PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Menggugah Selera


__ADS_3

"Emmm, wangi sekali. Apa yang sedang kau masak, Luri?" tanya Lusi sambil membaui aroma masakan yang begitu menggugah selera makan. Dia dan suaminya baru saja sampai ketika aroma enak ini membahana memenuhi semua sudut rumah.


"Aku memasak makanan kesukaan Kakak," jawab Luri sembari tersenyum lucu melihat kakaknya yang terus menelan ludah. Tidak salah dia memutuskan untuk membuat makanan ini karena tamu yang ingin dia jamu terlihat begitu tidak sabaran ingin segera mencicipi.


"Tahu saja kalau Kakak sedang sangat ingin memakan makanan ini, sayang. Terima kasih ya, kau baik sekali."


"Sama-sama, ibu hamil."


Luri dan Lusi kemudian terkekeh lucu setelah berkata seperti itu. Lalu setelahnya mereka lanjut mengobrol sambil menunggu makanan selesai dimasak. Saat Luri sedang asik menggibah dengan sang kakak, ponselnya yang berada di atas meja berdering. Dia lalu melihat ke arah jam, kemudian tersenyum kecil.


"Ekhmmm, sepertinya ada yang sedang senang karena pangeran berkuda putihnya menelpon," ledek Lusi saat mendapati adiknya yang terlihat begitu semringah begitu ponsel miliknya berdering. Dan tentu saja Lusi langsung tanggap penyebab adiknya jadi seperti ini.


"Kakak," sahut Luri tersipu malu. "Yang menelpon itu Kak Fedo, bukan pangeran berkuda putih."


"Iya-iya Kakak tahu kalau Fedo yang menelpon. Sudah sana angkat dulu, nanti dia kebakaran jenggot kalau kau tidak segera menjawabnya!"


"Lalu masakan ini bagaimana? Biar saja dulu lah, Kak. Tunggu setelah aku selesai memasak baru aku akan menelpon Kak Fedo balik. Dia pasti bisa mengerti."


Namun sayang, sepertinya Fedo benar-benar tak mengizinkan Luri untuk menunda waktu mengangkat panggilan darinya. Lusi yang melihat hal itupun segera memaksa Luri berhenti memasak kemudian berinisiatif untuk menggantikannya. Karena jujur, air liur Lusi sudah hampir kering gara-gara tak sabar ingin segera menyantap makanan yang tadi di buat oleh adiknya.


"Halo Kak Fedo. Maaf ya sedikit lama mengangkat panggilan darimu. Aku sedang memasak tadi," ucap Luri sambil mengelap keringat di keningnya. Dia kini tak lagi berada di dapur, melainkan berada di halaman belakang rumah. Biar lebih nyaman saja.


"Oh, sedang memasak ya. Aku pikir kau hilang kemana, sayang," sahut Fedo dari seberang telepon. "Sekarang kau sedang apa? Lelah tidak?"

__ADS_1


Sebelum menjawab pertanyaan Fedo, Luri menggerakkan satu jari ke depan mulutnya untuk memberi kode pada seseorang agar jangan datang mengganggunya dulu. Dan orang itu adalah Nania. Ya, adiknya saat ini tengah menguping pembicaraannya dari samping pintu. Jika kalian penasaran darimana Luri tahu kalau Nania sedang menguping, jawabannya adalah karena Nania menguping secara terang-terangan. Aneh bukan? Tapi sekali lagi itu adalah Nania.


"Sayang, kenapa diam saja? Kau masih ada di sana kan?"


"Iya, Kak. Aku masih ada di sini," jawab Luri. "Kau sedang apa, Kak? Masih di kantor atau sudah pulang ke rumah?"


"Hmmm, sebenarnya aku sudah sangat ingin pulang ke rumah, sayang. Tapi pekerjaan di sini seakan melarangku untuk pergi. Sepertinya malam ini aku akan lembur."


"Lembur lagi?" kaget Luri. "Ya ampun, Kak. Begadang itu tidak baik untuk kesehatanmu. Kurang-kurangilah bekerja di malam hari, kasihan ginjal di tubuhmu. Mereka juga butuh istirahat setelah seharian penuh bekerja. Ingat Kak, harta tidak akan pernah cukup jika terus di kejar. Dan harta yang sudah susah payah Kakak kumpulkan tidak akan berarti apa-apa jika tubuh Kakak sudah tak sehat lagi. Sesekali masih bolehlah, tapi jika terlalu sering aku sarankan lebih baik jangan. Mau jadi seperti apa nasibku dan nasib anak-anak kita nanti jika setelah menikah Kakak malah sakit-sakitan? Hm?"


Setelah berkata seperti itu Luri jadi malu sendiri di buatnya. Dia tanpa sadar telah menyebut dirinya sebagai istrinya Fedo. Dan rasa malu di diri Luri kian bertambah saat Fedo mulai menggodanya.


"Oh, jadi kau mengkhawatirkan aku karena tidak mau aku sakit-sakitan setelah kita menikah ya? Ya ampun, sayang. Kenapa kau manis sekali sih. Aku kan jadi semakin mencintaimu. Ahh, ya ampun hatiku. Sepertinya di dalam sini ada banyak bunga yang sedang bermekaran, sayang. Bagaimana ini?"


"Sengaja atau tidak sengaja yang penting kau adalah istriku. Oh tidak, yang benar itu adalah istri dan ibu dari calon anak-anakku. Benar kan? Pasti benarlah,"


Luri sudah tidak tahu harus bagaimana cara menghentikan Fedo yang terus saja membualkan kata-kata manisnya. Dia sampai tersipu sendiri ketika Fedo memanggilnya dengan sebutan istri manis. Andai saja bisa dilihat, saat ini di dalam perut Luri ada banyak sekali kupu-kupu yang sedang beterbangan kesana kemari. Dan hal ini membuatnya merasa sangat tergelitik.


"Kak Fedo, sudah hentikan. Kalau kau tidak mau diam, maka aku akan mematikan panggilan ini. Pilih yang mana?" tanya Luri sambil memegangi wajahnya yang terasa begitu gerah. Aneh, padahal Fedo hanya menggodanya dari balik telepon, tapi reaksi Luri sampai seperti ini. Menggelikan sekali.


"Hahahaha, kau malu ya? Pasti sekarang wajahmu sudah sangat merah. Iya kan, sayang?"


"Astaga, Kak. Ya sudahlah, sebaiknya aku matikan saja panggilan ini."

__ADS_1


"Eh eh, jangan. Iya-iya aku janji tidak akan menggodamu lagi. Hmmm, ternyata istri manisku ini bisa merajuk juga ya. Baru tahu aku,"


Luri tersenyum. Dan sedetik kemudian dia kembali di buat salah tingkah oleh perkataan Fedo yang mana membuat Luri langsung mematikan panggilan dalam kondisi wajah merah padam.


"Sayang, aku merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu. Tunggu aku ya, besok aku akan langsung memeluk dan menciummu sampai puas begitu sampai di Shanghai. Jangan lupa kenakan pakaian yang manis ya supaya aku semakin tergila-gila padamu. Oke sayang?"


Setelah panggilan terputus Luri tak langsung pergi dari sana. Dia malah menggigit bibir bawahnya sambil memandangi layar ponsel yang sudah menggelap. Luri yakin kalau setelah panggilan ini terputus Fedo pasti langsung menertawakannya. Secara, pria itu kan sangat usil. Jadi bisa Luri pastikan kalau itulah yang sedang terjadi di diri Fedo sekarang.


"Kau ini kenapa pintar sekali membuat dadaku berdebar kencang si, Kak. Istri manis, ya ampun," gumam Luri sambil menepuki pipinya sendiri.


Ketika hati Luri sedang berbunga-bunga setelah mengobrol dengan Fedo, datanglah Nania yang muncul sambil bersedekap tangan. Adiknya itu menatap Luri dengan pandangan yang sedikit aneh, membuat Luri jadi salah tingkah karenanya.


"Kau kenapa, Nania? Kenapa menatap Kakak sampai seperti itu?" tanya Luri penasaran.


"Sebegitu senangnya ya Kak mengobrol dengan Kak Fedo sampai tidak sadar kalau wajah Kakak sudah sangat merah seperti buah tomat. Aku jadi penasaran sebenarnya apa sih yang tadi kalian obrolkan. Sepertinya asik sekali!" cecar Nania penuh selidik.


"Nania, Kakak dan Kak Fedo hanya berbincang biasa saja kok. Sungguh. Dan penyebab kenapa wajah Kakak bisa jadi semerah ini karena Kakak masih merasa gerah setelah memasak di dapur. Pikiranmu kenapa aneh sekali sih," sahut Luri mencoba untuk mengelak dari cecaran Nania. Bisa gawat jika Nania tahu kalau Fedo memanggilnya dengan sebutan istri manis. Adiknya ini pasti akan menggodanya habis-habisan.


"Benarkah? Kenapa aku tidak percaya ya, Kak?" ucap Nania lagi sambil memicingkan mata.


Takut obrolannya dengan Fedo bocor ke Nania, dengan cepat Luri pergi melarikan diri dari sana. Dia pergi menghampiri kakaknya yang tadi menggantikan tugasnya memasak. Sedangkan Nania, gadis itu sampai tercengang heran melihat sang kakak yang kabur secepat kilat. Dan hal ini malah membuat Nania menjadi semakin yakin kalau Fedo dan kakaknya telah membicarakan sesuatu yang cukup panas.


"Awas saja kau, Kak Fedo. Berani sekali ya kau meracuni pikiran kakakku yang masih polos itu. Huh!" geram Nania. Setelah itu dia memilih untuk menyusul kedua kakaknya, mengabaikan kekesalannya terhadap pria Jepang itu.

__ADS_1


***


__ADS_2