
Setelah acara belajar bersamanya selesai, Luri menjamu Galang dengan beberapa cemilan yang dia buat bersama para pelayan. Mereka berdua sibuk membahas tentang rangkaian kompetisi yang akan di adakan dua minggu lagi.
"Luri, menurutmu siapa di antara kita berlima yang akan mendapatkan beasiswa itu?" tanya Galang sambil mengaduk-aduk minuman di gelasnya.
Luri diam berpikir. Jika menuruti kehendak hati, sudah pasti Luri sangat berharap kalau dialah yang akan memenangkan kompetisi tersebut. Namun, dia juga tidak mungkin mendoakan teman-temannya untuk kalah.
"Santai saja, Luri. Jawabanmu satu pemikiran denganku. Kau pasti sedang berpikir untuk menjadi pemenangnya kan?"
"Bagaimana kau tahu kalau aku sedang berpikir seperti itu, Lang? Jangan bilang kau pandai membaca pikiran orang ya?" tanya Luri bercanda.
Galang terkekeh mendengar candaan yang di lontarkan oleh Luri. Dia baru menjawab setelah meneguk separuh dari minumannya.
"Pemikiran seperti itu sangat lumrah terjadi, Luri. Karena setiap peserta pasti berharap kalau dialah yang akan menjadi pemenangnya. Begitu juga dengan kita berdua. Kau pasti tidak mau sampai tidak lolos saat kompetisi nanti kan?"
Luri menganggukkan kepala setelah mendengar perkataan Galang. Ya, untuk bisa mendapatkan beasiswa itu memang di haruskan untuk bisa lolos dari semua kompetisi yang diadakan oleh pihak sekolah. Jadi sangat wajar kalau para pesertanya sangat berharap untuk bisa menang.
"Waahh,, sedang ada tamu ya?"
Galang dan Luri menoleh ke belakang. Terlihat di sana ayahnya Luri yang duduk di kursi roda tengah di dorong oleh perawat mendekat ke arah mereka. Luri yang melihat hal itu pun bergegas membantu. Dia kemudian mengenalkan Galang pada ayahnya.
"Ayah, kenalkan, ini Galang. Teman sekelasku."
__ADS_1
Luyan menatap ramah ke arah pria yang menjadi teman sekelas putrinya. Dia tersenyum ketika Galang menunduk hormat ke arahnya.
"Halo Paman, selamat sore. Aku Galang, teman sekelas Luri!" ucap Galang memperkenalkan diri.
"Selamat sore juga, Galang. Ayo-ayo silahkan duduk."
Galang mengangguk. Dia kembali mendudukkan bokongnya ke sofa lalu melirik ke arah Luri yang dengan begitu telaten memijit bahu ayahnya. Pemandangan hangat tersebut membuat rasa suka Galang kian membesar. Selain cantik dan lemah lembut, ternyata Luri adalah sesosok gadis yang penuh bakti pada orangtuanya. Gadis ini sama sekali tidak terlihat malu meski mempunyai ayah yang cacat.
"Kalian sedang belajar bersama?" tanya Luyan sambil memperhatikan buku-buku yang masih tergeletak di atas meja.
"Iya Ayah. Aku dan Galang sedang belajar bersama untuk mempersiapkan diri menjelang kompetisi di sekolah," jawab Luri sambil terus memijit bahu ayahnya.
"Kompetisi apa? Setahu Ayah kau tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya."
Luyan langsung mendongak. Dia menatap wajah putrinya dengan penuh bangga. Luri, putri keduanya ini sejak dulu memang selalu berprestasi di sekolah. Nilai akademiknya selalu bagus dan membuat guru-guru di desa merasa bangga. Mungkin Luyan adalah orangtua paling beruntung di dunia karena memiliki putri-putri yang sangat hebat. Yah meskipun harus Luyan akui kalau sikap putri bungsunya sedikit aneh. Tapi meskipun begitu, Nania juga tak kalah pintar dari kakaknya. Gadis bar-bar itu tak pernah absen menyumbang juara kelas setiap tahunnya.
"Do'akan aku dan Galang menang di kompetisi nanti ya Yah agar kami berdua bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri!" ucap Luri meminta restu.
"Pasti, Nak. Ayah, Ibu, adik, dan kakakmu pasti akan mendoakan yang terbaik untuk masa depan kalian nanti. Ayah bangga pada anak-anak muda seperti kalian. Di saat anak-anak lain sibuk bermain di luar rumah, kalian lebih memutuskan untuk belajar bersama demi meraih suatu impian. Ini sangat bagus, harus kalian pertahankan!" sahut Luyan memberi semangat.
"Em Paman, bisakah Paman memberikan kata motivasi untuk kami berdua agar kami bisa lebih semangat lagi dalam mengejar cita-cita?" tanya Galang tak ragu meminta nasehat dari ayahnya Luri.
__ADS_1
"Pertanyaan yang sangat bagus, Galang!" jawab Luyan dengan raut wajah puas. "Usaha dan keberanian tidak akan pernah cukup tanpa arah dan perencanaan yang matang. Artinya, kita harus menentukan langkah yang tepat sasaran untuk menyongsong masa depan kita. Seperti yang sedang kalian lakoni sekarang. Memenangkan kompetisi beasiswa ini mungkin adalah salah satu jalan untuk meraih kesuksesan kalian nanti. Dan itu juga harus di barengi dengan do'a dan niat yang sungguh-sungguh ya. Ingat, usaha dan kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil. Karena hidup yang baik adalah hidup yang di pandu dengan cinta dan ilmu pengetahuan."
Luri dan Galang mendengarkan dengan seksama nasehat yang sedang di sampaikan oleh ayahnya Luri. Mereka begitu khidmat mencerna kata demi kata yang mereka yakini bisa membawa dampak positif bagi masa depan keduanya nanti.
"Luri, Galang, Ayah hanya ingin berpesan agar kalian berdua jangan sampai terlena oleh bujukan pergaulan bebas di luaran sana. Fokuslah pada sekolah dan cita-cita kalian agar tidak menjadi orang yang menyesal. Jangan sia-siakan masa depan kalian hanya untuk melakukan sesuatu yang tidak ada faedahnya. Bermain dan membaur dengan teman kalian itu harus tetap dilakukan, tapi jangan sampai kebablasan. Ikuti yang baik-baik, tinggalkan keburukan yang bisa merugikan. Jika kalian bisa melewati masalah ini, Ayah yakin hidup kalian pasti akan sangat bahagia. Sukses itu tidak memandang siapa kalian. Namun, kesuksesan hanya di peruntukan bagi mereka yang gigih dalam mengejar apa yang mereka inginkan. Paham?"
"Paham!" sahut Luri dan Galang bersamaan.
"Ya sudah kalau begitu Ayah pergi dulu. Kalian silahkan melanjutkan obrolan," ucap Luyan sembari melihat kesana kemari. "Luri, adikmu kemana? Tumben sekali batang hidungnya tidak kelihatan?"
"Aku tidak tahu, Ayah. Mungkin Nania sekarang berada di dalam kamarnya," jawab Luri.
"Oh, baguslah kalau adikmu ada di dalam kamar. Setidaknya dengan begini acara belajar kalian tidak terganggu."
Setelah berkata seperti itu Luyan meminta perawat agar membawanya kembali ke dalam kamar. Dia sama sekali tidak menyadari kalau saat ini ada seorang gadis nakal yang sedang mengintip dari sisi jendela luar. Nania, dia benar-benar mengawasi kakaknya sambil membawa palu dan satu buah paku besar di tangannya. Andai saja Luyan melihat hal ini, Luyan pasti akan sangat syok karena sekarang putrinya terlihat seperti seorang gangster yang sedang mengintai musuh. Sangat bertolak belakang dengan tabiat orang desa yang lebih di kenal sebagai orang pemalu dan juga lemah lembut.
πππππππππππππππππ
β Gengsss, PESONA DI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutup emak ya. Nama chanelnya @Mak Rifani, dan part 43 baru saja up. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss..
__ADS_1
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani