Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 45


__ADS_3

Setelah meminta doa restu dari para orang tua, Fahmi dan Aryana berjalan mendekat pada Afwa dan Afwi. Begitu melihat kedua kakak kembarnya Aryana langsung memeluk Afwa, kakak tertua yang juga jarang bertemu dengannya karena harus bersekolah di sekolah boarding school.


"Kakak," hanya satu kata itu yang terucap dari mulut Aryana disela tangis dan pelukannya pada sang kakak.


Afwa hanya mengelus punggung adik kembarnya lembut penuh kasih sayang dan pemandangan ini membuat Fahmi cemburu.


"Dek, sudahlah jangan menangis, sudah mau jadi istri orang, kamu sudah memilih, ayah bunda juga sudah merestui jadi tak ada alasan bagi kakak untuk tidak memberi restu dan doa terbaik kakak padamu," ucap Afwa dengan posisi Aryana masih memeluknya.


"Dek, lepaskan pelukanmu, tunanganmu sudah ingin menghajar ku!" ucap Afwa lagi sedikit berbisik di telinga sang adik, karena Fahmi sudah memasang muka masam padanya.


Aryana kemudian melepaskan pelukannya pada Afwa namun ia malah ganti memeluk Afwi. Afwi juga mengusap lembut punggung sang adik untuk memberikan ketenangan. Tak lama Aryana melepas pelukannya pada Afwi.


"Kak Afwi maafkan aku ya, sudah sering nyusahin kakak, kalau bukan karena menjagaku kak Afwi pasti sudah bersekolah di tempat yang sama dengan kak Afwa," ucap Aryana.


"Kakak nggak apa-apa, kebahagiaanmu segalanya untuk kakak, kamu berhak bahagia, Dek. Om Fahmi pasti akan membahagiakanmu kalau sampai dia menyakitimu, kakak sendiri yang akan menghajarnya dan membawamu pergi," ucap Afwi yang langsung di sahut oleh Fahmi.


"Ku janjikan itu tak akan pernah terjadi," ucap Fahmi langsung menempel pada Aryana sambil memeluk pinggang Aryana posesif.


"Semoga aku bisa pegang kata-kata Om," ucap Afwi.


"Sayang, ternyata body guardmu ternyata sangat banyak dan menyeramkan, sepertinya aku harus ekstra menjagamu mulai saat ini," ucap Fahmi pada Aryana.


Aryana hanya tersenyum mendengar omongan tunangannya itu. Bagaimana bodyguardnya tidak banyak, dari keluarga ayah maupun bundanya, keturunan mereka kebanyakan berjenis kelamin laki-laki dan di keluarga inti Aryana sendiri hanya ia dan bundanya yang perempuan.


Setelah berbicara dengan Afwa dan Afwi, Fahmi dan Aryana menyapa dan berbincang dengan tamu yang lain. Binar bahagia nampak di raut wajah Fahmi dan Aryana.


"Selamat ya Aryana, sebentar lagi cucu Oma akan menikah, dari semua cucu Oma, kamu yang paling cepat nikahnya nanti," ucap Oma Dewi.


"Terima kasih Oma, doakan kami lancar sampai pernikahan," ucap Aryana.


"Tentu sayang, kami semua selalu mendoakan yang terbaik untukmu, dan untuk kamu Fahmi jaga cucu ku baik-baik!" pinta Oma Dewi.


"Ya, Ma, Fahmi janji akan menjaga Aryana sebaik-baiknya," ucap Fahmi.


Di saat Fahmi dan Aryana sibuk bertegur sapa dengan para tamu dan kerabat, seorang gadis cantik sedang menikmati es krim yang disajikan di acara pertunangan Fahmi dan Aryana di kursi dekat taman.


"Mau tambah lagi?" tawar Afwa pada gadis itu.


Melihat siapa yang menyapanya tiba-tiba, gadis itu langsung mendogakkan kepalanya.


"Kak Afwa!" seru gadis itu yang ternyata adalah Kirana anak dari Raka dan Dinda.

__ADS_1


"Ya, sayangku, kenapa kaget begitu," ucap Afwa santai lalu duduk disebelah Kirana.


"Mana om Raka dan tante Dinda?" tanya Afwa


"Oh mereka tadi kesana mau ngucapin selamat pada Aryana," jawab Kirana.


"Kamu nggak mau ngucapin selamat pada adikku?" tanya Afwa.


"Iya aku ingin tapi nanti saja, biar ayah sama ibu saja dulu," jawab Kirana berbohong karena sebenarnya ia juga ingin sekali bersama orang tuanya dan adiknya Kiara memberi selamat pada Aryana, tetapi ia ingin menghindar dari Afwa. Kirana tak mau terlalu dalam menyukai Afwa karena jika Afwa memilih jadi tentara maka sang ibu tak akan mengijinkan.


Semenjak liburan sekolah dulu Kirana sudah jarang sekali menghubungi Afwa, dan setiap Afwa yang menghubungi atau chat, Kirana hanya membalas seadanya. Meski hatinya sakit harus melakukan hal itu pada pria yang disukainya sejak dulu.


"Kiran, kenapa setiap aku menghubungimu, kamu hanya bicara seadanya, aku chat jawabnya juga begitu?" tanya Afwa.


"Maaf kak?" hanya itu yang keluar dari mulut Kiran.


"Apa tante Dinda yang menyuruhmu?" tanya Afwa.


"Tidak, ibu tak menyuruhku begitu, itu keiginanku sendiri," jawab Kirana.


"Kiran, jangan menghindar, kita hadapi masalah ini bersama-sama, aku yakin kita bisa meluluhkan hati ibumu!" pinta Afwa.


"Maaf Kak, aku hanya tak ingin menyakiti hati orang tuaku, kalau kakak masih ingin dengan cita-cita kakak jadi seorang tentara, aku akan mencoba mengikhlaskan kakak dengan wanita lain, angap saja kita tak berjodoh," ucap Kiran sendu.


"Tujuh belas tahun Om Fahmi menunggu Aryana dan Aryana hampir kehilangan nyawanya demi menyelamatkan ibu dari pria yang dicintainya padahal ibu Om Fahmi tidak menyetujui Aryana dan Om Fahmi," ucap Afwa lagi untuk memberi motivasi pada Kirana agar mau berjuang bersamannya untuk mendapatkan restu Dinda.


"Kak, aku juga ingin berjuang dengan kakak tapi rasanya aku tak sanggup jika semua usaha kita sia-sia, jadi sebelum perasaan kita semakin dalam sebaiknya kita akhiri saja mulai saat ini!" ucap Kirana tegas dengan mata yang menahan air mata dan juga luka yang tak berdarah.


Mendengar perkataan Kirana, Afwa justru langsung merengkuh tubuh ramping nan cantik itu seolah tak ingin melepasnya lagi.


"Aku tak akan melepasmu sampai kapanpun, aku akan perjuangkan cinta kita sebisaku," ucap Afwa sambil memeluk tubuh Kirana.


Tak jauh dari sejoli itu, seorang pria menatap nanar adegan di depannya barusan, rasa bersalah menyelimuti hatinya. Ia tak mengira perjalanan hidup seorang persit penuh liku yang dialami sang istri akan berdampak buruk pada putri sulungnya.


"Maafkan ayah Kiran, jiwa raga ayah milik negara, mau tidak mau kalian harus menjdi yang kedua tapi ayah janji Kiran, ayah akan mempersatukan kamu dan Afwa bagaimanapun caranya," ucap Raka dalam hatu merasa bersalah dan sedih atas kisah cinta yang harus dialami putri sulungnya.


Jika di luar villa Afwa tengah sibuk membujuk Kiran agar mau berjuang untuk cintanya, maka di dalam dalam villa dua sejoli beda usia yang baru saja bertunangan sedang bercengkrama setelah menyapa tamu dan saudara yang di undang.


"Sayang, kapan kamu ujian sekolah?" tanya Fahmi sambil memegang tangan Aryana dan sesekali menciumnya.


"Sekitar lima bulanan lagi, Om," jawab Aryana.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali sih," gerutu Fahmi yang membuat Aryana terkekeh.


"Om ini seperti tidak pernah sekolah SMA saja," ucap Aryana.


"Om pingin dekat kamu terus, Om pingin setiap buka mata setelah bangun tidur yang Om lihat adalah wajah kamu, kasih kamu morning kiss setiap hari," ucap Fahmi manja.


"Ih, Om pikirannya mesum sih," ucap Aryana sambil memukul lengan Fahmi.


Plak


"Aduh sakit, Yang, baru tunangan aja sudah kdrt," ucap Fahmi sambil megelus lengannya yang habis dipukul Aryana.


"Habis Om gitu sih."


"Yang, kalau nanti sudah masuk sekolah, biar supir Om ya sayang yang jemput kamu terus kamu temani Om di kantor, kita bisa makan siang bareng," pinta Fahmi.


"Nggak bisa dong Om, kan aku perlu istirahat juga ada pelajaran tambahan untuk ujian jadi rempong kalau harus ke selalu ke kantor Om sepulang sekolah," ucap Aryana menolak permintaan tunangannya itu.


"Huh baiklah, kalau begitu kalau kamu pas nggak ada kegiatan ke kantor Om ya, please," pinta Fahmi penuh harap.


"Ok, tapi aku harus bilang ayah, bunda dan kak Afwi dulu," ucap Aryana.


"Yaa..., kalau kamu bilang dulu sama para bodyguardmu itu tak mungkin permintaanku di acc," ucap Fahmi kecewa, Aryana yang melihat mimik wajah Fahmi menjadi geli sendiri.


"Om kalau merajuk lucu juga ya," gumam Aryana dalam hati.


Waktu terus bergulir, acara pertunangan Aryana dan Fahmi akhirnya selesai, tamu- tamu sudah kembali pulang, kecuali kedua orang tua Yasmin dan Yudha juga para kerabat dekat, mereka mengginap di villa Yudha karena sudah malam maka para kerabat akan pulang beeok pagi.


Fahmi dengan berat hati meninggalkan villa Yudha, mami dan papi Fahmi juga ikut pulang malam itu juga, mereka pulang ke villa Fahmi yang juga ada di wilayah tersebut.


"Fahmi sudahlah keinginanmu mempercepat pertunangan sudah kesampean, jangan bertingkah seperti abg!" ucap tuan Pratama kesal melihat muka Fahmi yang merajuk.


"Papi nggak tahu perasaanku, rasanya aku ingin halalin Aryana tadi," ucap Fahmi tak kalah kesal.


"Ya Tuhan, Fahmi kamu ini dikasih hati malah minta jantung, inilah resiko kamu mencintai seorang gadis yang masih pelajar, sabar sedikit kenapa sih?, makin tua makin menyebalkan," ucap tuan Pratama yang membuat Fahmi semakin kesal.


________________________________________


Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2