PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Kepasrahan Andero


__ADS_3

Mattheo, Abigail, Andero dan juga Kayo tampak tersenyum samar melihat kedatangan keluarga Kanita melalui rekaman CCTV. Sudah tertebak, keluarga itu pasti akan langsung datang kemari begitu melihat video siaran langsung di mana Andero mengumumkan fakta kebenaran tentang fitnah yang dilakukan oleh Kanita dan keluarganya. Dan benar saja. Hanya berselang beberapa menit sejak video tersebut muncul di media, Dominic langsung datang bersama dengan anak dan juga istrinya. Dan tentu saja hal ini membuat Abigail dan yang lain berada di puncak kemenangan.


"Ugffff, pergerakan mereka terlalu terburu-buru, Ibu. Aku jadi khawatir pada kandungan Kanita," ucap Kayo ketika melihat Kanita di seret dengan sangat kasar oleh para pengawalnya.


"Kau tenang saja, Nona Kayo. Keturunanku tidak selemah yang kau pikir," sahut Andero tanpa melepaskan pandangannya dari layar CCTV. "Hmmm, dia yang membuat heboh, dia juga yang menanggung getahnya. Kanita-Kanita, kau terlalu angkuh pada dirimu. Lihat sekarang. Keangkuhanmu itu membuatmu jadi bahan olok-olokan semua orang di negeri ini. Sayang sekali bukan?"


Abigail menoleh ke samping saat Mattheo mengecup pundaknya. Dia lalu tersenyum, tahu apa maksud di balik sikap suaminya sekarang.


"Kau yang terbaik, darling," puji Mattheo seraya mengedipkan sebelah matanya. "Kalau kau tidak segera mencaritahu siapa Andero, di jamin kita semua pasti panik setengah mati gara-gara ulah Dominic dan Kanita. Aku benar-benar sangat beruntung memiliki istri sepertimu. Tidak ada duanya!"


"Jangan terlalu berlebihan memujiku, Matt. Apa yang aku lakukan sekarang sebenarnya juga bisa dilakukan oleh orang lain, khususnya bagi para orangtua. Melihat anak yang sudah dengan susah payah kita besarkan ingin dirusak kebahagiaannya apakah mungkin aku akan diam saja? Tentu tidak 'kan?" sahut Abigail santai menanggapi pujian suaminya. "Sebenarnya aku kasihan pada Kanita. Tapi mau bagaimana lagi dia terlalu arogan mempertahankan keinginannya. Jadi ya sudah, terpaksa aku meminta bantuan seseorang untuk membungkamnya. Bukan begitu Andero?"


"Kau benar sekali, Nyonya Abigail. Sedari awal aku mengenal Kanita, aku sudah langsung tahu kalau dia itu sedikit tidak beres. Dia begitu angkuh, dan aku muak melihatnya," jawab Andero sambil tersenyum.


"Muak, tapi kau menghamilinya. Jadi Tuan Andero, bisakah kau memberitahuku tentang tujuanmu yang sebenarnya?" timpal Kayo sembari menyesap minuman miliknya. Dia lalu menoleh, menatap penuh maksud ke arah pria yang selalu tersenyum setiap kali ada yang bertanya.


Sebelum menjawab pertanyaan Kayo, Andero menghabiskan minuman yang ada di gelasnya. Setelah itu dia menatap lama pada layar CCTV di mana layar tersebut tengah menampilkan Kanita dan keluarganya sedang berbicara dengan para penjaga.


"Aku menginginkan perusahaan milik Tuan Dominic," ucap Andero. "Sebenarnya ini sudah ada sejak lama. Akan tetapi dia begitu alot, juga sukar untuk di ajak bekerja sama. Terpaksa aku mencari jalan keluar lain dan kebetulan malam terakhir aku berada di negara ini aku bertemu dengan Kanita!"

__ADS_1


"Lalu kau dengan sengaja menggunakan kelemahan wanita untuk memenangkan keinginanmu itu? Oho, kau terlalu kejam, Andero. Aku sedikit tersinggung dengan caramu menguasai dunia bisnis!" tegur Abigail yang langsung memperlihatkan raut tak suka pada sang tamu. Dia paling benci pada orang yang menjadikan wanita sebagai alat untuk memuluskan rencana mereka. Abigail sangat amat benci akan itu.


Sadar kalau kejujurannya telah menyinggung perasaan Nyonya Eiji, Andero pun segera memutar otak untuk meralat kembali kata-katanya. Dia benar-benar tak mau berurusan dengan Nyonya Abigail karena Andero tahu keluarga ini mempunyai deking yang sangat kuat yang bahkan kekuasan keluarga Andero sendiri tak mampu untuk menandinginya.


"Ekhmm, begini Nyonya Abigail. Aku tidak akan mengelak dari fakta kalau aku begitu ingin memiliki perusahaan milik Tuan Dominic. Dan sedari awal tujuanku datang ke negara ini, Kanita sama sekali tidak masuk ke dalam daftar rencana. Pertemuan kami tidak di sengaja, dan sialnya aku menyukai tubuh Kanita. Yang aku lakukan padanya tidak semata-mata hanya untuk bisnis, tapi aku melibatkan perasaanku di dalamnya. Kanita hamil anakku, dan aku pastikan dia akan menjadi istriku. Dengan begini malah lebih masuk akal untuk aku meminta pada mereka agar mau bergabung dengan perusahaanku. Benar tidak?" ucap Andero menjelaskan tujuan yang sebenarnya.


Mattheo bertepuk tangan dengan begitu heboh saat mendengar ide brillian Andero. Sungguh, ini benar-benar sangat menarik. Andero begitu lihai memainkan tak-tik dalam berbisnis, dan Mattheo mengakui itu.


"Kau luar biasa, Andero. Sekali dayuh, dua tiga pulau terlampaui. Sekali bertindak, anak, istri, bahkan saham perusahaan bisa kau miliki. Luar biasa, luar biasa. Hahahaha!" puji Mattheo penuh kagum. "Ini baru namanya pembisnis yang berani mempertanggung jawabkan perbuatannya. Jika berkenan, bolehlah kita menjadi mitra. Aku jamin kau tidak akan menyesal bekerja sama dengan putraku. Dia sama sepertimu, ambisius dan juga cerdik. Hanya sedikit suka main wanita saja. Hehe!"


"Dengan senang hati, Tuan Mattheo. Sangat membanggakan jika putramu benar-benar bersedia untuk bekerja sama denganku. Itu suatu keberhasilan yang patut untuk dirayakan!" sahut Andero seraya tersenyum lebar. Inilah yang dia mau, menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar yang mana akan membuat nama perusahaannya melambung tinggi.


Haihhh, Andero-Andero. Aku pikir dengan latar belakang keluargamu yang tidak biasa itu kau akan sedikit berbeda dari para pembisnis yang lain. Ternyata sama saja. Kau serakah. Tapi ... kau akan sangat keliru jika sampai menargetkan keluargaku. Karena apa? Karena Ibu dan Ayahku sudah mencium aroma busuk yang kau sembunyikan. Heh, dasar payah, olok Kayo dari dalam hati.


"Karena kami sudah tahu tujuanmu yang sebenarnya, bisakah sekarang kau memberitahu akan kau bagaimanakan nasib Kanita dan bayinya nanti?" tanya Abigail penasaran.


"Aku akan tetap menikahinya, Nyonya. Setelah itu aku akan membawanya pulang dan mengenalkannya ke keluargaku. Dan aku rasa dia tidak akan mungkin memintaku untuk tetap tinggal di Jepang setelah kehebohan yang dia buat. Jadi Kanita akan selamanya hidup bersamaku," jawab Andero.


"Lalu keluargamu? Apakah mereka akan menerima Kanita dan juga bayinya? Ingat, Andero. Selain karena rasa sukamu padanya, di matamu Kanita hanyalah sebuah alat bisnis yang bisa kau gunakan untuk memperkaya diri. Jangan lupakan fakta itu!" lanjut Abigail. Walaupun benci, nyatanya Abigail tak bisa membohongi fakta kalau sebenarnya dia juga menyayangi Kanita. Dia tak mau wanita malang itu hidup menderita bersama bayinya di tangan pria licik ini.

__ADS_1


Air muka Andero langsung berubah saat dia menyadari ada nada ancaman di balik perkataan Nyonya Abigail barusan. Namun ketika Andero ingin kembali berbicara, Tuan Mattheo sudah lebih dulu menyela. Sepertinya laki-laki ini tahu kalau Andero merasa tersinggung atas apa yang di katakan oleh istrinya.


"Stt, sstt, stt. Hei, santailah kalian, jangan tegang beginilah. Semua masalah bisa kita selesaikan secara baik-baik. Oke?" ucap Mattheo mencoba untuk menengahi gejolak emosi yang mulai terpancing. "Andero, aku harap kau bisa memaklumi keinginan istriku. Terlepas dari kesalahan yang dilakukan oleh Kanita, kami sebenarnya sangatlah menyayanginya. Istriku hanya bermaksud memberitahumu saja kalau kami tidak akan membiarkanmu menyakiti Kanita. Dan jika hal itu sampai terjadi, kau tahu sendiri bukan apa yang akan terjadi dengan perusahaanmu?"


"Apa kalian sedang mengancamku?" tanya Andero memanas.


"Anggap saja seperti itu kalau kau mau. Tapi jujur, ancaman ini hanya akan berlaku jika kau berani menyakiti fisik maupun mental Kanita saja. Selebihnya itu bukan lagi urusan kami karena kami memang tidak ada hubungannya dengan semua itu. Kuberitahu kau satu hal, Andero. Di keluarga Eiji, harkat dan martabat seorang wanita adalah yang paling utama. Jadi kau akan berada dalam masalah besar jika sampai melewati batasan yang ada karena kebetulan anak dan istriku sangatlah sensitive dengan hal-hal seperti ini. Apa kau mengerti?"


Andero berdecih. Dia merasa sedang dipermainkan oleh keluarga ini. Tapi tetap saja, Andero tak bisa melakukan apa-apa bahkan untuk sekedar membantahnya.


"Baiklah. Akan kuingat baik-baik pesan darimu, Tuan Mattheo. Terima kasih sudah mengingatkan hal ini padaku!"


Melihat kepasrahan Andero membuat Kayo terkekeh kesenangan. Dia lalu menggerakkan jari ke arah penjaga, meminta mereka untuk mendekat padanya.


"Bawa mereka masuk!"


"Baik, Nona Muda!"


****

__ADS_1


__ADS_2