PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Jebakan Batman


__ADS_3

Nania berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah sambil terus melihat ke arah jam di tangannya. Ini sudah hampir jam sembilan malam, tapi kenapa kakak-kakaknya masih belum kembali juga dari pesta. Jujur, Nania sangat khawatir. Terlebih lagi pada kakak keduanya yang pergi bersama dengan pria genit itu. Pikiran Nania berkecamuk, dia mulai membayangkan sesuatu yang tidak-tidak terjadi pada sang kakak.


"Haisshhh, apa-apaan sih isi kepalaku ini. Kak Luri kan di jaga oleh Kak Gleen dan Kak Lusi, kenapa juga aku harus merasa panik. Kesannya kan aku jadi terlihat seperti seorang ibu yang sedang menunggu anak gadisnya pulang. Bagaimana sih kau, Nania," gumam Nania sembari menepuk-nepuk kepalanya sendiri.


Ketika Nania tengah dilanda kekhawatiran, dari dalam rumah muncul Nita yang datang sambil membawa segelas air putih di tangannya. Bibirnya nampak tersenyum melihat putri bungsunya yang sedang bergumam sendirian. Paham kalau putrinya ini sedang menunggu kepulangan kedua kakaknya, Nita pun berinisiatif untuk menemani.


"Huhff, ternyata menunggu itu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Ck, kenapa sih mereka lama sekali perginya. Bukankah seharusnya mereka itu langsung pulang ke rumah ya setelah perutnya kenyang?" gumam Nania lagi.


"Datang ke pesta pernikahan itu tujuannya bukan hanya untuk makan, Nania. Tapi para tamu juga diminta untuk ikut menikmati kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh kedua mempelai. Apalagi kan yang menikah ini cukup dekat dengan kakak iparmu, jadi Ibu rasa kedua kakakmu masih belum akan pulang sekarang,", ucap Nita setelah sampai di dekat putrinya. Setelah itu dia memberikan air minum yang di bawanya.


"Tapi ini kan sudah malam, Bu. Selama ini Ayah selalu mengingatkan kalau kami tidak boleh pulang lewat dari jam sembilan malam. Iya 'kan?" tanya Nania kemudian meneguk habis minuman yang di beri oleh ibunya. Setelah itu dia menyeka pinggiran bibirnya sebelum kembali berjalan mondar-mandir seperti yang dia lakukan sejak tadi.


Pucuk di cinta ulam pun tiba. Akhirnya orang-orang yang di tunggu oleh Nania pun muncul juga. Dua buah mobil terlihat bergerak memasuki pekarangan rumah yang mana membuat Nania menarik nafas lega.


"Lihat itu. Kedua kakakmu sudah pulang, jadi jangan mengomel lagi ya?" ledek Nita seraya menyenggol sikut putrinya. Dia merasa tergelitik melihat reaksi di diri putrinya ini.


"Aku tidak mengomel, Ibu. Tapi aku itu sedang mengkhawatirkan Kak Luri saja. Dia dan Kak Fedo itu bukan suami istri, bagaimana kalau mereka berdua sampai khilaf? Kan bahaya," sahut Nania sambil memperhatikan kedua kakaknya yang sama-sama sudah keluar dari dalam mobil.


Gleen, Lusi, Luri, dan juga Fedo tersenyum ke arah dua orang wanita yang tengah menunggu mereka di depan pintu masuk. Setelah itu keempatnya segera datang mendekat.


"Ibu, Ibu kenapa berada di luar? Angin malam sangat tidak baik untuk kesehatan Ibu," tanya Luri setelah sampai di dekat sang ibu.


"Hmmm, tidak apa-apa, sayang. Lagipula kan tidak setiap malam juga Ibu berada di luar begini," jawab Nita. "Oh ya, bagaimana pestanya tadi?"

__ADS_1


"Sangat meriah dan juga mewah, Ibu. Tamu yang datang semuanya adalah orang penting. Iya kan, Kak?" tanya Luri pada kakaknya.


Lusi mengangguk. Setelah itu dia melihat ke arah Fedo yang masih saja memandangi adiknya meski saat ini ibu mereka sedang ada di sana. Sungguh, pria ini benar-benar sangat bucin. Membuat Lusi jadi merasa tergelitik karenanya.


"Kak Fedo, bisa tidak kau kondisikan dulu pandanganmu itu? Di sini kan ada Ibu, tidak sopan memandangi Kak Luri sampai seperti itu. Lihat, air liurmu bahkan sampai menetes keluar!" ucap Nania yang dengan tengilnya mengerjai Fedo.


Fedo langsung gelagapan begitu mendengar ucapan Nania. Segera dia mengelap mulutnya, memastikan apakah benar ada air liur yang menetes atau tidak.


Kurang ajar. Gadis nakal ini mengerjaiku ternyata, batin Fedo kesal.


"Hehehe, apa lihat-lihat?" tanya Nania sambil terkekeh lucu ketika Fedo memelototkan mata ke arahnya.


"Nania, jangan begitu. Fedo itu lebih tua darimu, kau tidak boleh mengerjainya seperti itu. Tidak sopan!"'tegur Nita sambil menghela nafas panjang. Putrinya ini benar-benar ya.


"Bagian mananya yang tidak sopan, Bu? Kan memang benar kalau tadi Kak Fedo terus menatap Kak Luri seperti singa yang kelaparan. Jika tidak percaya tanya saja pada Kak Gleen. Iya kan, Kak?"


"Benar, Bu. Nania tidak salah kok," ucap Gleen.


"Gleen, sejak kapan kau menjadi penghianat begini, hah? Biasanya kau itu kan tidak pernah berada di kubunya Nania, tapi kenapa sekarang kau malah ikut menyerangku? Bosan hidup ya?" protes Fedo sambil menatap jengkel ke arah Gleen yang baru saja memojokannya.


"Sorry, Fed. Kalau berhubungan dengan Luri aku dan Nania akan berada dalam satu kubu yang sama. Jadi maaf, aku tidak bisa membelamu sekarang," sahut Gleen kemudian mengajak Nania untuk high five.


Nita, Lusi, dan juga Luri sama-sama menggelengkan kepala melihat kekompakan di diri Gleen dan Nania. Setelah itu mereka melihat ke arah Fedo yang terlihat tengah menahan kesal karena sudah di pojokkan oleh dua manusia ini.

__ADS_1


"Fedo, mau masuk ke dalam dulu tidak?" tanya Nita dengan ramah menawarkan tamunya untuk singgah terlebih dahulu.


"Tidak usah, Bibi Nita. Ini sudah malam, aku tidak mau mengganggu istirahat Paman Luyan," jawab Fedo dengan sopan menolak tawaran ibunya Luri. Dia cukup tahu diri dengan tidak mengganggu istirahat pemilik rumah.


"Iya benar, kau sebaiknya memang tidak usah mampir, Kak. Kan tadi kau dan Kak Luri sudah puas berduaan di sana. Iya kan?"


Nania bertanya sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Sengaja dia melakukannya untuk menggoda kakaknya yang entah kenapa terlihat begitu bahagia. Nania yakin pasti di antara kedua orang ini telah terjadi sesuatu yang menyenangkan saat di pesta tadi.


"Nania, kau ini bicara apa sih?" ucap Luri sambil melirik ke arah Fedo. Jujur, dia sedikit khawatir kalau-kalau Fedo akan menceritakan apa yang terjadi di taman. Bisa malu tujuh turunan dia.


"Hehehe, cepat sekali sih Kak meresponnya. Aku itu kan sedang bicara dengan Kak Fedo, tapi kenapa malah Kakak yang membalas. Aaaa, aku yakin pasti ada something-something yang terjadi di antara Kakak dengan Kak Fedo. Iya kan? Mengaku sajalah."


Wajah Luri langsung memerah seperti kepiting rebus ketika Nania tak henti menggodanya. Terlebih lagi sekarang Fedo malah ikut tertawa melihat kejahilan adiknya itu. Rasanya Luri ingin masuk saja ke dalam perut bumi untuk menghindar dari semua orang ini. Dia benar-benar sangat malu sekarang.


"Nania-Nania, kau ini ada-ada saja sih. Sudah, jangan goda kakakmu lagi," ucap Lusi sambil mengacak rambut adik bungsunya penuh sayang.


"Rasanya sungguh menyenangkan bisa tertawa bersama seperti ini, Kak. Coba sekarang Kakak lihat wajahnya Kak Luri, itu terlihat seperti buah tomat yang sudah sangat masak. Aku puas sekali melihatnya," olok Nania usil.


Tak tega melihat Luri yang terus dinistakan oleh Nania, Fedo pun segera membela. Dia dengan begitu berani menghampiri Luri kemudian merangkul bahunya.


"Nania, tolong berhenti menggoda calon kekasihku ya. Kalau mau, kau goda aku saja," ucap Fedo tanpa ragu menawarkan diri.


"Apa? Menggodamu? Hahahahahaha, lucu sekali. Dengar ya Kak Fedo, menggodamu itu sama sekali tidak ada untungnya. Kemarin saja kau tidak mau mengapresiasi kinerjaku setelah bekerja sebagai mata-mata untukmu. Lalu apa yang akan aku dapatkan jika nekad menggodamu? Bukannya bahagia yang ada aku malah makan hati. Kau itu kan orangnya sangat pelit, jadi hanya wanita bodoh saja yang mau mendekatimu. Kecuali kakakku," sahut Nania yang dengan entengnya malah mengejek Fedo.

__ADS_1


Semua orang di buat tertawa terpingkal-pingkal begitu Fedo meneguk racun yang keluar dari mulut Nania. Sungguh, ini seperti jebakan batman. Niat hati ingin menjadi seorang pahlawan, tapi Fedo malah harus berakhir malu di tangan seorang gadis bermulut tajam bernama Nania. Sungguh kasihan.


*****


__ADS_2