PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR)~ Tentang Pertemuan Pertama


__ADS_3

Fedo terpesona melihat lesung pipi di wajah seorang gadis cantik yang baru saja bertabrakan dengannya. Dia yang saat itu hendak menjenguk istri sepupunya yang sedang di rawat di rumah sakit inipun sampai lupa dengan tujuannya saking terhipnotisnya Fedo akan pesona gadis berlesung pipi tersebut.


"Maaf, Tuan. Aku sedang terburu-buru tadi jadi tidak sengaja menabrakmu!"'ucap si gadis berlesung pipi. Dia merasa sangat bersalah karena telah membuat orang lain terjatuh karena kecerobohan yang tidak sengaja dia lakukan.


"Cantik," gumam Fedo tak sadar.


"Ya, Tuan. Kau bicara apa barusan?"


Fedo tergagap. Dia mengerjapkan mata lalu menatap lekat ke arah gadis yang kini tengah menatapnya bingung. Tak mau statusnya sebagai seorang Casanova penebar pesona ketahuan, Fedo pun segera memasang wajah santai layaknya pria normal lainnya.


"Ekhmm, Nona. Apa kau sedang mengunjungi saudaramu di rumah sakit ini?" tanya Fedo berlagak sok sopan. Padahal di dalam pikirannya sekarang ada banyak rencana nakal yang begitu ingin dia lakukan pada gadis berlesung pipi ini. Terlalu menggemaskan.


"Iya, Tuan. Kakakku mengalami kecelakaan dan dia di rawat di rumah sakit ini. Lalu kau sendiri? Apa keluargamu ada yang dirawat di rumah sakit ini juga?"


Fedo mengangguk. Sungguh, dadanya benar-benar tidak bisa diajak bekerjasama. Baru kali ini Fedo di buat sangat terpesona oleh senyum seorang wanita. Dia bahkan sampai merasa tak berdaya di bawah suara gadis ini yang entah kenapa terdengar begitu lembut di telinganya.


"Em, Tuan. Kalau kau tidak apa-apa aku permisi dulu menjenguk kakakku dulu ya," ucap si gadis berlesung pipi seraya menatap Fedo dengan mata jernihnya.


"Tunggu,"


Fedo meringis kikuk setelah mengatakan hal tersebut. Tak mau kehilangan kesempatan, dia pun langsung mengulurkan tangan hendak mengajak gadis cantik ini berkenalan.


"Nona, aku Fedo. Jika bisa, bolehkah aku tahu siapa namamu? Jangan salah paham, aku hanya ingin menambah teman saja. Siapa tahu nantinya kita akan bertemu lagi. Kan tidak lucu kalau kita bertemu tapi tidak saling tahu nama. Benar tidak?"

__ADS_1


"Ooh, begitu ya," sahut si gadis sambil mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu gadis tersebut pun membalas uluran tangan Fedo kemudian menyebutkan namanya.


"Namaku Luri," ....


💜💜💜


Kedua sudut bibir Fedo tertarik ke atas saat dia mengenang pertemuan pertamanya dengan Luri. Sungguh, di hari pertama mereka bertemu Fedo sudah si buat gila oleh sikap polosnya. Bayangkan saja! Saat itu mereka hanyalah orang asing yang tidak sengaja bertabrakan di sebuah rumah sakit. Lalu dengan polosnya Luri bersedia untuk membagi namanya dengan seseorang yang baru pertama kali di temuinya tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Dan anehnya, Fedo sama sekali tak melihat adanya sorot keterpesonaan di diri Luri seperti yang sering dia lihat pada kebanyakan wanita. Gadis misterius, itu kesan pertama Fedo di pertemuan pertama mereka dulu. Sangat manis bukan? Tapi sayang, kisah mereka tak semanis di awal perjumpaan. Malah sekarang hubungan mereka terancam hancur karena Luri lebih memilih pergi meninggalkannya ketimbang menyelesaikan permasalahan yang ada. Fedo kecewa, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Luri sepenuhnya.


"Sayang, apa di sana kau bisa merasakan kalau aku hampir gila karena memikirkanmu, hem? Kenapa? Kenapa kau tidak jujur saja kalau ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri? Dan kenapa juga harus dengan anak ingusan itu? Kau tahu benar kalau aku sangat amat tidak menyukainya, tapi kenapa kau malah pergi bersamanya?" gumam Fedo seraya menatap langit malam. Saat ini Fedo tengah berada di tepi pantai tempat di mana dulu Luri menyatakan hubungan pertama mereka sebagai teman tapi mesra. Dia berbaring di atas kap mobil sambil meratapi keputusan Luri yang tidak mau jujur sedari awal.


Tanpa Fedo sadari, sejak dia keluar dari rumahnya Luri diam-diam Gleen mengikutinya di belakang. Pria itu sedikit khawatir kalau-kalau Fedo akan nekad melakukan sesuatu yang bisa merugikan adik iparnya.


"Hmmm, aku pikir dia akan menyusul Luri dan Galang ke London. Ternyata dia malah menggalau di sini. Haihh, membuat panik saja," ujar Gleen sambil berjalan mendekat ke arah Fedo. Setelah itu dia berdiri di sampingnya. "Kemana perginya sisi Casanova yang selama ini menjadi bayangan seorang Fedo Eiji? Hanya sebatas ini, hem?"


"Ckck, jangan bilang kau merajuk setelah kuhajar bersama Nania saat di rumah tadi, Fed," ledek Gleen. Dia kemudian naik ke atas kap mobil lalu ikut berbaring di sebelah Fedo. "Walaupun Luri hanya adik iparku, tapi aku sudah menganggapnya seperti adik kandungku sendiri. Jadi maaf-maaf saja kalau aku tidak pandang bulu untuk menghajar orang yang sudah berani menyakiti perasaannya. Termasuk kau!"


"Aku sama sekali tidak merasa keberatan kalau kau mau tahu, Gleen. Aku sadar posisiku sekarang memang sedang sangat salah. Dan aku diam bukan karena merajuk di pukuli olehmu dan Nania, tapi aku hanya sedang berpikir mengapa Luri memilih pergi bersama pria lain dan meninggalkan aku yang hampir gila sendirian di sini!" ucap Fedo dingin. "Sekarang aku tanya padamu. Kalau kau yang ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan saat tahu kalau wanita yang kau cintai pergi bersama laki-laki lain? Apa kau akan baik-baik saja, atau malah menggalau sepertiku, hem?"


"Aku menolak membayangkan ada di posisimu, Fed. Terlalu tidak enak," sahut Gleen acuh.


"Kalau begitu diam saja kau!"


Gleen terkekeh.

__ADS_1


"Fed, Luri memang masih muda. Akan tetapi dia mempunyai pemikiran yang sangat dewasa. Benar kalau dia pergi bersama Galang ke London, tapi itu dia lakukan adalah untuk hubungan kalian berdua. Galang hanyalah anak ingusan yang sedang terbutai oleh cinta pertamanya. Dia tidak seperti Luri yang mampu menahan diri meski sebenarnya dia sangat menyukaimu!"


Jeda sejenak. Sengaja Gleen berkata seperti ini karena sebenarnya Gleen juga tak ingin hubungan adik iparnya dengan Casanova ini putus di tengah jalan. Gleen tahu kalau Luri dan Fedo sama-sama saling cinta, jadi akan sangat jahat kalau dia membiarkan kedua orang ini terpisah begitu saja.


"Fedo, ini aku katakan bukan karena Luri adalah adik iparku. Tapi ini karena kita adalah sesama pria yang menginginkan wanita terbaik untuk hidup kita. Luri bukan gadis bodoh, dia pasti sudah melihat pengakuan Andero yang menyatakan kalau dia adalah ayah biologis dari bayi yang di kandung oleh Kanita. Dan jika hanya karena kesalah-pahaman kecil ini kau memutuskan untuk kembali menjadi dirimu yang dulu, aku pastikan kau akan menyesal seumur hidup. Luri sangat mencintaimu, kau sangat tahu itu. Tetaplah begitu sampai waktu mempertemukan kalian kembali. Aku yakin dengan kau yang tetap memenuhi keinginan Luri dan mendukung cita-cita yang sedang dia kejar, suatu saat penantianmu ini pasti akan berbuah manis. Percaya padaku, Fed. Luri adalah yang terbaik di antara banyak wanita baik-baik. Kau harus yakin akan hal itu!"


"Aku tidak yakin, Gleen!" sahut Fedo meragu.


"Kalau begitu aku akan mendukung Galang untuk mendapatkan cintanya Luri!"


"Sialan. Coba saja kalau kau berani melakukannya. Kau akan langsung berurusan dengan Ibuku!"


"Ya sudah kalau begitu berhentilah merajuk. Aku mual melihatmu yang seperti ini!" ejek Gleen.


Fedo meninju lengan Gleen kemudian tertawa. Ternyata rasa kecewa yang tadi dia rasa belum sebanding dengan nasehat sesat yang di katakan oleh pria di sebelahnya ini.


"Terima kasih, kawan. Nasehatmu membuatku sadar kalau aku tidak akan bisa hidup tanpa Luri. Aku mencintainya, tapi aku bodoh!" aku Fedo.


"Baguslah kalau kau sadar, Fed," sahut Gleen yang langsung di sambut dengan satu pukulan di perutnya.


Setelah itu Gleen dan Fedo sama-sama tertawa kencang. Keakraban ini sedikit aneh memang karena tadi mereka sempat terlibat baku hantam di mana Fedo di hajar oleh Gleen tanpa melakukan perlawanan. Bahkan luka-luka di wajahnya masih belum hilang, tapi sekarang mereka malah terlibat satu pembicaraan yang berhasil mencairkan situasi panas di diri masing-masing. Sungguh sangat lucu sekali bukan?


*****

__ADS_1


__ADS_2