Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
S2. Nasehat Yasmin


__ADS_3

Afwi menakupkan kedua tangannya di wajah Nayla, ia memandang lekat manik mata yang membuat ia jatuh cinta sejak pertama kali bertemu di lapak lumpia.


"Abang tahu yang kamu pikirkan, jangan mencoba berbohong karena selain abang suamimu, abang ini juga seorang polisi yang paham mana orang yang jujur atau tidak. Sekarang jujur sama abang apa yang kamu pikirkan sampai harus menyendiri di tengah-tengah acara keluarga?"


"A-aku pingin punya anak Bang, melihat mbak Kiran, Aryana, tante Mitha yang begitu penuh kehangatan mengurus anak-anaknya, aku jadi iri, Bang, hiks..hiks," jawab Nayla yang akhirnya tak bisa membendung perasaannya.


"Sudah abang duga pasti masalah anak lagi," ucap Afwi kemudian menurunkan tangannya dari wajah Nayla dengan lesu.


"Maafkan, Nay, Bang," ucap Nayla sendu sambil memegang tangan suaminya.


"Kamu tahu, Dek, ada wanita yang lebih sedih dari kamu saat belum bisa memberikan seorang anak, dan wanita itu adalah adikku sendiri. Jadi jangan berfikir yang aneh-aneh soal belum bisa punya anak."


"Maksud abang?"


"Aryana pernah di beri pilihan pada ibu mertuanya bercerai atau mengijinkan Fahmi menikah lagi agar Fahmi bisa punya anak karena selama kurang lebih tiga tahun Aryana belum juga hamil. Bahkan setelah hamilpun Aryana harus berjuang diambang hidup dan mati. Hati Fahmi sudah ada dititik terendah, ia hampir gila melihat istrinya diambang kematian, kekayaan yang ia memiliki tak bisa membuat jantung yang cocok dengan Aryana, semua jantung yang di dipersiapkan tak ada yang cocok dengan Aryana, sampai Allah mengirimkan malaikat tal bersayap dengan sukarela mendonorkan jantungnya untuk Aryana dan qodarullah jantung wanita itu cocok dengan Aryana 99 persen," tutur Afwi.


"Apa wanita yang mendonorkan jantungnya itu adalah ibu dari Alesya?" tebak Nayla yang di jawab anggukan oleh Afwi.


Seketika Nayla menutup mulutnya sendiri, ia baru mendengar histori perjuangan Aryana memiliki keturunan dan kronologis transplantasi jantung Aryana.


"Kamu lebih beruntung, Dek, bunda dan keluarga Dewantara maupun keluarga Danuarta tidak menuntut kamu segera hamil, mereka justru memberimu support agar jangan pernah putus asa, tidak seperti Aryana waktu itu, dia harus menghadapi penyakitnya dan tuntutan mertuanya secara bersamaan. Ada yang lebih sedih dari kamu di dunia ini jika bicara masalah mendapatkan keturunan. Jadi abang mohon berhentilah memikirkan masalah kehamilan, InsyaAllah abang akan setia sama kamu. Anak itu bonus di dalam pernikahan meskipun salah satu tujuan pernikahan adalah memperbanyak keturunan, tapi jika Allah belum mempercayai kita, kita bisa apa selain menunggu sambil memperbaiki diri agar Allah segera mempercayai kita di amanahi anak. Allahlah yang paling tahu dan sayang dengan hamba-Nya, jadi tak usah pikirkan omongan orang lain," ucap Afwi menasehati sang istri panjang lebar.


Mendengar nasehat suaminya, Nayla menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya sedangkan tangannya melingkar di pinggang Afwi.


"Sekali lagi maafkan Nayla ya, Bang, pemikiran Nay kekanak-kanakan juga berlebihan padahal abang dan semua keluarga tak menuntut Nay segera hamil," ucap Nayla menyesal telah over thinking masalah kehamilan.


"Sekarang lebih baik kita kembali gabung dengan keluarga yang lain, mereka pasti mencarimu!" ajak Afwi setelah mendaratkan ciuman di kening Nayla.


Di ruang makan, Yasmin, oma Dewi dan Mitha sedang mempersiapkan makanan untuk makan siang bersama, sedangkan Yudha, suami Mitha, opa Dimas, Fahmi, Arjuna juga para bocil masih di taman belakang.


"Nay, kamu kemana saja, Nak, bunda bingung kamu ijin pergi ke belakang tak balik-balik, kamu sakit?" tanya Yasmin begitu melihat Nayla memasuki dapur.


"Maafkan, Nay, bunda, tadi habis dari kamar mandi dekat taman, Nayla tertarik dengan kolam ikan koi milik opa Dimas, jadi Nay di sana lihat ikan," jawab Nay asal meskipun ada benarnya ia melihat ikan koi.


Yasmin dan dua wanita di dapur itu tersenyum mendengar jawaban Nayla yang lebih mirip anak taman kanak-kanak.


"Ya sudah, kamu shalat dulu setelah itu kita akan makan bersama!" pinta Yasmin yang cukup mengerti keadaan Nayla, Yasmin yakin ada yang membuat menantunya itu tidak nyaman.


"Iya, Dek, sebaiknya kamu ke kamar shalat duzuhur dulu, kalau abang tadi sudah shalat dzuhur berjamaah di mushola," ucap Afwi menimpali permintaan bundanya.


"Kalu begitu, Nay ke kamar dulu," ucap Nayla kemudian segera bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

__ADS_1


"Istri kamu kenapa, Afwi, Oma perhatikan dia tak seceria yang lainnya, apa kalian ada masalah?" tanya oma Dewi yang juga menangkap hal tak beres pada cucu menantunya.


"Biasa oma, apalagi yang bisa membuat Nay begitu kalau bukan masalah kehamilan dan anak," jawab Afwi lesu seraya mendudukkan dirinya di kursi ruang makan.


"Kalian sudah periksa ke dokter tentang kesuburan masing-masing?" tanya Mitha.


"Sudah tante, bahkan di dua rumah sakit ternama dan hasilnya kesuburan kami baik-baik saja," jawab Afwi jujur.


"Kamu yang sabar ya, memang pertanyaan sudah hamil apa belum pada wanita yang sudah diangap lama menikah oleh masyarakat adalah hal paling sensitif bagi seorang istri, dan parahnya tuduhan yang bermasalah pasti di lemparkan ke istri dulu. Padahal bisa jadi suaminya yang kurang bahkan tidak subur."


"Aku tahu bunda, tapi Nayla itu takut kalau dia nggak kunjung hamil dan aku bakal meninggalkan dia, aku kadang frustasi berulang kali memberikan penjelasan padanya," ucap Afwi frustasi.


Yasmin lalu duduk di samping putra keduanya, ia mengusap pungung Afwi penuh sayang agar putranya lebih tenang.


"Bunda mengerti apa yang kamu rasakan, tapi bunda mohon kendalikan emosimu, ingat adikmu juga pernah di posisi Nayla bahkan lebih berar," ucap Yasmin menasehati Afwi agar lebih sabar dan menekan ego dalam menghadapi psikologis Nayla perihal kehamilan


"Iya, Bund, aku akan ingat nasehat bunda"


"Kamu susul Nayla ke kamar, setelah itu kita makan siang bersama!"


Afwi pun menurut, ia menyusul istrinya ke kamar sekalian ia membersihkan diri.


Yudha sudah mengelar karpet di ruang keluarga agar bisa menampung senua anggota keluarga besarnya dan juga agar acara makan siang bersama lebih santai. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga, anak-anak masih ada yang berlari-larian bercanda sehingga suasana riuh memenuhi ruang keluarga opa Dimas yang cukup besar.


Mendengar perintah oma mereka, para bocil memposisikan mereka dengan baik, duduk di dekat orang tua masing-masing. Di tengah hamparan karpet sudah terhidang.


"Nay, kamu mau makan apa, Nak?" tawar Yasmin.


"Rendang saja Bunda," jawab Nayla kemudian Yasmin mendekatkan piring saji berisi rendang ke dekat Nayla.


"Aku mau bakso saja!" pinta Alya dan anak-anak yang lain juga minta menu yang sama karena pentol bakso lebih bersahabat dengan gigi mereka.


Aryana lalu mengambilkan bakso untuk anak-anaknya, Yasmin memang memasak beberapa menu olahan daging, ia juga membuat sup buntut favorit suami dan mertuanya, ada juga olahan daging kambing yang dibuat tengkleng. Hari itu semua bersuka cita merayakan hari raya kurban meskipun salah satu dari mereka merasa hari raya kurban kali ini biasa saja sama dengan tahun-tahun sebelumnya.


Selesai makan siang, Nayla membantu membereskan bekas makan anggota keluarga sampai sebuah suara menyapanya.


"Nay, ikut bunda sebentar yuk!" ajak Yasmin.


"Iya, Bund," ucap Nayla lalu berjalan di belakang ibu mertuanya menuju mushola.


"Bunda mengajakku kesini ada apa?"

__ADS_1


"Tidak ada, hanya ingin mengobrol ringan saja denganmu, sini duduk dekat bunda!"


Nayla kemudian duduk di sebelah Yasmin, tepatnya mereka duduk saling berhadapan, Yasmin mengenggam tangan sang menantu sambil tersenyum.


"Boleh bunda tanya?"


"Boleh."


"Bunda lihat seharian ini kamu tampak berbeda tak seceria biasanya, boleh bunfa tahu kenapa?"


"Itu hanya perasaan bunda saja, I'm fine."


"Iya fine di luar tapi tidak di dalam sini," ucap Yasmin sambil jemarinya menunjuk ke dada Nayla.


"Nay, kamu sudah bunda angap putri bunda sendiri, jadi jika kamu butuh teman bicara kamu bisa curhar sama bunda," sambung Yasmin.


Nayla merasa bingung mendengar penuturan ibu mertuanya, sungguh ia tidak tahu apakah harus jujur atau tidak, kalaupun bohong pasti ketahuan, entah kenapa ibu mertuanya mirip sekali seperti cenayang.


"Nay, merasa senang bisa berkumpul dengan semua keluarga seperti ini, namun bagi Nay, masih ada yang kurang, yaitu kehadiran seorang anak dalam hidup Nay dan abang," jawab Nayla berusaha untuk jujur.


"Nak, anak itu amanah dari Allah, kalau Allah belum memberi itu berarti Allah ingin menitipkan anak pada kalian setelah kalian di nilai layak dan siap oleh Allah bukan dinilai layak oleh diri sendiri atau orang lain, itu point penting yang harus kamu ingat!"


"Abang juga sudah sering menasehati, Nayz tapi Nay sering baper kalau lihat anak kecil dan mendengar pembicaraan orang di luar tentang Nay yang tak kunjung hamil," ucap Nayla sendu.


"Kalau begitu mulai sekarang Nay harus belajar ndableg dengan omongan orang yang hanya membuat Nay sedih, fokus melakukan hal-hal positif dan mengurus suami dengan benar. Ajaklah Afwi saat malam hari dia tak bertugas untuk dzikir bersama, banyak igstifar, shalawat dan membaca la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil azhimi sebanyak seratus kali lebih banyak lebih bagus, karena salah satu tanaman di surga itu adalah bacaan tersebut. Selain itu dzikir La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil azhim jika di baca seratus kali maka orang tersebut dijauhkan dari tujuh puluh keburukan salah satunya kefakiran. Jadi coba deh kamu dan Afwi lebih dekat dengan Allah dengan perbanyak ibadah, dzikir juga jangan lupa usaha setelah itu tawakal dan berprasangka baik sama Allah. Jangan pernah punya pemikiran aku sudah dzkir ratusan kali setiap hari, sudah shalwat sampai mulut kering tapi kok nggak hasil-hasil?, lakukan perintah Allah dan Rasulullah jangan banyak mikir, biar nanti sisanya Allah yang selesaikan, oke?" tutur Yasmin.


Mendengar nasehat ibu mertuanya, air matanya luruh, hatinya yang tadi seperti padang gersang sekarang menjadi tanah yang ditumbuhi oleh tanaman segar. Sungguh ia merasa sangat bersyukur memilki ibu mertua sebaik Yasmin, pantas saja ayah Yudha bucin parah dengan ibu mertuanya itu.


"Hiks..hiks..., Nay ngerti bunda, InsyaAllah Nay akan ajak abang berdoa dan berdzikir bersama.


Yasmin membawa tubuh Nayla dalam pelukannya membelai lembut kepala menantunya yang tertutup hijab.


"Nay tahu nabi siapa yang lama sekali tak mendapatkan keturunan?" tanya Yasmin.


"Tahu bunda, nabi Ibrahim Alaihisalam," jawab Nayla sambil mengusap air matanya.


"Nah perintah untuk membaca dzikir La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil azhim ini adalah perintah yang di terima Nabi Muhammad ketika perjalanan isramijraj dan bertemu nabi Ibrahim Alahisalam. Nabi Ibrahim Alaihisalam memerintahkan pada Nabi Muhammad agar umatnya senantiasa membaca La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil azhim ini karena kalimat ini adalah salah satu tanaman di surga, kalau kita sering membaca dzikir ini selain doa hajat kita segera di kabulkan kita juga bisa memasuki surga dengan mudah karena kita punya ladang tananaman di sana. Yakinlah kalau kamu merasa punya Allah, hati kamu akan tenang dalam menghadapi masalah apapun."


"Makasih sekali, Bunda sudah mau memperhatikan dan mengerti Nayla, mulai sekarang InsyaAllah Nay akan lebih tegar dan lebih mendekatkan diri pada Allah," ucap Nayla lalu menyandandarkan kepalanya di pundak ibu mertuanya dan Yasmin membalas dengan merangkul pundak Nayla pemuh sayang.


Dari jarak yang agak jauh, seorang laki-laki tersenyum melihat dua wanita kesayangannya berbincang hangat, sungguh nikmat Tuhanmu mana lagi yang engakau dustakan.

__ADS_1


"Terima kasih ya Allah kau takdirkan hamba lahir dari malaikat tak bersayap seperti bunda Yasmin," ucap laki-laki itu sambil menyeka bulir bening yang keluar dari sudut matanya.


__ADS_2