PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Menanam Benih


__ADS_3

Perasaan Kanita menjadi jauh lebih baik setelah sang ibu membawanya pergi berbelanja ke beberapa toko langganannya. Wajah yang tadinya terlihat begitu suram kini berangsur-angsur menjadi cerah. Kanita seakan tidak merasa lelah saat tangannya tidak berhenti menunjuk ini dan itu setiap kali melihat barang-barang mewah yang terpajang di etalase toko barang branded.


"Apa perasaanmu sudah lebih baik sekarang?" tanya Mili sembari menatap dalam ke arah putrinya yang begitu bersemangat saat mencoba beberapa pasang sepatu.


"Berkat Ibu sekarang perasaanku sudah jauh lebih tenang. Terima kasih banyak ya, Bu. Rasanya aku seperti baru keluar dari dalam goa yang sangat gelap dan sesak," jawab Kanita sambil tersenyum lebar.


Mili mengangguk. Dia lalu mengusap puncak kepala putrinya penuh sayang. Kendati demikian, benak Mili masih saja di penuhi oleh kecurigaan kalau putrinya sedang berbadan dua. Apalagi setelah melihat cara Kanita dalam memilih sepatu dan pakaian. Jika biasanya Kanita akan memilih model baju yang sangat seksi dan juga sepatu berhak tinggi, kali ini Kanita hanya memilih beberapa pakaian berwarna terang di mana ukurannya sangat berbeda jauh dengan seleranya. Juga dalam pemilihan model sepatu, putrinya ini lebih memilih untuk membeli jenis sepatu flat. Aneh memang, tapi Mili menahan diri untuk tidak mencecar Kanita sekarang. Dia khawatir kalau-kalau putrinya akan kembali histeris seperti yang terjadi saat mereka berada di apartemen tadi.


Entah kebetulan atau bagaimana, saat Mili sedang asik menemani Kanita berbelanja, Abigail dan putrinya masuk ke toko yang sama dengan mereka. Dan kedatangan mereka pertama kali di sadari oleh Mili karena dia yang tidak sengaja menoleh ke arah pintu.


"Cihhh, bagaimana bisa kalian masuk ke toko yang sama dengan kami? Kalian menguntit ya?" tanya Mili sarkas.


Langkah Abigail dan Kayo langsung terhenti saat mereka di sambut dengan pertanyaan yang begitu sinis dari seorang wanita tua yang selalu saja mencari masalah dengan mereka. Kesal di perlakukan seperti itu, Kayo pun akhirnya naik pitam. Dia berjalan mendekat, bermaksud memberi pelajaran pada ibu Kanita. Namun keinginannya itu lagi-lagi di hentikan oleh ibunya yang mana membuat Kayo mendengus dengan cukup keras.


"Biarkan saja. Anggap mereka adalah anjing yang sedang menggonggong," ucap Abigail tenang. Dia sama sekali tidak terprovokasi oleh perlakuan Nyonya Mili yang sangat tidak sopan.


"Anjing saja masih sadar untuk tahu diri, Bu. Kalau mereka, aku rasa tidak!" sahut Kayo seraya melirik sinis ke arah Kanita yang hanya diam tak berkata.

__ADS_1


Sadar kalau pasangan ibu dan anak ini sedang menyindirnya, Mili pun merasa tidak terima. Dia dengan berani melangkah maju untuk berhadapan dengan keluarga dari pria yang telah menghancurkan hidup putrinya.


"Apa kau bilang tadi? Anjing yang menggonggong? Bukankah kata-kata itu lebih pantas di tujukan untuk orang-orang rendah seperti kalian ya?" ejek Mili.


"Nyonya Mili, aku rasa matamu tidak buta kalau sekarang kita sedang berada di tempat umum. Bukankah selama ini kau begitu menjunjung tinggi yang namanya attitude seorang wanita bangsawan? Apa kau tidak merasa malu menjadi pusat perhatian orang-orang karena sudah bicara tidak sopan padaku dan juga pada anakku?" tegur Abigail dingin. "Dan satu hal lagi. Toko ini bebas untuk di masuki oleh siapapun, termasuk kami. Jadi kau jangan pernah berfikir kalau kami sedang menguntit kalian hanya gara-gara masuk ke dalam toko yang sama. Kau tidak seberharga itu untuk di jadikan target kuntitan, Nyonya Mili!"


Paham kalau keadaan akan semakin memanas jika perdebatan ini tidak segera di akhiri, Kanita pun segera mengambil tindakan. Dia meminta karyawan toko untuk membungkus dua pasang sepatu yang tadi dia coba lalu mengajak ibunya untuk segera pergi dari sana.


"Bu, sebaiknya kita pergi saja dari toko ini. Dan tolong berhenti mencari gara-gara dengan Bibi Abigail dan juga Kayo. Mereka tidak mungkin melakukan hal seperti yang Ibu tuduhkan barusan. Kita pergi ya?" bujuk Kanita.


Kayo dan Abigail menatap heran ke arah Kanita yang terus saja menunjukkan gelagat yang aneh. Jika Kayo berfikiran kalau Kanita sedang frustasi gara-gara tidak bisa mendapatkan cinta kakaknya, lain halnya dengan apa yang di pikirkan oleh Abigail. Sebagai wanita yang pernah mengandung dua kali, Abigail tentu saja bisa membedakan mana wanita yang sedang hamil dan tidak hamil. Dia terus saja memperhatikan bentuk tubuh Kanita hingga membuat wanita ini menjadi kikuk karenanya.


Tidak mungkin Kanita sedang mengandung anaknya Fedo kan? Ya Tuhan, semoga saja itu tidak benar. Hidup putraku benar-benar akan hancur jika memang hal ini adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa di elakkan lagi. Belum lagi dengan Luri. Gadis desa itu pasti akan sangat patah hati jika tahu kalau Fedo akan memiliki anak dari wanita lain. Tolong jangan berikan takdir mengerikan ini pada putraku, Tuhan. Aku mohon, batin Abigail resah.


"Bu, aku sudah selesai memilih sepatunya. Aku lelah, aku ingin pulang sekarang juga!" ucap Kanita terus mendesak sang ibu agar bersedia untuk segera pulang ke rumah. Dia tidak nyaman melihat cara ibunya Fedo menatapnya.


"Tapi Kanita, Ibu belum selesai bicara dengan kedua wanita rendahan ini!" sahut Mili enggan untuk beranjak pergi.

__ADS_1


"Jaga mulutmu baik-baik, Nyonya Mili. Yang lebih cocok di sebut sebagai wanita rendahan itu putrimu, bukan kami. Berkacalah, di toko ini ada banyak cermin yang menganggur. Apa perlu aku yang mengajarimu cara untuk melihat diri sendiri, hm?" geram Kayo sambil melayangkan tatapan membunuh ke arah ibunya Kanita. Rasanya ingin sekali dia mencekik leher wanita ini karena sudah berani merendahkan ibunya.


Sebelum sempat Mili membalas perkataan Kayo, tangannya sudah lebih dulu di tarik keluar oleh putrinya. Dia terus menggerutu mengomeli Kanita yang tidak mau membiarkannya meladeni Kayo dan juga Abigail. Sedangkan Kanita sendiri, dia hanya diam tak merespon omelan ibunya. Mendadak tubuhnya terasa sangat lemas saat membayangkan apa yang akan terjadi jika seandainya tadi adik dan ibunya Fedo menyadari kehamilannya. Dunianya pasti akan langsung hancur detik itu juga.


Sepeninggal Kanita dan ibunya, Kayo dan Abigail masih belum bergeming dari tempat mereka berdiri. Pikiran Abigail terus saja di penuhi oleh rasa was-was setelah bertatap muka dengan Kanita. Kayo yang melihat ibunya melamun pun menjadi heran. Dia penasaran gerangan apa yang tengah menyita pikiran sang ibu.


"Bu, ada apa? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Kayo pelan.


"Kay, apa kau menyadari ada yang berbeda di diri Kanita tadi? Dia terlihat seperti wanita yang tengah berbadan dua," jawab Abigail seraya menatap lekat ke arah putrinya. Dia benar-benar sangat resah sekarang.


"Astaga, Ibu. Jangan bilang Ibu sedang berprasangka kalau Kanita hamil anaknya Kak Fedo?" pekik Kayo dengan suara lirih. Dia kemudian menatap ke sekeliling toko, memastikan kalau tidak ada orang yang mendengar perkataan ibunya barusan.


Abigail terdiam. Dia bingung, khawatir, dan juga takut. Tak mau berpikir yang tidak-tidak dulu, Abigail memutuskan untuk melihat barang yang di jual toko tersebut. Dia kemudian mengambil sepasang sepatu berwarna hitam dengan perasaan yang tidak menentu. Mengabaikan tatapan Kayo yang terus memperhatikannya dari arah belakang.


"Aku percaya kalau Kak Fedo tidak mungkin menanam benih di rahim perempuan seperti Kanita. Jikapun tebakan Ibu benar, aku yakin bayi itu bukanlah cucu dari keluarga Eiji. Untuk membuktikan apakah prasangka Ibu benar atau salah, aku harus segera melakukan tindakan. Masalah ini tidak boleh di biarkan begitu saja. Aku tidak sudi jika harus mempunyai saudara ipar seperti Kanita!" gumam Kayo dengan tatapan mata yang begitu gelap.


*****

__ADS_1


__ADS_2