
Luyan memperhatikan putrinya yang sedang sibuk belajar di ruang tengah. Dia baru saja mendapat aduan dari putri bungsunya kalau Luri tengah di sukai oleh salah satu kerabat Nyonya Liona yang tinggal di Jepang. Siapa lagi kalau bukan Fedo Eiji, putra sulung dari pasangan Nyonya Abigail dan Tuan Mattheo Eiji.
Mungkin kebanyakan para orangtua mereka pasti akan merasa sangat bahagia jika anak mereka menjalin hubungan dengan seseorang yang berasal dari kalangan berada. Tapi sayangnya itu tidak berlaku bagi Luyan dan Nita. Mereka berdua malah merasa tak nyaman jika Luri sampai memiliki hubungan lebih dengan Fedo. Bukannya tidak senang, tapi Luyan merasa kalau putrinya sangat tidak pantas menjadi bagian dari keluarga itu.
Luri hanyalah gadis desa biasa yang tidak memiliki kelebihan apa-apa. Bahkan Luri bisa masuk ke sekolah bergengsi berkat bantuan menantunya yang kebetulan adalah seorang pengusaha. Sebagai orangtua, mereka merasa gagal karena tidak bisa memberi kehidupan yang layak untuk ketiga putrinya sampai-sampai harus Gleen dan keluarga Nyonya Besar Liona yang mengulurkan tangan.
"Kau terlalu kecil untuk bisa berdiri di samping Fedo, Nak. Ayah takut suatu hari statusmu akan di pertanyakan oleh orang-orang. Ayah tidak mau kau terluka," gumam Luyan sedih.
"Luyan, apa tidak sebaiknya kita tanyakan langsung pada Luri apakah dia ada menjalin hubungan dengan Fedo atau tidak? Kita seharusnya tidak langsung mengambil kesimpulan hanya karena mendengar aduan Nania saja. Kau tahu sendiri bukan betapa usilnya gadis itu? Aku tidak mau kita sampai salah bersikap yang mana akan membuat Luri menjadi sedih," ucap Nita sambil mengelus bahu suaminya.
"Dia sedang belajar, Nita."
"Iya aku tahu, tapi tidak ada salahnya kan kalau kita meminta waktunya sebentar. Aku tidak ingin ada salah paham di sini. Pun kita datang bukan untuk mengintimidasinya, kita hanya ingin mengingatkan agar selalu sadar diri tentang siapa kita. Aku takut, Luyan. Aku takut Luri akan merasa kecewa jika sampai membuat keputusan untuk bersama Fedo. Perbedaan di antara mereka terlalu jauh, Luri pasti akan sangat terluka jika latar belakang keluarganya di pertanyakan. Aku tidak mau melihat putriku bersedih," sahut Nita dengan suara bergetar.
Luyan mendongak. Dia menatap lama ke arah sang istri sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk berbicara dengan putri mereka.
"Baiklah. Mari kita menemui Luri untuk mengajaknya bicara."
Nita mengangguk. Dengan hati-hati dia mendorong kursi roda yang di duduki suaminya mendekat ke arah Luri yang sedang fokus belajar. Dadanya terasa sesak memikirkan nasib putrinya yang harus terlahir dari keluarga miskin hingga harus mengalami batasan seperti ini.
"Ayah, Ibu, kalian belum tidur?" tanya Luri kaget melihat kedatangan orangtuanya.
"Belum, sayang. Kami masih belum mengantuk," jawab Nita pelan.
__ADS_1
Luri menatap lekat ke wajah orangtuanya yang terlihat murung. Sadar ada sesuatu yang ingin di bicarakan, Luri dengan cepat membereskan semua buku-buku di atas meja kemudian duduk bersimpuh di hadapan kursi roda ayahnya.
"Jangan menahannya di dalam hati Bu, Ayah. Katakan saja, aku pasti akan mendengarkan!"
Nita dan Luyan saling memandang. Mereka kemudian beralih menatap ke arah Luri yang sedang tersenyum manis.
"Apa Ayah boleh menanyakan sesuatu hal yang sedikit pribadi padamu?" tanya Luyan hati-hati. Dia tidak mau kalau pertanyaannya sampai menyinggung perasaan gadis ini.
"Ayah ini bicara apa. Aku kan putri Ayah dan Ibu, untuk apa meminta izin? Lagipula aku juga tidak memiliki hal pribadi yang harus di sembunyikan dari kalian. Ingat Ayah, Ibu, aku ini masih kecil!" jawab Luri bercanda.
Luyan tersenyum. Rasanya lega melihat putrinya riang begini. Dia jadi bisa menarik kesimpulan kalau putrinya masih belum memiliki perasaan apapun pada Fedo.
"Apa benar Fedo menyukaimu?"
"Aku tidak tahu, Ayah. Tapi malam itu Kak Fedo memang bilang kalau dia ingin menjadi kekasihku. Memangnya kenapa, Yah?" tanya Luri.
Luri mengangguk. Sekarang Luri paham apa yang sudah membuat orangtuanya menjadi cemas. Dia tidak merasa kaget karena sebelumnya Luri sudah memikirkan hal ini bahkan dari pertama kali jantungnya berdebar saat berada di dekat Fedo. Luri cukup sadar siapa dirinya. Dan dia yakin hal inilah yang ingin di bicarakan oleh ayah dan juga ibunya.
"Tapi Gleen tidak memberitahukan hal ini pada Ayah dan Ibu, Nak."
"Kak Gleen memang tidak tahu apa yang kami bicarakan, Bu. Yang dia tahu hanya Kak Fedo yang ingin berpamitan padaku karena ingin kembali ke Jepang."
"Oh, begitu ya. Ibu kira kakak iparmu tahu," ucap Nita. "Luri, seandainya Ibu memintamu untuk tidak terlalu dekat dengan Fedo, apa kau akan marah? Ibu ....
__ADS_1
Mata teduh Luri terus menatap wajah sang ibu yang menggantungkan kata-katanya. Dia kemudian tersenyum, paham kenapa ibunya tidak mau melanjutkan bicara. Tak ingin membuat orangtuanya terbebani pikiran, Luri segera memberi penjelasan. Dia tidak ingin masalah ini sampai mengganggu kesehatan orangtuanya.
"Ayah, Ibu, aku tahu kalian khawatir padaku. Aku juga paham kalian sebenarnya tidak memiliki maksud untuk melarangku berhubungan dekat dengan Kak Fedo. Benar kalau Kak Fedo memiliki perasaan padaku, begitu juga dengan aku. Aku menyukainya, aku nyaman dengan sikapnya. Tapi itu bukan berarti aku akan mengabaikan perasaan kalian. Aku sadar dengan statusku, Bu, Ayah. Aku tidak mungkin lupa kalau antara aku dengan Kak Fedo itu di pisahkan oleh satu perbedaan yang sangat tinggi, yaitu kasta. Kita adalah orang yang memiliki hidup sederhana, berbeda dengan kehidupan mereka yang serba kecukupan. Jadi Ayah dan Ibu jangan khawatir ya, aku tidak akan mungkin menerima Kak Fedo sebelum memiliki status yang pantas untuk berdiri di sisinya. Itupun jika nasib baik berpihak padaku. Jika tidak, maka aku akan menerima dengan lapang dada kalau kami tidak berjodoh."
Nita dan Luyan tertegun mendengar penjelasan putri mereka yang begitu bijak. Mendadak ketakutan mereka berubah menjadi ketidak-tegaan ketika melihat mata putri mereka yang ternyata telah membentengi perasaannya sendiri.
"Ayah dan Ibu jangan merasa bersalah ya. Ini sudah menjadi keputusanku sendiri sejak aku memiliki perasaan lebih untuk Kak Fedo. Jadi aku sama sekali tidak terluka. Sungguh!" ucap Luri menenangkan orangtuanya yang terlihat sedih.
"Tapi kau menyukainya, sayang. Ibu merasa seperti penjahat yang ingin menjauhkanmu dari laki-laki yang kau sukai," sahut Nita lirih.
"Bu, tidak ada orangtua yang jahat pada anaknya. Yang ada hanyalah orangtua yang mengkhawatirkan kebahagiaan anak-anak mereka. Contohnya Ayah dan Ibu. Kalian pasti merasa tidak tenang bukan saat tahu kalau aku di sukai oleh pria yang statusku sangat jauh di atas kita? Ayah dan Ibu pasti khawatir suatu hari aku akan sedih dan terluka jika hubungan ini sampai berlanjut. Iya kan?"
Nita dan Luyan mengangguk. Mereka tak henti-hentinya memanjatkan rasa sukur pada Tuhan karena telah di karuniai seorang putri yang begitu baik. Mereka tak harus bersusah payah membujuk karena Luri bisa memahami dengan sendirinya.
"Ini sudah malam. Sebaiknya aku antarkan Ayah dan Ibu istirahat di kamar. Tolong tetap sehat untuk melihat kesuksesanku ya?" ucap Luri kemudian bangkit berdiri. Dia lalu menggantikan tugas sang ibu untuk mendorong kursi roda ayahnya.
Sambil berjalan ke arah kamar, Luri dan kedua orangtuanya membahas tentang lomba beasiswa yang di selenggarakan pihak sekolah. Mereka juga membahas jurusan apa yang akan di ambil oleh Luri jika dia berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Sungguh keluarga yang hangat dan manis bukan?
πππππππππππππππππ
β Gengss... PESONA SI GADIS DESA versi aslinya ada di yutub. Nama Chanelnya βΆMak Rifani. Di sana sudah up beberapa bab lebih banyak. Jangan lupa mampir ya...
...πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...