
Lusi tersenyum setelah mencium pipi kedua orangtuanya. Malam ini dia dan Gleen sengaja datang kemari untuk memberikan semangat pada Luri yang besok pagi akan menjalani kompetisi terakhir yang akan menentukan apakah dia akan mendapat beasiswa ke luar negeri atau tidak.
"Dimana Luri dan Nania, Bu?" tanya Lusi ketika tak mendapati keberadaan kedua adiknya.
"Biasalah. Kedua adikmu itu pasti sedang sibuk di kamar masing-masing. Apalagi Luri, dia seperti tidak memiliki waktu luang untuk sekedar menemani Ibu mengobrol karena harus belajar untuk kompetisinya besok. Akhir-akhir ini Ibu dan Ayah merasa sangat kesepian, sayang," jawab Nita sembari menghela nafas panjang.
"Kalau Luri sih aku bisa maklum, Bu. Tapi kalau Nania, apa yang dia lakukan di dalam kamarnya? Tidak mungkin sedang mengeram telur kan?" tanya Gleen sambil mendudukkan bokongnya di atas sofa.
Luyan tertawa mendengar candaan menantunya. Wajar saja kalau Gleen bertanya seperti itu. Karena Luyan dan istrinya saja merasa heran dengan kelakuan putri bungsu mereka yang ikut berdiam diri di dalam kamar meski tidak sedang mengikuti kompetisi seperti Luri. Tapi ya sudahlah, yang penting gadis nakal itu tidak membuat ulah. Jadi lebih baik di biarkan saja.
"Kalau tidak mau tensi darahmu naik sebaiknya kau jangan menyebut nama Nania, Gleen. Dia itu kadang seperti jailangkung, suka datang dan pergi seenaknya," sahut Nita berkelakar.
Semua orang tertawa mendengar hal tersebut. Dan benar saja, tak berselang lama Nania benar-benar muncul di sana. Gleen yang waktu itu menjadi saksi kebrutalan Nania di sekolahnya nampak menyeringai senang karena memiliki kartu as dari gadis beracun ini. Sebenarnya dia ingin sekali menggunakan kartu as tersebut untuk mengerjai Nania, tapi Gleen urungkan karena dia pasti akan kena imbasnya juga. Ya, Gleen sama sekali tidak menceritakan kejadian itu pada Lusi. Dia takut kalau istrinya ini akan marah besar jika tahu kalau Gleen mengajari Nania untuk menghajar orang yang berani membullynya di sekolah.
"Kak Lusi Kak Gleen, kapan kalian datang?" tanya Nania kegirangan melihat kehadiran kedua kakaknya.
"Kami baru saja datang, Nania," jawab Lusi seraya tersenyum manis. "Apa yang sedang kau lakukan di dalam kamar, hm? Kenapa tidak duduk di sini menemani Ayah dan Ibu mengobrol?"
__ADS_1
Sebelum menjawab, Nania memeluk kakaknya terlebih dahulu. Dia lalu mengedipkan mata ke arah sang kakak ipar dengan maksud agar kakak iparnya ini tidak membocorkan kejadian di sekolah. Jujur saja, Nania takut tidak di izinkan lagi mengikuti kelas bela diri oleh sang ayah jika ketahuan berkelahi dengan siswa lain. Meski alasan dia menyerang Marisa adalah untuk membela harga diri orangtuanya, tetap saja hal itu tidak akan di benarkan. Nania pasti akan langsung mendapat teguran keras dari sang ayah. Dan yang jauh lebih buruknya dia tidak akan di izinkan lagi mengikuti kelas favoritnya.
"Aku sedang bermeditasi untuk menjernihkan hati dan pikiranku, Kak. Sebentar lagi kan ujian semester, hal ini pasti akan sangat berguna nantinya."
"Benarkah? Kakak baru tahu ada hal semacam ini yang bisa di gunakan untuk menghadapi ujian sekolah. Kau lucu sekali sih," ucap Lusi gemas akan kekonyolan adik bungsunya.
Lusi melihat ke arah tangga saat terdengar suara langkah kaki dari sana. Dia kemudian tersenyum begitu melihat kemunculan adik keduanya. Luri yang melihat keberadaan sang kakak pun segera datang mendekat. Tak lupa dia menyapa kakak dan kakak iparnya terlebih dahulu kemudian duduk di samping ibunya.
"Hai Kak Lusi, hai Kak Gleen. Kapan kalian datang?"
"Sejak beberapa detik yang lalu," jawab Gleen bercanda. "Wah wah wah, yang besok pagi ingin berkompetisi. Malam ini pasti kau tidak bisa tidur nyenyak gara-gara memikirkan soal yang akan keluar besok."
Gleen mengangguk. Biarpun hanya adik ipar, tapi dia merasa sangat bangga akan prestasi Luri di sekolah. Sebenarnya tanpa Luri memenangkan kompetisi tersebut pun Gleen masih sangat mampu untuk membiayai kuliahnya. Namun karena melihat kegigihan dan juga kecerdasan di diri gadis ini, Gleen memutuskan untuk mendukungnya saja. Toh tidak salah juga kalau Luri ingin meraih cita-cita dengan usahanya sendiri. Malah nantinya akan memberikan kepuasan yang jauh lebih membahagiakan lagi jika seandainya Luri benar-benar memenangkan kompetisi tersebut.
"Oh ya Luri, universitas di negara mana yang akan menjadi tujuan dari kompetisi itu?" tanya Lusi ingin tahu.
"London, Kak. Dan aku akan mengambil bidang kedokteran di sana," jawab Luri dengan mata berbinar. Setelah itu dia menggenggam tangan ibunya dengan sangat erat. "Aku ingin menjadi seseorang yang bisa mengobati orang yang sedang sakit. Dan Ibu adalah sosok yang menjadi inspirasiku mengejar gelar tersebut. Walaupun sekarang hidup keluarga kita sudah jauh lebih baik, aku tetap ingin menjadi seorang dokter. Karena dengan begitu aku bisa menolong dan membantu orang lain yang memiliki keterbatasan biaya. Aku sedih jika teringat bagaimana dulu Ibu di perlakukan dengan sangat buruk oleh pihak rumah sakit hanya karena kita berasal dari keluarga miskin yang tidak memiliki banyak uang. Dan aku tidak ingin kejadian menyedihkan itu terjadi juga pada orang-orang miskin di luaran sana. Memang tidak semua orang bisa aku bantu sih, tapi setidaknya aku bisa memberikan sedikit bantuan bagi pasien kurang mampu yang tidak sengaja bertemu denganku. Kalian semua tidak ada yang keberatan bukan jika aku memilih menjadi seorang dokter?"
__ADS_1
Mata Nita langsung berkaca-kaca begitu mendengar niat mulia putrinya. Sungguh, hati orangtua mana yang tidak akan tersentuh saat tahu kalau putri mereka memiliki jiwa sosial yang begitu tinggi. Di saat anak remaja lain sibuk mengejar sesuatu yang bisa mendongkrak kepopuleran mereka, Luri malah sibuk memikirkan cara untuk menolong orang lain. Anak gadisnya ini benar-benar sangat berbeda. Dan Nita sangat bersyukur karena gadis sehebat Luri terlahir dari rahimnya.
"Saat lulus sekolah nanti aku akan mengambil jurusan ilmu bela diri saja. Itu aku lakukan agar nantinya aku bisa menghajar orang-orang yang berani mengganggu keluarga kita. Iya kan, Kak?" tanya Nania sambil menatap wajah kakaknya.
Lusi yang sedang terbawa perasaan setelah mendengar niat mulia Luri sampai terhenyak kaget begitu mendengar pertanyaan Nania. Yang benar saja adiknya ini ingin mengambil jurusan ilmu bela diri. Dari sekian banyak jurusan yang ada kenapa harus jurusan baku hantam yang di incar oleh adiknya? Lusi sungguh tidak paham dengan jalan pemikiran Nania. Selalu saja membuat orang lain syok dan kaget setengah mati.
"Ekhmmm Nania, apa tidak sebaiknya kau belajar bisnis management saja? Atau jika tidak kau ambil jurusan pendidikan supaya nanti kau bisa menjadi seorang guru ataupun dosen di sebuah universitas. Gelar-gelar seperti itu aku rasa jauh lebih baik daripada harus menyandang gelar sebagai seorang petarung. Benar tidak Bu, Ayah?" ucap Gleen sedikit keberatan dengan keinginan si bungsu.
"Ya, Ayah sangat setuju dengan usul kakak iparmu, Nania. Lebih baik kau pilih salah satu dari kedua jurusan tersebut. Ayah yakin kau pasti akan sukses dengan salah satunya," jawab Luyan menyemangati putri bungsunya agar mau meningggalkan tujuannya yang sangat memacu andrenalin.
Nania diam sejenak untuk memikirkan ucapan sang ayah. Dia berandai-andai apa yang akan terjadi jika dia menyandang gelar dari dua jurusan yang tadi di sebutkan oleh kakak iparnya.
Menjadi pembisnis itu kan sangat melelahkan. Seharian penuh mereka akan di siksa oleh tumpukan kertas yang tidak ada habisnya. Lalu jika aku menjadi seorang guru ... apa iya murid-muridku tidak akan kabur karena mempunyai guru galak? Ahh, pekerjaan ini sangat tidak menarik. Aku lebih suka hidup bebas yang tidak terkekang oleh apapun. Lagipula aku ini kan masih kecil, untuk apa aku sibuk memikirkan pekerjaan. Kan nanti aku tinggal mencari suami yang kaya raya saja supaya tidak hidup susah. Hehehe, batin Nania.
"Bagaimana, Nania? Jurusan mana yang akan kau pilih?" tanya Gleen sambil menahan tawa. Dia yakin sekali kalau gadis ini tidak akan mungkin memilih salah satunya.
"Aku tidak mau menjadi pembisnis ataupun menjadi seorang guru, Kak Gleen. Semuanya sama-sama merepotkan!" jawab Nania dengan pasti. "Pokoknya aku hanya ingin menjadi master bela diri saja. Perkara uang untuk biaya hidupku biar nanti aku mencari laki-laki yang kaya saja. Aku inikan cantik, pintar, bisa bela diri pula. Aku yakin pasti tidak akan ada laki-laki yang berani menolakku. Kalau mereka nekat melakukannya, maka aku akan langsung menghajarnya sampai babak belur. Begini baru keren!"
__ADS_1
Semua orang tercengang syok begitu mendengar jawaban bar-bar Nania. Entah apa yang ada di dalam otak gadis ini sampai-sampai terpikir untuk bicara seperti itu. Sungguh malang nasib laki-laki yang nantinya akan di sukai oleh gadis ini. Batin mereka pasti akan sangat tertekan karena tak bisa melarikan diri dari incaran seorang Nania. Ibarat kata, maju kena mundur juga kena. Nania sungguh sangat luar biasa.
*****