
Episodenya mulai ngeselin ya, he...he..., slow readers kesayangan, mungkin beberapa episode ke depan akan sedikit menguras emosi, tapi ini lah hidup penuh perjuangan dan tantangan yang hanya bisa di bantu dengan tiga hal yaitu sabar, ikhlas dan syukur. So, akan ada kejutan dari si cantik Aryana.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
"Honey, kau sedang ada masalah?" tanya Aryana karena merasa semenjak sampai di Singapore River, suaminya lebih banyak diam seolah memikirkan sesuatu yang berat.
"Tidak, aku hanya lelah dan sedikit stress saja, tapi tak apa, aku sudah biasa kau tak perlu khawatir," ucap Fahmi sambil membelai kepala istrinya.
"Lelah dan stress jangan terlalu lama di biarkan nanti bisa jadi penyakit, aku belum siap jadi janda," ucap Aryana sambil terkekeh.
"Kau ini, aku tidak akan membiarkanmu secepatnya jadi janda, aku sungguh tak rela," ucap Fahmi dengan muka cemberut membuat Aryana tertawa, ia berhasil menggoda dan menghibur suaminya.
Namun tiba-tiba Aryana teringat sesuatu dan itu membuat senyum yang menghiasi bibirnya mendadak surut.
"Honey, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Aryana serius membuat Fahmi menatapnya intens.
"Bertanya apa?" jawab Fahmi dengan sebuah pertanyaan.
"Seandainya aku tidak bisa memberiku keturunan apa kau akan menikah lagi?" tanya Aryana tenang.
Deg
Mendengar pertanyaan istrinya jantung Fahmi rasanya serasa berhenti berdetak, ia tak menyangka Aryana akan menanyakan hal yang sedari tadi menganggu pikirannya.
"Sayang, aku tak mau kamu berandai-andai, seperti itu, dan aku tak akan menjawab pertanyaanmu itu," tukas Fahmi sedikit kesal.
"Baiklah, kau tak perlu menjawabnya, tapi aku ingin kau tahu satu hal Honey, Jika aku ternyata tidak bisa memberimu keturunan, kau boleh menikah lagi, aku tidak akan egois, tapi sebelum kau menikah lagi kembalikan aku secara baik-baik pada orang tuaku," ucap Aryana dengan tenang namun membuat hati Fahmi bergemuruh, wajahnya nampak memerah menahan amarah di dadanya. Fahmi langsung memeluk tubuh Aryana dari belakang, sedangkan Aryana yang di peluk hanya diam tanpa kata, pandangannya menatap lurus ke aliran sungai di Singapore River.
"Jangan pernah bicara perpisahan denganku, sampai mati aku tak akan pernah mengembalikan mu pada orang tuamu!, bahkan jika aku harus pergi lebih dulu menghadap Allah, aku tak akan pernah rela kau di miliki oleh pria lain dan jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku apapun alasannya!" ucap Fahmi tepat di samping telinga Aryana, dengan posisi masih memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Mendengar perkataan suaminya yang penuh penekanan membuatnya berusaha melepaskan tangan kekar suaminya yang sedang memeluknya dan berusaha menghadap ke wajah suaminya.
"Aku senang dengan keteguhan hatimu, Honey, tapi hidup itu penuh ujiannya, semoga tak kunjungnya aku hamil hanya rezeki yang tertunda. Kau tahu Honey, seorang wanita akan sanggup menahan semua kesusahan materi dalam hidupnya, segala kekurangan pasangannya bisa ia terima namun hanya dua hal yang tidak akan sanggup di jalani seorang wanita meski ada beberapa wanita sanggup menjalaninya, yaitu pengkhianatan dan di madu, dan sayangnya aku bukanlah wanita kuat yang sanggup menanggung dua hal menyakitkan itu, bahkan kematian akan lebih baik bagi seorang istri dari pada ia di khianati apa lagi sampai di madu," ucap Aryana dengan tenang sambil menatap suaminya yang berada di hadapannya.
"Dan aku bukan suami brengsek yang akan melakukan dua hal bodoh itu pada bidadari surgaku," sahut Fahmi setelah mendengar perkataan sang istri yang terlihat tenang tapi setiap katanya seolah menyiratkan kode keras.
"Terima kasih, karena sejauh ini, kau masih mau mempertahankan diriku," ucap Aryana dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tak perlu berterima kasih padaku, Sayang, semua itu sudah tugas dan kewajibanku," ucap Fahmi sambil membelai kepala Aryana lalu menarik kepala istrinya ke dalam pelukannya.
Kedua suami istri itu saling berpelukan sambil memandang air sungai di Singapore River yang terlihat sangat tenang. Dalam hati Fahmi berharap dan berdoa agar selamanya ia bisa memeluk wanita yang sekarang ini berada dalam dekapannya. Ia tak tahu bagaimana hidupnya jika tiba-tiba Aryana meninggalkannya.
__ADS_1
Tak lama Fahmi dan Aryana meninggalkan Singapore River, Fahmi mengarahkan mobilnya menuju sebuah restoran, ia mengajak Aryana makan terlebih dahulu sebelum pulang.
"Kok kesini, Honey tanya Aryana ketika suaminya mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran yang cukup mewah.
"Kita makan dulu, sebelum pulang," ucap Fahmi saat sudah memakirkan mobilnya.
"Ayo turun!" pinta Fahmi sambil membukakan pintu untuk istrinya.
Aryana segera turun dari mobil, setelah menutup pintu mobil Fahmi berjalan sambil merangkul pundak Aryana posesif.
Fahmi dan Aryana lalu memasuki restoran dan di sambut dengan hangat oleh pelayan restoran, mereka duduk dan segera memesan makanan.
"Kau mau pesan apa, Sayang?" tanya Fahmi.
"Kamu saja yang pilih, Honey, aku tak terlalu tahu menu masakan di sini," jawab Aryana yang membuat Fahmi tiba-tiba tersadar bahwa selama hampir dua tahun ini, ia jarang membawa atau mengajak istrinya jalan-jalam dan mengenal lebih jauh negara Singapura, selain dirinya yang sibuk, Aryana sebagai istri tak pernah menuntut dirinya ini dan itu, sang istri lebih suka menghabiskan waktunya di rumah daripada jalan-jalan keluar. Hanya beberapa kali Aryana keluar jalan-jalan, itupun hanya dengan Jessie, selain Jessie Aryana tidak punya teman akrab yang lain.
"Baiklah aku pilihkan saja," ucap Fahmi
Setelah memilih menu, Fahmi memanggil pelayan untuk memesan menu yang sudah ia pilih. Sambil menunggu pesanan Fahmi mengajak sang istri mengobrol lagi.
"Sayang, maaf ya aku jarang mengajakmu keluar, karena kesibukanku," ucap Fahmi sambil menggenggam tangan Aryana, tersirat penyesalan yang besar di hatinya.
Tak lama pesanan merekapun datang, Fahmi meminta Aryana untuk segera menyantap makanannya.
Setelah selesai makan di restoran tersebut Fahmi mengajak Aryana pulang ke rumah, sampai rumah Aryana langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri lalu melaksanakan shalat, setelah itu ia merebahkan dirinya ke tempat tidur sedangkan Fahmi pergi ke ruang kerjanya, dengan alasan mau menaruh berkas padahal ia sedang mendapat panggilan dari seseorang.
"Apa mamiku masih berada di Singapura?" tanya Fahmi pada seseorang di seberang telpon.
"Masih bos, mami bos masih berada di Singapura," jawab seorang pria dari seberang telpon.
"Baik, awasi terus gerak-gerik mamiku, pokoknya jangan biarkan mamiku mendekati istriku!" perintah Fahmi.
"Baik, Bos, saya akan menjaga nyonya Aryana dari mami bos," ucap orang suruhan Fahmi yang di tugaskan mengawasi nyonya Miranda.
Namun tanpa Fahmi ketahui bahwa ada pengawal bayangan yang juga menjaga Aryana dari jauh. Siapa lagi kalau bukan si ayah posesif, entah karena feeling seorang ayah atau intuisinya yang sangat terlatih di batalyon pasukan khusus. Yudha belum bisa sepenuhnya percaya pada Fahmi dan keluarganya. Maka dari itu, ia mengutus pengawal bayangan untuk Aryana.
"Pokoknya awasi terus pergerakan nyonya Miranda, jika nyonya Miranda mendekati putriku biarkan saja dulu ikuti jangan sampai lepas dan kalian pasti sudah tahu apa yang harus kalian lakukan, dan ingat jangan gegabah, selalu berkoordinasi denganku atau Felix!" perintah Yudha pada pengawal bayangan yang ia perintahkan untuk menjaga sang putri tercinta.
Hari demi hari Aryana lewati dengan belajar dengan sungguh-sungguh di kampus, ia tak ingin mengecewakan suaminya dan juga kedua orang tuanya. Ia begitu menikmati kuliahnya agar pikiran tentang kehamilan bisa sedikit teralihkan. Hari ini Aryana pulang kuliah lebih awal karena dosen yang mengajar mata kuliah terakhir berhalangan datang, Jessie mengajak Aryana untuk mencoba resto baru yang harganya cocok dengan kantong mahasiswa reguler seperti mereka.
"Ana, karena Mr. Lucas tidak bisa datang mengajar hari ini, kita mencoba resto baru yuk!" ajak Jessie dengan tatapan memohon yang membuat Aryana tidak bisa menolak.
__ADS_1
"Baiklah, tapi tempatnya tak jauh kan?" tanya Aryana.
"Tidak, hanya sekitar satu kilo meter dari kampus kita," terang Jessie.
"Oke, kita berangkat kalau begitu!" ajak Aryana, kemudian memesan taxi on line.
Tak lama taxi on line pun datang, Aryana dan Jessie menaiki taxi on line dengan wajah gemabira. Sekarang sampailah mereka ke resto yang sedang viral itu.
"Wah ramai juga ya tempatnya," ucap Aryana sedikit terkejut dengan resto baru tersebut.
"Ayo masuk, Na, jangan diam saja!" ajak Jsssie segera menarik tangan Aryana masuk ke dalam resto.
Untung masih ada tempat di pojokan yang agak longgar. Akhirnya Jessie dan Aryana duduk berdua dengan Jessi. Setelah duduk merekapun segera memesan makanan. Aryana memilih menu chicken hot plate karena ia takit memilih menu yang tidak ia mengerti dan di ragukan halal dan haramnya. Pesanan mereka sidah dantang, Jessie dan Aryana segera menyantapa makanan yang mereka pesan. Namun tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka berdua.
"Boleh saya gabung di sini?" tanya seorang wanita paruh baya yang terlihat elegan.
"Mami," ucap Aryana.
"Ya ini, Mami boleh mami bergabung dengan kalian?" tanya mami Miranda.
"Boleh, Mi, silahkan!, tapi kenapa mami ke sini tidak memberi kabar?" tanya Aryana.
"Mami hanya mampir ke Singapura," jawab mami Miranda.
"O... begitu, iya Mi kenalkan ini teman kuliahku namanya Jessie," ucap Aryana mengenalkan Jessie pada mami mertuanya.
"Oh Jessie, saya Miranda mami mertuanya Aryana, ucap mami Miranda sambi tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Saya Jessie Tante," ucap Jessie sambil menyambut uluran tangan mami Miranda.
Melihat sepertinya ada yang ingin di bicarakan mami Miranda dengan Aryana Jessie undur diri, tapi sebelum pergi ia bilang akan membayar makannanya dan Aryana namun di tolak oleh Aryana, Aryana yang akan membayar semua tagihan mereka, dengan tak enak hati akhirnya Jessie menerima keputusan Aryana lalu pamit untuk pulang lebih dahulu. Setelah kepergian Jessie, mami Miranda mulai bicara serius dengan Aryana, namun saat mami Miranda mulai akan bicara, seorang pria terjatuh karena tersandung kursi yang di duduki mami Miranda.
________________________________________
Hayo emaknya dokter Fahmi mau ngapain tuh?
Selalu ya dukung karya recehanku ini, kasih Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit.
Thank You
Bersambung....
__ADS_1