
Afwi keluar dari kamar orang tuanya dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya. Ia berjalan menuju kamarnya sendiri yang berada di sebelah kamar orang tuanya, Afwi pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian Afwi membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia masih senyum-senyum sendiri mengingat saat acara lamarannya dengan Nayla barusan.
Sedangkan di kamar lain, Yudha dan Yasmin sedang membahas acara pernikahan kedua putranya. Afwa masih dalam penugasan di Sumatra, kalau diminta pulang untuk lamaran tak mungkin dan hal ini membuat Yudha dan Yasmin sedikit bingung.
"Yah, bagaimana kalau lamarannya Afwa dan Kirana di lakukan secara virtual, jadi pas Afwa pulang bisa segera mengurus pengajuan," saran Yasmin.
"Ide bunda boleh juga, tapi apa Afwa dan Kirana mau lamaran secara virtual?" ucap Yudha ragu.
"Ya kita coba tanyakan ke Afwa dulu, lalu tanya ke Kirana dan keluarganya, mau nggak lamarannya di lakukan secara virtual," ucap Yasmin.
"Sebaiknya besok saja kita telpon Raka, ini sudah malam," ucap Yudha yang di iyakan oleh istrinya.
Keesokan harinya mereka sarapan pagi bersama karena hari itu adalah hari minggu, Afwi dan keluarganya menikmati waktu kebersamaan mereka karena siang nanti Afwi harus kembali ke Bandung , Yudha dan Yasmin pulang ke Jakarta, sedangkan opa Dimas dan oma Dewi pulang ke kota K, mereka merasa lebih tenang tinggal di kota kelahiran mereka. Bisnis DW group juga ada yang di kembangkan di kota K tersebut.
"Yah, sebaiknya telepon Raka sekarang saja, mumpung semua kumpul!" pinta Yasmin.
Mendengar permintaan istrinya, Yudha mengambil ponsel dan mendial nomor sohibnya yang sebentar lagi akan berbesan dengannya.
Yudha
"Assalamualaikum, Ka!"
Raka
"Waalaikumsalam, tumben telepon ada apa? mau kasih duit ya?"
Yudha
"Dasar kau, tak pernah berubah, aku sedang di Semarang lamar calonnya Afwi."
Raka
"Gila lu ya, malah Afwi sudah kamu lamarin, anak gue yang dari balita jadi calon mantu lu, malah kamu nomor duakan!"
Yudha
"Maaf, ini darurat jadi Afwi dulu yang aku lamarin."
__ADS_1
Raka
"Eh jangan bilang Afwi kredit duluan ya!"
Yudha
"Eh, peak, enak aja lu ngomong, bukan begitu ceritanya, anak gue masih ada ahklak, panjang deh ceritanya, kapan-kapan aku ceritkan. Dan ini yang penting, karena Afwi sudah lamaran, bagaimana kalau Kirana juga lamaran sekalian tapi berhubung Afwa masih penugasan, bagaimana kalau acara lamarannya di lakukan secara virtual sama Afwa. Jadi aku dan keluarga datang ke rumah kamu untuk melamar Kirana secara langsung dan Afwa menyaksikan lewat virtual, biar marem gitu, nanti pas Afwa pulang tinggal urus pernikahan aja. Rencananya gue ngunduh mantunya Afwa dan Afwi mau aku barengin biar nggak bolak balik mantu."
Raka
"Ide lu ok juga tapi gue tanya Dinda dan Kirana dulu, mereka setuju nggak dengan rencana lamaran virtual ini."
Yudha
"Baiklah, gue tunggu kabar baiknya!"
Raka
"Siap!"
Yudha
Raka
"Waalaikumsalam."
"Gimana, Yah, mas Raka setuju?" tanya Yasmin.
"Raka mau membicarakannya dulu dengan Dinda dan Kirana," jawab Yudha.
Afwi yang ikut mendengar pembicaraan ayah dan bundanya jadi penasaran, dalam hati ia bertanya tanya kenapa menyebut nama orang tua dari Kirana kekasih sang kakak.
"Ayah, Bunda sebenarnya ada apa sih, kenapa menyebut nama om Raka, tante Dinda, kirana dan setuju?" tanya Afwi.
"Begini, Afwi, karena kamu sudah lamaran sedangkan kakakmu malah belum lamaran, makanya karena kakakmu masih penugasan di Sumatra, ayah dan bunda merencanakan lamaran ke rumah Kirana, sedangkan kakakmu menyaksikannya secara virtual, biar nanti begitu kakakmu pulang bisa langsung persiapan pernikahan," jelas Yudha tentang rencana lamaran Afwa.
Afwi yang mendengar hal itupun sedikit merasa bersalah, gara-gara dirinya lebih dulu melamar Nayla, lamaran sang kakak jadi terkesan terburu-buru.
__ADS_1
"Yah, pernikahanku dengan Nayla misal di mundurkan sebentar nggak apa-apa, aku akan bicara sama om Mahendra dan Nayla, aku rasa mereka bisa mengerti, pernikahan itu sekali seumur hidup apalagi bagi aku dan kak Afwa yang sama-sama abdi negara. Aku ingin kak Afwa dan Kirana juga merasakan lamaran langsung yang berkesan!" pinta Afwi sedangkan oma dan opanya hanya menyimak pembicaraan anak dan cucunya itu.
"Lho, kamu ini gimana sih? kan kamu yang minta nikahnya Afwa suruh cepat-cepat," ucap Yudha yang sedikit kesal karena ucapan putra keduanya yang bagaikan air di atas daun talas.
"Mulanya sih pinginnya begitu, tapi ingat perjuangan kakak buat dapetin restu tante Dinda membuatku berubah pikiran," ucap Afwi berubah sendu.
Opa Dimas yang sedari tadi diam dan menyimak mulai ikut bergabung dalam pembicaraan anak dan cucunya itu.
"Kalau opa boleh beri saran, tanya dulu Afwa sampai kapan penugasan dan tanya mau melamar Kirana kapan dan dengan cara yang bagaimana, biar nanti Afwa rundingan sama Kirana," sela opa Dimas memberi saran.
"Aku rasa ucapan papa benar juga, Yah, kita tanya Afwa dulu, barangkali ada celah dia bisa pulang lebih cepat di penugasan itu, sebenarnya tinggal lamaran resmi, karena seingat bunda, sebelum Afwa pergi penugasan, Afw sudah melamar Kirana secara pribadi, soalnya waktu itu Afwa pernah cerita ke bunda. Bunda agak marah waktu itu karena baru di kasih tahu setelag Afwa bilang ke Kirana pas acara jalan-jalan sama Kirana, kata Afwa itu dadakan," ungkap Yasmin baru ingat ia pernah dilapori Afwa sudah melamar Kirana secara pribadi dan hanya beli cincin yang tersedia di toko emas sekitar.
"Oh waktu, ayah baru pulang dari Dubai itu, bunda ngomel-ngomel nggak jelas, dan ayah juga kena imbasnya itu," ucap Yudha yang juga mengingat moment mengesalkan itu.
"Heh, dasar kalian ini nggak jelas!" umpat oma Dewi yang sedari tadi diam.
"Ma, bukan aku yang nggak jelas, tapi si Afwa itu," protes Yudha.
"Aku kan kesel, Ma, Afwa itu bikin malu aja, Dinda kan sahabatku, Kirana dan Afwa sudah menjalin kasih sejak lama, masa lamar Kirana secara pribadi nggak bilang-bilang," ucap Yasmin.
"Oke, sekarang gini aja, karena Afwa sudah melamar Kirana secara pribadi sebelum penugasan, kalian tanya Afwa dulu mau lamaran resminya bagaimana," usul Oma Dewi.
"Iya, Yah, bener kata oma dan opa, aku nggak mau lamaran kak Afwa sama Kirana nggak berkesan, sepuluh tahun lebih lho mereka saling cinta, masa lamaran resminya nggak berkesan," ucap Afwi mengiyakan saran oma dan opanya.
"Baiklah, nanti ayah tanya dulu sama Afwa maunya lamaran yang bagaimana," putus Yudha.
Yudha sangat ingin moment pernikahan anak-anaknya menjadi moment yang tak terlupakan seumur hidup, apalagi kedu putra kembarnya sama-sama abdi negara yang sangat ketat peraturan dalam hal pernikahan. Seperti wejangan dari Komandannya dulu sewaktu dulu ia masih menjadi anggota TNI, jika sudah mengucap janji di hadapan Tuhan menikahi seorang wanita jangan pernah berfikir untuk mencari wanita yang lain karena pernikahan itu adalah komitmen bersama. Jangan sampai ada masalah dalam rumah tangga bilang sial, atau menyesal dapat pasangan yang begini, begitu, apalagi mengatakan bukan jodoh, sudah punya tiga anak bilang nggak jodoh.
Akhirnya rencana lamaran resmi Afwa pada Kirana akan di tanyakan dulu pada Afwa karena Yudha dan Yasmin ingin berbuat adil pada anak-anaknya mengingat moment pernikahan adalah salah satu moment penting bagi kehidupan manusia, tak hanya abdi negara, orang sipil pun pasti memimpikan acara lamaran resmi dan pernikahan mereka dijadikan sweet moment yang sangat berkesan.
_________________________________________
Maaf segini dulu ya
Please, Like, Vote, Komentae, Rate and Favorit
Thank You
__ADS_1