
Setelah dampak dari pembullyan yang dilakukan oleh Nania, tiba-tiba saja gadis itu menjelma menjadi seorang ketua gangster. Ya, saat ini Nania begitu di elu-elukan oleh teman sekelasnya berkat insiden telur waktu itu. Bahkan sekarang Nania di perlakukan bak seorang ratu ketika teman-temannya membawanya pergi ke kantin.
Luri yang memang sedang mengawasi gerak-gerik adiknya itupun merasa heran. Dia bingung kenapa Nania bisa dengan begitu mudah akrab dengan anak-anak yang dulu membullynya. Khawatir ada sesuatu yang terjadi, Luri pun berniat menghampiri sang adik. Dia sungguh takut kalau Nania diam-diam telah mengancam semua temannya agar bersedia untuk patuh.
"Luri!!"
Langkah kaki Luri terhenti saat ada orang yang memanggilnya. Dia kemudian menoleh, sedikit bingung melihat seorang siswa laki-laki berlari menghampirinya.
"Luri, kepala sekolah memanggilmu."
"Kepala sekolah memanggilku? Ada masalah apa ya?" tanya Luri cemas.
"Ini tentang beasiswa kuliah ke luar negeri. Kau ada mendaftarkan diri untuk ikut seleksi beasiswa itu kan?"
Luri mengangguk. Ya, di hari pertama dia masuk sekolah, di mading ada tertempel sebuah pengumuman tentang beasiswa kuliah kedokteran di luar negeri. Dia lalu memutuskan untuk mendaftar karena begitu tertarik dengan dunia medis. Beruntung saat di desa Luri memiliki nilai akademik yang lumayan bagus, jadi dia tidak ragu untuk mendaftar meski kemampuannya tidak sehebat anak-anak yang tinggal di kota.
"Kalau begitu kita sama. Aku juga ikut mendaftar," ucap si siwa laki-laki tadi kemudian mengulurkan tangan. "Namaku Galang, aku teman sekelasmu."
"Aku Luri. Maaf, aku belum terlalu banyak mengenal murid-murid di sini jadi aku tidak tahu kalau kau adalah teman sekelasku!" sahut Luri sembari menerima uluran tangan siswa bernama Galang.
"Santai saja, itu wajar karena kau masih baru di sekolah ini," sahut Galang sambil tersenyum manis. "Sebaiknya sekarang kita segera pergi ke ruangan kepala sekolah saja, Luri. Beliau dan siswa yang lain sedang menunggu kita di sana."
"Baiklah, ayo!" ucap Luri kemudian berjalan beriringan dengan Galang.
Dari kejauhan, ada sepasang mata yang tengah menatap curiga ke arah Galang. Siapa lagi kalau bukan Nania. Gadis beracun itu terlihat tidak senang melihat kakaknya di dekati oleh seorang laki-laki. Jiwa dewi perangnya langsung mencuat.
"Nania, kau kenapa? Wajahmu terlihat buruk sekali!"
__ADS_1
"Diamlah, jangan menggangguku. Aku sedang mengawasi seseorang agar terhindar dari binatang berbahaya. Kalian makanlah sampai kenyang, jangan lupa makananku di bayar juga ya. Aku harus segera pergi dari sini!" jawab Nania kemudian berlari keluar dari kantin.
Teman-teman sekelas Nania tercengang kaget mendengar ucapannya. Tradisi bagi murid pendatang baru di sekolah ini adalah mentraktir teman satu kelasnya. Tapi ini, jangankan di traktir, justru mereka yang diminta untuk membayar makanan yang sudah dimakan oleh Nania. Sungguh definisi anak baru yang tidak punya akhlak.
Sesampainya di depan ruangan kepala sekolah, Galang segera mengetuk pintu kemudian masuk berbarengan dengan Luri. Mereka kemudian bergabung dengan tiga siswa lainnya dimana hanya Luri yang seorang perempuan.
"Apa semuanya sudah berkumpul?" tanya kepala sekolah.
"Sudah, Bu."
Ibu kepala sekolah mengangguk. Beliau lalu mengeluarkan beberapa kertas kemudian memberikannya satu pada masing-masing siswa. Luri dan Galang terlihat begitu seksama saat membaca tulisan yang ada di dalam kertas tersebut. Mereka berdua kaget begitu tahu kalau hanya akan ada dua orang siswa terpilih yang bisa menerima beasiswa tersebut.
"Ibu kepala sekolah, bolehkah saya bertanya?" tanya Luri sopan.
"Tentu saja boleh asalkan itu masih berhubungan dengan tulisan yang kalian baca di dalam kertas itu," jawab si kepala sekolah mempersilahkan.
Sudut bibir kepala sekolah tertarik ke atas begitu mendengar pertanyaan si murid. Beliau kemudian berpindah duduk di samping murid-muridnya untuk memberi penjelasan.
"Begini Luri. Ini sebenarnya adalah sebuah kompetisi, bukan dipilih secara langsung oleh pihak sekolah. Baik itu siswa dengan nilai akademik rendah maupun tinggi semuanya berhak untuk mendaftar. Sekolah kita di tunjuk sebagai salah satu sekolah favorit yang di lirik oleh beberapa universitas luar negeri berkat kepintaran siswa-siswi yang menuntut ilmu di sini. Pihak sekolah kemudian mengajukan kerjasama dengan salah satu universitas ternama untuk membuka beasiswa bagi murid yang berprestasi. Dan pihak universitas merespon dengan baik pengajuan sekolah kita dengan catatan hanya siswa-siswi yang lolos seleksi saja yang bisa di daftarkan. Itu pun dengan persyaratan yang sangat ketat. Sebenarnya bukan hanya kalian saja yang ikut mendaftar, tapi ada sekitar lima belas siswa yang ikut mendaftar sejak pengumuman ini di tempel di mading sekolah. Namun, setelah para guru melakukan seleksi awal, dari lima belas siswa pendaftar hanya kalian berlima saja yang memenuhi persyaratan. Dan setelah ini pun masih akan ada beberapa seleksi lagi yang mana dari seleksi tersebut hanya akan menyisakan dua di antara kalian berlima. Tapi tenang saja, untuk tiga orang siswa yang tidak lolos akan tetap mendapat apresiasi dari pihak sekolah dengan mendaftarkan beasiswa di universitas lain. Jadi inti dari kompetisi ini adalah pihak sekolah ingin membukakan wadah yang jauh lebih baik lagi bagi kalian yang memiliki cita-cita tinggi. Karena itulah, saya pribadi ingin meminta kalian semua agar bersungguh-sungguh dalam belajar. Usaha tidak akan mengkhianati hasil, Nak. Percayalah!"
Galang, Luri, dan tiga siswa lainnya menyimak perkataan kepala sekolah dengan seksama. Mereka sama-sama lega karena akan tetap mendapat beasiswa, hanya universitasnya saja yang berbeda.
"Karena kalian semua sudah membaca peraturan yang harus di taati, sekarang kalian boleh kembali ke kelas masing-masing. Dan ingat ya, dua minggu lagi seleksi kedua akan segera di gelar. Ibu harap kalian berlima bisa menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya karena bukan hanya sekolah kita saja yang melakukan pengajuan beasiswa, tapi ada empat sekolah lagi yang akan menjadi rival kalian dalam memperebutkan beasiswa untuk masuk universitas tersebut. Jadi gunakanlah waktu sebaik mungkin untuk menyerap ilmu pembelajaran yang sudah kalian dapat. Ingat, kesempatan ini tidak datang dua kali. Paham?"
"Paham Bu!" sahut Luri dan teman-temannya kompak.
Setelah itu semua siswa segera keluar dari ruangan kepala sekolah. Galang yang melihat Luri ingin pergi ke arah kantin pun segera mengejarnya. Jujur saja, sejak awal Luri datang ke sekolah ini, Galang terus memperhatikannya. Dan kebetulan mereka mengikuti kompetisi yang sama. Jadi Galang ingin menggunakan kesempatan ini agar bisa lebih dekat dengan Luri.
__ADS_1
"Luri, sore ini kau ada waktu luang tidak?" tanya Galang.
"Ada," jawab Luri jujur. "Memangnya kenapa Galang?"
"Em, kalau kau tidak keberatan aku ingin mengajakmu belajar bersama. Aku rasa dengan belajar bersama kita bisa saling memberitahu kelemahan di bidang masing-masing. Jujur saja, aku sangat ingin kuliah di sana. Itu adalah universitas impianku sejak aku lulus dari sekolah dasar."
Luri tersenyum mendengar jawaban Galang yang begitu jujur mengakui. Dia kemudian merespon baik tawaran Galang yang ingin mengajaknya belajar bersama.
"Baiklah kalau begitu, aku setuju untuk belajar bersama denganmu. Tapi kalau di luar rumah aku tidak bisa, Galang. Aku masih harus menjaga Ayah dan Ibuku yang sedang sakit, juga harus memasak untuk makan malam keluargaku. Kau keberatan tidak jika kita belajar di rumahku saja? Nanti sepulang sekolah aku akan memberimu alamat tempat tinggalku."
"Oh, itu tidak masalah, Luri. Asalkan kita bisa belajar bersama, mau dimana pun tempatnya aku pasti datang. Terima kasih ya sudah mau menerima ajakanku!" jawab Galang senang bukan main.
"Sama-sama Galang. Kalau begitu aku ke kantin dulu ya."
"Iya silahkan."
Dan begitu Luri berbelok masuk ke arah kantin, Galang langsung melompat-lompat kegirangan. Namun uforianya tidak berlangsung lama karena tiba-tiba saja terdengar celetukan kejam yang keluar dari mulut seorang gadis berseragam putih biru.
"Dasar akal bulus kucing kampus. Awas saja kalau kau berani macam-macam pada kakakku. Aku pastikan kau akan pulang dengan kantung semar yang sudah rusak. Huhhh, dasar modus!" omel Nania sambil memicingkan mata ke arah Galang yang sedang mematung kaget.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
✅ Hai gengss, kisah PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutup emak ya. Nama chanelnya @Mak Rifani, dan part 40 baru saja up. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
...💜 Jangan lupa vote, like, dan comment keuwuan mereka ya gengss...
...💜 Ig: rifani_nini...
__ADS_1
...💜 Fb: Rifani...