Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 224. Kunjungan ke Panti


__ADS_3

Setelah selesai makan siang bersama Afwi mengantarkan Kirana pulang ke rumah dinas.


Mereka semua turun terlebih dahulu kemudian masuk ke rumah dinas Afwa.


"Kiran, nanti sore bada ashar bunda dan oma mau balik ke Jakarta ya, kasihan ayah Yudha beberapa hari ini bunda tinggal," ucap Yasmin ketika sudah duduk di ruang tamu.


"Iya, Ma, nggak apa-apa, maaf Kiran sudah merepotkan bunda dan semuanya."


"Tidak merepotkan Kiran, kami semua paham kondisi kamu, jangan merasa terbebani dengan semua ini, kita adalah satu keluarga, harus saling mendukung," ucap oma Dewi.


"Iya, mbak Kiran, dibawa santai saja, memang ketika harus memilih menikah dengan anggota TNI/Polri seperti kita, semua konsekuensi harus siap di tanggung termasuk jika harus menjanda di usia pernikahan yang masih muda," ucap Nayla menimpali.


"Hus, Dek ngomong apa sih kamu!" tegur Afwi yang merasa omongan sang istri agak tidak sopan.


"Apa yang dikatakan Dek Nayla benar, Fi, jangan marah karena itulah resiko terburuk kami. Aku dan Nayla sudah pernah merasakan hampir kehilangan sosok laki-laki yang kami cinta, kamu pernah kena tembak dan sampai koma, sedangkan aku dan mas Afwa jatuh bangun mempertahankan hubungan kami demi mendapat restu dari ibu, dan aku hampir saja menyerah, namun mas Afwa tetap mau berjuang untuk cinta kami," ucap Kirana membenarkan perkataan Nayla.


Nayla yang di tegur sang suami merasa tak enak, ia merutuki kelancangannya memilih kosa kata yang salah dalam menggambarkan sesuatu.


"Maafkan aku mbak," ucap Nayla merasa bersalah.


"Nggak apa-apa, Dek, apa yang kamu katakan benar, kita memang harus siap menerima kepergian sang suami kapanpun dalam menjalankan tugas negara."


"Sudah-sudah kalian ini!" tegur bunda Yasmin.


"Kamu setelah ini mau kemana, Fi?" tanya bunda Yasmin.


"Kami mau ke panti mengunjungi bunda Nana," jawab Afwi.


"Oh kamu mau ke sana, sampaikan salam bunda buat bunda Nana," ucap Yasmin.

__ADS_1


"Iya, Bunda InsyaAllah nanti saya sampaikan sama bunda Nana."


"Kiran kamu sebaiknya istirahat dulu saja, bunda masih nanti sore pulangnya!" pinta bunda Yasmin.


"Iya, Bunda," jawab Kiran namun belum beranjak dari duduknya.


"Kalau begitu, kami mau sekalian pamit saja, biar mbak Kiran bisa istirahat, kasihan dedeknya. Bunda, Oma maaf kami tak bisa mengantar kepulangan kalian," ucap Nayla.


"Tidak apa-apa, Nay, santai saja, bunda bisa ketemu kalian dan makan bareng seperti tadi saja bunda dan oma sudah senang," ucap Yasmin sambil membelai kepala Nayla yang kebetulan duduk di sebelahnya.


"Makasih ya, Bunda, doakan saya semoga cepat nyusul mbak Kirana biar punya dedek!" pinta Nayla dengan sorot mata sarat dengan harapan dan permohonan.


"Bunda selalu mendoakan anak-anak Bunda di manapun, kamu jangan merasa terbebani jika tak kunjung hamil, jangan pikirkan jika ada orang yang mengucapkan hal tak menyenangkan karena kamu tak kunjung hamil, ambil sisi positifnya dan berprasangka baik pada Allah, kenapa kalian sampi sekarang belum di karunia momongan. Lagipula usia pernikahan kalian belum sampai enam bulan. Angap saja Allah ingin kalian lebih dekat, quality time bersama, karena kalau sudah ada anak waktu kalian nggak akan sama lagi," ucap Yasmin yang menasehati sang menantu yang sepertinya sedang down karena tak kunjung cepat hamil seperti Kirana.


Sebagai seorang ibu mertua, Yasmin cukup berhati-hati dalam bersikap kepada kedua menantu perempuannya. Jangan sampai tindakannya berkesan membela atau lebih menyukai salah satunya. Yasmin menyadari bahwa wanita adalah mahkluk yang paling sensitif. Yasmin ingin semua keluarganya selalu rukun termasuk hubungan para menantunya, jangan sampai terjadi persaingan yang tidak sehat antar anak-anaknya apalagi persaingan konyol yang hanya dipicu masalah sepele.


"Bunda, Oma, Mbak Kiran, kami pamit dulu ya, insyaAllah besok kami mampir kesini lagi," pamit Afwi dan Nayla pada keluarganya.


"Bunda tak perlu berterima kasih, semua itu sudah kewajiban kami sebagai anak, apalagi sekarang kak Afwa sedang terkena musibah," ucap Afwi merasa tak enak sang bunda mengucapkan terima kasih hanya dengan hal kecil yang ia lakukan. Ucapan terima kasih dari sang bunda terlalu berharga untuknya.


Afwi dan Nayla segera meninggalkan rumah dinas Afwa setelah berpamitan dengan semuanya. Setelah Afwi dan Nayla pulang , Kirana baru mennggalkan ruang tamu menuju kamarnya untuk beristirahat seduai.dengan permintaan ibu mertuanya tadi.Sesuai dengan agendanya harinini, Afwi dan Nayla menuju panti dimaan bunda Nana tinggal. Tak lupa sebelum kesana mereka berbelanja dulu untuk membeli oleh-oleh untuk anak-anak panti.


"Kalian kenapa tak mengabari dulu kalian tak mengabari dulu kalau mau kesini?" omel buda Nana yang cukup kaget dengan kedatangan Afwi dan Nayla.


"Biar surprise, Bunda," ucap Naylq sambil merangkul ibu panti yang sudah ia angap seperti ibu kandungnya sendiri.


"Dasar anak nakal," ucap bunda Nana sambil mengeratkan rangkulan tangannya ke pinggang Nayla.


Melihat kebahagiaan sang istri bertemu bunda Nana membuat hatinya kian menghangat. Mebuat sang istri tercinta tak harus dengan hal-hal yang mewah meski jika Nayla meminta hal itupun, dirinya masih mampu memberikannya, namun sang isyri tak pernah minta sesuatu yang berlebihan ataupun barang-barang mewah, apalagi sampai menguplodnya di medsos seperti yang kebanyakan istri-istri orang berduit yang bekerja di dalam pemerintahan jaman now, yang akhirnya malah berimbas pada karir suami mereka karena harus berurusan dengan aparat negara. Ia sangat mensyukuri pertemuannya dengan Nayla secara tak sengaja di kedai lumpia gara-gara mengantar temannya waktu di Akpol yang mengingkan lumpia buatan bunda Nana seperi orang ngidam. Seperti ada ungkapan bahwa bahagia itu sederhana dan itulah yang terjadi pada sikap Nayla.

__ADS_1


Mengenal sosok Nayla sangat membuat hari-harinya menjadi penuh warna. Sejak remaja Afwi tak pernah pacaran dengan gadis manapun, apalagi mengingat dirinya yang sangat datar dan dingin pada kaum hawa sejak dahulu kala. Entah kenapa hatinya yang bagaikan bongkahan gunung es dikutup utara bisa meleleh dengan sosok gadis penjual lumpia yang bernama Nayla yang ternyata putri seorang perwira polisi. Tak akan ada yang menyangka sosok cantik nan sederhana adalah putri dari kalangan berada.


"Mbak Nay...!" seru anak-anak panti saat melihat Nayla.


"Hai kalian apa kabar," sapa Nayla sambil memeluk mereka satu persatu.


Rata-rata anak-anak panti berusia enam sampai tiga belas tahun, anak-anak panti yang sudah SMA hanya beberapa.


"Wah-wah hanya mbak Nay yang dipeluk nihx abang Afwi nggak?" ucap Afwi pura-pura merajuk karena semua perhatian anak-anak panti semua tertuju pada sang istri.


"Om Afwi, seru beberapa anak panti yang sudah mengenal Afwi, karena ada sebagian anak-anak panti yang baru yang belum mengenal Afwi sebelumnya.


Kemudian setelah menyalami Nayla, anak-anak tersebut menyalami Afwi satu-persatu. Lalu Afwi dan Nayla menyerahkan belanjaan yang ia beli tadi untuk anak-anak panti.


"Ini ada sedikit oleh-oleh kalian bagi ya tapi jangan berebut!" pinta Nayla yang dipatuhi anak-anak tersebut.


Setelah anak-anak panti menyingkir bersama oleh-oleh Nayla, bunda Nana mengajak Afi dan Nayla untuk duduk dan berbincang.


"Bagaiman pekerjaanmu, Nak Afwi?" tanya bunda Nana.


"Alhamdulillah, baik, Bunda, semua berkat doa Bunda Nana, Papa dan anak-anak panti," jawab Afwi.


"Syukurlah, Bunda harap kamu tetap di jalan yang benar dalam bekerja, agar semuanya berkah karena profesi yang kamu tekuni ini banyak godaannya dan sekarang sedang jadi sorotan publik."


"InsyaAllah, saya akan berusaha amanah, Bunda, saya juga nggak ingin memberi nafkah yang tak halal untuk istri saya dan anak-anak saya kelak."


"Baguslah kalau kamu mengerti, meski Bunda bukan orang tua kandung Nayla tetapi bunda sudah menganggap Nayla seperti putri buda sendiri dan selalu berharap Nay akan bahagia sehidup dan sesurga dengan laki-laki yang menjadi suaminya."


"Siap, Bunda!" ucap Afwi tegas.

__ADS_1


Nayla yang mendengar percakapan bunda Nana dan suaminya merasa sangat bahagia, meski sang mama tak sempat melihatnya menikah namun kasih sayang bunda Nana sangat berarti dalam hidupnya. Meski begitu Mama Intan memiliki tempat istimewa tersendiri di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dan siapapun tak akan ada yang bisa mengantikan posisi istimewa itu.


____________________________________


__ADS_2