
Nayla dan pak Mahendra sudah terlihat memasuki cafe Anggrek, sedangkan Agung sudah bersiap dengan aktingnya menjadi pemilik toko yang akan di sewa Amelia. Afwi tidak ikut bergabung dengan Agung, ia hanya melihat dari jarak yang agak dekat. Agung memberi tahu Nayla di meja mana ia menunggu lewat chat.
"Apa anda Aa Agung?" tanya Nayla saat sudah ada di meja yang Agung tempati.
"Iya, mari silahkan duduk!"
"Terima kasih."
Nayla dan papanya duduk berhadapan dengan Agung dan hal itu membuat Afwi kesal, ia ingin sekali melempar kotak tissue ke ke wajah Agung yang tak berhenti tersenyum dengan Nayla.
"Mbak Nay dan bapak mau pesan apa?" tanya Agung seramah mungkin.
"Saya juice melon saja," jawab Nayla.
"Kalau, Om mau pesan apa?" tawar Agung.
"Saya jeruk hangat saja," jawab pak Mahendra.
Agung lalu memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka, setelah pelayan pergi Agung memulai pembicaraan.
"Jadi mbak Nay ini yang mau sewa toko.saya?" tanya Agung basa-basi.
"Iya, A, Aa Agung mau menyewakan dengan harga berapa?"
"Saya akan menyewakannya delapan juta per tahun."
"Hah, delapan juta?" pekik Nayla terkejut, pasalnya ia sudah mencari info jika toko di blok C 9 yang berada di jalan xx sewanya cukup mahal diatas sepuluh juta berkisar dua belas sampai lima belas juta pertahun, makanya ia cukup terkejut dengan harga sewa yang dipatok Agung.
"Kenapa?, kemahalan?" tanya Agung sedikit bingung Nayla sampai memekik kaget.
"Oh bu-bukan A hanya kaget saja harga sewanya cukup murah, padahal disini sangat ramai dan strategis," jawab Nayla.
"Kalau begitu saya naikkan saja," canda Agung membuat Nayla gelagapan.
"Jangan A! saya setuju dengan harga segitu, kapan saya bisa mulai menempati?"
"Besok juga bisa, sekalian saya buatkan surat perjanjiannya, tapi setelah jam makan siang ya, saya masih ada kerjaan," ucap Agung berlagak sok sibuk membuat Afwi yang berada di meja seberang rasanya ingin muntah.
__ADS_1
"Huwek, dasar kampret lagaknya sok sibuk, kalau bukan karena misi rahasia sudah ku tabok mulutnya pakai sepatuku ini," umpat Afwi dalam hati.
Pembicaraan mereka terhenti karena pelayan menyuguhkan minuman yang mereka pesan.
"Ayo mbak Nayla, bapak diminum dulu!" pinta Agung dengan senyum teramahnya membuat Afwi semakin kesal.
"Bagaimana mbak Nayla jadi bertemu besok, sama saya minta foto copy KTP nya mbak Nayla?"
"Ehm baiklah, ini kebetulan saya bawa foto copy KTP saya," ucap Nayla lalu mengambil foto copy KTP di dalam tasnya.
"Bagus kalau begitu prosesnya bisa lebih cepat," ucap Agung.
"Baiklah A Agung, kita ketemu besok siang, langsung di toko ya!"
"Iya, mbak"
"Kalau begitu saya pamit pulang, sampai ketemu besok," ucap Nayla kemudian ia dan pak Mahendra segera meninggalkan cafe Anggrek.
Sepeninggal Nayla dan pak Mahendra, Afwi langsung mendekati Agung dengan tatapan tak yang bersahabat, dan Agung menyadari tatapan dari sang bos membuat ia bergidik ngeri.
"Ba-bagaimana bos, aktingku bagus kan?" tanya Agung gugup.
"Lebay bagaimana bos?" tanya Agung sambil mengeriyitkan dahinya.
"Tadi kamu bicara saja seperlunya, tak usah banyak senyum begitu pada Nayla dan calon ayah mertuaku," jawab Afwi tanpa dosa membuat Agung melongo.
"What?" banyak senyum?" bukannya sama orang harus ramah ya, kalau aku kelihatan garang bisa habis aku di tempak sama papanya mbak Nay, " batin Agung tak habis pikir dengan sikap bosnya yang berprofesi menjadi seorang polisi padahal ia anak sultan, dunia ini benar-benar kebalik seperti judul sinetron yang di gandrungi emaknya di kampung.
"Ya maaf bos, kan demi totalitas pekerjaan," ucap Agung membela diri.
"Ya, sudah kali ini aku maklumi, tapi besok-besok nggak, dan jangan lupa tetap awasi Nayla selama ia tinggal di sini!"
"Siap Bos qu!, tapi berapa duit yang sudah bos keluarkan buat misi ini?" tanya Agung penasaran.
"Kamu nggak usah tahu nanti kamu kena serangan jantung, rugi saya."
"Halah bos pelit cuma di tanya gitu aja," ucap Agunh mencebik kesal membuat Afwi ingin tertawa.
__ADS_1
"Sungguh kau ingin tahu?" tanya Afwi untuk meyakinkan Agung
Agung hanya mengangguk, ia benar-benar kepo dengan urusan bosnya, Agung hanya bertugas mencarikan rumah yang letaknya di depan rumah sang Kombes, dan setahunya itu hanya menyewa.
"Uang yang sudah aku keluarkan untuk misi ini hampir sembilan ratus juta," ucap Afwi santai namun tegas, berbeda dengan Agung yang memegangi dadanya yang tiba-tiba merasa sesak.
"Nahkan, sok-sokan pingin tahu segala," ucap Afwi kemudian langsung meninggalkan cafe Anggrek, sedangkan Agung sesak di dadanya sudah berkurang namun ia masih shock mendengar nominal yang fantastis buatnya jika hanya untuk urusan menggaet seorang wanita.
"Sembilan ratus juta, itu uang semua atau campur daun ya, ah bos Afwi pemborosan uang segitu bisa beli sawah satu hektar dikampung ku, hiks...andai aku punya uang segitu, emak dan bapak sudah kubiayai naik haji, juga buat modal kawin kan masih sisa banyak," gumam Agung dalam hati.
Sedangkan diperjalanan pulang Nayla merasa sangat bahagia karena sudah mendapatkan kios yang sesuai dengan keinginannya apalagi.ddngab harga murah.
"Ada apa Nay kok senyum-senyum sendiri ada yang lucu?" tanya papanya sambil mengemudi.
"Nay hanya senang saja, Pa, karena keingian Na bisa terpenuhi dengan cepat," jawab Nayla.
"Tapi kuliahmu di Semarang belum selesai, siapa yang akan jaga toko kamu?"
"Aku akan minta Dio, anak panti yang sudah lulus SMK itu buat jagain di sini sekalian bisa temani papa, kalau aku ada di Semarang" uvap Nayla.
"Dio?, setau papa anak panti paling besar yang sering bantu kamu di lapak lumpia yang di Semarang kalau nggak salah mereka masih SMP, kenapa jadi ada Dio?"
"Dio anak baru, Pa di panti, dia baru satu tahun ini tinggal di panti dan baru kemarin lulus SMK, ia ingin segera bekerja, Pa nggak mau kuliah."
"Kamu yakin dia mampu jagain toko lumpia kamu, jangan mudah percaya sama orang Nay?"
"InsyaAllah, Dio amanah, Pa, lagian tinggal enam bulan lagi aku lulus, Pa."
"Ya sudah terserah kamu, tapi kalau ada apa-apa bicara sama papa!" pinta pak Mahendra karena ia sangat mengkhawatirkan putri semata wayangngya itu.
Nayla sudah sampai rumah bersama sang papa, dan tanpa mereka ketahui semua pergerakan mereka selalu diawasi oleh seseorang yang sedang bucin akut dengan seorang wanita.
"Melihatmu tersenyum bahagia hatiku sangat senang, Nay, andai kamu tahu debaran jantung ini selalu ada namamu semenjak pertemuan kita di Semarang tiga tahun lalu. Lumpia cintamu tak hanya membuat lidahku ketagihan tapi hatiku juga," ucap Afwi dalam hati sambil menatap Nayla dari lantai dua rumah yang disewanya untuk memantau semua kegiatan Nayla. Cinta benar-benar membuat orang menjadi gila, berfikir tanpa mengenal logika.
_________________________________________
Maaf upnya agak telat karena author agak nggak enak badan plus puasa bawaanya ngantuk.
__ADS_1
Please Like, Vote, Coment, Rate and Hadiah
Thank You