Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 42


__ADS_3

Dalam mobil Fahmi menaruh kepala Aryana di pangkuannya, ia membelai lembut wajah Aryana membuat Afwi yang duduk di kursi depan merasa jengah.


"Sudahlah Om jangan cari kesempatan saat adikku sedang pingsan, kalian belum halal," seloroh Afwi dengan tatapan jengah.


"Dasar kau, kalau iri bilang, jangan suka mengatai orang nanti kam kena karma baru tahu rasa," balas Fahmi tak mau kalah.


"ngomong-ngomong kenapa Ana belum sadar juga?" tanya Afwi.


"Adikmu fisiknya lemah, sepertinya dia juga banyak beban pikiran, lagian kenapa sih ayahmu seenaknya membawa Aryana pergi?" ucap Fahmi dengan nada sedikit kesal.


"Huh, siapa suruh ibu Om seperti ibu Suri yang kejam, kalau aku jadi ayah aku akan melakukan hal yang sama, kalau perlu aku bawa Aryana ke tempat yang jauh dan akan aku nikahkan dengan laki-laki yang lebih muda dari Om dan baik," ucap Afwi memanas-manasi Fahmi untuk meluapkan kekesalannya pada keluarga Fahmi yang membuat sang ayah terpaksa menyembunyikan mereka di tempat terpencil dan harus sekolah di daerah pedesaan.


"Maafkan mamiku, sekarang mereka sudah berbeda, kedua orang tuaku sudah menyadari kesalahannya," ucap Fahmi penuh penyesalan.


"Kalau suatu saat kalian menikah, jangan sampai kalian satu rumah dengan orang tua Om, kalian harus punya rumah sendiri, kalau bisa rumah itu hasil jeri payah Om sendiri tanpa campur tangan orang tua Om maupun orang tuaku, meskipun cuma gubuk kecil asal itu jeri payah Om, hati akan tenang, nggak takut suatu saat akan diungkit-ungkit sama orang tua," ucap Afwi memberi saran.


"Huh, sok dewasa kamu, memang ada orang tua yang seperti itu, mengungkit-ungkit apa yang telah diberikan ke anak?" tanya Fahmi.


"Banyak lah Om, contohnya tuh teman aku si Diki, ibunya nekat pergi dari rumah karena nggak tahan dengan perlakuan neneknya Diki, yaitu ibu dari ayahnya yang selalu mengungkit pemberiannya pada orang tua Diki karena orang tua Diki satu rumah dengan kedua orang tua ayahnya Diki, dan sebagian kebutuhan Diki dan keluarganya masih dibantu eneknya Diki Maksudnya nenek Diki mungkin baik untuk mengingatkan tentang pengeluaran rumah tangga, tapi kalau diucapkan dengan nada kasar, 'kan jatuhnya malah menghina dan awas ya Om kalau Aryana sampai megalami seperti ibunya temanku saat menikah dengan Om nanti, aku tak segan-segan membunuh Om dengan tanganku sendiri!" ucap Afwi penuh peringatan dan ancaman membuat Fahmi tertegun tak percaya, bahwa ada fenomena masyarakat yang seperti itu.


"Om jamin hal seperti itu tak akan terjadi pada Aryana," ucap Fahmi.


Pembicaraan terhenti ketika mobil sudah sampai di rumah sakit umum, Fahmi mengendong Aryana dan segera menuju UGD agar langsung di tangani. Afwi dan Fahmi menunggu di luar, Afwi mengeluarkan ponselnya untuk memberi tahu sang bunda.


Tak lama dokter keluar dari ruang UGD


"Keluarga nona Aryana!" panggil dokter


"Ya saya dok," ucap Fahmi dan Afwi bersamaan sambil mendekat pada sang dokter.


"Keadaanya baik, ia hanya shock dan kekuragan oksigen sebentar lagi nona Aryana siuman," ucap dokter.


"Boleh saya melihatnya dok?" tanya Fahmi.


"Silahkan!" ucap dokter tersebut.


Fahmi dan Afwi masuk ke ruang ugd dimana Aryana di rawat, tampak wajah cantik namun sedikit pucat, tak berapa lama Yasmin datang menuju ruang ugd, sampai disana ia begitu terkejut melihat siapa laki-laki yang bersama Afwi.


"Mas Fahmi," lirih Yasmin


"Bunda!" panggil Afwi ketika ia menoleh sosok sang bunda sudah di dekatnya, tak urung Fahmi ikut menoleh.

__ADS_1


"Mas Fahmi, apa yang kamu lakukan disisni?" tanya Yasmin.


"Apa yang aku lakukan?, kamu pikir apa yang kulakukan?, aku ada proyek didaerah sini dan kebetulan aku bertemu dengan calon istriku yang kalian bawa kabur!" ucap Fahmi sinis.


"Maaf," ucap Yasmin, hanya kata itu yang bisa terlontar dari mulut Yasmin.


Melihat bundanya terlihat sedih setelah mendengar kata-kata om Fahmi, Afwi menjadi kesal.


"Hei om, jangan bikin bundaku sedih, ini bukan sepenuhnya salah bunda!" ucap Afwi kesal.


"Biar aja, Fi, memang bunda yang salah, dalam hal ini, telah ikut andil memisahkan Aryana dan Fahmi," ucap Yasmin sendu.


"Ah, bunda jangan gitu, kalo itu ibunya om Fahmi nggak sok-sokan ngancam Aryana, nggak mungkin ayah dan bunda bawa pergi Aryana dan untuk Om Fahmi, sekarang Om bisa pulang karena Aryana sudah ada yang menunggu!" pinta Afwi yang langsung mendapat penolakan dari Fahmi.


"Tidak!, sedetikpun aku tak akan meninggalkan Aryana, nanti setelah aku pergi kalian akan membawanya kabur lagi seperi dulu," ucap Fahmi tegas.


"Sudahlah bund, kali ini biarkan saja di Om bucin ini menemani Aryana, daripada dia bikin ribut disini dan bikin malu,"ucap Afwi.


"Pak, Bu mohon jangan buat keributan di ruang ugd dan tolong yang menunggu pasien satu saja!" pinta salah satu perawat ugd.


"Maaf, sus kami tak bermaksud berbuat keributan, baiklah kami akan menunggu diluar," ucap Yasmin lalu menarik tangan Afwi untuk segera keluar karena tak mungkin meminta Fahmi yang keluar, bisa-bisa rumah sakit ini akan rata dengan tanah besok.


"Sayang..., kamu sudah sadar," ucap Fahmi bahagia.


Mendengar suara yang sangat dikenalnya, Aryana mencoba menanjamkan penglihatannya yang masih blur, diantara alam nyata dan mimpi. Seakan ia tak percaya dengan apa yang dilihat dan di dengarnya saat ini.


"Ah paling cuma mimpi," lirih Aryana sambil memejamkan matanya lagi membuat Fahmi menjadi gemas.


"Sayangku Aryana!, ini bukan mimpi, ayo bangunlah!, apa kamu nggak kangen sama Om?" ucap Fahmi lembut sambil membelai wajah Aryana.


Merasakan sentuhan dan suara yang begitu nyata, Aryana berusaha membuka matanya kembali, betapa terkejutnya ia ketika melihat siapa pria yang ada di depannya saat ini, rasanya seperti mimpi bagi Aryana.


"Om, apa ini mimpi?" tanya Aryana


"Nggak sayang, ini benar-benar Om Fahmimu," ucap Fahmi lembut sambil mencium tangan Aryana.


"Sungguhkah, ini bukan mimpi?" tanya Aryana masih tidak percaya.


Aryana berusaha untuk duduk dan Fahmi segera membantu Aryana untuk duduk, serelah Aryana bisa duduk dengan sempurna. Aryana langsung memeluk Om Fahminya dengan sangat erat.


"Om, Ana kangen, hiks...hiks," ucap Aryana sambil terisak dengan posisi masih memeluk Om Fahmi.

__ADS_1


"Om juga kangen sayang, Om seperti orang gila ketika menemukanmu tertusuk belati dan sempat dinyatakan meninggal. Belum lagi Om bisa menjagamu setelah keajaiban membuatmu bisa kembali hidup, ayahmu sudah membawamu pergi jauh dari Om, Om hancur sayang, om nggak sanggup kehilangan kamu," ucap Fahmi setelah Aryana menggurai pelukkannya.


Dua insan beda usia dan beda jenis kelamin itu saling melepas rindu, Yasmin yang tak sengaja melihat adegan itu pun menitikan air matanya, ia bisa merasakan betapa putri kecilnya yang sekarang tumbuh dewasa begitu sangat mencintai Fahmi. Yasmin akan berusaha agar Aryana tidak akan terpisah lagi dengan Fahmi. Sudah cukup putrinya menanggung beban kelainan jantung bawaan. Saatnya putrinya bahagia, kalaupun setelah lulus SMA Aryana harus menikah dengan Fahmi, ia akan mengijinkannya. Fahmi pria yang baik, ia pasti akan menjaga putrinya dengan baik.


Sedangkan di tempat lain, Yudha yang baru saja rapat di markas menghembuskan nafas kasar setelah menerima telpon dari Yasmin kalau Aryana masuk rumah sakit dan Fahmi sudah menemukan dimana Aryana secara secara tidak sengaja.


"Huh, sepertinya dokter pedofil itu berjodoh dengan putriku satu-satunya, ya Allah aku tidak tahu ini anugerah atau bencana untukku," gumam Yudha dalam hati.


Yudha tidak bisa langsung ke Bandung karena tugasnya sebagai abdi negara semakin banyak, apalagi ia berencana setelah anak-anaknya lulus SMA ia akan mengajukan pensiun dini.


Di rumah sakit, Aryana dinyatakan sudah sembuh hanya perlu banyak istrirahat, jadi Aryana tidak perlu rawat inap, dari ugd Aryana diperbolehkan pulang setelah melalui sekitar dua jam observasi. Drama kepulangan Aryana dari rumah sakit pun di mulai. Fahmi bersikeras ikut mengantar Aryana pulang dan Fahmi meminta satu mobil dengan Aryana. Akhirnya mobil sport Fahmi dikemudikan oleh Afwi karena Afwi tahu arah jalan pulang ke rumah, Fahmi duduk di samping kemudi sedangkan Aryana dan Yasmin duduk dibelakang. Supir Fahmi sudah disuruh pulang duluan dijemput supir proyek.


Di dalam mobil Aryana bersandar di bahu sang bunda, Yasmin pun memegang tangan putrinya seolah memberi kekuatan.


"Ana, sebenarnya apa yang terjadi kenapa sampai kamu terkunci di kamar mandi yang rusak?" tanya Afwi sambil menyetir.


"Aku dikunciin sama Rianti dan teman-temanya," jawab Aryana.


"Kok bisa, emang kamu salah apa sama mereka, Nak?" tanya Yasmin kaget.


"Aku mula-mula ke toilet, setelah aku keluar toilet tiba-tiba mereka sudah mengahadangku di luar toilet, katanya aku sudah berani mendekati kak Irfan," jawab Aryana.


"Siapa itu Irfan?" sahut Fahmi dengan muka ditekuk.


"Dia ketua Osis di sekolah kami dan punya banyak fans garis keras dan Rianti and the gank itu adalah salah satu fans garis keras si Irfan," ucap Afwi.


"Wow sepertinya dia pria yang hebat," ucap Fahmi namun ada nada meremehkan di kalimatnya.


"Tidak juga, disekolah-sekolah, biasanya siswa cowok yang cool dan keren akan banyak fansnya berharap juga bisa menyandang status pacar, apalagi cowok itu seorang ketos, tapi tenang saja Om, Aryana tidak termasuk salah satu fans garis keras si Irfan," ucap Afwi.


"Aryana, kamu hanya boleh jadi fans garis kerasnya Om saja, nggak boleh yang lain!" ucap Fahmi yang mengandung peringatan.


Mendengar ucapan Om kece kesayangannya Aryana memutar matanya jengah, Yasmin yang duduk disebelah putrinya hanya tersenyum mendengar pembicaraan tiga orang yang satu mobil dengannya.


__________________________________________


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2