
Tok tok tok
Kanita mengerutkan kening saat pintu kamar hotel di ketuk dari luar. Dia baru saja selesai membersihkan tubuh setelah bangun dari tidur. Saking kesalnya Kanita pada Luri, sepulang dari menemuinya Kanita mengamuk seperti orang gila sampai akhirnya dia kelelahan kemudian ketiduran di atas sofa. Dan Kanita baru terbangun saat salah satu temannya menelpon.
"Siapa yang datang bertamu ya?" gumam Kanita bingung.
Karena suara ketukan pintu terus terdengar, Kanita mau tidak mau akhirnya berjalan untuk membukanya. Dia hampir mati jantungan saat tiba-tiba mulutnya di bekap oleh seseorang yang wajahnya tertutup masker.
Jackson, ya, pria yang tadi mengetuk pintu kamar Kanita adalah Jackson. Dia sudah tidak tahan ingin segera memberi pelajaran pada wanita ini setelah apa yang dia lakukan pada Luri siang tadi. Jackson mendatangi hotel tempat Kanita menginap tanpa memberitahu Kayo terlebih dahulu. Dia sedang tidak ingin di larang oleh siapapun untuk saat ini.
"Siapa kau!" teriak Kanita begitu bungkaman mulutnya terlepas. Dia lalu menatap nyalang pada pria yang sudah dengan paksa masuk ke dalam kamarnya.
"Jadi kau sudah lupa siapa aku?" tanya Jackson kemudian membuka masker yang menutupi wajahnya. "Kalau seperti ini apa kau bisa mengenali aku, Nona Kanita?"
Bulu kuduk Kanita langsung berdiri semua begitu melihat wajah dari pria yang tadi menyerangnya. Pria ini adalah pria yang sama yang tadi siang dia lihat di parkiran hotel. Juga adalah pria yang sama di mana dia pernah melihatnya sedang bersama Kayo di Jepang. Mengingat hal itu membuat Kanita menjadi sangat panik. Dia bisa merasakan kalau pria ini ingin berbuat sesuatu yang jahat kepadanya.
"Kenapa? Takut ya?" ejek Jackson kemudian berjalan ke arah sofa. Sambil tersenyum samar, dia mengusap pelan sofa yang akan dia duduki kemudian menatap sekilas ke arah Kanita. "Sepertinya kau berasal dari keluarga ternama, Nona Kanita. Bagaimana jika aku menjualmu pada pria hidung belang di luaran sana? Air liur mereka pasti akan langsung menetes deras jika mendapatkan mangsa yang berkualitas sepertimu. Bagaimana, apa kau bersedia?"
"Jangan gila kau ya!" hardik Kanita penuh emosi. "Sekarang aku minta kau pergi dari kamarku atau aku akan menghubungi pihak keamanan hotel agar menyeretmu keluar dari sini. Cepat pergi!"
__ADS_1
Dada Kanita sampai bergerak naik-turun saking kesalnya dia pada pria tersebut. Jujur saja, Kanita sebenarnya juga merasa takut. Tapi dia berusaha menutupi ketakutannya itu dengan mengancam akan melaporkan pria ini pada security hotel. Bukan tanpa alasan mengapa Kanita nekad mengancam seseorang yang jelas-jelas bisa membunuhnya detik ini juga. Dia sengaja mengulur waktu dengan harapan kalau orang suruhannya akan segera datang menolong.
"Laporkan saja kalau nyawamu masih bisa bertahan sebelum kau keluar dari kamar ini, Nona. Karena aku sama sekali tidak takut dengan ancaman seperti itu!" sahut Jackson dingin. Dia kemudian mengeluarkan belati yang terselip di pinggangnya. "Katakan padaku kematian seperti apa yang kau inginkan sebelum pergi dari dunia ini. Aku akan berusaha melakukannya dengan sebaik mungkin."
Kanita beringsut menjauh saat pria ini menodongkan belati ke arahnya. Dia sangat takut, itu sudah pasti. Kanita tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika belati tersebut sampai menusuk tubuhnya.
"T-tolong kau jangan main-main dengan benda tajam seperti itu, Tuan. K-kau bisa masuk penjara nanti!" ucap Kanita berusaha untuk menghentikan kegilaan pria tersebut.
"Tidak ada satupun penjara yang mampu menahanku selain penjara terbuka milik Nyonya Liona dan Tuan Greg!" sahut Jackson kemudian bangkit berdiri. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Kanita yang sudah pucat pasi dengan bibir gemetar hebat. "Sebenarnya masalah antara kau, Fedo dan Luri itu tidak ada hubungannya denganku, Nona Kanita. Akan tetapi sebelum ini kau sudah memprovokasi kemarahanku lebih dulu. Kau ingat tidak dengan foto yang kau ambil saat aku dan Kayo sedang berada di pinggir jalan? Tahu tidak kemana foto-foto itu pergi, hm? Nona Kanita, aku adalah calon suaminya Kayo. Yang artinya kalau sebentar lagi aku akan segera menjadi bagian dari keluarga Eiji. Apa kau pikir dengan hilangnya foto-foto itu aku akan melepaskanmu begitu saja? Sama sekali tidak, Nona. Kau tanpa tahu apa-apa ingin merusak nama baik calon istriku dengan memfitnahnya sedang berbuat hal tak senonoh bersama pria asing di jalanan. Dan sekarang kau dengan tidak tahu malunya mengancam seorang gadis yang akan menjadi calon bagian dari keluarga Eiji juga? Oh ayolah Nona, aku tidak sebaik itu untuk membiarkanmu mendapat apa yang kau inginkan. Fedo dan Luri adalah keluargaku, yang artinya kau juga akan bermasalah denganku jika sampai menyentuh mereka. Paham!"
Jangan tanya seperti apa kagetnya Kanita sekarang. Dia benar-benar tidak menyangka kalau pria yang pernah ingin dia gunakan untuk memfitnah Kayo ternyata adalah calon suaminya. Dan sialnya lagi pria ini ternyata mengawasi semua gerak-geriknya selama berada di Shanghai. Dapatkah Kanita beranggapan kalau nyawanya benar-benar sudah berada di ujung tanduk?
"Aku melakukannya karena Kayo terus menghalangi jalanku untuk mendapatkan Fedo. La-lagipula aku juga tidak tahu kalau kau adalah calon suaminya," ucap Kanita membela diri. Setakut apapun Kanita sekarang, dia tetap tidak boleh menyerah. Dia akan terus memperjuangkan Fedo sampai pada titik darah penghabisan.
Kanita tercengang syok begitu tahu kalau orang suruhannya telah mati di bunuh oleh pria ini. Dan dia hampir saja pingsan saat pria tersebut mengeluarkan dua buah jari dari balik saku bajunya yang mana masih berlumuran cairan berwarna merah.
"Ini aku ambil dari tangan kanan orang suruhanmu itu. Kalau kau bebal dan tidak mau mematuhi perkataanku, maka aku akan dengan senang hati memotong kedua jari tangan kirimu untuk menemani jari-jari ini!" ancam Jackson sambil menggoyang-goyangkan kedua jari tangan tersebut.
"Baiklah baiklah. Ak-aku akan kembali ke Jepang malam ini juga. T-tapi ... tapi tolong jangan sakiti aku. A-aku masih ingin hidup!" sahut Kanita ketakutan sambil duduk bersimpuh di lantai. Dia kalah, tapi Kanita tak peduli. Karena sekarang nyawanya jauh lebih penting dari apapun.
__ADS_1
"Bagus. Kalau begitu tunggu apalagi. Cepat kemasi barang-barangmu karena aku akan tetap di sini untuk memastikan kepergianmu. Dan usahakan jangan terlalu lama, Nona Kanita. Karena setelah ini aku masih harus berangkat bekerja!"
Kanita dengan cepat menganggukkan kepala. Saking takutnya dia pada pria ini, Kanita bahkan sampai tidak bisa berdiri. Tulang-tulang kakinya seperti tidak memiliki tenaga setelah mendapat ancaman yang begitu mengerikan. Sambil menangis tanpa suara, Kanita secepat mungkin memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Dia sudah tidak mempedulikan lagi sisa barang lainnya yang belum terkemas.
"S-sudah, Tuan. A-aku sudah selesai berkemas," lapor Kanita tanpa berani melihat wajah pria yang sedang berdiri tegak di hadapannya.
"Pergilah. Di lobi hotel sudah ada orangku yang akan mengantarkanmu pergi ke bandara. Ingat Nona Kanita, sekali lagi kau berani menginjakkan kaki ke negara ini, maka hari itu akan menjadi hari terakhirmu menghirup bebas. Juga jangan coba-coba untuk mengusik kehidupan Kayo dan Fedo, termasuk juga dengan hidupnya Luri. Paham!" ancam Jackson dengan sangat kejam.
"Baik, Tuan. A-aku berjanji tidak akan mengusik hidup mereka lagi. K-kalau begitu aku pergi dulu," ucap Kanita kemudian berusaha berdiri dengan berpegangan pada tembok.
Jackson mengangguk. Dia memberikan jalan pada Kanita dengan memundurkan tubuhnya ke belakang. Setelah memastikan Kanita benar-benar pergi dari sana, Jackson pun segera menyusulnya keluar. Dia kemudian menemui pria yang tadinya menjadi orang suruhan Kanita.
"Kali ini aku mengampuni nyawamu karena kau tidak menyentuh orang-orang di sekelilingku. Dan aku ingin kau maupun kelompokmu jangan pernah lagi menerima pekerjaan dari Kanita. Jika aku sampai mengetahui hal itu, maka kalian bersiaplah untuk pergi ke neraka!"
"Baik, Tuan Jackson. Maaf jika kedatanganku ke negara ini mengusik ketenanganmu. Aku hanya sedang menjalankan tugas yang di berikan oleh atasan."
"Aku mengerti."
Setelah itu Jackson langsung pergi dari hotel. Jika kalian penasaran mengapa dia tidak menghabisi orang yang datang bersama Kanita, jawabannya adalah karena mereka saling kenal. Dan mengenai jari yang tadi dia tunjukkan pada Kanita itu hanyalah jari buatan yang sengaja Jackson pesan untuk menggertaknya.
__ADS_1
"Ternyata nyalimu tidak sekuat yang aku bayangkan, Kanita. Kau hanya bermulut besar. Dengan modal yang begini lemah bagaimana bisa kau berani menantang kemarahan Ibu Abigail? Aku yang seorang mantan pembunuh saja tidak berani untuk memprovokasinya. Sementara kau ... astaga. Sepertinya kau ingin merasakan apa yang di sebut hidup segan mati tak mau. Dasar to lol!" gumam Jackson tak habis pikir.
*****