PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Obat Hangat


__ADS_3

Setelah menerima telepon dari Fedo, Abigail langsung terpikir untuk menghubungi Andero. Dia tidak boleh menggampangkan masalah ini karena bagaimana pun hal tersebut bisa membahayakan kebahagiaan putranya bersama Luri.


"Bu, ada apa?" tanya Kayo sambil menatap penuh penasaran ke arah sang ibu yang terlihat tidak tenang. Dia baru saja selesai mandi, dan bergegas turun ke bawah untuk membantu menyiapkan makan malam.


"Kakakmu baru saja menelpon Ibu. Dia bilang perasaannya tiba-tiba menjadi tidak nyaman setelah wajah Kanita muncul di pikirannya. Kakakmu khawatir kalau ini adalah pertanda buruk," jawab Abigail.


"Whaaattt? Kanita lagi?"


Kayo memutar bola matanya jengah begitu mendengar nama wanita yang gemar mengusik ketenangan keluarganya. Setelah itu Kayo berjalan menghampiri sang ibu, kemudian memeluknya dengan sayang.


"Ibu jangan khawatir. Masalah ini biar aku saja yang membereskan. Sepertinya Kanita memang perlu di beri obat hangat supaya berhenti mengusik hidup Kak Fedo dan Luri. Aku benar-benar sudah sangat gerah melihat tingkahnya, Bu."


"Kay, jangan marah-marah dulu. Belum tentu juga Kanita akan kembali mengganggu hubungan kakakmu dengan Luri. Tadi itu kakakmu menelpon karena tidak sengaja teringat padanya, dan dia merasa khawatir. Begitu!" sahut Abigail menenangkan kemarahan Kayo dengan cara mengelus rambutnya. Dia paham betul seperti apa perangai putrinya ini. "Sekarang biarkan Ibu menghubungi Andero dulu ya untuk memastikan apakah dia akan mengkhianati perkataannya waktu itu atau tidak. Untuk jaga-jaga saja semisal apa yang di khawatirkan oleh kakakmu menjadi kenyataan. Walaupun firasat itu belum tentu benar, tidak ada salahnya bukan kalau kita waspada pada setiap kemungkinan yang bisa terjadi? Benar tidak?"


"Hmmm, aku percaya pada insting yang Ibu rasakan karena semua itu selalu benar. Ya sudah, kalau begitu aku ikut mendengarkan pembicaraan Ibu dengan Andero ya? Memasaknya nanti saja," sahut Kayo dengan manja meminta ikut pergi bersama sang ibu.


"Dasar!" ucap Abigail sambil tersenyum.


Setelah itu Abigail mengajak Kayo berpindah ke ruang tengah. Dia kemudian mengambil ponselnya, mencari nomor Andero sebelum akhirnya melakukan panggilan.

__ADS_1


Di sebelah sang ibu, Kayo duduk dengan sangat tenang sambil menunggu Andero menjawab panggilan. Namun di balik sikap tenangnya itu terbersit satu niat mengerikan yang mana tertuju pada Kanita. Ya, Kayo tengah menyusun satu rencana di mana rencana tersebut akan dia lakukan jika Kanita nekad menjebak kakaknya dengan mengakui sebagai ayah dari bayi yang di kandungnya. Kayo tidak akan tinggal diam jika wanita tidak tahu malu itu sampai berani melewati batasannya.


"Halo, Nyonya Abigail. Ada apa? Sepertinya Kanita belum menunjukkan diri di hadapan media. Apa rencananya di ubah?"


Sebelah alis Abigail langsung tertarik ke atas begitu di cecar banyak pertanyaan oleh Andero. Setelah itu Abigail tersenyum, senyum yang sangat tipis di mana mampu membuat orang yang melihatnya merinding takut.


"Kau terlalu bersemangat dalam mengikuti permainan ini, Tuan Andero. Tenang saja, rencana kita masih sama seperti yang di awal aku katakan. Aku menghubungimu hanya untuk memastikan kalau kau tidak berbalik menjilat air ludahmu sendiri!" ucap Abigail tegas.


"Oh, apa kau sedang menuduhku menjadi seorang pengkhianat, Nyonya? Wow, menakjubkan. Bahkan Kanita saja belum memantik api tapi kau sudah begitu terburu-buru men-capku sebagai orang yang suka ingkar perkataan. Santai saja, Nyonya Abigail. Aku tidak sebodoh itu mempertaruhkan nama baikku. Lagipula memang akulah ayah dari bayi yang ada di dalam perutnya Kanita. Jadi sudah sepantasnya untuk kami menjadi pasangan orangtua yang sah di mata semua orang."


Kayo menoleh. Dia kemudian tersenyum saat ibunya menganggukkan kepala. Sepertinya pria bernama Andero ini tidak main-main dengan ucapannya. Dan tentu saja hal ini membuat Kayo merasa sangat lega. Lega karena dia tidak perlu lagi bersusah payah mengatur rencana untuk memberi pelajaran pada Kanita.


Abigail meletakkan ponselnya ke atas meja kemudian menoleh menatap Kayo. Sudut bibirnya tertarik ke atas, menandakan kalau dia sangat amat puas dengan sikap Andero.


"Seperti biasa. Ibu selalu memukau dalam menyelesaikan permasalahan yang ada!" puji Kayo sambil tersenyum penuh bangga.


"Ini semua Ibu lakukan demi kebahagiaan keluarga kita, sayang. Kau dan kakakmu adalah permata hati Ibu, jadi Ibu tidak akan mungkin membiarkan satu orang pun mengusik kebahagiaan kalian," sahut Abigail sambil membelai puncak kepala Kayo. " Ibu rasa semua orangtua yang ada di dunia ini akan melakukan hal yang sama untuk melindungi anak-anak mereka. Dan Ibu adalah salah satunya. Ibu yang mengandung kalian, melahirkan kalian, juga mendidik dan membesarkan kalian berdua sampai saat ini. Jadi sangat tidak mungkin kalau Ibu hanya akan diam saja ketika kebahagiaan permata hati Ibu ada yang mengusik. Ibu tidak rela!"


Kayo langsung memeluk ibunya dengan sangat erat. Dia merasa sangat amat terharu mendengar kata-kata tersebut. Memang benar, Kayo yang merasakan sendiri betapa ibunya ini sangat amat memperjuangkan kebahagiaannya dan juga kebahagiaan kakaknya. Karena wanita yang kini tengah di peluknya adalah sosok pahlawan berhati malaikat yang tidak ada tandingannya di dunia ini.

__ADS_1


"Kay, mau sampai kapan kau memeluk Ibu, hm?" tanya Abigail gemas ketika pelukan putrinya malah bertambah semakin erat.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan pelukan ini dari tubuh Ibu," jawab Kayo sambil mendongakkan wajah. "Ibu adalah segalanya untukku, dan pelukan ini adalah tempat ternyaman yang aku miliki. Jadi jangan harap aku akan bersedia untuk melepaskannya ya?"


"Kau ini. Ayahmu bisa marah kalau kau tidak mau melepaskan Ibu, sayang. Tahu sendiri kan kalau Ayahmu itu sangat cemburuan, bahkan pada anak-anaknya saja dia tidak mau mengalah. Yakin masih tidak mau melepaskan Ibu, hm?"


Abigail tertawa saat Kayo mengerucutkan bibirnya. Sungguh, putrinya ini sangatlah lucu. Padahal sebentar lagi sudah akan menikah, tapi Kayo masih saja suka merajuk.


"Sudah ya. Sekarang lebih baik kita bergegas membantu para pelayan memasak. Ayah dan kakakmu sebentar lagi pulang, mereka bisa kerasukan kalau makanan belum tersaji di atas meja. Nanti setelah makan malam kita baru lanjut mengobrol lagi. Oke?"


"Haihhh, padahal sekarang Ayah dan Kak Fedo sedang tidak ada di sini. Tapi kenapa mereka bisa mengganggu kebersamaan kita sih, Bu? Kalau kedua biang kerok itu sudah pulang, kita pasti tidak akan mempunyai waktu lagi untuk mengobrol seperti sekarang. Apalagi Ayah. Dia pasti akan menguasai Ibu sendirian!" gerutu Kayo mengeluhkan sikap serakah ayahnya.


"Mau bagaimana lagi, Kay. Biar pun sikap Ayahmu seperti itu dia tetaplah sangat menyayangimu dan juga kakakmu. Dengarkan Ibu baik-baik. Nanti setelah kau menjadi istrinya Jackson, kau pasti akan merasakan seperti apa bahagianya di cintai oleh lelaki yang tepat. Ibu yakin kalau Jackson akan sama posesifnya seperti Ayahmu. Percaya itu!" hibur Abigail kemudian bangkit berdiri. Dia lalu mengulurkan tangan, tersenyum saat putrinya terlihat enggan untuk berdiri. "Ayolah, bantu Ibu memasak di dapur. Ibu janji nanti setelah makan malam akan mengajakmu pergi jalan-jalan keluar. Oke?"


"Benarkah?"


Mata Kayo berbinar. Dan binar di matanya semakin bertambah saat ibunya menganggukkan kepala. Tanpa membuang waktu lagi Kayo akhirnya mengikuti langkah sang ibu menuju dapur. Dia dengan wajah berseri-seri membantu ibu dan juga para pelayan menyiapkan sayuran yang akan dimasak.


Yesss, akhirnya aku dan Ibu pergi jalan-jalan lagi. Hahaha, senangnya, ujar Kayo dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2