Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 84


__ADS_3

Brukk


"Aduh gimana sih, anda jalan tidak lihat-lihat!" bentak mami Miranda yang hampir terjatuh dari kursinya karena terdorong tubuh pria yang tersandung kursinya.


"Maaf, nyonya, saya sungguh tidak sengaja," ucap pria tersebut sambil mengelus kakinya yang tersandung. Namun tanpa sepengetahuan siapapun pria tersebut menaruh sesuatu di bawah meja yang di tempati mami Miranda dan Aryana.


"Ya, sudah kali ini kau aku maafkan, karena aku ada urusan penting!" ucap mami Miranda kesal, dan kejadian itu pun sempat menjadi pusat perhatian pengunjung resto tersebut.


Setelah pria yang jatuh di dekatnya tadi pergi, mami Miranda melanjutkan pembicaraannya dengan Aryana.


"Ana, sebenarnya mami kesini ingin bicara sesuatu denganmu," ucap mami Miranda serius.


"Tentang apa, Mi?" tanya Aryana.


"Ana, sebenarnya mami sayang padamu dan tak tega mengatakan ini, tetapi sebagai nyonya di keluarga Pratama, sangat penting bagi mami agar keluarga Pratama memiliki keturunan yang ada darah Pratama di dalamnya," jawab mami Miranda.


"Maksud, Mami, aku tidak mengerti?" tanya Aryana lagi karena kurang paham menjurus kemana pembicaraan mami mertuanya.


"Ana, sudah hampir dua tahun kamu menikah dengan Fahmi, tapi belum ada tanda-tanda kehamilan padamu, usia putraku sudah tak muda lagi dan usia kami juga semakin tua, kami butuh penerus yang berdarah Pratama, jadi mami mohon pengertian mu, kalau dalam waktu enam bulan kamu tidak hamil, maka ijinkan Fahmi menikah lagi!" pinta mami Miranda tanpa perasaan seolah-olah memberi seorang anak itu adalah hak manusia.


Juederr


Permintaan mami Miranda bagaikan petir di siang bolong bagi Aryana, baru beberapa minggu kemarin ia membahas hal ini dengan suaminya, sekarang maminya meminta hal yang ia takutkan selama ini. Tapi Aryana berusaha tenang dan tegar saat mendengar permintaan mami mertuanya meski hatinya sangat sakit mendengarnya.


"Mami tenang saja, aku bukan wanita yang egois, kemarin aku sempat membicarakan ini dengan mas Fahmi, dan aku sudah memberikan pilihan pada mas Fahmi, jika mas Fahmi ingin menikah lagi aku akan mengijinkannya tapi, dia harus mengembalikan aku pada orang tuaku terlebih dahulu. Namun jika tante memberiku waktu enam bulan, baiklah, jika aku belum bisa hamil dalam enam bulan maka aku akan menyerah karena di duakan itu sangat tidak enak, mami juga seorang wanita seharusnya mami paham perasaan wanita, seandainya papi punya wanita lain di luar sana dengan alasan mami tak bisa memberikan keturunan, bagaimana perasaan mami? dan satu hal lagi jika papi Pratama dan orang tuanya bisa bersabar menunggu kehamilan mami selama lima tahun lebih, kenapa mami tak bisa menunggu kehamilanku yang dua tahun saja belum ada!, terima kasih untuk kasih sayang mami selama ini, maaf saya harus pergi," ucap Aryana dengan kata-kata menohok sang mami mertua. Rasanya kesabaran Aryana sudah habis di ambang batas minimum.


Setelah mengatakan semua uneg-unegnya atas permintaan sang mami mertua, Aryana segera meninggalkan resto dengan cepat, kebetulan ada taxi yang lewat lalu Aryana menyetop taxi tersebut kemudian naik ke dalam taxi dengan membawa sejuta luka di hati. Rasanya ia ingin pergi jauh dari tempat itu.


Sedangkan Fahmi masih melakukan meeting penting dengan investor sampai ia tak mendengar ponselnya berbunyi berkali-kali, orang suruhan Fahmi berusaha menghubungi namun tidak berhasil karena Fahmi sedang meeting dan sialnya ponsel Fahmi di mode silent. Akhirnya meeting selesai, kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak telah tercapai, Fahmi dan Juan keluar ruang meeting Fahmi langsung masuk ke ruangannya kemudian ia memeriksa ponselnya, alangkah terkejutnya ia mendapati hampir sepuluh panggilan tak terjawab dari pengawalnya yang di tugaskan menjaga sang istri. Fahmi langsung mendial nomor sang pengawal.


"Hallo, ada apa kamu meneleponku sampai berkali-kali?" tanya Fahmi pada pengawalnya yang ada di seberang telpon.


"Maaf, tuan, kami lalai, mami tuan berhasil menemui istri tuan, kelihatannya nyonya muda tidak baik-baik saja setelah pertemuan, terlihat wajahnya sedih, dan sekarang nyonya muda naik taxi tapi entah kemana tujuannya, kami sedang mengikutinya tuan,"lapor pengawal suruhannya.


"Dasar bodoh, kenapa sampai kecolongan?, terus ikuti istriku dan langsung beritahu aku dimana posisi istriku, jangan sampai kehilangan jejak!" perintah Fahmi tegas namun sarat dengan kemarahan.


"Baik Tuan," ucap sang pengawal.

__ADS_1


Di dalam taxi Aryana terlihat menyeka air matanya, ia terisak dalam diam, sampai.suara supir taxi membuyarkan lamunannya.


"Nona, kemana tujuan anda sebenarnya?" tanya supir taxi.


"Bapak tahu dimana masjid di daerah sini?" tanya Aryana.


"Tahu nona," jawab supir taxi.


"Kalau begitu bawa aku ke sana!" pinta Aryana.


Supir taxi itu segera mengarahkan mobilnya ke arah salah satu masjid di negeri Singa tersebut. Setelah satu jam, Aryana sudah sampai di salah satu masjid yang ada di Singapura. Aryana membayar ongkos taxi dan segera turun dari taxi yang di tumpanginya.


Pandangan Aryana tertuju bangunan masjid yang tampak Indah, saat memandang rumah Allah tiba-tiba hatinya merasa tentram, perlahan ia melangkahkan kaki ke halaman masjid, terlihat beberapa orang habis melaksanakan shalat, mungkin musafir seperti dirinya. Aryana menanyakan dimana tempat wudhu untuk putri, setelah di beri tahu Aryana segera menuju tempat wudhu, ia akan melaksanakan shalat ashar karena waktu sudah menunjukkan setengah empat sore. Setelah melaksanakan shalat ashar ia duduk dan berdzikir sambil meredam semua gejolak dihatinya, matanya terpejam menahan genangan air mata yang merembes di kedua matanya. Sanggupkah dirinya melepas sang suami yang di cintai.


Dari pintu samping masjid seorang pria menatap sendu bidadari surganya yang masih berbalut mukena seraya melantunkan dzikir, sungguh demi apapun ia tak akan rela melepas istrinya, jika ia tak di karuniai seorang anak pun ia tak akan melepas bidadari surganya.


Ya, begitu mendapat informasi dari pengawalnya, Fahmi segera menuju lokasi sang istri berada, sungguh ia cukup terkejut namun juga tidak heran, sang istri memilih rumah Allah untuk berhenti. Inilah sisi istimewa sang istri di bandingkan ribuan wanita di luar sana. Jika kebanyakan anak muda seusia sang istri jika punya masalah, beberapa dari mereka akan ke tempat-tempat hiburan, bahkan sampai ke club' malam untuk menyelesaikan masalahnya tapi bukan penyelesaian yang di dapat namun justru masalah baru, tapi tidak dengan bidadari nya, ia akan memilih mendatangi Rabbnya


"Sayang!" panggil Fahmi sambil menepuk bahu Aryana dari belakang yang membuat Aryana terkejut.


"Kau adalah tulang rusukku, jadi aku tahu dimana dirimu berada," jawab Fahmi yang terdengar lebay namun cukup manis.


"Maaf, aku telah membuatmu khawatir," ucap Aryana menatapnya sendu namun ia berusaha untuk tersenyum sebagai tanda ia baik-baik saja.


"Aku cemburu," ucap Fahmi yang membuat Aryana mengeriyitkan dahinya bingung.


"Cemburu pada siapa?, aku sendirian di sini sejak dari kampus aku hanya bersama Jessie, adapun laki-laki hanya supir taxi yang mengantarku ke resto dan kesini," ucap Aryana.


"Aku cemburu pada Allah, kau berani mengatakan apapun pada-Nya tapi kau tak mau mengatakan apa yang kau rasakan padaku, kau berani menangis di depa-Nya tetapi kau tak berani menangis di depanku," jawab Fahmi yang membuat kedua matanya membulat, ia tak habis pikir bisa-bisanya sang suami cemburu pada Rabbnya sendiri.


"Honey, jangan konyol!, kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Aryana namun tak di jawab oleh sang suami, justru ajakan pulang yang ia dengar.


"Ayo kita pulang!" ajak Fahmi.


"Aku belum lepas mukena," ucap Aryana.


Mendengar ucapan istrinya, Fahmi lalu membantu istrinya melepas mukenanya dengan telaten juga membantu melipatnya.

__ADS_1


Fahmi dan Aryana mengandeng tangan istrinya setelah Aryana merapikan mukenanya, dalam perjalanan pulang Aryana lebih banyak diam membuat Fahmi semakin sedih, Fahmi sudah bisa memastikan bahwa sang istri mengalami tekanan yang cukup berat namun berusaha untuk menahannya, kalau Yudha tahu keadaan putrinya seperti ini, bisa dipastika ayah mertuanya akan membawa Aryana pergi dari sisinya. Maka dari itu Fahmi selalu menempatkan pengawal bayangan untuk sang istri. Entah kesialan dari mana hari ini para pengawalnya bisa kecolongan. Untung saja tidak terjadi apa-apa pada bidadarinya.


"Sayang, jangan diam saja, hatiku sakit melihatmu seperti ini, sebenarnya apa yang di katakan mamiku padamu?" tanya Fahmi yang membuat istrinya yang sedang memandang keluar beralih menatap dirinya.


"Memangnya apa lagi, kalau bukan seputar anak," jawab Aryana tenang meski perkataannya tersirat kesedihan.


"Maafkan mami, aku mohon hal apapun yang mami katakan padamu dan menyakitimu jangan kau ambil hati, sungguh aku tak ingin kau terluka sedikitpun," ucap Fahmi sambil tangan kirinya membelai kepala Aryana sedang tangan kanannya memegang kemudi.


Pukul lima lebih Fahmi dan Aryana telah sampai di rumah, Fahmi merengkuh pinggang istrinya saat memasuki rumah, rasanya Fahmi takut jika sang istri akan pergi darinya karena sikap maminya yang terlalu ekstrim pada Aryana. Sampai di kamar Fahmi menyuruh sang istri untuk segera mandi.


"Sayang, kamu mandilah dulu, biar badan dan pikiranmu lebih segar, sebentar lagi magrib!" pinta Fahmi yang di iyakan oleh istrinya.


Sedangkan Fahmi duduk di sofa kamar sambil mengecek laporan dari juan tentang meeting keduanya yang ia tinggalkan karena mencari keberadaan istrinya.


Aryana sudah selesai mandi, ia langsung ke lemari pakaian mengambil baju ganti, melihat suaminya yang masih memperhatikan ponselnya, Aryana sama sekali tak berniat menegurnya. Jam sudah menunjukkan waktu magrib, Aryana segera mengambil mukena untuk shalat, tadi sewaktu selesai mandi ia sudah mengambil wudhu sekalian. Pada saat Aryana hendak memakai mukenanya terdengar suara sang suami berbicara padanya.


"Mau shalat kok nggak ngajak-ngajak, apa kamu marah?" tanya Fahmi namun tak mendapat jawaban apapun.


"Tunggu, aku mandi dulu, kita shalat magrib berjamaah!" pinta Fahmi.


Mendengar permintaan suaminya, Aryana mengurungkan niatnya untuk shalat secara munfarid atau shalat sendiri. Ia duduk di sofa sambil membaca mushaf sembari menunggu suaminya selesai mandi.


Selesai mandi Fahmi langsung memakai baju koko dan sarung, Aryana sudah berdiri di belakang Fahmi sebagai makmum, pasangan suami istri itu pun akhirnya melaksanakan shalat magrib berjamaah, selesai shalat Fahmi menyodorkan tangannya untuk di cium oleh sang istri. Aryana pun mencium tangan suaminya, namun Fahmi merasakan ciuman sang istri kali ini terasa dingin, tapi Fahmi membiarkannya. Fahmi jadi penasaran sebenarnya apa yang di bicarakan sang mami pada istrinya sehingga sang istri lebih banyak diam.


"Sebenarnya apa sih yang mami katakan pada Aryana, sampai istriku seperti orang yang tak punya semangat hidup, mamiku yang berbuat kenapa aku yang kena imbasnya, semoga nggak sampai puasa urusan ranjang," gumam Fahmi dalam hati.


____________________________________________


Sudah tahu kan apa yang di bicarakan emaknya Fahmi dan siapa pria yang terjatuh di dekat mami Miranda.


Jangan lupa dukungannya ya readers


Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit


Thank You


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2