuman yang dia beri.


"Terima kasih banyak, Jo," sahut Luri dengan senang hati meminum minuman pemberian Jovan. Dia pura-pura tidak mengetahui kalau Galang sedang cemburu. Begini mungkin lebih baik, begitu pikir Luri.


"Sekarang kau mau kemana dulu, Luri? Ingin langsung ke kelas atau ke kantin," tanya Jovan mulai melakukan pendekatan.


"Emm, sepertinya aku akan ke kelas dulu untuk mengambil bekal makan siangku, Jo. Setelah itu baru aku akan pergi ke kantin. Nania bilang dia ingin makan siang bersamaku," jawab Luri.


Galang dan Jovan tadinya begitu bersemangat saat Luri menjawab akan pergi ke kantin. Namun semangat mereka langsung meredup begitu tahu kalau Nania telah menunggunya di sana. Sejak beberapa hari yang lalu, gadis nakal itu terus saja membuat ulah. Nania tidak henti-hentinya mengacaukan usaha Galang dan Jovan yang ingin mendekati Luri. Alhasil mereka berdua memutuskan menjauh dulu untuk mengalihkan perhatian Nania.


"Hei, ada apa dengan wajah kalian? Sebegitu takutnya saat mendengar nama Nania?" tanya Luri meledek kedua temannya yang berwajah lesu.

__ADS_1


"Hmmmm Luri, maaf jika kata-kataku akan sedikit menyinggungmu. Tapi jujur saja setiap kali ada Nania aku merasa terintimidasi. Tatapannya menyiratkan kalau aku adalah seorang penjahat yang ingin menyakitimu. Padahal kita ini kan teman, bukan musuh," jawab Galang mengeluarkan unek-uneknya.


"Benar yang dibilang oleh Galang, Luri. Aku juga merasakan hal yang sama sepertinya. Sebenarnya adikmu itu kenapa sih. Padahal aku sudah berusaha mendekatinya agar kita bisa berteman baik. Tapi tetap saja dia menatapku seperti seorang musuh. Aku heran sekali," imbuh Jovan ikut berkomentar.


Luri menahan tawa sambil menoleh ke arah lain setelah mendengar aduan kedua temannya. Dia tentu saja tahu kenapa adiknya bisa bersikap seperti itu.


"Jo, bagaimana kalau kau pacari saja Nania. Siapa tahu dia bisa menjadi jinak jika memiliki pawang!" celetuk Galang yang membuatnya menerima satu jitakan keras dari Jovan.


"Apa aku perlu memasang saringan teh di tenggorokanmu agar kau tidak asal bicara, Lang? Yang benar saja kau menyuruhku berpacaran dengan Nania. Yang ada nanti aku menjadi samsak tinjunya setiap hari!" amuk Jovan tak terima.


Galang meringis sambil mengusap bekas jitakan di kepalanya. Setelah itu dia melihat ke arah Luri, mencari tahu apakah gadis ini marah dengan candaannya atau tidak.


"Tenang saja, aku tidak marah pada kalian kok. Aku cukup tahu seperti apa perangai adikku pada kalian berdua selama ini. Jadi ya sudah, jangan ragu untuk mengeluarkan semua keluhan padaku. Aku siap mendengarnya," ucap Luri yang paham akan kekhawatiran di diri Galang.


"Hehe, maaf ya kalau tadi candaanku sedikit berlebihan. Tapi memang seperti itulah yang aku rasakan, Luri. Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik!" ucap Jovan jujur.


Tepat ketika Luri hendak meninggalkan kelas, dia berpapasan dengan Marisa di depan pintu. Luri berhenti, kemudian tersenyum ke arah siswi yang pernah menjadi korban bully adiknya.


"Hai Marisa!" sapa Luri seraya tersenyum ramah.


"Ciihh, jangan berpura-pura baik di depanku, Luri. Aku tidak semudah itu tertipu dengan wajah polosmu," sahut Marisa cetus.


"Kau salah jika berpikir seperti itu, Marisa. Aku sama sekali tidak memakai topeng seperti yang kau tuduhkan barusan. Sejak kecil aku di didik untuk selalu bersikap ramah pada siapapun, termasuk pada orang yang membenciku. Jadi tolong jangan menganggap kalau aku sedang berpura-pura baik di depanmu. Aku memang berasal dari pedesaan, tapi hatiku tidak sepicik itu, Marisa!" tegur Luri dengan nada suara yang lembut. Dia tidak ingin Marisa terus salah paham padanya.


Marisa sedikit tertegun saat menerima teguran seperti itu. Sebenarnya alasan kenapa Marisa begitu membenci Luri adalah karena gadis ini memiliki hubungan dekat dengan Galang. Jujur saja, Marisa sangat cemburu. Sejak kelas 10 Marisa sudah menyukai Galang, dia juga telah berusaha keras untuk menarik perhatiannya. Namun hasilnya nol. Akan tetapi begitu Luri masuk ke sekolah ini, sikap Galang yang tadinya begitu dingin dan cuek mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Kulkas berjalan itu tiba-tiba menjadi anak periang dan murah senyum, tapi itu hanya berlaku untuk Luri. Itulah kenapa Marisa sangat membenci gadis desa ini. Dia merasa kalau Luri telah mencuri Galang darinya.


"Luri, apa yang terjadi?" tanya Galang seraya menatap tajam ke arah Marisa. "Kau lagi kau lagi, Marisa. Kenapa sih kau selalu menggangu Luri. Heran!"

__ADS_1


"Kau jangan sembarangan menuduh, Lang!" sahut Marisa tak terima.


"Aku tidak menuduh, tapi aku melihatnya dengan jelas kalau kau sedang membully Luri. Iya kan?" tandas Galang.


"Kau ....


"Luri, Nania datang mencarimu!" teriak Jovan dari depan pintu kelas.


Marisa langsung panik saat mendengar nama Nania. Dia dengan terburu-buru masuk ke dalam kelas kemudian membaur dengan teman-temannya. Sementara Galang dan Luri, mereka menatap aneh ke arah Jovan yang sedang tersenyum sambil menggaruk rambutnya.


"Sorry, cacing di dalam perutku sudah mengamuk meminta makanan. Jadi aku terpaksa menghentikan perkelahian kalian dengan berbohong kalau Nania datang mencarimu. Hehehe," ucap Jovan tanpa merasa bersalah.


"Ide bagus, bro. Nania bisa menjadi senjata kita untuk mengurus anak-anak yang membully Luri. Baru mendengar namanya saja Marisa sudah langsung kabur, apa jadinya tadi jika Nania benar-benar datang kemari. Aku rasa dia bisa terkencing-kencing di celana!"


"Nania sangat meresahkan ya Bun?" kelakar Jovan.


Setelah berkata seperti itu, Galang dan Jovan tertawa terbahak-bahak. Luri yang melihat kedua temannya seperti orang gila hanya menggelengkan kepala. Dia kemudian mengajak Galang dan Jovan untuk segera pergi ke kantin karena jam istirahat sudah hampir habis.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


βœ…Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanelnya β–ΆMak Rifani, dan disana baru saja up part. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya


πŸ’œJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss


πŸ’œIg: rifani_nini


πŸ’œFb: Rifani

__ADS_1


__ADS_2