PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Bermuram Durja


__ADS_3

Mattheo memperhatikan wajah putranya yang terus murung sejak berada di ruang rapat. Di pikirannya sekarang dia tengah menebak-nebak gerangan apa yang sudah membuat putranya jadi tidak bersemangat seperti ini. Apakah karena terlalu memikirkan banyaknya pekerjaan atau karena sedang memikirkan pertengkarannya dengan Kanita kemarin siang. Sebagai ayahnya, Mattheo tentu saja cemas karena selama ini Fedo tidak pernah bermuram durja. Buaya darat ini selalu penuh semangat, apalagi jika sudah membahas tentang wanita. Binar-binar gairah terlihat jelas di mata dan juga di wajahnya.


"Apa iya aku harus mengajaknya pergi ke club agar moodnya kembali membaik? Tapi jika Abigail sampai tahu aku mengajak Fedo pergi kesana maka aku pasti akan langsung menjadi duda tua yang menyedihkan. Haisshh, ini benar-benar pilihan yang sulit," gumam Mattheo bermonolog sendiri.


Ekor mata Fedo melirik ke arah sang ayah yang terus bergumam tidak jelas. Ingin rasanya dia mengadu kalau saat ini dirinya tengah menahan diri agar tidak menangis. Untuk pertama kalinya Fedo merasakan perasaan rindu yang begitu besar pada seorang gadis. Dan sialnya gadis itu berada di tempat yang cukup jauh dari Jepang. Andai saja mereka tidak terpisahkan jarak, Fedo pasti akan langsung berlari menghampirinya saat ini juga. Dia seperti tidak bernafas karena merindukannya.


"Berhenti merencanakan hal konyol, Ayah. Aku tidak tertarik untuk pergi denganmu!" tegur Fedo yang sudah tidak tahan mendengar rencana sesat sang ayah.


"Hei Bung, Ayah ini sedang berusaha untuk menghiburmu. Kenapa malah mengomel?" tanya Mattheo heran.


"Siapa juga yang mengomel," jawab Fedo sambil menghela nafas kasar.


Melihat reaksi putranya yang sedikit kesal, Mattheo memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatan. Urusannya bisa panjang jika putranya sampai merajuk sungguhan.


"Fed, kau ini sebenarnya kenapa? Sadar tidak kalau ekpresi di wajahmu itu terlihat seperti sapi yang akan di potong. Frustasi dan seperti orang yang sedang dilanda kesedihan. Saat di ruang rapat tadi kau bahkan sama sekali tidak fokus pada pembahasan yang sedang berlangsung. Ada apa? Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Mattheo.


"Aku... merindukan Luri, Ayah. Sejak semalam dia tidak mau mengangkat telfonku," jawab Fedo putus asa.


Andai saja di ruangan ini ada perkakas dapur, Mattheo bersumpah akan langsung memukulkan perkakas tersebut ke kepala putranya. Hanya gara-gara merindukan si gadis desa itu putranya sampai semurung ini? Fedo benar-benar luar biasa. Luar biasa bucin maksudnya.


"Memang apa penyebab dia tidak mau mengangkat teleponmu, Fed? Kau ketahuan sedang tidur dengan wanita lain?"


Fedo mencebikkan bibir saat mendengar pertanyaan ayahnya. Dia kemudian menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan kepala. Sambil memejamkan mata, Fedo mulai mengungkapkan kegundahan yang dia rasakan.


Setelah semalam telfonnya di abaikan, Fedo tak henti-hentinya memikirkan kesalahan apa yang sudah dia perbuat hingga Luri menjadi begitu dingin padanya. Bahkan Nania, si gadis bermulut racun itu juga ikut-ikutan tidak mau mengangkat telepon dan hanya membaca pesan yang dia kirim. Hal ini membuat Fedo menjadi sangat gusar. Dia sangat takut kalau Luri telah menjalin hubungan dengan Galang, teman sekelasnya yang pernah datang ke rumah. Pikiran-pikiran buruk ini kian menguat karena sampai sekarang Luri masih belum membalas pesan yang dia kirim. Tapi jangankan membalas, di buka saja tidak. Membuat pikiran Fedo semakin gundah gulana.

__ADS_1


"Ayah, dulu saat Ayah mengejar cinta Ibu apa Ayah memiliki saingan?" tanya Fedo. Dia mencoba berburu ilmu dari sang ayah.


"Jangan bilang kalau Luri sedang berhubungan dekat dengan pria lain, Fed!" sahut Mattheo balik bertanya. Dia sedikit tidak percaya ada gadis yang mampu menolak pesona putranya.


"Ck, aku ini yang pertama bertanya, Ayah. Kenapa malah balik memberi pertanyaan sih!" protes Fedo jengkel.


"Santai saja, Fed. Jangan marah-marah dulu, Ayah kan hanya bertanya saja. Lagipula siapa suruh pertanyaanmu begitu menjurus pada kasus perselingkuhan. Wajarlah jika Ayah merasa kaget!"


Fedo langsung terdiam saat mendengar ucapan sang ayah. Benar juga kalau maksud yang terkandung dari pertanyaannya memiliki unsur perselingkuhan yang sangat kuat. Saat Fedo sedang mengatur pertanyaan dengan kata yang lebih baik, ponsel di dalam sakunya bergetar. Cepat-cepat dia mengambilnya untuk melihat siapa yang menelpon.


"Sial. Aku pikir Luri yang menghubungiku!" umpat Fedo jengkel karena ternyata yang menelpon bukan gadis yang di sukainya, melainkan nomor asing yang tidak dia kenal.


"Memang siapa yang menelpon, Fed?" tanya Mattheo penasaran.


"Coba angkat dulu. Siapa tahu itu adalah telpon penting."


"Aku malas. Ayah saja yang mengangkatnya," sahut Fedo kemudian memberikan ponsel pada ayahnya.


Mattheo akhirnya menggantikan putranya untuk menjawab panggilan tersebut. Bola matanya langsung membeliak lebar begitu dia mendengar suara lembut wanita dari dalam sana.


"Fed, kenapa kau tidak pernah datang lagi ke club? Apa kau sudah melupakan aku?"


"Maaf Nona, Fedo tidak akan pernah datang lagi ke club karena sekarang dia sudah tidak tertarik pada wanita berbokong dan berdada besar. Dia sekarang lebih suka pada daun muda yang masih original!" jawab Mattheo sengaja mengerjai si penelpon.


Fedo sama sekali tidak peduli dengan apa yang di katakan oleh ayahnya. Karena di dalam pikirannya sekarang hanya ada wajah seorang gadis cantik yang pesonanya hampir membuat Fedo menjadi gila. Bahkan jika ayahnya mengatakan kalau dirinya sudah menjadi pria impoten sekalipun Fedo tidak akan melakukan protes. Karena pada kenyataannya dia memang sudah tidak tertarik pada wanita manapun lagi selain si gadis desa yang bernama Luri.

__ADS_1


"Maaf kalau boleh tahu ini siapanya Fedo ya? Apakah aku boleh berkenalan?"


Saat Mattheo hendak menjawab iya, tiba-tiba saja di manik matanya melintas bayangan Abigail yang sedang menatapnya tajam sambil membawa samurai di tangannya. Seketika bayangan seram tersebut langsung membuat Mattheo menelan ludah. Dia kemudian memberi jawaban yang mana membuat si wanita langsung memutuskan panggilan.


"Nona, daun muda yang di sukai oleh Fedo adalah aku. Apa kau masih masih tertarik untuk mengajakku berkenalan?"


Dan begitu panggilan terputus, Mattheo menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja dia melakukan kesalahan besar karena berkenalan dengan seorang wanita yang pastinya sudah pernah menjadi teman tidur putranya. Mattheo kemudian melemparkan ponsel ke dada putranya yang sedang melamun.


"Apa setiap hari kau selalu di hubungi oleh mantan-mantanmu itu, Fed?" tanya Mattheo penasaran.


"Tergantung wanita jenis apa yang aku tiduri, Ayah. Jika wanita berkelas, mereka tidak akan mungkin mau menghubungi pria yang sudah tidur dengannya. Tapi jika wanita murahan sekelas Kanita, maka mereka pasti akan memburuku dengan gila. Harga diri bagi mereka tak lagi penting jika di bandingkan dengan berada di sisiku yang kaya raya dan tampan ini. Memangnya siapa sih yang mampu menolak pesona seorang Fedo Eiji?" jawab Fedo sedikit bersemangat saat membanggakan diri di hadapan sang ayah.


"Ada Fed, ada. Namanya Luri, dia adalah seorang gadis desa yang tidak termakan oleh pesona yang kau miliki. Bahkan hanya Luri satu-satunya gadis yang sanggup mengabaikan panggilan dan juga pesan darimu. Jadi kau jangan coba-coba bersikap sombong di hadapan Ayah ya?" ejek Mattheo kemudian pergi keluar dari ruangan putranya dengan senyum penuh kemenangan.


"Sebenarnya pria posesif itu ayahku atau bukan sih? Tega-teganya dia mengejekku seperti itu!" keluh Fedo tak percaya mendengar ejekan yang di lontarkan oleh ayahnya barusan.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


βœ…Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub ya. Nama Chanelnya β–ΆMak Rifani. Jangan lupa mampir dan kasih dukungan ya.


πŸ’œJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss


πŸ’œIg: rifani_nini


πŸ’œFb: Rifani

__ADS_1


__ADS_2