PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Pawang Meresahkan


__ADS_3

Kayo menarik nafas panjang saat anak buahnya melapor kalau Kanita saat ini tengah melakukan perjalanan ke Shanghai. Ya, sejak Kayo menghapus foto-foto yang ada di ponselnya Kanita, dia terus memantau semua gerak-gerik wanita itu. Bukannya apa, Kayo hanya tidak mau wanita tidak tahu malu itu kembali membuat ulah yang bisa memancing kemarahan sang kakak. Dan benar saja. Tujuan Kanita datang ke Shanghai pastilah untuk mencari tahu tentang Luri, gadis yang akan menjadi calon kakak iparnya.


"Apa kami perlu menyusul wanita itu ke Shanghai, Nona Muda?"


"Tidak perlu. Biarkan saja dia mau melakukan apa di sana. Lagipula Luri sudah dalam pengawasan kakak iparnya, Kanita tidak akan mungkin bisa menyentuhnya sembarangan," jawab Kayo dingin.


"Baik, Nona Muda."


"Kalian awasi saja ayah dan ibunya Kanita. Segera beritahu aku jika mereka melakukan sesuatu yang mencurigakan."


Setelah berkata seperti itu Kayo bergegas masuk ke dalam mobil. Dia berniat pergi mengunjungi kakaknya di perusahaan. Kabar tentang kepergian Kanita ke Shanghai harus secepatnya dia kabarkan pada pria bucin itu sebelum pria itu kembali menggila.


Hmm Kak, kali ini kau bertemu dengan wanita yang benar-benar bebal. Mantan teman tidurmu itu sepertinya sangat tidak rela melepasmu. Inilah akibatnya jika terlalu rakus, repot sendiri kan kau jadinya, batin Kayo.


Dalam perjalanan menuju kantor, Kayo menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada Jackson. Tak lupa juga dia memberitahukan pada calon suaminya itu mengenai kedatangan tamu agung yang sempat ingin mencari masalah dengannya.


Kayo kemudian terkekeh pelan saat membaca pesan balasan dari Jackson. Rupanya pria itu masih menyimpan dendam pada Kanita. Jackson bahkan berkeinginan untuk menghilangkan Kanita dari muka bumi ini. Tak ingin calon suaminya kembali melakukan kejahatan, Kayo pun segera mencegahnya. Dia meminta Jackson untuk tetap diam menyaksikan apa yang akan terjadi antara Kanita, Luri, dan juga kakaknya. Hiburan menarik, begitu tulisnya.


Tak lama kemudian, mobil pun sampai di perusahaan. Kayo keluar dari dalam mobil kemudian melangkah masuk ke dalam gedung. Dia dengan ramah membalas sapaan para karyawan yang berpapasan dengannya.


"Selamat siang, Nona Muda."


"Siang. Apa kakakku ada di dalam?" tanya Kayo sopan.


"Tuan Muda Fedo ada di dalam ruangannya, Nona Muda. Silahkan masuk!"

__ADS_1


Kayo mengangguk. Dia kemudian membuka pintu ruangan kakaknya lalu berjalan masuk ke sana.


"Oh, sedang bekerja ternyata. Aku pikir kau sedang bersama para wanita seksi itu, Kak!" ledek Kayo sembari tersenyum usil ke arah sang kakak yang sedang sibuk dengan berkas pekerjaan.


"Kalau kau datang hanya untuk menggangguku lebih baik kau pulang ke rumah saja, Kay. Pekerjaanku sedang menumpuk, aku tidak ada waktu untuk meladeni kenakalanmu," sahut Fedo tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang dia baca.


"Ckck, jahat sekali. Beginikah sambutan seorang kakak pada adiknya yang datang berkunjung? Hatiku tergores, kakakku sayang."


Fedo mendengkus pelan. Mau tak mau dia akhirnya menghentikan pekerjaannya. Kelakuan adiknya ini bisa semakin menjadi jika tidak segera di urus. Sambil mengendurkan dasi di lehernya, Fedo mengajak Kayo berbincang. Dia menatap penasaran pada gadis cantik yang kini sudah duduk di tepian meja kerjanya.


"Angin apa yang membawamu datang kemari? Bukankah hari ini kau ada jadwal mengunjungi yayasan bersama Ibu?"


"Hmmm, sebenarnya iya. Tapi karena aku begitu mementingkan perasaan saudaraku jadi aku memutuskan untuk datang kemari lebih dulu," jawab Kayo seraya menarik nafas dalam. "Kak, apa yang akan kau lakukan jika seandainya ada mantanmu yang pergi menemui Luri?"


"Mantanku pergi menemui Luri? Mantan yang mana?" tanya Fedo bingung.


"Sudah ingat sekarang?" tanya Kayo. "Dan wanita yang sedang kau pikirkan saat ini sudah hampir sampai di Shanghai. Dia membayar seseorang dari kelompok gelap untuk mencari tahu informasi tentang gadismu itu. Kali ini mantanmu cukup pintar, Kak."


"Brengsek! Beraninya Kanita menyelidiki gadisku!" geram Fedo sambil meninju meja. "Awas saja kalau dia berani melukai Luri. Akan kupastikan dia dan keluarganya hancur tak bersisa. Dasar wanita sialan."


Kayo tersenyum samar melihat reaksi kasar sang kakak. Sambil memainkan ujung rambutnya, Kayo memberitahu kakaknya tentang seseorang yang telah menjaga Luri di sana.


"Aku yakin Gleen tidak akan mungkin membiarkan kedua adiknya bebas tanpa pengawasan. Dia pasti sudah memberikan penjagaan yang ketat untuk Luri dan juga Nania. Aaa satu lagi, kau bilang Nania begitu agresif jika menyangkut tentang keselamatan kakaknya bukan? Kalau begitu kau tidak usah terlalu khawatir, Kak. Jika Bibi Liona dan Paman Greg saja mampu di buat bungkam oleh kakak ipar Elea, ada kemungkinan besar kalau Kanita akan kalah telak di tangan Nania. Kau sendiri yang bilang kalau Nania dan kakak ipar Elea mempunyai sikap dan sifat yang hampir serupa. Benar tidak?"


"Iya juga ya. Kenapa aku bisa lupa kalau Luri itu di jaga oleh pawang yang sangat meresahkan. Nania dan Elea adalah wanita-wanita yang memiliki lidah beracun. Aku jamin Kanita tidak akan kuat berhadapan dengan salah satu dari mereka. Heh, semoga saja yang di temui oleh wanita tidak tahu malu itu bukan Luri, tapi Nania. Karena jika itu Luri, aku jamin gadis itu tidak akan menang menghadapi Kanita yang sangat pandai bersilat lidah. Kejadiannya pasti akan sangat berbeda jika Nania yang berhadapan langsung dengan Kanita. Astaga, kenapa aku malah ingin tertawa ya membayangkan Kanita yang di buat mati berdiri oleh gadis galak itu. Aku jadi penasaran ingin ikut mendengar seperti apa percakapan mereka!" jawab Fedo kemudian tertawa senang.

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Fedo berdiri kemudian memeluk Kayo. Kalau saja adiknya ini tidak mengingatkan tentang Nania, mungkin sekarang Fedo sudah menggila dengan menyusul Kanita ke Shanghai. Dia mana mungkin rela gadisnya di sentuh oleh wanita yang sudah berulang kali dia tolak.


"Kak, apa cintamu pada Luri begitu besar, hm? Aku yakin kalau tadi aku tidak menyinggung tentang Nania, saat ini kau pasti sudah tidak ada di Jepang. Benar tidak?" tanya Kayo meledek sang kakak yang masih memeluknya.


"Benar sekali, kau pasti tahulah betapa gilanya aku pada gadis desa itu. Perasaan ini sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata, Kay. Karena ini adalah pertama kalinya aku tergila-gila pada seorang wanita. Luri sangat berbeda dengan kebanyakan wanita yang pernah kukenal, dia begitu dewasa meskipun usianya masih muda. Di mataku Luri sangat sempurna, dan aku sangat mencintainya," jawab Fedo dengan jujur.


"Apa kau sudah sangat yakin dengan hal itu? Bukannya aku tidak mendukung perasaanmu terhadap Luri, tapi aku sedikit mengkhawatirkan penolakan dari tetua keluarga kita. Benar kalau cinta memang tidak memandang apapun, tapi kau juga tidak boleh melupakan fakta tentang nama besar keluarga kita, Kak. Kau adalah penerus di keluarga Eiji, dan wanita yang akan menjadi istrimu nanti harus melewati beberapa persyaratan yang cukup rumit dari mereka. Kau berbeda denganku. Karena saat aku menikah nanti, akulah yang akan di bawa keluar oleh suamiku. Masalah ini sedikit mengganggu pikiranku akhir-akhir ini!" ucap Kayo mengeluarkan kegundahan yang dia rasa.


Fedo terdiam sejenak. Dia mengurai pelukannya, kemudian menangkup kedua pipi adiknya yang sangat cantik ini.


"Kay, terima kasih sudah selalu mengingatkan aku. Akan tetapi untuk masalah pribadiku, aku tidak akan membiarkan orang lain ikut campur. Termasuk para tetua keluarga kita. Karena hanya Luri satu-satunya wanita yang akan melahirkan penerus dariku. Jika mereka berani menentang, maka selamanya aku tidak akan pernah menikah. Biarlah garis keturunan keluarga Eiji berhenti padaku, aku tidak peduli. Lagipula jika Ayah saja mampu meyakinkan para tetua untuk menerima Ibu, kenapa aku tidak bisa? Luri adalah gadis yang cerdas dan juga berwawasan, dia sedang berjuang memantaskan diri supaya nama baik keluarga kita tetap terjaga. Di zaman seperti ini apakah masih ada wanita yang mampu berpikiran seperti itu? Hanya Luri, Kay. Hanya dia saja yang tidak memandangku dari status dan kekayaan yang kita miliki. Akan sangat bodoh jika mereka sampai menolak wanita sehebat Luri!" jelas Fedo serius. Dia sangat yakin dengan kemampuan gadisnya.


Kayo mendengarkan dengan seksama betapa kakaknya ini begitu menyanjung gadis bernama Luri itu. Dia bisa melihat kalau sang kakak benar-benar serius dengan perasaannya.


"Kalau kau memang sudah seyakin ini, maka aku ada di pihakmu, Kak. Aku akan membantu Luri agar nantinya dia bisa di terima dengan baik di keluarga kita."


"Kau yang terbaik, Kay. Aku menyayangimu."


"Aku juga, Kak."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


...πŸ’œJangan lupa vote, like dan comment pasangan felur kita ya gengss...


...πŸ’œIg: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ’œFb: Rifani...


__ADS_2