PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Tamu Bulanan


__ADS_3

Nania tengah bersiap di dalam kamar ketika ponsel miliknya berdering. Sambil menenteng sebelah sepatu, dia berjalan untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas.


"Siapa sih pagi-pagi begini sudah mengacau," omel Nania seraya melihat siapa yang menghubunginya. "Owh, si sugar daddy ternyata. Mau apa dia?"


Karena penasaran, Nania akhirnya mengangkat panggilan tersebut. Dia menerima telepon sembari duduk berselonjor kaki di lantai.


"Ada apa Kak?"


"Em Nania, hari ini kau masuk sekolah tidak?"


"Yaiyalah. Aku ini kan murid teladan, jadi mana mungkin aku membolos jika tidak sedang kepepet!"


Jawaban Nania rupanya membungkam Fedo yang saat itu menelpon dari Jepang. Mungkin di telinga pria itu kata-kata kepepet yang Nania lontarkan terdengar sedikit ambigu. Tapi ya sudahlah, semua sah-sah saja bagi gadis putih biru yang tengah sibuk mengikat tali sepatu.


"Bay!" ucap Nania memutuskan panggilan.


Andai ada yang melihat reaksi Fedo sekarang, kalian pasti akan tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak! Nania dengan kejamnya memutus panggilan tanpa memberi kesempatan untuk Fedo memberitahu tujuannya menelpon. Dan kekejaman Nania masih terus berlanjut karena dia langsung mereject panggilan ketika ponselnya kembali berdering.


"Cih, jangan harap aku akan mengangkat panggilanmu, Kak. Siapa suruh tadi kau hanya diam seperti patung. Menghabiskan pulsaku saja!" gerutu Nania sembari berjalan keluar dari dalam kamar.


Nania sungguh sangat seenaknya dengan apa yang dia katakan. Padahal jelas-jelas Fedo-lah yang menelpon, tapi entah bagaimana caranya dia yang merasa di rugikan. Gadis ini benar-benar.


"Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi, Ibuku sayang!" sapa Nania seraya mencium pipi kedua orangtuanya secara bergantian.


"Selamat pagi juga, sayang," sahut Nita. "Mana Kakakmu?"


Nania menoleh ke kanan dan ke kiri saat sang ibu menanyakan keberadaan kakaknya. Barulah dia ingat kalau sejak tadi dia sama sekali belum bertemu dengan kakaknya itu.


"Aku kira Kak Luri sudah ada di ruang makan, Bu. Mungkin sekarang dia masih ada di dalam kamar."


Luyan dan Nita saling melempar pandangan. Tidak biasanya Luri terlambat datang untuk sarapan. Bahkan biasanya gadis itu sudah lebih dulu ada di sini untuk menyiapkan makanan sebelum mereka datang. Aneh sekali.


"Nia, kakakmu baik-baik saja kan?" tanya Nita sedikit cemas.


"Seharusnya sih baik-baik saja, Bu. Em, kalau tidak aku pergi ke kamar Kak Luri dulu ya untuk mencari tahu apa yang sedang dia lakukan," jawab Nania kemudian bergegas pergi ke kamar sang kakak.


Khawatir terjadi sesuatu, Nita pun meminta izin pada suaminya untuk pergi menyusul Nania. Perasaannya mendadak terasa tidak enak. Luri tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya karena gadis itu sangat disiplin soal waktu.


Nania yang saat itu sampai lebih dulu langsung menerobos masuk ke dalam kamar kakaknya yang kebetulan tidak di kunci. Kening Nania langsung mengerut saat mendapati sang kakak yang masih berbaring di ranjang.


"Kak Luri, Kakak kenapa?" tanya Nania cemas. "Tumben sekali Kakak belum bersiap. Mau bolos sekolah ya?"


Mungkin bagi sebagian wanita ada kalanya mengalami kesakitan ketika masa periode bulanan datang. Dan hal inilah yang tengah di rasakan oleh Luri. Perutnya begitu sakit hingga membuatnya tidak bisa bangun dari tempat tidur.


"Kak, kenapa diam saja? Kakak belum mati kan?"


"Nania, kau ini bicara apa!" tegur Nita yang baru saja masuk ke dalam kamar.


Mendapat teguran seperti itu dari sang ibu membuat Nania meringis pelan. Dia kemudian duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah kakaknya yang terlihat begitu pucat.


"Bu, wajah Kak Luri seperti vampir. Fiks, dia sakit," celetuk Nania dengan raut wajah yang begitu serius.

__ADS_1


"Sudah-sudah, kau minggir saja. Biar Ibu yang memeriksa kakakmu," omel Nita sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan usil anak bungsunya.


Nania patuh. Dia langsung bergeser ke samping memberi ruang untuk ibunya memeriksa sang kakak. Sebenarnya Nania juga sangat khawatir, tapi mau bagaimana lagi, mulutnya sulit untuk di kontrol. Alhasil ya keluarlah beberapa kata yang sedikit tidak manusiawi. πŸ˜‚


"Luri, kau baik-baik saja, Nak?" tanya Nita cemas sambil meraba wajah putrinya yang terasa begitu dingin.


"Aku tidak apa-apa, Bu. Hanya sedikit sakit perut karena tamu bulananku sedang datang," jawab Luri pelan.


"Apa mau pergi ke dokter?"


Luri menggeleng. Dia lalu melihat ke arah Nania yang tengah menatapnya.


"Nia, tolong katakan pada wali kelas Kakak ya kalau Kakak tidak bisa masuk sekolah hari ini."


"Beres, Kak," sahut Nania cepat.


Setelah itu Nania melihat ke arah jam di tangannya. Dia memekik kaget karena waktu untuk sarapan sudah terlewat.


"Astaga Bu, sepertinya hari ini aku harus berpuasa dulu dari sarapan. Em, aku pamit berangkat ke sekolah ya Bu, Kak. Hari ini ada guru pembunuh yang akan mengajar di kelasku. Aku bisa di gantung nanti kalau sampai datang terlambat!" pamit Nania panik.


"Ya sudah sana berangkat. Ingat ya Nania, di sekolah kau jangan membuat ulah karena kakakmu sedang tidak ada di sana untuk melindungimu. Belajar dengan benar dan segera pulang ke rumah setelah jam pelajaran habis!" sahut Nita kemudian mencium pipi putri bungsunya.


Sebelum pergi, Nania menyempatkan diri untuk mencium kening kakaknya. Rasanya sedikit beda karena pagi ini dia harus pergi sekolah seorang diri. Sambil berlari kecil Nania menuruni anak tangga. Dia kemudian menghampiri sang ayah yang tengah duduk sendirian di ruang makan.


"Ayah, aku pamit berangkat sekolah dulu ya!" pamit Nania sembari mencium pipi sang ayah.


"Kakakmu mana?" tanya Luyan.


"Kakak sedang menjadi vampir sekarang. Jadi dia tidak bisa masuk ke sekolah dulu."


"Bagaimana, sus? Apa yang terjadi pada Luri?" cecar Luyan begitu melihat suster muncul.


"Hanya sakit perut biasa karena tamu bulanan, Tuan. Dan Nyonya Nita meminta anda untuk segera sarapan karena beliau ingin merawat Nona Luri terlebih dahulu."


"Oh, ya sudah. Kalau begitu tolong bantu aku mengambil makanan, Sus."


"Baik, Tuan!"


Jika di rumah semua orang sedang cemas memikirkan Luri yang sakit perut, di dalam mobil Nania pun terlihat gelisah. Dia terus saja mengomeli supirnya karena tak kunjung sampai di sekolah.


"Sebentar lagi kita sampai, Non," ucap sang sopir sambil menahan tawa.


"Tapi ini sudah sangat lama, Pak. Bagaimana nanti jika aku terlambat. Guru pembunuh itu pasti akan langsung menghukumku. Tolong segeralah sampai, Pak supir. Aku mohon!" ucap Nania memelas.


Tak lama kemudian mobil akhirnya sampai di depan pintu gerbang sekolah. Setelah berpamitan pada si sopir, Nania pun buru-buru masuk ke sekolah. Namun langkahnya di hentikan oleh Galang dan Jovan yang ternyata sudah sejak tadi menunggu di dekat pos penjaga.


"Nania, kenapa kau berangkat sendirian? Dimana Luri?" tanya Galang sambil melihat ke arah mobil yang tadi membawa Nania.


"Kau tidak meninggalkan kakakmu di pinggir jalan kan?"'tuduh Jovan curiga.


Kesal di tuduh macam-macam, Nania dengan marah menendang kaki Jovan. Dia lalu memicingkan mata ke arah Galang karena ingin menertawai Jovan yang sedang kesakitan.

__ADS_1


"Nania, kau ini kenapa brutal sekali sih. Bisa tidak jangan bertingkah bar-bar hah!" omel Jovan sambil memegangi kakinya. Tendangan Nania sangat sakit, tenaganya sangat kuat ternyata.


"Mau tidak kutunjukkan sesuatu yang lebih brutal lagi, Kak?" sahut Nania kemudian menyingsingkan lengan bajunya ke atas.


Jovan langsung mundur ke belakang. Dia kemudian bersembunyi di balik punggung Galang saat Nania maju mendekat sambil membunyikan tulang-tulang di tangannya.


Kelakuan Nania yang seperti preman pasar mengundang perhatian dari para siswa yang baru datang ke sekolah. Mereka saling berbisik-bisik, menyayangkan sikap Galang dan Jovan yang berani memancing kemarahan dari seorang Nania, murid dengan tingkatan terbaik di kelas beladiri.


"Nania, kau tidak malu apa bersikap seperti kepala gangster di sini? Lihat sekelilingmu, semua orang sedang menonton kita!" ucap Galang berusaha melerai pertengkaran antara Jovan dengan Nania. Dia malu.


"Terserah mereka mau apa, Kak. Itu mata milik mereka, jadi tidak ada urusannya denganku. Sekarang Kakak sebaiknya pergi saja, jangan melindungi Kak Jovan. Sesekali dia harus di beri pelajaran karena sudah seenaknya menuduhku. Kalian pikir aku akan sejahat itu pada Kak Luri apa? Aku sangat sayang padanya, aku bahkan rela menjadi bodyguard gratis demi melindunginya. Jadi mana mungkin aku meninggalkannya di pinggir jalan? Aku tidak terima pokoknya!" amuk Nania.


Galang menyadari ada yang aneh dengan reaksi Nania. Tidak biasanya Nania bersikap emosional begini. Sepertinya ada yang tidak beres.


"Em Nania, Luri baik-baik saja kan?" tanya Galang ingin tahu.


"Tidak. Sekarang Kakakku sedang bermutasi menjadi vampir setelah di serang oleh tamu bulanan. Itulah kenapa Kak Luri tidak masuk ke sekolah, bukan karena aku yang membuangnya di pinggir jalan. Dasar tukang tuduh!"


Wajah Galang dan Jovan langsung memerah begitu mendengar jawaban Nania. Mereka kemudian saling memandang, tidak tahu harus bicara apa lagi. Terlalu memalukan bagi mereka mendengar kata tamu bulanan.


"Apa sebegitu parah sampai harus bermutasi menjadi vampir?" tanya Jovan yang sudah lebih dulu menguasai diri.


"Iyalah. Wajahnya sangat pucat dan dingin. Mirip Pemain Edward Cullen's di serial Twilight!" jawab Nania serius.


"Edward Cullen's itu laki-laki. Apa tidak sebaiknya di samakan dengan Bella Cullen's saja, Nania?" ledek Galang.


"Memangnya Bella Cullen's itu vampir ya Kak? Tapi seingatku dia itu manusia seperti kita. Bukan predator penghisap darah!"


Ya, Nania memang tengah menggilai serial Twilight dimana menceritakan tentang manusia yang jatuh cinta pada seorang vampir. Akan tetapi Nania masih belum menyelesaikan semua seri yang ada di film tersebut. Itulah kenapa sekarang dia sedikit bingung saat Galang menyebutkan tentang Bella Cullen's, si pemeran utama wanita dalam film tersebut.


"Bagaimana kalau nanti malam kita menonton film itu bersama-sama. Sekalian aku ingin menjenguk kakakmu nanti!" ucap Galang dengan niat terselubung.


"Oh, boleh. Nanti malam Kakak datang saja ke rumah. Kalau begitu aku masuk kelas dulu ya Kak!" pamit Nania kemudian langsung melesat pergi meninggalkan Galang dan Jovan.


Sambil menyeringai puas, Galang mengangkat dua jarinya ke depan wajah Jovan. Tanpa di sadari oleh Nania, Galang baru saja memenangkan satu poin lain untuk dia mendapat kesempatan mendekati Luri.


"2:1 Jo. Aku unggul satu poin darimu," ucap Galang penuh senyum kemerdekaan.


"Cih, perjalanan masih jauh, Lang. Jangan sombong dulu!" sahut Jovan sedikit kesal.


"Halah, akui saja kesalahanmu, Jo. Tidak perlu malu."


"Sialan kau. Selama janur kuning belum melengkung, maka sampai waktu itu aku masih mempunyai kesempatan untuk memenangkan persaingan ini. Lihat saja, poinmu itu pasti akan langsung kukejar. Tunggulah!"


Setelah itu Galang dan Jovan pun melangkah masuk ke kelas masing-masing. Keduanya tidak ada yang mau mengalah untuk mendekati si gadis desa itu. Andai saja mereka tahu kalau Luri telah menempatkan hati pada mantan seorang Casanova, mereka pasti akan mengalami yang namanya patah hati. Tapi ya sudahlah, belum waktunya untuk mereka mengetahui hal ini. Biarkan waktu yang akan menguak semuanya.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


βœ…Gengs.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanelnya β–ΆMak Rifani. Jangan lupa mampir ke sana ya


πŸ’œJangan lupa vote, like , dan comment keuwuan felur kita ya gengss

__ADS_1


πŸ’œIg: rifani_nini


πŸ’œFb: Rifani


__ADS_2