Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
S2. Perasaan Afwi


__ADS_3

Selepas isya Afwi mengajak Nayla jalan-jalan keluar sekalian membeli lauk untuk puasa Asyura nanti malam. Mereka menuju alun-alun di tengah kota di sana banyak menjajakan berbagai makanan kuliner khas Bandung. Pilihan Nayla jatuh pada cilok kuah yang sepertinya menggugah selera.


"Bang, aku pingin cilok kuah itu, keliatannya enak banget kalau dimakan pakai sambal!" pinta Nayla sambil menunjuk pedagang cilok kuah yang ada di taman alun-alun.


"Ok tapi jangan terlalu pedas ya, Dek, nanti perutnya sakit besok malah nggak jadi puasa!"


"Iya, suamiku, Sayang."


"Nay, kita beli air mineral dulu, soalnya bapak penjualnya nggak menyediakan minuman!" titah Afwi yang di iyakan oleh Nayla


Nayla segera memesan cilok kuah yang sudah mengunggah seleranya dari tadi, sedangkan Afwi hanya melihatnya saja sambil memegang botol air mineral yang baru saja di belinya.


"Mas mau coba, enak lho!" tawar Nayla namun ditolak dengan lembut oleh sang suami.


"Buat kamu aja, Sayang, lihat kamu makan abang sudah kenyang," ucap Afwi seraya membelai kepala sang istri yang tertutup jilbab warna dusty pink.


"Aku beruntung banget bisa menjadi memilikimu, Nay, bahkan untuk membahagiakanmu saja hanya dengan cara sederhana seperti ini, padahal dengan apapun yang kumiliki kamu bisa minta lebih dari hanya sekedar makan cilok kuah, tabunganku bisa membuatkanmu restoran cilok kuah jika kamu mau," batin Afwi dalam hati sambil memandangi sang istri yang sedang menikmati cilok kuah dengan bahagia.


Selesai makan cilok kuah, Afwi dan Nayla melanjutkan jalan-jalan mereka, berkeliling alun-alun, saat berkeliling mereka menyempatkan membeli lauk untuk puasa Asyura nanti malam, pilihan mereka jatuh ke sup iga sapi. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, akhirnya mereka menyudahi acara keliling alun-alun.


"Capek ya, Yang?" tanya Afwi saat mereka sampai di rumah.


"Nggak juga, Bang," jawab Nayla.

__ADS_1


"Sini biar abang yang panaskan soupnya, kamu bersih-bersih dulu!"


"Iya, Bang."


Afwi membawa sup iga ke dapur lalu memanaskannya, ia juga mengecek apa nasinya cukup atau tidak. Setelah semua dirasa sudah beres, Afwi kembali ke kamar menyusul sang istri. Sampai di kamar, Afwi melihat istrinya tengah duduk di depan cermin sambil mengoleskan krim malam.


"Sayang, segera tidur, biar nanti malam bisa bangun tahajud dan makan sahur!" pinta Afwi yang di angguki oleh Nayla.


Selesai membersihkan diri di kamar mandi, Afwi menuju walk in closet untuk berganti pakaian, kemudian menyusul sang istri yang sudah lebih dahulu merebahkan tubuhnya di pembaringan.


"Aku nggak bisa tidur, Bang," keluh Nayla.


"Kenapa hmm?" tanya Afwi lalu merubah posisi tidurnya menghadap sang istri.


"Yang, aku sudah berulang kali bilang sama kamu soal itu, semua terserah padamu, yang bisa mengontrol pikiran dan hatimu hanya dirimu sendiri, tapi abang juga tak akan pernah jemu mendukungmu dan mencintaimu dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Sekarang lebih baik kamu berdoa dan berdzikir sebelum tidur agar hatimu lebih tenang!" ujar Afwi sambil membelai lembut kepala istrinya.


Mendengar penuturan sang suami, Nayla langsung memeluk Afwi sambil mengatakan kata maaf. Perasaannya kian campur aduk, Afwi membalas pelukan sang istri dengan penuh cinta. Ciuman lembut ia darat kan di kepala sang istri untuk menunjukkan bahwa ia begitu mencintai dan menyayangi wanita yang sekarang ada dekapannya itu. Tak lama dengkuran halus terdengar dari sang istri, perlahan Afwi melonggarkan pelukannya, ia pandangi wajah cantik sang istri, sebenarnya tak hanya Nayla namun iapun juga merasakan hal yang sama.


Teman-teman seumurannya bahkan adik letingnya sudah banyak yang menikah dan memiliki anak, namun ia tak bisa menunjukkan kegundahannya pada sang istri. Ia harus terlihat kuat dan tegar di hadapan Nayla, kalau bukan dia siapa lagi yang akan memberi support terbesar pada belahan jiwanya itu.


"Aku selalu mencintaimu Nay, kau harus percaya padaku, ada atau tidak anak diantara kita tak akan mempengaruhi besarnya cintaku padamu," batin Afwi dalam hati kemudian ia pun menyusul sang istri ke alam mimpi.


Alarm di ponsel Afwi berbunyi menunjukkan pukul setengah tiga pagi, perlahan ian bangun dari tidurnya lalu membangunkan sang istri.

__ADS_1


"Sayang, bangun kita tahajud dulu!" ajak Afwi sambil membelai lembut kepala sang istri.


Nayla menggeliat ketika merasakan ada mengusik tidurnya, berlahan ia berusaha membuka matanya yang masih terasa berat, namun akhirnya matanya bisa di buka juga.


"Jam berapa ini, Bang?" tanya Nayla sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Jam setengah tiga, ayo bangun shalat tahajud dulu dilanjut makan sahur!"


Afwi membantu istrinya untuk bangun dan menuju kamar mandi, selesai mengambil wudhu sepasang suami istri melakukan shalat tahajud berjamaah, selesai shalat keduanya menengadahkan tangan memohon segala kebaikan dunia dan akhirat tak lupa juga mereka meminta agar segera di beri keturunan yang sholeh ataupun sholehah, bahkan Nayla sampai menangis tersedu. Mendengar isak tangis istrinya hati Afwi serasa sesak, sebegitu inginnya sang istri menginginkan seorang anak dari buah cintanya bersama dirinya.


Selesai shalat tahajud, Afwi dan Nayla menuju dapur. Nayla memanaskan kembali sup iga yang ia beli, sedangkan Afwi membuat teh hangat, setelah semua siap, pasangan suami istri itu menyantap makan sahur mereka. Selesai makan sahur Nayla langsung membersihkan peralatan makan mereka sambil menunggu adzan subuh. Selang Sepuluh menit terdengar adzan subuh berkumandang


"Yang, abang shalat ke masjid dulu ya," ucap Afwi pada Nayla yang sedang membereskan sisa lauk.


"Ya, Bang, nanti jangan lupa kunci pintunya kalau berangkat!"


"Iya, Sayangku," ucap Afwi kemudian melangkah ke kamar untuk persiapan pergi ke masjid.


Setelah sang suami pergi ke masjid, Nayla juga mengambil wudhu untuk shalat qobliyah subuh terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat subuh. Selesai shalat dan berdoa, Nayla meraiih mushaf Al-Quran yang ada di nakas. Ia duduk dengan tenang di atas sajadah sambil perlahan melantunkan ayat suci Al-Qur'an, rasanya benar-benar damai, segala gundah gulana hilang entah kemana.


Afwi sudah pulang dari masjid, ia langsung ke kamar karena ia tahu disanalah istrinya berada. Saat akan membuka hendel pintu tangannya tertahan, suara tilawah Al-Quran yang dilantunkan sang istri terdengar sampai ke luar kamar yang tak sepenuhnya tertutup. Sungguh damai hati Afwi mendengarnya, Nayla adalah istri penurut dan mudah di ajari, dia juga cukup pintar belajar sesuatu, ia juga bisa mudah menerima nasehat dari orang lain terutama nasehat dari orang tua. Afwi pun juga heran kenapa istri sesholeh Nayla belum dipercaya untuk mengandung.


"Ya Allah, apapun kesalahan istri hamba aku mohon ampunilah, ijinkan dia untuk mengandung buah cinta kami, hamba tak sanggup melihat dia selalu bersedih setiap hari," doa Afwi dalam hati sambil menyandarkan tubuhnya di dindung luar kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2