
Kanita hanya bisa pasrah dan diam saja ketika tangannya di tarik masuk ke dalam rumah oleh sang ayah. Putus asa, ya, dia sudah sangat putus asa sekarang. Hal yang paling dia takutkan sudah terjadi. Fedo dan Paman Mattheo benar-benar memberitahu kedua orangtuanya kalau saat ini dirinya tengah berbadan dua. Ingin marah, tapi Kanita tak memiliki alasan untuk melakukan hal tersebut. Ingin menangis, dia sudah lelah. Juga karena air matanya yang sudah habis tak bersisa. Jadilah sekarang dia memilih untuk diam saja, membiarkan sang nasib yang akan menentukan takdir hidupnya.
"Duduk kau di sana!" teriak Dominic begitu sampai di ruang tamu rumahnya. Dia berbalik melihat ke arah lain, berkacak pinggang kemudian mengusap wajahnya hingga memerah.
"Jangan kasar-kasar, Dom. Kanita sedang hamil, kasihan bayinya," ucap Mili bingung antara ingin marah atau kasihan pada nasib yang kini tengah menimpa putri kesayangannya. Dia sangat syok, itu tentu saja. Tapi tetap saja Mili merasa tak terima ketika Dominic meneriaki Kanita. Hatinya sakit.
"Aku bahkan bisa melakukan hal yang jauh lebih kasar lagi daripada ini, Mili!"'sahut Dominic kian murka mendengar pembelaan istrinya. " Ya Tuhan, Kanita. Dosa apa yang sudah Ayah perbuat sampai-sampai kau tega mempermalukan kami sampai seperti ini? Hamil? Hah, kau gila, Kanita."
Setelah berkata seperti itu Dominic langsung mendekati putrinya. Dia kemudian berjongkok, mencapit dagu putrinya kuat-kuat kemudian mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
"Katakan. Beritahu Ayah bajingan mana yang sudah menghamilimu. Beritahu Ayah kapan dan dimana kalian melakukan perbuatan terkutuk itu. Katakan, Kanita. Katakan!"
Suara Kanita tercekat di tenggorokan saat di cecar seperti itu oleh ayahnya. Ingin sekali dia menjawab kalau ayah dari bayi yang sedang dia kandung adalah Fedo. Akan tetapi Kanita tidak mungkin melakukan hal tersebut karena Fedo sudah mengetahui siapa ayah biologis dari bayi ini. Kanita juga tidak mungkin memberitahu ayah dan ibunya kalau Ando lah yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya. Dia tidak mau kalau harus di nikahkan dengan laki-laki brengsek tersebut. Kanita tidak sudi, dia tidak mencintainya.
"Jangan diam saja, Kanita. Jawab siapa ayah dari bayi ini!" bentak Dominic mulai habis kesabaran.
__ADS_1
"Dom, kau jangan terus-terusan membentak Kanita!" sahut Mili kembali tak terima.
"Kau diam atau aku akan mengurungmu di dalam kamar!" ancam Dominic seraya menunjuk wajah istrinya. "Kau lihat sekarang, Mili. Ini, ini adalah hasil dari kau yang terlalu memanjakan Kanita. Lihatlah hasil apa yang kau tuai dari caramu mendidiknya itu. Dia hamil di luar nikah, juga tidak mau memberitahu kita siapa pria yang telah membuatnya jadi seperti ini. Dengan segala rasa malu yang sudah dia berikan apakah mungkin aku masih akan bersikap lembut seolah tidak terjadi apa-apa? Percaya tidak, Mili. Saat ini aku sangat ingin menghajar anakmu sampai mati. Dia sudah mencoreng nama baik keluarga besar kita. Kau sadar itu tidak, hah!!"
Mili menangis kencang setelah mendengar perkataan suaminya. Memang benar dia yang salah karena selama ini terlalu memanjakan Kanita. Tapi sungguh, tak pernah terfikir di benak Mili kalau putri yang begitu dia banggakan akan melemparkan kotoran busuk ke wajahnya dan juga ke wajah keluarga besar ini. Sambil terisak-isak, Mili menggenggam erat tangan Kanita yang terasa begitu dingin seperti es batu. Dia bisa merasakan kalau putrinya ini sedang sangat ketakutan dan juga tertekan.
"Kanita, tolonglah. Beritahu Ayah siapa yang sudah menghamilimu. Meski Ayah sangat malu dan sangat amat membenci perbuatanmu, tapi Ayah tidak mungkin membiarkanmu melahirkan bayi ini tanpa ada suami yang mendampingi. Tolong katakan, Kanita. Biarkan Ayah yang pergi meminta pertanggungjawaban dari bajingan itu. Ya?" bujuk Dominic berusaha untuk melunak.
"Ayah, aku ....
Perkataan Kanita terputus. Dia tidak sanggup untuk meneruskannya, apalagi mengatakan nama dari pria yang telah menghamilinya. Di hadapkan dalam situasi seperti ini membuat Kanita merasa sangat amat terpuruk. Setengah hatinya berkata untuk bicara jujur pada kedua orangtuanya. Tapi setengah hatinya lagi berkata agar dia tidak menyebutkan nama Ando di sini. Kanita masih sangat-sangat berharap kalau Fedo akan datang untuk menolongnya dari rasa malu ini. Dan harapan itu masih begitu besar meski Kanita sendiri sadar kalau hal tersebut sangatlah mustahil untuk dia dapatkan.
Hancur sudah semuanya. Dominic putus asa, dia sudah tak tahu lagi harus melakukan apa sekarang. Dan satu-satunya hal yang dia pikirkan hanyalah mencari keberadaan pria yang nantinya akan dia nikahkan dengan Kanita. Entah seperti apa jenis menantu yang akan dia dapatkan nanti. Karena bisa saja calon menantunya itu adalah seorang bajingan brengsek mengingat kebiasaan Kanita yang selalu bergonta-ganti pria di setiap malamnya. Memikirkan hal tersebut tiba-tiba membuat mental Dominic drop pada titik yang paling rendah. Harga diri dan juga nama baik yang selama ini dia jaga hancur dalam sekejap mata di tangan putrinya sendiri. Miris bukan?
"Kanita, ayo jawab, Nak. Beritahu Ayah dan Ibu pria mana yang sudah membuatmu hamil. Jangan takut, kami tidak marah. Tolong jawab, Kanita. Jangan memperkeruh keadaan," ucap Mili ikut membujuk.
__ADS_1
"Ibu, aku tidak bisa memberitahu kalian tentang siapa Ayah dari bayi ini. Aku tidak bisa, Bu, Ayah. Aku tidak bisa," sahut Kanita lirih. Dia benar-benar tidak rela jika harus menyebut nama Ando di depan ayah dan juga ibunya.
"Kenapa tidak bisa, Kanita? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa pria ini mengancammu atau bagaimana?" tanya Mili curiga.
Kanita diam tak menyahut. Dia bingung mencari alasan agar kedua orangtuanya mau berhenti menanyakan tentang siapa ayah dari bayinya. Mungkin karena terlalu merasa tertekan, mata Kanita mulai berkunang-kunang. Dadanya sesak, dan tiba-tiba pandangan Kanita menggelap. Dia akhirnya jatuh tak sadarkan diri dalam kondisi tangan yang masih di genggam erat oleh ibunya.
"Astaga, Kanita!" teriak Mili kaget melihat putrinya yang tiba-tiba pingsan.
Dominic pun tak kalah kaget seperti istrinya. Dia langsung berteriak kuat memanggil para pelayan agar segera datang membantu. Begitu Kanita di baringkan ke sofa, Dominic segera menghubungi dokter keluarga mereka. Dia lalu berjalan kesana kemari sembari memperhatikan wajah putrinya yang begitu pucat seperti mayat. Sedangkan para pelayan, mereka saling membagi tugas untuk membantu menyadarkan putrinya sambil menunggu dokter tiba di rumah ini.
"Kanita sayang, bangun Nak. Jangan membuat Ibu takut. Tolong sadarlah, Kanita," ucap Mili sambil menangis sesenggukan. "Dom, bagaimana ini. Kanita tidak mau membuka mata. Aku takut dia dan bayinya kenapa-napa, Dom. Tolong lakukan sesuatu, aku mohon!"
"Tenanglah. Sekarang dokter sedang dalam perjalanan kemari. Kanita dan bayinya pasti baik-baik saja," jawab Dominic mencoba untuk tetap tenang meski hatinya sudah sangat tidak karu-karuan.
"Ini semua gara-gara kau, Dominic. Kalau saja tadi kau tidak memaksa Kanita untuk bicara jujur, dia pasti tidak akan pingsan begini. Pokoknya jika sampai terjadi hal buruk padanya aku tidak akan pernah memafkanmu. Ingat itu!"
__ADS_1
Setelah mengancam suaminya Mili kembali fokus menyadarkan putrinya. Dia tak henti menciumi keningnya, dan hatinya serasa tercabik-cabik saat teringat kalau masa depan putrinya sudah hancur akibat pergaulan dunia malam.
*****