Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 110


__ADS_3

Pak Bagaskara mengantar Nayla ke panti sekalian ingin berbincang dengan bunda Nana yang selama ini menjadi sosok pengganti ibu untuk Nayla. Kesetiaan bunda Nana pada mendiang suaminya patut di acungi jempol, meski sudah menjada selama tujuh tahun tapi bunda Nana tidak punya keinginan menikah lagi, ia justru mengabdikan dirinya mengelola panti asuhan milik kakak sepupunya yaitu almarhumah Intan.


"Assalamualaikum," ucap Nayla saat memasuki panti, dan suara merdu Nayla sukses membuat semua anak panti yang ada di dalam keluar.


"Waalaikumsalam," ucap anak-anak panti yanng langsung berhambur ke arah Nayla yang berdiri di ambang pintu.


"Kak Nay kenapa baru pulang sih?" tanya salah seorang anak panti yang berusia sembilan tahun.


"Kak Nay ada sedikit urusan dengan kuliah kak Nay jadi belum bisa cepat pulang ke sini," jawab Nayla memberi alasan.


Saat para anak panti heboh menyambut kedatangan Nayla, bunda Nana muncul dari arah dapur karena mendengar suara berisik dari luar rumah.


"Nay, kamu pulang?" ucap bunda Nana heran.


Mendengar sapaan dari seseorang wanita yang sudah ia angap ibunya sendiri, Nayla menoleh ke asal suara.


"Bunda!" panggil Nayla.


"Kamu kesini sama siapa?" tanya bunda Nana


"Sama aku mbak," sahut pak Bagaskara.


"Oh sama mas Bagas, anak-anak ayo salim dulu sama papanya kak Nay!" pinta bunda Nana pada anak-anak panti yang masih mengerumuni Nayla.


Mendengar perintah bunda Nana, para anak-anak kemudian dengan patuh menyalami dan mencium punggung tangan pak Bagaskara dengan takzim. Melihat perlakuan anak-anak panti dengan Nayla ketika lama tak bertemu, dan juga ketika mengenalkan para anak panti pada dirinya, pak Bagaskara sangat terharu. Memang pak Bagaskara terkadang berkunjung ke panti tapi cuma sebentar dan hanya bertemu beberapa anak saja.


Ivan dan Santi yang sudah mengenal pak Bagaskara daripada anak yang lain juga menyalami dan menyapa pak Bagaskara setelah anak-anak lain menyalami papa Nayla.

__ADS_1


"Apa kabar, Om?" sapa Ivan setelah menyalami san mencium punggung tangan ayah dari seseorang yang sudah ia anggap kakak kandungnya.


"Baik, Nak, kabar kamu baik kan?" tanya pak Bagaskara sambil membelai kepala Ivan.


"Saya baik, Om."


"Mas Bagas mari duduk dulu!" pinta bunda Nana, sedangkan anak-anak panti yang tadi mengerumuni Nayla sudah kembali ke tempatnya masing-masing.


"Tumben, Nayla pulang diantar papanya biasanya juga pulang ke panti sendiri?" tanya bunda Nana terlihat heran.


"Begini mbak Nana, saya kesini mau menjemput Nayla untuk pulang ke rumah, sekalian mau mengucapkan terima kasih sama mbak sudah mau menjaga Nayla dengan baik, maaf kalau keberadaan Nayla di panti ini merepotkan mbak Nana," ucap pak Bagaskara serius.


Mendengar perkataan pak Bagaskara membuat bunda Nana senang sekaligus sedih. Senang karena akhirnya Nayla mau tinggal bersama papanya kembali, tapi bunda Nana juga sedih karena sudah tidak bisa bersama Nayla setiap hari lagi, apalagi anak-anak panti yang pastinya akan sangat kehilangan sosok, kakak sekaligus sebagai seorang sahabat.


"Aku turut senang, akhirnya Nayla mau tinggal bersama mas lagi, tapi di sisi lain saya juga sedih karena sudah tidak bisa bersama Nayla sesering dulu," ucap bunda Nana membuat Nayla merasa sedih juga bersalah.


"Bunda jangan sedih dong, aku mau tinggal sama papa lagi itu karena aku ingat nasehat bunda, kalau aku ini anak perempuan yang kelak jika menikah aku menjadi hak suami aku, tanggung jawab papa beralih ke suamiku nantinya, dan saat aku sudah menikah waktuku mengurus papa munkin akan berkurang banyak, jadi aku memutuskan aku akan tinggal bersama papa sampai aku menemukan tulang rusukku, terlepas siapapun nanti jodohku dan kapan aku akan menikah," ujar Nayla sambil mengenggam tangan bunda Nana yang kebetulan duduk di sebelahnya.


"Nay malam ini akan menginap di sini, dan bssok Nay baru akan pindah ke rumah," ucap Nayla sambil tersenyum manis pada bunda Nana agar wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri itu tenang dan tak sedih lagi.


"Iya mbak, Nayla akan menginap malam ini di sini sebelum besok kembali tinggal bersama saya."


"Saya senang Nay mau menginap malam ini di sini, dan jika Nay sudah memutuskan hal itu, bunda hanya bisa mendukung saja karena memang seharusnya tugas seorang anak membantu dan merawat mereka, apalagi jika orang tua sudah berusia lanjut," ucap bunda Nayla dengan penuh pengertian meskipun tak bisa di pungkiri bahwa jauh di lubuk hatinya bunda Nana merasa sedih.


"Ini sudah sore mbak, saya mau pulang dulu, titip Nayla ya mbak, besok saya kesini lagi jemput Nay, meski Nay akan tinggal bersama saya tetapi Nay masih bisa main ke panti."ucap pak Bagaskara..


"Ya, mas, saya akan jaga Nayla dengan baik, tapi dengar-dengar mas mau di pindah tugaskan ke luar daerah, lalu apa Nay akan ikut?"

__ADS_1


"Iya, kemarin saya dengar dari atasan begitu tapi belum ada keputusan final."


"Ya sudah, saya cuma mengakhawatirkan kuliah Nay saja, Mas, kasihan kalau Nay harus pindah kampus juga."


"Bunda apaan sih nggak gitu juga kali konsepnya,".Seloroh Nayla sambil mencebikan bibirnya kesal.


"Itu sudah saya pikirkan mbak, kalau akhirnya saya pindah tugas jauh, saya putuskan agar Nayla tetap di sini bersama mbak, nanti saya yang akan mengunjungi Nayla seminggu sekali, dan jika Nayla libur kuliah bisa menyusul ke tempat tugas yang baru, buat saya pendidikan Nayla adalah yang pertama," ujar pak Bagaskara membuat Nayla ber kaca-kaca, ia sangat terharu ternyata sang papa begitu memikirkan apapun tentangnya dan rela mengalah untuk dirinya.


Mendengar penuturan papanya Nayla yang duduk di sebelah bunda Nana langsung berdiri dan menuju kursi di mana pak papanya duduk, kemudian langsung memeluk papanya dari samping.


"Papa, maafkan Nay selama ini nggak bisa jadi anak yang berbakti, Nayla egois, Nay nggak memikirkan perasaan papa, ternyata papa sangat sayang sama Nay, hiks...hiks..."


Pak Bagaskara membalas pelukan Nayla, Ia sangat terharu dengan sikap putrinya yang sudah jarang ia temui semenjak Intan istiri pertamanya meninggal dunia, pelukan hangat putri semata wayangnya yang selama ini ia rindukan.


"Papa memang kurang bisa mengekspresikan perasaan papa, tetapi papa sangat menyayangi kamu, karena kamu adalah buah cinta papa dan mendiang mama kamu," ucap pak Bagaskara setelah mengurai pelukan sang putri.


"Maaf, selama ini Nay tidak bisa memahami papa," ucap Nayla parau sambil menangis.


Mendengar perkataan putrinya, pak Bagaskara menangkup kedua sisi wajah Nayla kemudian mendaratkan ciuman sayang di kening sang putri. Kehangatan kasih sayang anak putri semata wayangnya, buah cintanya dengan cinta sejatinya sudah kembali. Nayla lah kebahagiaan pak Bahaskara yang sesungguhnya. Melihat pemandangan di depannya bunda Nana sangat terharu, dalam hati ia berdoa dan berharap agar kebersaman ayah dan anak di di depannya akan abadi selamanya.


Anak-anak panti yang juga melihat pemanadangan tersebut juga ikut terharu dan menitikan air matanya, ada tersersit rasa iri di hati anak-anak tersebut karena Nayla masih memiliki seorang ayah yang sangat menyayangi kak Nay mereka, sedangkan mereka bahkan ada yang tak merasakan kasih sayang orang tua sejak masih bayi, karena diantara anak panti itu ada yang dibuang orang tuanya sejak masih bayi.


"Semoga kamu selalu berbahagia, Nay," batin bunda Nana.


_________________________________________


Please like, vote, coment, rate and favorit

__ADS_1


Thank You


Bersambung....


__ADS_2