
"Ini nomor siapa ya?" gumam Nania bingung melihat nomor asing yang masuk ke ponselnya.
Layar ponsel Nania terus berkedip karena pemiliknya tak kunjung menjawab panggilan. Nania sedikit malas karena nomor tersebut tidak dia kenal. Juga karena Nania yang sedang sibuk menikmati makanan pesanannya. Saat ini Nania tengah berada di kantin sekolah bersama teman-temannya yang lain. Mereka baru saja melakukan olahraga extrem karena di minta untuk berlari mengelilingi lapangan basket di siang bolong begini. Sebenarnya bukan olahraga sih, tapi lebih ke hukuman dari wali kelas karena mereka semua sangat nakal. Dan otak di balik kenakalan tersebut adalah gadis desa yang kini tengah sibuk menjejalkan makanan ke dalam mulut.
"Nania, angkat dulu teleponmu. Suaranya membuat makananku berhenti di tenggorokan!" tegur salah seorang siswa.
"Hih, bicara apa kau hah! Kau pikir dering ponselku ini apa!" sahut Nania kesal.
"Sudahlah angkat saja. Siapa tahu itu telpon dari kekasihmu."
"Kekasih? Hahahaa...!" ucap Nania tergelak. "Hei, aku ini masih bau kencur. Siapa juga yang akan mau berpacaran dengan gadis ingusan seperti kita. Kalau mau bicara tolong di saring dululah. Jangan asal keluar seperti tai ayam."
Nania lupa kalau dia juga adalah orang yang sangat suka asal bicara. Dia tidak sadar kalau terkadang kata-katanya bisa membuat emosi seseorang naik ke puncak kepala. Nania dan teman-temannya terus bercanda tanpa menghiraukan raungan ponsel yang terus saja mengganggu. Hingga pada akhirnya salah satu teman Nania iseng menjawab panggilan tersebut.
"Yaakkk kau anak nakal, kenapa lama sekali sih mengangkat panggilanku? Apa yang sedang kau lakukan hah!"
Suasana di kantin langsung hening begitu mendengar suara teriakan nyaring dari dalam ponsel Nania. Mata semua siswa saling melirik heran, bingung dan juga penasaran. Mereka kemudian menatap penuh tanya pada Nania yang tengah mengerutkan kening.
"Nania, jangan bilang kau menghamili seorang pria!" celetuk salah satu siswa.
"Kepalamu. Kau pikir aku ini apa hah! Sudah gila ya!" amuk Nania kemudian menjitak kepala temannya yang baru saja melayangkan tuduhan tidak manusiawi. "Di mana-mana perempuanlah yang hamil, bukan pria. Coba kalian pikir darimana pria akan melahirkan anak jika milik mereka saja bentuknya seperti timun? Kan kasihan bayinya jadi terjepit."
Teman-teman Nania tampak mengangguk setuju. Pandangan mereka kembali tertuju ke arah ponsel saat terdengar suara makian dari dalam sana. Suara tersebut bisa sangat kuat karena teman Nania sudah meloudspeaker di awal mengangkat telepon.
"Nania, kenapa tidak menjawab? Apa yang sedang kau lakukan?"
"Hei pria bertoa, kau ini siapa sih? Sekalinya menelpon langsung meneriaki aku. Kau pikir aku ini tuli apa?" kesal Nania.
__ADS_1
Sambil mengomel, Nania menghabiskan makanannya. Dia kemudian melirik satu-persatu wajah temannya yang sudah berdiri memutari meja tempat dia duduk.
"Ini aku, Kak Fedo. Aku ingin membicarakan bisnis penting denganmu. Tenang saja, bayarannya kau boleh meminta apapun dariku asal kinerjamu memuaskan. Bagaimana? Kau mau tidak bekerjasama denganku?"
Nania dengan cepat mematikan lodspeaker ponsel kemudian berlari menjauh. Dia langsung memelototkan mata ketika teman-temannya ingin datang mendekat.
"Bisnis tentang apa Kak?" tanya Nania sambil terus mengawasi teman-temannya dari jauh.
"Semalam aku menelpon kakakmu. Dia bilang kemarin sore ada pria bernama Galang yang datang ke rumah kalian untuk belajar bersama. Apa itu benar?"
"Iyalah. Kau pikir kakakku gadis seperti apa sampai berani mengundang laki-laki datang ke rumah tanpa alasan yang jelas?" jawab Nania cetus.
"Hei, jangan tersinggung dulu. Aku tahu kalau kakakmu bukan gadis yang seperti itu. Makanya aku sampai terLuri-Luri padanya."
"Heh? TerLuri-Luri? Bahasa macam apa itu, Kak? Aneh sekali."
Nania terkekeh mendengar kata-kata aneh tersebut. Sedikit menggelitik saat nama kakaknya di ulang dengan tambahan suku kata di bagian depan.
"Hilih, maling teriak maling. Kau pikir kau juga tidak genit apa Kak? Kau bahkan lebih tidak sopan lagi pada kakakku!" protes Nania sambil mencebikkan bibir.
Lama tak ada balasan dari seberang telepon. Kalau saja Fedo tak kembali bicara, Nania mungkin sudah mematikan panggilan tersebut. Dia mulai resah melihat teman-temannya menikmati minuman yang terlihat begitu menggoda. Membuat air liurnya menetes dengan sangat deras.
"Lupakan tentang siapa pria yang paling genit antara aku dengan Galang. Sekarang dengarkan aku baik-baik, Nania. Mulai detik ini, aku akan membayarmu sebagai mata-mata. Aku ingin agar kau terus mengawasi Galang supaya dia tidak bisa mendekati kakakmu lagi. Pokoknya kau harus melakukan segala macam cara untuk menjauhkan mereka. Paham?"
Kening Nania mengerut. Dia merasa kalau tugas ini terlalu berat. Di ancam dengan paku dan palu saja Galang masih tidak takut padanya, lalu apa yang harus dia lakukan jika siswa itu kembali mendekati kakaknya? Ini benar-benar tugas yang pelik.
"Kak, kemarin saat Galang datang ke rumah aku sudah mengancam akan memaku kepalanya jika berani macam-macam pada Kak Luri. Tapi dia sepertinya tidak takut. Aku rasa kerjasama ini tidak bisa terlaksana!" ucap Nania menjelaskan situasi yang terjadi.
__ADS_1
"Jangan menyerah dulu, Nania. Kalau kemarin kau gagal membuatnya jera dengan memakai paku dan palu, besok jika dia datang lagi ancam saja dengan bom. Katakan pada Galang kalau kau akan meledakkan... em, dia datang memakai motor atau mobil?"
"Mobil, Kak. Dia sepertinya anak orang kaya juga," jawab Nania sambil mengingat-ingat kendaraan apa yang di pakai oleh Galang ketika datang ke rumahnya.
Fokus Nania kembali teralih saat teman-temannya seperti sengaja memamerkan minuman mereka. Andai saja ini bukan bisnis yang menguntungkan, Nania pasti lebih memilih untuk menikmati kesegaran dari minuman tersebut. Memikirkan hal itu membuat mood Nania memburuk. Dia mulai kesal karena Kak Fedo tak kunjung selesai bicara.
"Nania, kau dengar aku tidak sih?"
"Dengar. Kalau tidak lupa besok aku akan melakukan apa yang Kakak katakan barusan. Sudah dulu ya. Gara-gara mengobrol denganmu aku jadi ketinggalan sekarang!" gerutu Nania lalu memutuskan panggilan.
Dengan menggunakan jurus seribu bayangan kini Nania sudah kembali duduk di tempatnya semula. Dia langsung mencicipi minuman tanpa menghiraukan tatapan teman-temannya yang terlihat sangat penasaran.
"Nia, siapa yang menelponmu? Hal penting apa yang kalian bicarakan?"
"Itu adalah calon sugar daddy-ku. Namanya Kak Fedo, dia sangat kaya raya," jawab Nania asal.
"Wooaaahhh... Kau beruntung sekali bisa mendapatkan sugar daddy sekeren itu, Nania. Tapi tunggu dulu. Bukankah tadi kau bilang kalau kau itu masih bau kencur ya? Kenapa tiba-tiba sekarang kau memiliki sugar daddy? Ihh, kau genit sekali Nania!" ejek para siswa-siswi.
"Hei, jika ada kesempatan kenapa tidak? Lagipula sugar daddy itu datang sendiri, bukan aku yang mencarinya. Lalu dimana letak salahku?"
Teman-teman Nania akhirnya saling menganggukkan kepala. Sedangkan Nania, gadis itu terlihat santai-santai saja setelah berhasil mengelak dari ucapannya sendiri. Sebenarnya Nania itu masih belum paham dengan arti sugar daddy yang sesungguhnya. Andai saja dia tahu kalau julukan sugar daddy itu tidak terlalu baik, Nania pasti tidak akan mau lagi mengucapkan kata tersebut. Tapi ya sudahlah, Nania tetaplah Nania yang suka bicara sesuka hati. Hitung-hitung untuk hiburan agar kita bisa melewati hari dengan senyuman. π€£π€£π€£π€£
πππππππππππππππππ
πGengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub ya. Nama ChanelnyaβΆ Mak Rifani. Silahkan mampir jika berkenan βΊ
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur ya gengss
__ADS_1
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani