
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Luri bergegas keluar dari dalam kelasnya. Dia berjalan menuju ke arah toilet sebelum turun ke lantai bawah.
"Luri, kau mau kemana?" tanya Galang ketika melihat Luri berjalan ke arah lain.
"Aku mau ke kamar mandi dulu, Lang. Permisi ya," jawab Luri yang sudah tidak tahan ingin segera buang air kecil.
Galang mengangguk. Bukannya pergi, Galang malah dengan sengaja menunggu Luri tak jauh dari toilet wanita. Dia acuh-acuh saja ketika para siswi perempuan tersenyum sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya.
"Haihh, seperti tidak pernah melihat orang tampan saja," gerutu Galang sambil melipat tangan di dada.
Di lantai bawah, Nania yang tidak melihat kedatangan sang kakak pun merasa gelisah. Khawatir kakaknya di bully, dia dengan cepat berlari menaiki anak tangga. Nania bahkan tidak mengindahkan panggilan teman-temannya yang ingin mengajak pulang bersama.
"Lihat kakakku tidak?" tanya Nania pada seorang siswa yang berpapasan dengannya.
"Mana aku tahu. Aku kan bukan induknya," sahut siswa itu dengan nada cetus.
"Hei, aku itu bertanya baik-baik ya. Kenapa kau cetus sekali menjawabnya!"
Suara teriakan Nania mengundang perhatian beberapa siswa yang belum pulang. Mereka kemudian mulai berbisik-bisik, menggunjing nama Nania sebagai adik kelas yang tidak punya sopan santun pada kakak kelasnya.
"Apa lihat-lihat. Tidak pernah melihat gadis cantik sepertiku ya?" ejek Nania penuh percaya diri.
Luri yang kebetulan sudah selesai menunaikan hajatnya merasa heran ketika melihat kerumunan para siswa di depan kelas. Dia berjengit kaget saat Galang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Galang!" pekik Luri sembari mengelus dada. "Kau ini. Membuat orang kaget saja!"
Melihat reaksi kaget Luri membuat otak Galang blank beberapa detik. Sungguh, gadis ini terlihat sangat lucu tadi.
"Lang, itu ada kerumunan apa ya di depan kelas kita?" tanya Luri penasaran.
"Mungkin ada siswa yang sedang bertengkar di sana. Tadi aku mendengar ada seorang siswa berteriak," jawab Galang acuh pada kerumunan tersebut.
"Ya ampun, ayo kita ke sana. Kegaduhan seperti ini tidak boleh di biarkan karena nanti kita semua bisa terkena masalah jika kepala sekolah sampai tahu. Ayo ke sana!"
Galang tersenyum gembira saat Luri tiba-tiba menarik tangannya. Saat ini dunia serasa milik berdua, dia benar-benar sangat bahagia sekarang.
"Mau kemana kau?"
Langkah Luri dan Galang tertahan saat mereka di hadang oleh satu geng yang terkenal paling kaya di sekolah. Mereka kemudian memilih untuk melewati jalan lain. Tapi lagi-lagi langkah mereka di hentikan.
__ADS_1
"Hei kau orang desa, bisu ya?" tanya Marisa, si ketua geng.
"Marisa, jangan mencari masalah kau. Minggir, biarkan aku dan Luri lewat," tegur Galang mulai kesal.
"Ohoo Kak Galang. Jangan bilang kau sudah terkena sihir gadis desa ini ya?" ejek Marisa yang langsung di sambut gelak tawa teman-temannya.
Luri menahan tangan Galang yang ingin maju ke arah Marisa. Dia kemudian menggelengkan kepala ketika Galang hendak memprotes tindakannya.
"Jangan menahanku, Luri. Biarkan aku memberi pelajaran pada mereka," ucap Galang.
"Biarkan saja, Lang. Jangan di tanggapi, yang ada nanti masalah jadi membesar," bisik Luri tanpa melepaskan pegangan tangannya.
"Tapi aku tidak mungkin diam saja melihat mereka menghinamu. Kau kan tidak salah apa-apa pada mereka."
"Sudah, tidak apa-apa. Diam adalah jalan terbaik untuk melewati masalah,"
Galang menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kuat. Dia kadang bingung sendiri menghadapi sikap Luri yang selalu saja mengalah setiap ada yang menghina. Galang sampai bertanya-tanya dalam hati, gadis ini yang terlalu baik atau otaknya yang sedikit bodoh.
"Marisa, tolong biarkan aku dan Galang lewat," ucap Luri pelan.
"Lewat? Jangan mimpi. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau itu ingin menolong adikmu yang sedang bertengkar dengan siswa lain?" sahut Marisa dengan sinis.
"Apa? Adikku sedang bertengkar?" tanya Luri kaget. Matilah, Nania membuat ulah.
"Hei, bicara apa kau pada kakakku. Kalau berani lawan aku!"
Nania dengan cepat menghampiri sang kakak yang sedang di bully oleh siswi lain. Saat melewati ketua geng itu, mata Nania memicing dengan sangat tajam. Dia tidak terima jika ada orang yang berani mengganggu kakak kesayangannya. Siapapun itu.
"Apa yang dilakukan mereka padamu, Kak? Ada yang luka tidak?" cecar Nania sambil memutar-mutarkan tubuh sang kakak.
"Nania, jangan begini. Mereka sama sekali tidak melakukan apapun pada Kakak. Kami hanya saling sapa dan sedikit mengobrol tadi," sahut Luri salah tingkah dengan keagresifan sang adik.
"Aku tahu Kakak berbohong. Iya kan Kak Galang?"
Seperti kerbau yang di colok hidungnya, Galang langsung menganggukkan kepala saat mendengar pertanyaan Nania. Dia sengaja melakukannya supaya dewi perang ini bisa segera memberi pelajaran pada Marisa dan teman-temannya.
"Mereka juga mengatai kakakmu sebagai gadis desa yang memiliki tabiat buruk," ucap Galang memanaskan keadaan.
Marisa mundur ke belakang saat adiknya Luri memelototkan mata ke arahnya. Rumor yang mengatakan kalau Luri di jaga oleh seekor singa galak ternyata memang benar. Karena sekarang singa galak itu tengah memperlihatkan raut wajah yang sedikit mengerikan.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau aku dan kakakku berasal dari desa hah? Punya masalah apa kalian dengan kami?" tanya Nania sinis.
"Jelas itu bermasalah karena keberadaan kalian membuat mata para siswa di sekolah ini menjadi sakit. Gadis desa seperti kalian itu hanya membawa hama yang tidak baik untuk siswa lainnya," jawab Marisa sedikit gugup.
"Hama yang tidak baik?? Heiii, hati-hati dengan mulut anda ya!"
Luri panik setengah mati melihat adiknya yang sudah dalam mode kerasukan. Tak mau menambah masalah, dengan cepat Luri menarik tangan Nania untuk menjauh dari sana. Dia benar-benar tidak mau adiknya kembali mendapat teguran dari kepala sekolah seperti waktu itu.
"Dasar gadis desa, baru begitu saja sudah kabur. Pengecut kalian!" ucap Marisa meneriaki Luri dan adiknya yang ingin melarikan diri.
Di teriaki seperti itu oleh Marisa membuat darah Nania mendidih. Dia dengan kasar menghempaskan tangan sang kakak kemudian berbalik menghampirinya.
"Barusan kau bilang apa?" tanya Nania sambil berkacak pinggang.
"Heh, aku bilang kau dan kakakmu itu gadis desa yang sangat pengecut. Kenapa memangnya? Tidak terima?" tantang Marisa sambil tersenyum mengejek.
Sedetik kemudian Marisa menjerit kencang saat Nania tiba-tiba menginjak sepatunya dengan sangat kuat. Galang yang melihat kebrutalan Nania nampak menyeringai puas menyaksikan Marisa yang kesakitan.
"Kenapa berteriak? Sakit ya?" ejek Nania sambil terus menekan pijakan kakinya.
"Singkirkan kakimu, bodoh. Kau menyakitiku," keluh Marisa sambil mencoba memberikan perlawanan terhadap adik kelasnya yang gila ini.
"Karena kau sudah berani mengatai aku dan kakakku sebagai gadis desa pengecut maka aku menantangmu untuk tidak mengadukan perbuatanku pada guru maupun pada orangtuamu. Jika hal itu sampai terjadi, berarti bukan kami yang pengecut, tapi kau. Paham!" gertak Nania sambil menyeringai licik.
"Sialan kau anak kecil!" umpat Marisa dongkol.
"Umur boleh saja kecil, tapi kekuatanku jangan di tanya. Cihh, dasar gadis kota menyebalkan. Awas saja kalau setelah ini kau masih berani mengganggu kakakku. Akan kuhapus make-up tebalmu itu agar seluruh siswa di sekolah ini bisa melihat seperti apa wajah aslimu tanpa polesan bedak dan pensil alis!"
Marisa mati kutu saat di ancam seperti itu oleh Nania. Dia tidak berani meneriaki Nania lagi saat gadis bar-bar itu melangkah pergi menuju kakaknya yang sedang terpaku di pinggir tangga.
"Ayo kita pulang, Kak. Tenang saja, ulat bulu itu sudah aku bereskan. Mulai besok tidak akan ada lagi siswa yang berani mengganggu Kakak!" ucap Nania kemudian menggandeng tangan sang kakak untuk turun ke lantai bawah.
Ya Tuhan, tolong beri aku kesabaran yang banyak untuk mengimbangi sikap adikku yang brutal, batin Luri.
πππππππππππππππππ
β Gengss... PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanelnya βΆMak Rifani. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss
__ADS_1
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani