
Sabtu pagi rumah keluarga Yudha sangat ramai karena semua keluarga berkumpul dengan formasi lengkap. Anak, menantu dan cucu-cucu yang lucu, mereka sarapan pagi bersama, sungguh masa tua yang membahagiakan bagi Yudha dan Yasmin. Ternyata ceramah seorang ustad yang Yasmin dengar dulu sewaktu mengikuti sebuah pengajian ternyata terbukti.
Bahwa jika kita ingin masa tua kita berbahagia tanpa kekurangan apapun, maka kita harus berbuat baik dan berbakti pada kedua orang tuanya dan pada saudara kedua orang tua kita, juga sahabat kedua orang tua kita, baik orang tua kita masih hidup ataupun sudah meninggal kita tetap harus berbuat baik pada saudara dan sahabat kedua orang tua kita, maka di hari tua kita Allah akan mengirimkan seseorang untuk ganti membuat kita bahagia entah itu anak keturunan kita sendiri ataupun orang lain.
"Ayo, Nayla, Kirana, makan yang banyak, hari ini kalian akan sibuk menjadi ratu sehari!" pinta Yasmin pada kedua menantu perempuannya.
"Iya, Bunda," ucap Nayla dan Kirana bersamaan.
"Iya, tante, kata papa kalau kita banyak aktivitas halus banyak makan makanan yang bergizi dan minum susu bial selalu sehat," ucap si cantik Alesya dengan gaya sok iye.
Semua orang yang ada di ruang makan, tertawa mendengar celotehan Alesya yang mengemaskan.
"Anak siapa sih ini pintar sekali," ucap Azka gemas.
"Ya anak doktel Fahmi dan mama Alyana dong, masa om Azka lupa sih, nggak amnesia kan?" ucap Alesya lagi yang justru membuat Azka kesal sendiri.
"Heh, bocah, om nggak amnesia ya, masih normal woi!" ucap Azka.
"Sudah-sudah ayo lanjutin makannya, setelah itu kita bersiap ke hotel tempat acara," lerai Yasmin.
Fahmi dan Aryana hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adik dan anaknya, sedangkan Yudha hanya tersenyum tipis, namun di dalam hati ia bahagia melihat kebersamaan keluarganya yang begitu bahagia.
Selesai sarapan, semua anggota keluarga inti segera mempersiapkan diri menuju hotel tempat dilangsungkannya resepsi ngunduh mantu anak-anak Yudha. Hotel yang digunakan tidak berada di kota K melainkan di kota S yang bersebelahan dengan kota K karena di sanalah hotel bintang lima milik DW group berada. Protokol keamanan gabungan sudah diatur sedemikian rupa, dari bodyguard keluarga Dewantara, pihak kepolisian dan TNI, mengingat yang menikah adalah putra pewaris Dewantara group, selain itu profesi kedua pengantin laki-laki adalah anggota kepolisian dan anggota TNI, mertua dari Afwa dan Afwi pun juga memiliki profesi yang sama dan matra sama juga. Raka ayah Kirana adalah perwira TNI Angkatan Darat dan Mahendra Bagaskara adalah seorang Kombes polisi. Yudha dan Dimas juga pernah menjadi anggota TNI sebelum mereka pensiun.
Waktu terus berjalan, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam yang berarti acara akan segera dimulai. Pasangan pengantin sudah dirias sejak pukul lima sore tadi. Meskipun acara ngunduh mantu kali ini pasangan pengantin memakai gaun dengan konsep international wedding, namun Yasmin tetap meminta bunga melati harus ada di pakaian pengantin. Bagi Yasmin jika pengantin tak memakai bunga melati rasanya masih ada yang kurang. Tamu yang di undang kali ini selain keluarga besar, keluarga besan, teman-teman Afwa dan Afwi juga beberapa kolega bisnis Dewantara group. Tak ketinggalan beberapa pejabat juga turut di undang, jadi bisa dibayangkan betapa megah acara resepsi ngunduh mantu putra sulung dan putra kedua Yudhatama Dewantara dan Yasmin Kusuma Putri ini.
"Masyaallah, cantik sekali menantu-menantu, bunda," ucap Yasmin saat melihat hasil akhir riasan MUA pada Nayla dan Kirana.
"Ah bunda bisa saja, kami cantik kan karena make-up," ucap Kirana.
"Iya, bund, apa yang dikatakan mbak Kirana benar," ucap Nayla menimpali.
"Kalian sebenarnya tanpa make-up pun sudah cantik, pantas kedua putra kembar bunda jatuh hati pada kalian, Afwa dan Afwi pasti tak berkedip lihat kalian secantik ini."
Saat Yasmin sibuk memuji kedua menantu perempuannya, Mitha menyusul ke kamar hotel yang di jadikan kamar rias pengantin.
"Mbak acaranya segera di mulai, Afwa dan Afwi sudah menunggu!" ucap Mitha.
"Ayo sayang kalian segera keluar, nanti tante Mitha dan tante Humaira akan membantu kalian turun," ucap Yasmin kemudian keluar lebih dulu meninggalkan kedua mempelai perempuan karena ia harus bersiap mendampingi Yudha di ballroom.
Setelah Yasmin meninggalkan kamar rias pengantin, Mitha dan Humaira dengan hati-hati membantu kedua pengantin wanita berjalan menuju ballroom hotel tempat dimana resepsi pernikahan akan dilangsungkan. Selain Mitha dan Humaira tiga bodyguard wanita juga ikut menemani Nayla dan Kirana menuju tempat acara, agar tak mencolok ketiga bodyguard tersebut mengenakan batik dengan setelah celana panjang agar leluasa bergerak.
Tak lama Kirana dan Nayla sampai di tempat transit di sebelah ballroom, di sana sudah ada suami mereka yang menunggu bersama Dika dan Andre.
__ADS_1
"Maaf ya nunggunya lama habis kita harus hati-hati bawa dua kesayangan keluarga Dewantara," ucap Humaira sedikit menggoda keponakannya.
Keempat laki-laki yang berada di situ langsung menoleh ke sumber suara, betapa terkejutnya Afwa dan Afwi melihat mempelainya begitu cantik.
"Masyaallah cantiknya," ucap Afwa dan Afwi bersamaan.
"Heh, jangan ngiler disini!, kagumnya nanti saja, tuh dah ditungguin satu Indonesia!" ucap Dika yang suka merusuh kalau menggoda orang.
"Pakde ini suka begitu, ndak seneng apa lihat ponakan seneng," gerutu Afwa yang kesal dengan ucapan Dika.
"Sudah-sudah, ayo kita sudah di tunggu, pihak Wo sudah memberi kode agar kita segera ke pintu utama ballroom!" ajak Mitha yang baru saja menerima telepon dari koordinator acara.
Afwa dan Afwi langsung mengandeng istri mereka, senyum penuh kebahagiaan memenuhi wajah dua pasang mempelai pengantin. Kini mereka sudah berada di pintu masuk utama ballroom, di depan ballroom terpasang foto pernikahan pedang pora Afwa-Kirana dan Afwi-Nayla.
"Marilah kita sambut dua pasang raja dan ratu kita, Afwa Shakti Yudhatama dan Kirana Septiana Wulansari juga Afwi Shakta Yudhatama dan Nayla Balqis Andarista," ucap MC yang memandu jalannya acara.
Perlahan Kedua pasang pengantin berjalan dengan anggun memasuki ballroom diikuti di belakang mereka orang tua dari dua pasang mempelai. Nayla dan Kirana mengandeng erat tangan suami mereka masing-masing, kedua mempelai wanita itu benar-benar gugup, begitu indah dan mewah dekorasi resepsi ngunduh mantu yang disiapkan mertua mereka, juga tatapan begitu banyak pasang mata para tamu yang tertuju pada mereka. Afwa dan Afwi cukup menyadari keadaan istri-istri mereka yang berusaha menyembunyikan raaa nervous nya. Para tamu banyak yang menatap kagum dua pasang pengantin yang berparas cantik dan rupawan.
"Waahh, keturunan sultan seperti pak Yudha mah beda ya, nggak ada yang burik," komentar salah seorang tamu wanita.
"Ya iyalah, emang kita mau nyalon aja mikir seribu kali," ucap teman tamu wanita tadi.
Beberapa tamu yang lain juga berbisik-bisik mengomentari dua pasang pengantin putra Yudhatama itu. Sebuah lagu cinta romantis mengalun indah mengiringi Afwa dan Afwi menuju pelaminan bersama istri-istri mereka.
"Oke, semakin malam acara semakin asyik ya?, bagaimana kalau kita minta mempelai menyanyikan lagu di malam bahagia ini, setuju?" tanya MC dengan lantang.
"Setuju...!" jawab para tamu.
Afwa dan Afwi saling berpandangan, akhirnya keduanya saling menganguk sebagai tanda bahwa mereka menyetujui permintaan MC dan para tamu. Afwa dan Afwi kemudian berdiri dari pelaminan lalu berjalan menuju tempat tim musik berada. Afwa berbicara pelan pada Afwi tentang lagu yang akan mereka nyanyikan. Afwi menganguk tanda setuju dan mengerti. Afwa lalu memberi tahu tim musik tentang lagu yang akan ia nyanyikan, salah seorang tim musik mengangguk tanda bisa. Sebuah lagu cinta dari Maidany, berjudul Mengukir Cinta di Belahan Jiwa mengalun indah dari suara duet Afwa dan Afwi
...Bila yang tertulis olehNya engkau yang terpilih untukku...
...Telah terbuka hati ini menyambut cintamu...
...Di sini segalanya kan kita mula...
...Mengukir buaian rindu yang tersimpan dulu...
...`Tuk menjadi nyata dalam hidup bersama...
...Selamat datang di separuh nafasku...
...Selamat datang di pertapaan hatiku...
__ADS_1
...Izinkan aku `tuk mencitaimu...
...Menjadi belahan di dalam jiwaku...
...Ya Allah jadikanlah ia pengantin sejati...
...Di dalam hidupkuā¦(izinkan aku)...
...Wahai yang dicinta telah kurela...
...Hadirmu temani relung hatiku...
...Simpanlah jiwaku dalam do'amu...
...Kan kujaga cintamu...
...Wahai yang dicinta telah kurela...
...Hadirmu temani relung hatiku...
...Simpanlah nafasku dalam hiudpmu...
...Kan kujaga setiamu...
...Apapun adanya dirimu...
...Ku `kan coba tuk tetap setia...
...Begitu pula pada diriku...
...Terimalah dengan apa adanya...
Afwa dan Afwi menyanyi dengan penuh pengahayatan plus suara mereka yang ternyata sangat merdu. Dua putra kembar Yudhatama naik ke pelaminan sambil membawa mix.
"Selamat datang di separuh nafasku, hoo...Selamat datang di pertapaan hatiku..."
Setelah menutup lagu dengan lirik terakhir, Afwa dan Afwi, masing-masing mencium kening istri mereka dengan mesra dan penuh cinta. Riuh tepuk tangan dan rasa haru memenuhi ballroom hotel Dewantara group saat itu. Pemandangan yang sungguh so sweet membuat jiwa para jomblo meronta-ronta ingin memiliki takdir cinta yang sama dengan dua pasang mempelai pengantin di pelaminan sana.
Para orang tua dari keempat mempelai juga merasakan rasa haru yang sama, juga keluarga merasakan kebahagiaan untuk pasangan pengantin itu, Yasmin, Aryana dan para oma sampai menitikkan air mata.
"Suara, Abang bagus sekali terima kasih sudah bernyanyi untukku," ucap Nayla sambil mengusap sudut matanya yang basah.
Hal serupa juga terjadi pada Afwa dan Kirana, putri sulung Raka itu juga meneteskan air mata bahagia. Berjuta doa dan harapan ia langitkan semoga pernikahannya berakhir dengan jannah, tak hanya bersatu di dunia tapi juga bersatu di akherat di surganya Allah SWT.
__ADS_1
_______________________________________