
Pemeriksaan terhadap Niko sudah selesai dan ia sudah di pindahkan ke ruang rawat VVIP sesuai permintaan Yudha yang di sampaikan pada Afwi lewat sambungan telepon. Hasil scan menunjukkan bahwa tak ada cedera serius di kepala Niko, sedangkan supir Niko mengalami patah tulang sebelah kanan dan juga mendapat perawatan di rumah sakit Permata hanya beda kelas saja, namun Yudha sudah meminta perawatan terbaik untuk Niko dan supirnya.
"Apa ini tidak berlebihan, Pak Afwi?" tanya Niko saat Afwi menjenguknya keesokan harinya, namun tanpa Nayla.
"Tidak Tuan Niko, ini atas permintaan ayah, dan asal anda tahu rumah sakit ini milik keluarga Pratama di bawah kepemilikan dokter Fahmi yang sahamnya sebagian di atas namakan adik perempuan saya," jawab Afwi membuat Niko tercengang.
Laki-laki putra tunggal Sebastian Wijaya ini benar-benar tak tahu jika Fahmi memiliki rumah sakit internasional yang sangat besar di Indonesia.
"Sungguh aku tak menyangka, tuan Fahmi memiliki rumah sakit besar di Indonesia, saya hanya tahu perusahaannya bergerak di bidang property dan ekspor, impor juga fashion dan kuliner, bahkan aku tak tahu tuan Fahmi adalah seorang dokter," ucap Niko.
"Adikku beruntung mendapatkan laki-laki setajir dokter Fahmi meskipun perbedaan usianya berbeda jauh, pernikahan mereka sempat di tentang oleh ayahku dan mamanya dokter Fahmi, tetapi takdir tetap menyatukan mereka dalam ikatan halal, bahkan mereka di karunia tiga anak kembar yang mengemaskan," ucap Afwi yang memang sengaja memancing reaksi dari Niko.
"Kembar tiga? bukannya kembar empat?" tanya Niko terkejut.
"Yang satu lagi adalah anak adopsi dari rumah sakit di Singapura, tepatnya anak perempuan yang dinamai Alesya, karena itu adalah nama pemberian ibu kandungnya sebelum meninggal setelah melahirkan Alesya," tutur Afwi yang membuat hati Niko rasanya tiba-tiba sesak.
"Apa anak perempuan itu adalah anak perempuan tuan Fahmi yang kemarin aku gendong, karena matanya tampak berbeda dengan ketiga saudaranya," batin Niko
"Tuan Niko!" tegur Afwi karena Niko tampak melamun.
"Eh iya Pak Afwi."
"Pak Niko boleh saya tahu, apa anda sudah menikah?"
"Kenapa anda tanyakan itu?"
"Hanya ingin tahu saja, karena setiap anda datang di acara keluarga Fahmi dan keluarga saya, anda selalu datang sendiri."
"Saya belum menikah, dan mungkin saya tak akan menikah," ucap Niko lesu, entah kenapa berbicara dengan Afwi membuatnya nyaman seperti seorang sahabat.
"Kenapa? apa anda menyimpang?" tanya Afwi dengan nada bercanda membuat Niko justru tertawa.
"Saya masih normal Pak Afwi, saya tak suka pisang," jawab Niko di sela tawanya.
__ADS_1
"Tuan Niko, melihat wajah anda saya jadi kangen dengan keponakan saya Alesya, mata hazelnya dan wajah mungilnya membuat saya dan semua anggota keluarga saya gemas."
"Kenapa wajah saya membuat anda rindu dengan keponakan anda?"
"Karena wajah anda sangat mirip dengannya."
"Oh, ya saya jadi penasaran padahal kami hidup di belahan dunia yang berbeda, bisa bisanya mirip," ucap Niko sambil terkekeh.
"Anda tidak percaya?, lihatlah ini!" ucap Afwi lalu membuaka galeri ponselnya yang menampakkan foto selfienya dengan Alesya saat pernikahannya kemarin.
Deg
Jantung Niko serasa berhenti berdetak ketika benar-benar memperhatikan wajah dan mata hazel milik Alesya. Saat mengendongnya kemarin ia tak terlalu memperhatikan wajah Alesya.
"Pamela?" batin Niko dengan mata berkaca-kaca.
Afwi yang melihat hal itu bisa menyimpulkan sesuatu namun ia tak berani berspekulasi sebelum ia memastikan dengan tes DNA antara Niko dan Alesya.
"Iya mirip, kalau saya bersama Alesya pasti banyak mengira kami adalah pasangan anak dan ayah," ucap Niko seraya tersenyum meski senyumnya tampak di paksakan.
"Tapi kan anda belum menikah, mana mungkin punya anak," ucap Afwi yang di sengaja karena ingin melihat reaksi Niko meski dia tahu bisa saja wanita hamil tanpa pernikahan.
"Iya saya belum menikah, tapi saya pernah melakukan kesalahan fatal di masa lalu yang membuat saya menyesal seumur hidup, andai bisa mengulang waktu saya ingin merubah kesalahan itu jadi kebahagiaan dan andai kekayaan saya harus habis untuk mengembalikan kebahagiaan itu, saya akan dengan senang hati akan memberikannya," ucap Niko sendu bahkan hampir menangis.
"Maaf jika perkataan saya membuat anda sedih," ucap Afwi yang sungguh tak mengira pria ini akan bersikap kooperatif meski dia tak mengetakan detainya.
"Tak usah minta maaf, saya merasa anda adalah orang yang baik dan di bisa dipercaya jadi saya merasa nyaman menceritakan sisi raouh saya sebagai seorang laki-laki."
"Semoga anda suatu saat bisa menebus semua kesalahan yang sudah anda lakukan, banyaklah berdoa semoga Tuhan mengabulkan."
Saat mereka sedang mengobrol, seorang perawat masuk ke ruangan untuk menganti perban di kepala Niko.
"Selamat pagi, saya suster Nita, saya akan mengecek keadaan tuan Niko dan menganti perban di kepala anda," ucap suster Nita sambil tersenyum ramah kemudian dengan cekatan mengencek tekanan darah dan menganti perban di kepala Niko.
__ADS_1
"Selesai melepas perban lama di kepala Niko yang terkena darah, suster Nita pergi dengan membawa perban lama yang di lepas dari kepala Niko untuk di buang ke sampah khusus medis dan hal itu tak lepas dari penglihatan Afwi. Begitu suster Nita pamit keluar karena sudah menyelesaikan tugasnya, Afwi juga pamit pulang pada Niko. Bukan tanpa sebab, Afwi ingin menyusul suster Nita dan akan meminta perban bekas dipakai oleh Niko.
"Suster Nita!" panggil Afwi.
Suster Nita yang sedang berjalan menuju ruang rawat inap lain menghentikan langkahnya begitu mendengar seseorang memanggil namanya.
"Bapak panggil saya?" tanya suster Nita setelah menoleh ke belakang.
"Iya."
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Ekhm, mau dibawa kemana itu perban bekas tuan Niko?" tanya Afwi seolah mengintrogasi.
"Mau di buang di kumpulan sampah medis, Pak."
"Dimana tempat pembuangannya?"
"Di tempat sampah khusus di ruang sana."
Suster Nita menjawab pertanyaan Afwi sambil menunjuk suatu ruangan yang terhubung dengan sebuah pintu keluar.
"Oh begitu, saya hanya mengingatkan untuk hati-hati saja saat membuang sampah medis, terutama yang jarum bekas suntikan," ucap Afwi pura-pura memberi saran.
"Terima kasih, atas sarannya, di rumah sakit Permata ini semua sudah diinstruksikan dengan baik," ucap suster Nita kemudian meneruskan langkahnya menuju ruang lainnya.
Afwi memperhatikan langkah suster Nita, setelah suster Nita membuang sampah medis di tempat yang di sediakan rumah sakit, Afwi mendekati ruangan tersebut dengan hati-hati kemudian memperhatikan sampah-sampah yang ada di situ. Matanya tertuju pada sampah yang baru saja dibuang suster Nuita, ia sangat yakin bahwa perban tersebut adalah milik Niko, kemudian Afwi mengambilnya secara diam-diam dan memasukkannya ke dalam kantung plastik. Setelah mendapatkan ia langsung pergi meninggal kan rumah sakit Permata.
Saat dalam perjalanan, Afwi menghubungi seseorang untuk suatu misi, kemudian ia melajukan kembali mobilnya menuju rumah. Sesampainya di rumah, ia langsung menuju salah satu ruang kosong di lantai dua yang sudah ia rubah menjadi ruang kerjanya. Afwi membuka sebuah berangkas yang berada di dinding yang tertutup sebuah lukisan. Ia mengambil sesuatu dari sebuah plastik yang dibungkus amplop warna coklat. Isi amplop itu adalah helaian rambut Alesya yang ia ambil beberapa bulan yang lalu saat Alesya menginap di rumah utama menjelang hari pernikahanya.
Setelah mengambil helaian rambur Alesya ia keluar dari rumah menuju suatu tempat sebuah restorant dengan privat room.
__________________________________________
__ADS_1