
Happy Reading.
"Iya Yah berdua sama om Fahmi," jawab Aryana.
"Tidak boleh!" larang Yudha.
"Ayah..., kenapa nggak boleh, om Fahmi sudah seperti ayahku sendiri, aku pasti baik-baik saja, apalagi sejak bayi om Fahmi yang memantau jantung Ana," ucap Ana memohon.
"Kamu boleh ke Maldives sama om kesayanganmu itu tapi kakakmu Afwi harus ikut dan hanya empat hari karena yang dua hari kita ke Bandung mengunjungi Om Raka dan tante Dinda, itu syaratnya kalau nggak mau jangan harap kamu bisa ke Maldives!" ucap Yudha tegas.
"Ayah...," ucap Aryana merajuk tapi tak dipedulikan oleh sang ayah.
"Kita bicarakan lagi nanti di rumah," ucap Yudha lalu mengandeng tangan Aryana untuk ikut pulang bersama nya, sedangkan Afwi pulang sendiri karena ia membawa motor.
Dari kejauhan Afwi memperhatikan interaksi ayah dan adiknya, sebenarnya tadi ia juga akan mendekati ayahnya namun sepertinya ayah dan adiknya sedang mendebatkan sesuatu jadi ia mengurungkan niatnya untuk menyapa sang ayah dan menanyakan nilai raportnya.
"Hei, itu kan ayah lu kenapa nggak jadi nyapa?" tanya Haris teman sebangkunya menepuk pundaknya.
"Ayah sepertinya buru-buru, nanti saja aku tanya nilaiku di rumah," jawab Afwi.
"Kalau begitu kita makan dulu ya ke kantin!" ajak Haris.
"Ayo," ucap Afwi lalu berjalan ke kantin bersama Haris.
Di dalam mobil anak dan ayah hanya saling diam, Aryana membuang pandangannya ke luar jendela mobil, namun tiba-tiba ia menyadari bahwa mobil sang ayah tak menuju ke arah rumah mereka.
"Ayah ini bukan jalan ke rumah, kita mau ke mana?" tanya Aryana.
"Kita ke kantor ayah dulu jemput bunda mu, kalau harus putar balik kejauhan, kasihan kalau bunda terlalu lama nunggunya," jawab Yudha.
Setelah mendengar jawaban ayahnya, Aryana kembali diam, Yudha sebenarnya tahu anaknya masih kesal dengannya masalah liburan ke Maldives, tetapi Yudha tak ingin membahasnya sekarang apalagi dia sedang menyetir, biarlah nanti masalah Maldives dibicarakan di rumah bersama dengan istrinya. Mobil Yudha memasuki kantor militer bermatra Angkatan Darat, tampak prajurit yang berjaga memberi hormat pada Yudha. Turun dari mobil wajah Aryana masih di tekuk membuat Yudha agak kesal.
"Ayah tahu kamu kesal dengan ayah, tapi untuk sekarang bisakah kamu bersikap manis agar orang tak mengira kamu dipaksa nikah," ucap Yudha yang membuat sang putri makin kesal.
"Ayah...," ucap Aryana sambil mengerucutkan bibirnya.
Yudha lalu mengandeng tangan putrinya berjalan menuju kantornya. Saat melewati beberapa prajurit junior Aryana berusaha bersikap biasa menyembunyikan perasaannya yang sedang kesal. Beberapa prajurit junior bertanya-tanya siapa cewek berseragam SMA yang digandeng atasannya.
"Kamu duduk dulu, ayah telpon bunda mu dulu biar setelah selesai pertemuan langsung menuju ke sini!" perintah sang ayah setelah sampai di ruang kerjanya.
Aryana pun menurut, ia duduk di kursi tamu di ruang kerja ayahnya sambil memainkan ponselnya sedangkan Yudha duduk di kursi kerjanya melanjutkan pekerjaannya. Selang setengah jam Yasmin masuk ke ruang kerja suaminya.
Tok tok
__ADS_1
"Ijin masuk komandan!" ucap Yasmin.
Yudha yang sedang memeriksa berkas di mejanya mendongakkan kepalanya saat mendengar sebuah suara yang sangat ia kenal, Yudha tersenyum ketika melihat siapa yang meminta ijin masuk.
"Silahkan masuk bu Yudha!" ucap Yudha lalu berdiri dari duduknya berjalan menghampiri istrinya.
Yasmin mencium tangan Yudha dan dibalas ciuman di kening Yasmin. Mereka tak menyadari ada sepasang mata yang menatap kesal ke arah pasangan suami istri yang menjadi ayah bundanya.
"Bisa nggak sih mesra mesranya di rumah saja!" ucap Aryana kesal melihat pemandangan di depannya.
Mendengar suara Aryana, Yudha baru menyadari bahwa tak hanya dirinya dan Yasmin saja yang berada di ruang kerjanya.
"Ana!, kamu disini?" tanya Yasmin lalu menghampiri putrinya yang duduk di kursi tamu dengan memasang raut wajah kesal.
"Iya aku sini, di ajak ayah jemput bunda," ucap Aryana dengan nada bicara yang masih tak bersahabat.
"Kok bicaranya gitu, kamu lagi marah?"tanya sang bunda yang duduk disampingnya.
"Ya iyalah, kalian melarang anak-anaknya nggak boleh pacaran suruh sekolah yang benar tapi nggak di rumah nggak disini aku di suguhi tontonan kemesraan ayah bunda secara live bikin mataku sakit, jiwa jomblo ku meronta-ronta," ucap Aryana kesal.
"Iya deh bunda dan ayah minta maaf, terus sekarang mau kamu gimana?" tanya Yasmin lembut.
"Ijinkan setelah lulus SMA Ana boleh menikah," jawab Aryana.
"Tapi kamu masih muda Ana, masih terlalu muda untuk menikah," ucap Yudha.
"Ayah..., ayah tahu 'kan aku sakit, aku tak tahu sampai kapan aku akan bertahan, jadi sebelum waktuku tiba aku ingin merasakan menikah dan jika memungkinkan aku ingin merasakan menjadi seorang ibu sebelum aku menghadap Rabb ku," ujar Aryana yang cukup menohok perasaan Yudha dan Yasmin.
Yasmin memeluk putrinya sambil terisak, ia tak menyangka putrinya berfikir sejauh itu. Sedangkan Yudha terlihat lebih tegar meski sebagai seorang ayah hatinya hancur harus mendengar ucapan putrinya barusan. Ayah mana yang tak sedih melihat putri satu satunya selalu berada di jurang kematian. Andai bisa ia akan bersedia mengantikan posisi putrinya merasakan sakit fisik dan sakit yang tak kentara di dalam hatinya.
"Ana, katakanlah ayah dan bunda memberikanmu ijin menikah setelah lulus SMA, memangnya kamu mau menikah dengan siapa?, selama ini kan kamu tidak punya pacar," ucap Yudha.
"Kan aku masih punya waktu satu setengah tahun untuk cari calon suami," jawab Aryana.
"Kalau sampai kamu lulus ternyata kamu belum menemukan calon suami, bagaimana?, kamu mau menikah dengan siapa?" tanya Yasmin.
"Ya kalau sampai aku lulus aku belum mendapatkan calon suami, kalau om Fahmi belum menikah, aku akan meminta om Fahmi menikah denganku," ucap Aryana santai tapi tidak dengan kedua orang tuanya.
"Byurrr, Yudha menyemburkan teh yang baru saja ia minum saat mendengar pengakuan sang putri.
"Ana, bercanda mu tidak lucu!" tegur sang bunda tegas.
"Ayah bunda gimana sih, tadi tanya aku mau menikah dengan siapa, setelah aku jawab malah bilang tidak lucu," ucap Aryana kesal.
__ADS_1
"Ayo pulang sepertinya Ana harus istirahat agar kewarasannya kembali!" ajak Yudha yang langsung keluar dari kantornya.
"Yasmin mengerti suaminya sedang emosi, ia lalu mengajak Aryana untuk pulang mengikuti ayahnya yang sudah keluar kantor lebih dulu.
Di dalam mobil hanya keheningan tak ada satupun yang membuka suara sampai mobil yang mereka tumpangi sampai di halaman rumah. Aryana langsung turun dari mobil tanpa mempedulikan kedua orang tuanya, bahkan saat memasuki rumah ia tak menyapa kakaknya Afwi yang sedang duduk di ruang keluarga. Afwi pun memandang heran sikap adiknya, Afwi meyakini satu hal bahwa telah terjadi sesuatu yang tak baik pada adik kembarnya itu. Setelah Aryana masuk kamar muncul ayah dan bundanya dari ruang tamu.
"Bunda, Ayah apa kalian tadi pulang bersama Aryana?" tanya Afwi.
"Iya tadi Aryana pulang bareng ayah dan bunda," jawab Yasmin sedangkan Yudha sudah berjalan duluan menuju kamarnya tanpa mempedulikan Afwi.
"Bunda, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Aryana kelihatan kesal dan ayah juga kelihatan marah?" tanya Afwi penasaran.
"Nanti bunda ceritakan, sekarang bunda mau menenangkan ayah kamu dulu," ucap Yasmin lalu mengusap pundak Afwi kemudian Yasmin segera ke kamar menemui sang suami.
Di dalam kamar Yasmin menemukan suaminya duduk di kursi balkon kamarnya, seragam loreng masih melekat di tubuhnya. Yasmin memeluk Yudha dari belakang menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
"Tak terasa sekarang putri kecil kita sudah dewasa, sebentar lagi akan ada seseorang yang akan mengambil alih tanggung jawab kita," ucap Yasmin.
"Tapi tak secepat ini, aku belum rela apalagi sampai sekarang dia belum mendapatkan donor jantung, aku merasa tak berguna menjadi seorang ayah, aku menyayangi Aryana lebih dari nyawaku," ucap Yudha sendu tak terasa setitik bulir bening keluar dari sudut matanya. Mata tajam yang selalu memancarkan ketegasan kini mengeluarkan bulir bening dengan segala kepedihan jika mengingat masa depan putrinya yang entah sampai kapan akan sanggup bertahan.
"Kita hanya bisa berdoa dan berusaha, selebihnya Allah yang menentukan. Mas jangan lagi menganggap diri Mas adalah seorang ayah yang tak berguna. Mas adalah seorang Ayah yang hebat dari tiga orang putra dan satu orang putri," ucap Yasmin berusaha memberi motivasi pada suaminya agar suaminya tidak menganggap dirinya ayah yang tak berguna karena belum berhasil mendapatkan donor jantung untuk putri tercintanya.
"Kamu memang istri yang baik Sayang, aku bahagia memilikimu," ucap Yudha.
"Terima kasih atas gombalannya pak komandan," ucap Yasmin.
"Aku nggak gombal, ini serius," ucap Yudha.
"Baiklah, aku percaya tapi sekarang kita shalat dzuhur biar pikiran lebih tenang lagian tuh waktunya sudah mau habis!" ajak Yasmin.
Yudha pun menurut, ia segera bangkit dari duduknya lali ke kamar mandi untuk bersih-bersih sekalian mengambil wudhu intuk shalat. Memang inilah seharusnya seorang muslim jika sedang galau yaitu bertemu dan berkomunikasi dengan Allah dengan shalat.
_______________________________________
Author kok agak nyesek sendiri pas nulis episode ini.
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung...
Baca juga karya pertamaku Cinta Yudha biar lebih nyambung dan nggak gagal paham pas baca Pilihan Hati Aryana. Caranya klik profil Author disitu sudah ada novel karya author.
__ADS_1