PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Bukan Gadis Gampangan


__ADS_3

"Kapan kau akan di perbolehkan pulang ke rumah, Jo?" tanya Galang sembari menatap wajah mantan rivalnya yang sudah tidak sepucat saat dia datang pertama kali untuk menjenguknya. Galang tengah berada di rumah sakit sekarang.


"Besok pagi, Lang. Kenapa memangnya?"


Setelah waktu itu di hajar oleh Nania, otak Jovan serasa kembali ke jalan yang seharusnya. Dia tiba-tiba saja sadar kalau tindakannya amat sangat menjijikkan. Jovan sangat merutuki kebodohannya yang tega menyakiti diri sendiri hanya demi orang-orang yang tidak pernah memikirkan perasaannya. Nania benar, harusnya Jovan membalas sikap ayah dan ibunya dengan keberhasilan yang dia raih dengan tangannya sendiri. Bukan dengan bersikap cengeng yang malah memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan orang lain. Tidak di sangka, Jovan kalah telak dengan pemikiran seorang gadis belia yang usianya bahkan masih dua belas tahun. Sangat memalukan bukan?


"Tidak kenapa-napa sih," ucap Galang. "Kau akan pulang bersama orangtuamu atau aku jemput? Aku tahu kau masih merasa kecewa pada mereka, Jo. Jadi aku berbaik hati ingin memberimu tumpangan."


"Sialan kau. Kalau mau menolong ya tolong saja, kenapa harus ada embel-embel kata seperti itu sih? Menyebalkan sekali!" gerutu Jovan sembari melemparkan bantal ke arah Galang.


"Hehehe, sorry lah. Aku hanya ingin sedikit menghibur temanku yang hampir mati gara-gara kebanyakan meminum pil tidur."


Galang tertawa melihat Jovan yang merajuk karena mendengar ejekannya. Dia kemudian menghela nafas dalam seraya memainkan bantal di tangannya. Setelah makan malam di luar rumah Galang langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Jovan. Dan tujuannya datang kemari adalah untuk memberitahukan kalau dia dan Luri berhasil memenangkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Namun niatnya itu sedikit tertunda karena di luar tadi ayah dan ibunya Jovan mengajaknya untuk bicara. Mereka memberitahukan kalau gugatan perceraian itu telah


di batalkan dan meminta Galang untuk menyampaikannya pada Jovan. Orangtua Jovan bilang sampai detik ini Jovan masih menolak untuk bertemu dengan mereka. Mungkin rasa kecewa dan sakit hati yang di rasakan oleh temannya ini terlalu besar, makanya Jovan sampai enggan untuk bertatap muka dengan orangtuanya sejak hari pertama dia sadar.


"Jo, tadi Ayah dan Ibumu bilang padaku kalau mereka memutuskan untuk mencabut berkas gugatan perceraian. Mereka juga bilang kalau mereka menyesal sudah mengabaikan perasaanmu. Mereka minta maaf," ucap Galang hati-hati. Dia sedikit menyimpan kekhawatiran kalau kabar tersebut akan kembali mempengaruhi mental Jovan.


"Kenapa harus di batalkan?" tanya Jovan dengan suasana hati yang begitu tenang. "Mereka bilang sudah tidak merasa nyaman antara satu dengan yang lain. Kalau bersama hanya akan membuat mereka merasa sakit lalu apa gunanya tetap di pertahankan? Aku tidak masalah kalau Ayah dan Ibuku ingin tetap bercerai, Lang. Karena semua itu tidak akan berpengaruh lagi pada hidupku."

__ADS_1


"Hah, kau serius, Jo? Bukannya kau melakukan tindakan bodoh ini karena takut Ayah dan Ibumu akan bercerai ya? Tapi kenapa sekarang tanggapanmu berbeda? Kau ... tidak sedang merencanakan sesuatu yang lebih gila lagi kan? Meloncat ke sungai, mungkin!" cecar Galang syok mendengar jawaban Jovan.


"Woaahhh, pikiranmu buruk sekali, Lang. Aku tidak seto lol itu dengan mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kali. Sudah cukup dengan keadaan yang sekarang, aku sudah sangat malu jika mengingatnya. Kau benar kalau awalnya aku sangat ketakutan saat tahu Ayah dan Ibuku ingin bercerai. Tapi setelah Nania datang, aku jadi sadar


kalau hidup tidak akan berhenti begitu saja meskipun orangtuaku tidak lagi bersama. Aku masih punya kalian sebagai teman-temanku, juga cita-cita yang akan membawakan sejuta kebahagiaan di dalam hidupku. Biar saja kalau mereka ingin berpisah, toh itu keinginan mereka sendiri, tidak ada memaksa. Jadi sekarang aku sudah tidak peduli dengan semua itu. Aku hanya akan memikirkan kebahagiaan untuk diriku sendiri. Karena tidak akan ada gunanya memikirkan orang-orang yang hanya mementingkan keegoisan masing-masing. Benar tidak?"


Wajah Jovan terlihat begitu santai saat bicara seperti itu. Ya, memang benar kalau sekarang dia sudah ikhlas dengan perceraian orangtuanya. Dan semua ini berkat cara gila Nania dalam menyadarkannya. Jovan bagai mendapat suntikan kekuatan setelah mendengar kata-kata beracun yang di ucapkan oleh gadis yang di sukainya itu. Dia menjadi lebih kuat untuk menghadapi kenyataan.


"Ooh, jadi kau bisa berpikir waras karena gadis kecilmu itu ya?" ledek Galang sambil menahan tawa. "Sudah tidak jual mahal lagi untuk mengakui kalau kau menyukai Nania, hm?"


"Awalnya aku tertarik pada Luri, tapi ternyata itu bukan rasa suka. Melainkan hanya kekaguman saja karena aku baru pertama kali itu melihat seorang gadis yang pembawaannya begitu tenang. Tapi untuk Nania, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta padanya, Lang. Usianya memang masih muda, tapi cara berpikirnya benar-benar membuatku sangat terpesona. Luri dan Nania, kedua gadis desa itu memiliki pesona yang tidak biasa. Dan apapun yang terjadi, suatu saat nania aku pastikan Nania akan menjadi milikku!" ucap Jovan penuh tekad.


Galang begitu respek akan tekad Jovan yang ingin mendapatkan hatinya Nania. Selain karena posisinya yang jauh lebih aman tanpa seorang saingan, Galang juga merasa beruntung karena dengan kedekatan Jovan dan Nania bisa membantunya untuk meluluhkan hatinya Luri. Galang tidak pantang menyerah, dia akan terus maju sampai berhasil membuat Luri mau menerima perasaannya.


"Tidak masalah jika memang dengan cara itu Nania bisa menjadi milikku. Tapi Lang, aku rasa Nania tidak akan sejahat itu padaku. Dia menjadi buas hanya saat ada kumbang busuk yang mendekati Luri. Kau contohnya!" ejek Jovan sambil menunjuk wajahnya Galang.


Setelah berkata seperti itu Jovan terperanjat kaget karena Galang tiba-tiba menutup wajahnya menggunakan bantal yang tadi dia lemparkan. Jovan kemudian menggeram kuat karena nafasnya mulai sesak saat Galang menekan bantal tersebut dengan sangat kuat.


"Rasakan! Beraninya kau mengejekku ya!" kesal Galang sambil menyingkirkan bantal dari wajahnya Jovan. Setelah itu dia menyeringai puas melihat nafas Jovan yang tidak beraturan dengan wajah merah padam. "Itu balasannya kalau kau berani mengolok-olok aku, Jo. Bagaimana, masih berani kau cari masalah denganku, hm?"

__ADS_1


Jovan tidak bisa membalas kejahatan yang dilakukan oleh Galang karena di tangannya masih terpasang jarum infus. Jadi dia hanya bisa mengumpat sambil terus menarik nafas untuk mengisi pasokan udara di dalam paru-parunya.


"Ckck, dengan kondisi lemah begini aku tidak yakin kau mampu menaklukkan Nania, Jo. Baru di sumbat bantal saja nafasmu sudah hampir hilang. Apa jadinya nanti jika Nania sampai membanting tubuhmu ke tanah? Aku yakin kau pasti akan langsung mati detik itu juga!" ledek Galang sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Berhenti mengolokku, Lang. Khawatirkan dirimu saja yang sampai detik ini masih belum bisa mendapatkan hatinya Luri. Masalah apakah aku mampu menaklukkan Nania atau tidak, kau tidak perlu repot-repot memikirkannya. Karena apa? Karena aku jauh lebih tahu cara yang bisa membuat hati gadis beracun itu luluh. Aku tinggal menyogoknya dengan berbagai macam makanan enak. Lalu setelahnya secara perlahan-lahan aku akan mulai membucin padanya. Aku tidak yakin hati Nania tidak akan luluh padaku. Gampang kan?" sahut Jovan dengan begitu percaya diri.


Galang tersenyum ngeri mendengar cara yang akan dilakukan oleh Jovan. Bukannya apa, Nania memang penyuka berbagai jenis makanan. Tapi Galang tahu dengan jelas kalau sikap dan cara berpikir gadis beracun itu sangat licin seperti belut. Dia bahkan berani bertaruh kalau Jovan akan mengalami nasib yang sama sepertinya karena baik Luri maupun Nania, kedua gadis ini sama-sama memiliki pendirian yang sangat tegas. Luri dan Nania bukanlah gadis gampangan yang akan langsung luluh begitu menerima suatu barang dari laki-laki yang menyukainya. Mereka terhormat.


"Aku do'akan semoga niat dan tujuanmu berjalan lancar ya, Jo. Tapi jika kenyataan yang kau terima tidak sesuai dengan apa yang kau bayangkan, jangan ragu untuk datang padaku. Bahuku terbuka lebar untuk menampung air matamu," ucap Galang seraya memperlihatkan ekpresi prihatin.


"Hei, ada apa dengan raut wajahmu, Lang? Kenapa aku merasa kalau kau sedang merencanakan sesuatu yang buruk di belakangku ya?" tanya Jovan curiga.


"Sudah, jangan berpikir macam-macam tentangku. Lebih baik kau pikirkan cara apa yang akan kau lakukan karena besok aku akan mengajak Luri dan Nania untuk menjengukmu di rumah. Dan satu hal lagi, aku dan Luri berhasil memenangkan beasiswa itu. Kami berdua akan langsung berangkat ke luar negeri setelah ujian sekolah selesai. Aku pulang dulu, dan selamat berjuang untuk mendapatkan hatinya Nania!"


Setelah berkata seperti itu Galang langsung keluar dari dalam kamar tersebut. Meninggalkan Jovan yang sedang terbengang heran sambil menatap kepergiannya.


"Apa Galang mau mati ya? Kata-katanya misterius sekali," gumam Jovan bingung. Dia kemudian menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan kepala. Jovan melamun, membayangkan cara apa yang akan dia lakukan untuk menyambut kedatangan Nania di rumahnya besok.


*****

__ADS_1


__ADS_2