
Seusai bertelfon dengan Fedo, Luri bergegas membersihkan diri di kamar mandi. Hatinya berbunga-bunga, bahagia setelah mengalami kejadian melegakan tadi. Sambil terus tersenyum, Luri berganti pakaian kemudian segera keluar menuju dapur untuk membantu para pelayan menyiapkan makan malam. Raut wajahnya yang begitu ceria tanpa sengaja menarik perhatian para pelayan yang tengah asik dengan kesibukan masing-masing. Para pelayan tersebut kemudian saling berbisik, yang mana membuat Luri menjadi heran.
"Bibi, kenapa kalian berbisik-bisik seperti itu saat aku datang? Apa ada yang aneh di wajahku?" tanya Luri penasaran.
"Tidak, Nona. Kami semua saling berbisik karena penasaran melihat aura wajah Nona yang terlihat begitu berseri-seri. Sepertinya ada hal baik yang terjadi pada Nona hari ini. Benar tidak?" goda salah satu pelayan sambil terkekeh pelan.
Luri diam mencerna maksud perkataan si bibi pelayan. Sedetik kemudian dia tersenyum, paham kalau dirinya tengah di goda oleh mereka. Sambil menata piring di atas meja, Luri pun memberitahu alasan kenapa wajahnya bisa terlihat berseri-seri.
"Bibi, apa dulu di antara kalian ada yang mengalami jatuh cinta?" tanya Luri sedikit tersipu.
"Tentu saja ada, Nona Luri. Jangan-jangan Nona terlihat begitu bahagia karena sedang jatuh cinta ya? Pasti jatuh cintanya pada Tuan Fedo. Benar tidak?" jawab bibi pelayan.
"Benar, Bi. Tapi inikan bukan hal yang baru lagi. Aku yakin Bibi pasti sudah lama tahu tentang kedekatanku dengan Kak Fedo. Dan alasan kenapa aku terlihat begitu bahagia adalah karena Ayah dan Ibu sudah memberikan restu pada kami berdua. Bahkan tadi saat Kak Fedo menelponku Ibu dengan terang-terangan mengatakan kalau dia sudah memberikan lampu hijau untuk hubungan kami. Sepele memang, tapi bagiku restu orangtua adalah suatu hal yang sangat amat penting. Karena kebahagiaan Ayah dan Ibu adalah sebuah harga yang tidak bisa di tawar lagi untukku. Mereka adalah yang paling utama di dunia ini," ucap Luri penuh ketulusan.
Para pelayan merasa sangat kagum mendengar perkataan Luri yang begitu menghargai dan menyayangi kedua orangtuanya. Di pikiran mereka, sangat jarang ada gadis seusia Luri yang sudah mempunyai pemikiran dewasa sepertinya. Rata-rata gadis di zaman sekarang tak lagi mengindahkan larangan para orangtua mereka. Entah itu dalam hal pendidikan maupun pergaulan. Semuanya sangat bebas, tak peduli meski kebebasan itu sendiri bisa menghancurkan masa depan mereka semua. Berbeda dengan Luri, gadis ini bahkan lebih memilih untuk tidak berpacaran dulu sebelum mendapat restu dari kedua orangtuanya. Sungguh beruntung pria yang nantinya akan menjadi suami dari nona mereka ini. Dan calon pria beruntung tersebut bernama Fedo, pria tampan dan kaya raya yang kini tinggal di Jepang.
__ADS_1
"Ekhmm ekhmm ... pantas saja rumah ini terasa sangat sepi. Ternyata kalian semua sedang berkumpul di sini ya. Sedang menggunjingkan apa sih?" tanya Nania sambil menatap penuh penasaran ke arah kakaknya yang tengah asik mengobrol dengan para pelayan di dapur.
"Tidak ada yang bergunjing, Nania. Kami semua hanya sedang mengobrol biasa saja. Iya kan, Bi?" jawab Luri sembari melontarkan pertanyaan simpel pada pelayan. Dia kemudian tersenyum melihat adiknya yang malah mengerucutkan bibir seperti tidak percaya.
Dengan raut wajah yang masih terlihat masam, Nania berjalan mendekat ke arah kakaknya kemudian membantu menyusun gelas di atas meja. Sebenarnya tadi itu Nania ingin bersemedi di dalam kamar saja untuk mencari pencerahan dari Tuhan tentang cara apa yang harus dia gunakan untuk membalas Jovan. Sampai detik ini Nania masih tidak terima di katai cabe-cabean oleh kakak kelasnya itu. Jadi apapun yang terjadi dia harus segera membalasnya. Entah itu memakai cara kasar maupun cara halus, yang terpenting dendamnya bisa terbalaskan. Namun niatan Nania yang ingin bersemedi gagal saat sang ibu masuk ke dalam kamarnya. Dan dia akhirnya keluar kamar setelah di beritahu kalau terlalu lama berada di dalam kamar seorang diri bisa kerasukan setan.
"Kenapa, hm? Masih marah pada Jovan ya?" tanya Luri sembari memperhatikan wajah adiknya yang masih terlihat sangat kesal.
"Tidak hanya marah, Kak. Tapi aku juga sangat meradang di katai sebagai gadis cabe-cabean. Memangnya Kak Jovan itu tidak bisa membedakan ya mana gadis baik-baik dan mana gadis urakan. Aku sangat tersinggung, Kak Luri," jawab Nania.
Andai bisa dilihat dengan jelas, semua bulu kuduk Nania langsung berdiri tegak mendengar godaan yang dilayangkan oleh sang kakak. Menyukai Jovan? Astaga. Di mata Nania, Jovan itu tak lebih seperti anak laki-laki manja yang masih bau kencur. Mendengar orangtuanya mau berpisah saja Jovan sudah langsung menyakiti dirinya sendiri. Lalu alasan apa yang bisa membuat Nania memiliki perasaan lebih pada kakak kelasnya itu? Lain cerita kalau Jovan adalah pria mapan dan juga dewasa, Nania mungkin akan berpikir untuk mendekatinya. Lumayanlah untuk menumpang hidup enak.
"Kak Luri, aku itu hanya akan menyukai laki-laki seperti Kak Fedo. Dia memang menyebalkan, tapi rupa dan uangnya bisa mendatangkan ketenangan. Sedangkan Kak Jovan, ya ampun. Sekolah saja dia masih di biayai oleh orangtuanya. Akan sangat memalukan kalau aku sampai berpacaran dengan laki-laki bermasa depan muram sepertinya."
Mulut para pelayan dan juga Luri langsung ternganga lebar begitu mendengar perkataan Nania. Sungguh, mereka sangat kaget akan pemikiran gadis belia yang suka asal bicara ini. Untung saja Jovan tidak ada di sana. Kalau iya, pasti anak itu akan malu sekali di katai seperti itu oleh Nania.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan membicarakan Kak Jovan lagi. Nanti kekesalanku jadi hilang," ucap Nania sambil memutar-mutarkan badan di dekat meja.
"Bukannya bagus ya Non kalau kekesalanmu hilang?" ledek pelayan sambil mencolek dagu Nania yang terlihat menggemaskan saat menggerakkan rok yang di pakainya.
"Bagus apanya, Bi. Yang ada aku tidak bisa membalas dendam pada Kak Jovan lagi. Kan tidak adil kalau dia di biarkan begitu saja. Dia pasti akan menganggapku sebagai gadis yang lemah nanti!" sahut Nania tak terima.
Gelak tawa langsung memenuhi dapur saat Luri dan para pelayan mendengar penuturan Nania yang enggan untuk berdamai dengan Jovan. Sementara Nania sendiri, dia tampak acuh saja ketika di tertawai oleh orang-orang yang ada di sana. Mungkin karena suara tawa mereka yang lumayan keras, akhirnya membuat Luyan dan Nita datang. Mereka penasaran pada apa yang sedang terjadi di sana.
"Suara tawa kalian terdengar sampai ke ruang depan. Ada apa? Kalian sedang menertawakan apa?" tanya Luyan sembari menatap satu persatu ke wajah semua orang yang masih terkikik pelan.
"Maaf jika suara tawa kami mengganggu anda, Tuan Luyan. Kami semua sedang menertawakan Nona Nania. Dia sangat lucu," jawab salah satu pelayan.
"Iya, Ayah. Kami membujuknya agar memaafkan Jovan, tapi dia menolak. Nania bilang dia takut di anggap sebagai gadis lemah jika memaafkannya begitu saja," timpal Luri seraya melirik ke arah adiknya yang tengah mengerucutkan bibir.
Luyan dan Nita menggelengkan kepala setelah mengetahui penyebab keramaian di dapur rumah mereka. Sudah bukan hal baru lagi kalau putri bungsu mereka mudah menyimpan dendam pada seseorang yang berani membuatnya kesal. Akhirnya Luyan dan Nita pun ikut meledek dan tertawa seperti yang lainnya saat Nania merajuk sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai. Mengabaikan rengekan Nania yang meminta mereka untuk berhenti menggodanya. Sederhana memang, tapi kejadian kecil seperti ini mampu menghadirkan sebuah kehangatan di diri semua orang.
__ADS_1
*****