Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 151


__ADS_3

Waktu terus berjalan, Nayla tak menyia-yiakan waktu yang ada, ia sudah mulai mengurus pendaftaran sidang skripsinya. Nayla mendapatkan jadwal sidang skripsi seminggu lagi, ia bekerja keras agar saat sidang nanti ia bisa menjawab semua pertanyaan dari dosen penguji. Yang membuat hati Nayla deg-degan adalah satu dosen tamu yang akan menjadi anggota dosen penguji, pasalnya dosen tamu tersebut di rahasiakan, dan para mahasiswa yang akan mengikuti sidang skripsi baru akan di beri tahu pada pagi hari sebelum sidang dimulai, biasanya sidang skripsi juga di sebut ujian pendadaran skripsi.


Hari yang di nantipun tiba, pagi itu Nayla sudah siap dengan seragam hitam putih, dengan atasan baju warna putih yang terbalut jas almamater.Tak lupa semalam Nayla menelpon sang papa untuk meminta doa restu agar ujian skripsinya berjalan lancar, Nayla juga meminta maaf pada papanya atas semua kesalahan yang ia lakukan, bahkan Nayla sampai menangis saat meminta maaf dan meminta doa dari sang papa. Dalam hati Nayla sebenarnya juga ingin menelpon Afwi tapi ia segan karena ia tak punya hubungan istimewa atau apa namun, entah feeling atau apa saat Nayla akan berangkat ke kampus ia mendapat telepon dari Afwi.


Afwi


"Assalamualaikum, Dek."


Nayla


"Waalaikumsalam, abang."


Afwi


"Hari ini mau ujian skripsi kan?"


Nayla


"Kok abang tahu hari ini aku ujian skripsi?"


Afwi


"Kan kamu yang bilang sama abang empat hari yang lalu, waktu abang nelpon kamu, masa lupa?"


Nayla


"Ya Allah, Bang, Nay sampai lupa, jujur hari ini Nay agak nervous."


Afwi


"Tenang, Dek, jangan lupa berdoa dan banyak dzikir dan shalawat, InsyaAllah semua akan baik-baik saja."


Nayla


"Terima kasih, Bang, supportnya, Nay berangkat dulu ya Bang, Assalamualaikum."


Afwi


"Semangat ya, Sayang, Waalaikumsalam"


"Eh, apa itu tadi? sayang?" gumam Nayla dalam hati terkejut saat panggilan telepon tertutup terdengar kata yang aneh dari Afwi.


Meski ragu dengab kata sayang dari Afwi namun itu sudah bisa menjadi mood booster untuk Nayla menghadapi ujian skripsinya. Nayla berangkat ke kampus diantar supir karena ia ingin rileks. Setelah setengah jam perjalanan Nayla sudah sampai di kampus, ia langsung menuju ruang khusus untuk para mahasiswa yang akan menjalani ujian skripsi, di sana sudah ada beberapa temannya yang akan menjalani ujian skripsi di hari yang sama.


"Kamu juga ujian hari ini, Nay?" sapa Berta teman sekelasnya.


"Iya," jawab Nay singkat karena ia sungguh sangat gugup kali ini dan itu terlihat oleh Berta.


"Santai saja, Nay, ini hanya ujian skripsi kalau nggak lulus ya tinggal ngulang, tapi kamu mahasiswi yang rajin dan cerdas, aku percaya kamu pasti akan lulus dengan baik," ucap Berta memberi semangat.


"Terima kasih, Berta."

__ADS_1


"By the way, pacarmu nggak nungguin kamu ujian?" tanya Berta lagi.


"Aku nggak punya pacar, Berta."


"Masa sih, lalu yang di Bandung kemarin siapa hayo?" todong Berta.


"Kamu ke Bandung?"


"Beberapa minggu yang lalu, ada saudara yang nikahan, dan keluargaku menginapa di Aryana Hotel, tak sengaja aku lihat kamu sedang makan sama cowok cakep di Aryana resto lantai bawah, aku mau tanya ini dari kemarin tapi aku lupa."


"Oh itu cuma teman, dia kerja di hotel Aryana, dia mengajakku kerjasama di bidang kuliner," jawab Nayla jujur karena ia memang mengenal Afwi sebagai karyawan Aryana Hotel and Resto.


"Tapi sekilas dia cowok yang cakep banget lho Nay, nggak niat jadikan dia pacar?"


"Nggak lah, dia terlalu sempurna, cewek sepertiku mana pantas buat cowok sekeren dia."


"Ya...sayang sekali padahal dia ganteng lho dan kamu cantik, kalau menurutku sih serasi, tapi kalau kamu nggak mau buat aku aja deh," canda Berta.


"Jangan deh!" larang Nayla.


"Kenapa? kamu suka dia?"


"Nggak gitu juga kali, aku cewek normal mana mungkin nolak pesonanya, tapi aku tahu diri, kalau soal kamu mau gebet dia buat di jadikan teman jalan it's oke lah tapi kalau buat pasangan hidup mundur aja, abang Afwi agamanya top banget dia muslim yang baik, aku aja yang juga muslim minder apalagi kamu."


"Aku cuma bercanda kali, Nay," ucap Berta sambil terkekeh.


"Ah kau ini nggak lucu," ucap Nayla sebal.


Di dalam ruangan tampak keseriusan dan ketegangan, dosen tamu yang di rahasiakan ternyata adalah salah satu dosen yang juga merangkap sebagai kepala chef terkenal yang bekerja salah satu hotel bintang lima milik Dewantara group. Nayla tak menyangka akan menghadapi juri tamu yang begitu jeli dan pintar, hampir saja ia keteteran menjawab pertanyaan dari juri tamu tersebut, namun Nayla cukup pintar dalam mengatasi kondisi ini, ia berudaha setenang mungkin menjawab segala pertanyaan dewan penguji, meski hatinya sudah jungkir balik dari tadi.


Akhirnya sesi ujian selesai, Nayla di nyatakan lulus dengan nilai yang cukup bagus, Nayla merasa sangat senang dan bahagia, ia menyalami semua dewan penguji dan dosen tamu yang ternyata bernama Mario. Setelah menyalakmi semua para dosen penguji, Nayla segera meninggalkan ruangan. Sepeninggal Nayla tuan Mario ijin sebentar untuk menelpon seseorang,


"Hallo, Pak, saya mau melaporkan ternyata calon menantu anda sangat kompeten," lapor Mario pada seseorang di seberang telepon.


"Bagus lanjutkan kerjamau!"


Mario kembali ke tempatnya untuk melanjutkan menguji dua orang mahasiswa lagi. Bagi Mario ini adalah tugas pertamanya menjadi tim penguji skripsi karena biasanya ia hanya di undang sebagai juri tamu kompetisi memasak ataupun mengisi seminar tentang kuliner dan pariwisata.


Sampai di luar Nayla menangis haru, ia berhasil melewati tahap ini setelah perjalanan panjangnya selama kurang lebih empat tahun.


"Lho kok nangis, Nay? pertanyaannya susah ya? kamu nggak lulus?" tanya Galih yang akan maju paling akhir.


Nayla yang mendengar pertanyaan temannya Galih, langsung berhenti menangis dan mengusap air matanya, ia menatap sebal teman seperjuangannya itu. Bisa-bisanya bertanya sepanjang rel kereta dengan pertanyaan menyebalkan.


"Dasar teman kutu kupret, kalau tanya tuh satu-satu, gue lagi syok malah di tanya-tanya?" gerutu Nayla kesal.


"Ya gue heran aja seorang Nayla nangis gitu lho, gadis cuek dan pemegang sabuk hitam karate bisa nangis bombay juga karena skripsi," ejek Galih.


"Gue juga manusia dodol, punya perasaan juga, lihat aja kamu nanti bakal kelabakan kalau di tanya sama juri tamunya, sumpah demi apapun tuh dosen pinter banget dan cool lagi," ucap Nayla memuji sang dosen penguji juga sekaligus menakut nakuti Galih.


"Yang bener lu?" tanya Galih sedikit panik.

__ADS_1


"Iya, kelihatannya bukan dosen kampus ini, wajahnya asing," ucap Nayla.


"Waduh," ucap Galih panik, sedangkan Nayla tersenyum menyeringai.


Nayla sedikit berbohong karena ia kesal dengan Galih yang meledeknya. Sebenarnya Mario adalah dosen tata boga di bagian cake and bakery tapi ia juga sempat mendengar bahwa pak Mario juga seorang chef di sebuah hotel berbintang tapi tak ada yang tahu nama hotel tersebut. Selesai ujian Nayla langsung pulang, namun saat akan beranjak dari depan ruang ujian, seseorang menyodorkan buket berisi coklat dan Nayla lebih terkejut lagi saat tahu siapa yang memberinya buket bunga dan coklat.


"Selamat ya, Dek," ucap Afwi sambil menyerahkan buket berisi coklat.


"Abang....!" pekik Nayla lalu dengan senyum mengembang menerima buket coklat dari Afwi.


Beberapa mahasiswi yang berada di sekitar ruang ujian ikut melihat interaksi Nayla dan seorang cowok ganteng paripurna, bahkan ada dari mahasiswi tersebut sampai terpana melihat ketampanan Afwi.


"Kenapa, bang Afwi bisa di sini? nggak kerja?" tanya Nayla keheranan melihat Afwi bisa berada di Semarang.


"Kebetulan dua hari ini aku ada tugas cek cabang hotel milik adik iparku yang masih satu manajemen dengan Aryana hotel," jawab Afwi berbohong karena sebenarnya dia mendapat tugas dari intansinya di kepolisian.


"Terima kasih, ya Bang sudah menyempatkan waktu ke sini padahal abang sibuk," ucap Nayla


"Tak apa, mungkin ini yang di namakan jodoh," canda Afwi sambil tersenyum ke arah Nayla.


"Abang bisa aja bercandanya, nggak lucu."


"Aku nggak bercanda, kamunya aja yang nggak pernah percaya."


"Sudahlah, Bang lebih baik kita makan siang dulu aku sudah lapar!" ajak Nayla.


"Oke, tapi maaf aku nggak bisa lama, Dek, setelah makan siang aku harus segera kembali bekerja.


"Iya, Bangz kita cari cafe dekat kampus aja, ada yang enak juga lho, Bang, sesuai kantong mahasiswa!" ucap Nayla sambil tersenyum dan reflek mengandeng tangan Afwi.


Sedangkan Afwi hanya manut saja, Nayla memegang pergelangan tangannya agar segera meninggalkan kampus untuk makan siang merayakan kelulusannya. Afwi merasa tak enak jika langsung melepas tangan Nayla, namun akhirnya Nayla melepas pegangannya pada tangan Afwi, Nayla tersenyum kikuk karena malu.


"Maaf ya, Bang nggak sengaja, ucap Nayla tak enak.


"Nggak, apa-apa, tapi kalau bukan mahram jangan pegang-pegang ya, Dek!" pinta Afwi


"Iya Bang, maaf tadi reflek aja pegang tangan abang," ucap Nayla benar-benar malu pada Afwi.


"Nggak apa-apa, besok-besok jangan di ulangi lagi baik sama aku maupun laki-laki yang bukan mahram kamu, tapi kalau nanti kalau kita sudah halal, tak hanya tangan kamu bisa pegang semuanya tanpa dosa," ucap Afwi membuat Nayla yang berjalan di sampingnya syok.


"Apa!"



(Kira-kira seperti iji buket coklatnya yang di kasih Afwi ke Nayla)


____________________________________________


Author usahakan bisa up tiap hari meski cuma satu bab dan gambar buketnya itu koleksi pribadi nggak nyomot dari google lho ya, buket itu buatan adikku tercinta yang berdomisili di Karawang, usaha adikku di lebeli dengan nama Rumah Umi


Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You


__ADS_2