Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 87


__ADS_3

Fahmi sangat terharu saat melihat tak hanya satu titik hitam sebesar biji kacang yang tampak di layar monitor yang tersambung dengan alat usg.


"Anakku---" ucap Fahmi namun tenggorokannya rasanya tercekat.


"Iya, dokter Fahmi, kau tak salah lihat, ternyata istrimu menuruni bundanya, kau bisa melihatkan kan, di sana ada tiga kantong bayi, itu artinya kalian akan memiliki anak kembar tiga," ucap dokter Sarah sambil tersenyum lalu meletakan alat usg yang ia pegang untuk memeriksa perut Aryana tadi.


Sedangkan Aryana tak mampu berkata-kata, matanya sudah mengeluarkan bulir bening sedari tadi, ya air mata kebahagiaan yang tumpah dari kedua matanya. Aryana kemudian bangun dari tidurnya dengan di bantu suster Felin dan Fahmi. Kedua pasutri yang sedang berbahagia itu lalu duduk di kursi yang ada di depan meja kerja dokter Sarah, tanpa lihat sikon Fahmi memeluk dan mencium kening Aryana di depan sahabat dokternya dan suster Felin.


"Dokter Fahmi, kamu sudah lihat sendiri 'kan berapa calon anak kamu, usia kandungan istrimu baru menginjak lima minggu, jadi kamu harus turut menjaga kondisi istri kamu apalagi di tri mester pertama, aku tak akan menjelaskan banyak karena kau juga seorang dokter pasti tahu apa yang harus di lakukan pada istri yang sedang hamil, dan untuk anda nyonya Fahmi, jaga baik-baik kandungan anda, makan makanan bergizi, jangan tidur larut malam, jangan mengerjakan pekerjaan berat seperti mencuci atau mengangkat dan mendorong barang yang berat!, and one again jangan banyak pikiran!, kalau suamimu macam-macam beritahu saja ayahmu, ha...ha...," ucap dokter Sarah kemudian tertawa setelah mengucapkan kalimat terakhirnya karena ia tahu se protektif apa ayah mertua dari sahabatnya ini terhadap putrinya.


"Ck, tega benar, kau bilang begitu, Sarah, aku tak akan macam-macam karena aku adalah laki-laki yang bertanggung jawab," ucap Fahmi dengan nada kesal.


"Aku cuma bercanda, dokter Fahmi kenapa kau serius sekali," ucap dokter Sarah masih terkekeh melihat reaksi sahabatnya atas ucapannya tadi.


"Dokter Sarah, sudah jangan menggoda suamiku lagi, dia sepertinya sangat trauma dengan ayah," ucap Aryana menimpali membuat Fahmi makin cemberut.


"Sudah-sudah, ini aku resepkan vitamin dan penguat kandungan, dan satu lagi aku hampir lupa, dokter Fahmi aku sarankan jangan terlalu sering menjenguk si kecil ya apalagi d trimester pertama, aku tak usah jelaskan kau pasti tahu, oke, sekali lagi selamat untuk kalian berdua," ucap dokter Sarah.


Setelah selesai memeriksakan kandungannya pada dokter Sarah, Fahmi dan Aryana berjalan untuk ke bagian farmasi untuk menebus obat dan vitamin yang di berikan dokter Sarah.


"Honey, boleh tidak aku mengabari bunda tentang kehamilanku?" tanya Aryana meminta ijin pada Fahmi.


"Tentu saja, boleh," jawab Fahmi sambil membelai kepala istrinya yang tertutup hijab.


Aryana lalu mengeluarkan ponselnya lalu menggeser tombol panggilan video call.


Tak lama terlihat wajah sang bunda di layar ponsel Aryana, terlihat wajah sang bunda masih saja terlihat sangat cantik di usianya yang menjelang senja.


"Assalamualaikum bunda," ucap Aryana sambil menampilkan senyum bahagianya.


Yasmin


"Waalaikumsalam, Sayang, kelihatannya lagi senang."


Aryana


"Iya dong, kan aku sudah resmi jadi calon ibu."


Mendengar penuturan putrinya Yasmin begitu sangat terkejut tapi juga ada rasa bahagia yang membuncah.


Yasmin


"Kamu hamil, Sayang?"


Aryana


"Iya, baru lima minggu, dan bunda tahu nggak apa yang membuatku tambah bahagia?"


Yasmin


"Apa itu?" tanya Yasmin sangat penasaran.

__ADS_1


Aryana


"Aku seperti bunda dulu, aku mengandung bayi kembar tiga, tapi belum tahu jenis kelaminnya."


Ucapan Aryana barusan benar-benar membuat Yasmin shock, namun sekaligus senang juga bercampur khawatir.


Yasmin


"Kamu hamil, kembar tiga?, Masyaallah, bunda rasanya tak percaya, ngomong-ngomong suami kamu sudah tahu?"


Aryana


"Sudah, Bund, malah Honey yang periksa aku pertama kali, dan orang yang pertama tahu aku hamil, dan sekarang Mas Fahmi dan aku sedang di rumah sakit ME periksa sama dokter sarah. Ini suamiku Bund?" ucap Aryana lalu mengarahkan layar ponselnya ke Fahmi.


"Assalamualaikum, Bunda Yasmin," sapa Fahmi.


"Waalaikumsalam, selamat ya Fahmi, sudah mau jadi ayah, tolong jaga Aryana dan tiga calon cucuku baik-baik, yang sabar mengahadapi Aryana dalam keadaan hamil, dia masih muda, dan sekali mengandung langsung tiga, jadi aku mohon kamu benar-benar memperhatikan Aryana!" pinta Yasmin pada Fahmi.


"Tentu, aku berjanji akan aku pastikan Aryana tidak akan kekurangan apapun, termasuk cinta dan kasih sayangku padanya," ucap Fahmi.


"Terima kasih, titip putriku!" pinta Yasmin sambil menyeka bulir bening yang ada di sudut matanya.


"Bunda, Bunda jangan nangis dong!" pinta Aryana saat melihat bundanya menyeka air mata sambil tersenyum di layar ponselnya.


"Bunda menangis bahagia, Sayang," ucap Yasmin.


"Bunda, ayah mana, lagi sama bunda nggak ini?" tanya Aryana.


"Tidak, bunda di rumah, ayahmu sudah berangkat ke perusahaan bantu opa di sana," jawab Yasmin, dari layar ponsel terlihat sang putri sedikit kecewa karena tak bisa sekalian memberitahu ayahnya.


"Sudah lega, sekarang?" tanya Fahmi lembut.


"Sudah, Honey, meski ayah dan yang lain belum tahu," jawab Aryana.


"Ya sudah, kalau begitu kita pulang ya!" ajak Fahmi.


"Obatnya?"


"Ini, tadi pas kamu asyik telpon sama bunda, salah seorang perawat mengantarkannya kesini," jawab Fahmi sambil menunjukkan paper bag kecil berisi obat dan vitamin untuk Aryana.


"Kalau begitu, ayo kita pulang, tapi hari ini aku bolos kuliah dong," ucap Aryana sendu.


"Kamu nggak bolos, Sayang, tadi aku sudah memberitahu si kutu buku kalau kamu ijin tak masuk karena tak enak badan, ucap Fahmi.


"Si kutu buku siapa?" tanya Aryana heran.


"Profesor Richard, siapa lagi?," jawab Fahmi santai.


"Astaga, Honey, aku kira siapa," ucap Aryana tak habis pikir dengan suaminya yang mengubah nama seseorang seenaknya.


"Sayang, kamu ikut aku ke kantor saja ya, kalau pulang kamu bakal di rumah hanya dengan bibi Mey dan maid yang lain karena aku harus balik ke kantor!" ajak Fahmi.

__ADS_1


"Baiklah aku ikut ke kantormu saja, Honey, tapi aku di sana akan banyak tidurnya, lho," ucap Aryana.


"Tak apa, aku senang kalau kamu banyak istirahat," ucap Fahmi.


Kemudian keduanya berangkat ke kantor Pratama group yang berada di Singapura. Sampai di perusahaan, Fahmi merangkul pinggang istrinya posesif membuat para karyawan yang melihatnya menjadi baper, bisik-bisik tetangga mulai terdengar di kalangan karyawan perempuan namun semua itu tidak menganggu Fahmi dan Aryana, bahkan saat berpapasan dengan beberapa karyawan Aryana membalas sapaan mereka dengan senyum yang ramah.


"Sayang, kau jangan terlalu banyak senyum pada mereka!" larang Fahmi saat keduanya hampir sampai di ruangan kerja Fahmi sebagai ceo.


"Apaan sih, cuma senyum aja nggak boleh, senyummu pada saudaramu itu sedekah tau," ucap Aryana.


"Ya, tapi jangan kebanyakan!" larang Fahmi lagi.


Setelah masuk ke ruang kerja suaminya, Aryana mengajak Fahmi duduk, dan menjelaskan beberapa hal pada sang suami agar tak mengomel lagi.


"Honey, udah deh ya, jangan kekanak-kanakan, aku lagi hamil, kita berdua harus sering berbuat kebaikan dan perbanyak bersedekah agar bayi yang sedang aku kandung selalu sehat, di beri keberkahan dan rahmat dari Allah," ucap Aryana panjang lebar.


"Iya, iya bu ustadzah, aku mau telpon mami dulu, mengabarkan tentang kehamilanmu, apalagi calon bayi kita kembar tiga," ucap Fahmi lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya, sedangkan Aryana lebih memilih masuk ke kamar pribadi yang ada di ruang kerja Fahmi, ia sedang malas berkabar dengan mami mertuanya itu, meski ia sekarang sudah hamil tapi kata-kata ibu mertuanya yang memintanya mengijinkan Fahmi menikah lagi menggoreskan luka mendalam di hatinya, bahkan ia hanya diberi waktu enam minggu untuk bisa hamil seolah-olah memiliki anak itu kuasa manusia.


"Hallo, Assalamualaikum, Mi," sapa Fahmi di telpon.


"Waalaikumsalam, ada apa menelpon mami?"


"Aku hanya ingin mengabarkan bahwa Aryana hamil, dan calon bayi kami kembar tiga," ucap Fahmi membuat maminya di seberang telepon menutup mulutnya tak percaya.


"Ke-kembar tiga?" tanya mami Miranda kaget dan rasanya tak percaya.


"Iya, Mi, jadi aku minta jangan memintaku menikah lagi, atau mengatakan hal macam-macam pada istriku, dia hidupku dan juga nyawaku, Aryana adalah yang pertama dan terakhir bagiku, di hatiku hanya akan terukir namanya sampai aku mati," ucap Fahmi kemudian langsung menutup telponnya tanpa memberi maminya waktu untuk berbicara lagi.


Fahmi tahu maminya sudah sangat melukai hati istrinya, sampai-sampai saat ia akan menelpon maminya Aryana sama sekali tidak perduli dan malah masuk ke ruang pribadinya. Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan maminya, ia masuk ke ruang pribadinya untuk melihat istrinya, terlihat sang istri sedang berbaring di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


"Sayang, kalau kamu capek, tidur saja, jangan main ponsel terus!" ucap Fahmi mengingatkan.


"Iya," jawab Aryana singkat lalu ia meletakkan ponselnya di meja kecil dekat tempat tidur kemudian berusaha memejamkan matanya. Entah kenapa mendengar suaminya akan menghubungi maminya, moodnya yang tadi bagus jadi ambyar.


"Sayang, aku tahu kamu masih marah sama mami, tapi tenang saja aku sudah mengatakan tentang kehamilanmu dan memintanya untuk tidak mengusik pernikahan kita dan mengatakan hal yang macam-macam padamu," ucap Fahmi memberitahu Aryana tentang pembicaraannya dengan sang mami barusan, namun Aryana tampak tak perduli dengan semua apa yang di ucapkan suaminya, ia memilih memejamkan matanya dan menulikan pendengarannya jika itu berhubungan dengan mami mertuanya.


Fahmi yang paham keadaan sang istri tak ingi banyak bicara lagi, ia meninggalkan sang istri untuk istirahat di ruang pribadinya, tapi sebelum pergi, Fahmi mendaratkan ciuman di kening dan perut istrinya


"Istirahatlah, Honey, aku tahu kamu perlu waktu dan kau baby, jaga mommymu ya, bilang


ngambeknya jangan lama-lama!" ucap Fahmi sambil mencium kening dan perut Aryana.


Fahmi kemudian keluar dari ruang pribadinya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sudah banyak tertunda. Sedangkan di tempat lain mami Miranda masih shock mendengar kabar kehamilan Aryana, ia juga kaget Fahmi hanya memberitahunya dengan nada datar dan dingin penuh peringatan dan langsung menutup teleponnya.


"Aryana hamil anak kembar, dan apa itu tadi Fahmi sepertinya sangat datar dan dingin padaku waktu memberitahu kehamilan Aryana, apa dia sudah tahu semua yang aku katakan pada Aryana di resto itu?, apa Aryana menceritakan semua pada Fahmi?" tanya mami Miranda dalam hati.


_______________________________________


Hallo readers, sudah tahu kan anak Fahmi dan Aryana kembar berapa, tapi belum tahu jenis kelaminnya, ada yang mau kasih saran enaknya jenis kelamin anak kembar Fahmi dan Aryana apa ya?🤔


Jangan lupa Like, Vote, Coment, Rate and Favorit.

__ADS_1


Thank You 💐


Bersambung....


__ADS_2