PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Dukungan Batin


__ADS_3

Di saat Fedo dan Kayo tengah sibuk berbelanja, di perusahaan terlihat Mattheo yang sedang mengomel karena tidak menemukan keberadaan putranya. Raut wajahnya terlihat begitu kesal hingga membuat para karyawan tak berani untuk menyapa.


"Dasar anak sialan, kemana sebenarnya dia pergi. Sudah tahu kalau sore ini ada meeting penting, kenapa malah pergi tanpa pamit!" gerutu Mattheo sambil terus menghubungi nomor Fedo. Dia kemudian mengumpat pelan saat putranya lagi-lagi tak mau menjawab panggilan darinya.


Benar-benar membuat orang naik darah.


Karena tak kunjung mendapat respon, Mattheo dengan sangat terpaksa menggantikan putranya pergi ke ruang meeting. Dia berjalan sambil terus menggerutu sebelum akhirnya langkah Mattheo di hentikan oleh kehadiran seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Oh, kau Dominic. Ada apa?" tanya Mattheo seraya menatap lekat ke arah pria yang tengah berdiri dengan raut wajah yang terlihat aneh.


Dominic kenapa ya? Wajahnya suram sekali seperti orang yang kurang tidur. Apa dia begini gara-gara syok mengetahui Kanita hamil di luar nikah? Ck, kasihan sekali dia, batin Mattheo iba.


"Matt, apa kau memiliki waktu luang? Aku ingin mengobrol empat mata denganmu," tanya Dominic pelan.


Semenjak mengetahui kalau putrinya hamil, Dominic tidak bisa memejamkan mata. Dadanya terasa sakit dan juga panas seperti terbakar api. Sebenarnya Dominic sudah mencoba mencari ketenangan dengan cara menyibukkan diri dengan banyak pekerjaan di kantor. Akan tetapi bukan ketenangan yang dia dapat, Dominic malah merasa seperti tercekik karenanya. Sadar kalau dirinya bisa menjadi gila jika terus sendiri, Dominic akhirnya memutuskan untuk datang ke Group Eiji. Dia butuh bertemu dengan Mattheo guna meminta saran darinya.


"Em, bagaimana ya, Dom? Aku sebenarnya sedang sangat sibuk sekarang," jawab Mattheo jujur.


Terdengar helaan nafas berat dari mulut Dominic setelah tahu kalau orang yang ingin dia temui sedang tidak memiliki waktu untuk mengobrol. Dia kemudian menundukkan kepala dengan lesu.

__ADS_1


"Dom, apa kau baik-baik saja?" tanya Mattheo iba melihat ketidakberdayaan di diri rekannya.


"Apanya yang bisa di anggap baik kalau nama baik keluargaku sedang di pertaruhkan, Matt," jawab Dominic lirih. "Aku tidak pernah menyangka kalau Kanita tega menghancurkan kepercayaan yang sudah ku berikan padanya selama ini. Rasanya aku seperti akan gila karena memikirkannya."


Paham kalau Dominic benar-benar sedang membutuhkan teman bicara, Mattheo akhirnya memilih untuk membatalkan meeting. Uang memang sangat penting, tapi menemani orang yang tengah di landa masalah Mattheo rasa akan jauh lebih penting lagi. Apalagi sekarang Mattheo bisa melihat dengan jelas betapa Dominic sangat frustasi menghadapi masalah yang tengah membelit putrinya. Mattheo takut kalau-kalau Dominic akan memilih jalan untuk mengakhiri hidup. Dia tidak mau rekannya mati dengan cara hina seperti itu.


"Matt, aku minta maaf kalau kedatanganku kemari malah merecoki pekerjaanmu. Kalau saja aku memiliki tempat lain yang bisa aku datangi, aku tidak akan mungkin menggangumu di sini," ucap Dominic merasa tak enak hati begitu Mattheo membatalkan meeting hanya demi menemaninya mengobrol.


"Santai saja, Dom. Kita sudah cukup lama berteman, dan aku tidak sejahat itu membiarkanmu bersedih seorang diri," sahut Mattheo seraya menepuk bahu pria yang tengah berada di ambang keputus-asaan. "Ayo ke ruanganku saja. Rasanya tidak etis kalau kita membahas urusan keluarga di hadapan para pekerja. Nanti mereka menguping."


Seulas senyum kecil muncul di bibir Dominic saat mendengar lelucon Mattheo. Setelah itu mereka berjalan beriringan menuju ruangan miliknya.


Kasihan sekali kau, Dom. Anak semata wayang yang harusnya menjadi kebanggaan keluargamu malah melemparkan kotoran binatang dengan cara hamil di luar nikah. Dari musibah ini aku jadi mengambil pelajaran kalau tidak semua orang yang berasal dari keluarga terpandang bisa memiliki sikap yang terpandang juga. Semuanya hanya sisi luarnya saja yang terlihat bagus. Namun isi di dalamnya malah jauh lebih buruk bagaikan orang yang tidak pernah mendapat didikan dengan benar. Hmmm, semoga saja kau kuat menghadapi semua permasalahan ini, Dominic, ujar Mattheo dalam hati.


"Kanita tetap menolak untuk memberitahu siapa laki-laki yang sudah menghamilinya. Sepertinya dia tidak puas jika hanya mempermalukan keluargaku dengan cara seperti ini, Matt," jawab Dominic sambil tersenyum kecut.


"Jangan berpikiran buruk dulu, Dom. Siapa tahu ada alasan kuat yang membuat Kanita tidak mau bicara jujur padamu. Atau jika tidak begini saja. Kau suruh beberapa orang untuk menyelidiki dengan siapa Kanita terakhir kali pergi ke club. Mungkin itu di mulai dari hari Kanita keluar dari rumah kalian lalu memutuskan untuk tinggal di apartemen!"


Dominic terhenyak. Dia kemudian menatap penuh penasaran ke arah Mattheo yang bisa mengetahui kalau Kanita tinggal di luar rumah.

__ADS_1


"Darimana kau tahu kalau Kanita tidak tinggal bersama kami, Matt? Apa jangan-jangan kau mengetahui sesuatu tentang kehamilannya itu?" tanya Dominic curiga.


Sebuah seringai samar muncul di bibir Mattheo saat dia menyadari kalau Dominic tengah mencurigainya. Mattheo kemudian menyilangkan kedua kakinya sebelum memberikan jawaban.


"Keluarga kita itu sama-sama menjadi target para pemburu berita, Dom. Jangankan hanya Kanita yang tidak tinggal bersamamu, aku bahkan bisa mengetahui makanan apa yang di sukai oleh putrimu itu melalui kabar yang mereka sebarkan. Dengan kekuatan media yang begitu besar mungkinkah pantas untukmu mencurigaiku hanya karena aku yang tahu tentang di mana putrimu tinggal? Ayolah, Dom. Kau jangan bercanda. Aku bahkan yakin ada banyak orang yang mengetahui kalau Kanita sudah meninggalkan rumah sejak dua bulan yang lalu."


"Benarkah? Surat kabar mana yang kau baca, Matt?"


"Hehe, sebenarnya aku mengetahui hal ini dari putriku Kayo. Beberapa temannya juga berteman dekat dengan Kanita, jadi dari sanalah kami mengetahui di mana putrimu tinggal. Tapi jujur, kami tidak tahu sama sekali tentang penyebab Kanita pergi dari rumah. Teman-teman Kayo hanya mengatakan kalau dua bulan lalu sikap Kanita tiba-tiba berubah. Dia tak mau lagi berkumpul bersama yang lain dan lebih memilih menghabiskan waktu di apartemen seorang diri. Dan untuk masalah darimana kami mengetahui kalau Kanita hamil, awalnya itu hanya berasal dari kecurigaan istriku. Kau tahu sendiri bukan kalau insting para wanita itu sangat kuat? Siapa yang menyangka kalau dugaan istriku ternyata benar. Dan ketika aku menanyakannya pada Kanita, dia sama sekali tidak mengelak!"


Dominic menghela nafas. Dia menyenderkan tubuhnya ke sofa kemudian memejamkan mata. Dominic kemudian teringat dengan perkataan Mili beberapa waktu lalu yang sempat menaruh curiga kalau Kanita tengah berbadan dua.


Ternyata insting para wanita tidak bisa di remehkan. Kalau saja aku mengetahui hal ini lebih awal, aku pasti tidak akan merasa rendah di hadapan Mattheo. Hahh, sepertinya memang sudah menjadi nasibku di permalukan tepat di depan wajah temanku sendiri. Kanita-Kanita, kenapa kau sekejam ini pada Ayah, Nak, ratap Dominic dalam hati.


"Dom, aku mengerti betapa hancurnya perasaanmu sekarang. Tapi aku harap kau tidak gelap mata yang mana bisa membuatmu merasa menyesal. Kanita memang salah. Akan tetapi sesalah apapun Kanita, dia tetaplah darah dagingmu. Kau mungkin sudah gagal menjadi seorang ayah yang baik untuknya, tapi berusahalah agar kau tidak gagal menjadi seorang kakek untuk anaknya. Bayi yang di kandung Kanita tidak berdosa, dan kau tidak boleh memperlakukannya dengan cara yang tidak adil. Dia cucumu, dia berhak untuk menikmati kehidupan di dunia ini!" ucap Mattheo dengan tegas.


"Apakah aku sanggup menerimanya, Matt?" tanya Dominic lirih.


"Aku yakin kau pasti sanggup, Dom. Lapangkan hatimu untuk memafkan Kanita dan fokuslah untuk membujuknya agar mau mengatakan siapa ayah dari cucumu itu."

__ADS_1


Mattheo terus memberikan dukungan batin dengan menyemangati Dominic agar mau memafkan kesalahan Kanita dan juga menerima kehadiran bayinya. Sebenarnya Mattheo bisa saja langsung memberitahu Dominic tentang Andero. Akan tetapi Mattheo memilih untuk diam karena di balik nama tersebut ada sebuah rencana di mana istrinya yang akan mengendalikan. Sedikit kejam memang, tapi inilah hidup. Terkadang kita perlu menjadi manusia licik demi melindungi seseorang yang tidak bersalah. Seperti halnya yang coba dilakukan istrinya untuk melindungi Fedo, putra kebanggaan mereka.


*****


__ADS_2