
Yudha mengajak Yasmin dan Kirana ke hotel untuk makan siang bersama kemudian mengambil barang-barang Yudha dan Yasmin check out dari hotel. Setelah semua selesai, Yasmin dan Kirana diantar supir ke rumah Dinas sedangkan Yudha langsung ke bandara.
"Ibu atau ayahmu sudah telepon kamu?" tanya Yasmin saat perjalanan menuju rumah dinas.
"Tadi ayah dan Kiara sudah tanya tentang keberangkatan mas Afwa lewat chat." jawab Kirana dengan wajah sendu.
Yasmin yang duduk di jok belakang bersama Kirana langsung merengkuh Kirana ke dalam pelukannya. Yasmin benar-benar sedih melihat keadaan menantunya itu.
"Syukurlah, kalau ayah dan adikmu sudah menghubungimu, soal ibumu tak usah di pikirkan, ada bunda di sini, kamu harus bahagia, Allah tahu kamu anak yang berbakti, percayalah semua akan baik-baik saja," ucap Yasmin memberi kekuatan pada Kirana.
Dalam hati Yasmin berfikir akan membicarakan masalah ini dengan sang suami. Yasmin akan meminta Yudha bicara dengan Raka agar bisa memberikan pengertian pada Dinda. Bagaimanapun Kirana adalah anak kandung Dinda, sebagai seorang ibu Dinda tak boleh bersikap seperti itu, kalau begini ceritanya berarti dulu Dinda tak sepenuhnya ikhlas memberi restu pada Kirana dan Afwa. Yasmin benar-benar tak habis pikir dengan perubahan sikap sahabatnya sekaligus berstatus besannya itu.
Sampai di rumah dinas, Yasmin dan Kirana keluar dari mobil, supir membantu membawakan barang-barang ke dalam rumah.
"Maaf ya Bund, jadi merepotkan bunda," ucap Kirana setelah melepas sepatunya.
"Nggak apa-apa, bunda tidak merasa di repotkan, besok keponakannya bi Imah sudah sampai sini buat menemani kamu," ucap Yasmin.
"Sekali lagi makasih Bund," ucap Kirana yang makin tak enak dengan ibu mertuanya.
Sama-sama, sekarang kamu ganti pakaian lalu istirahat dan jangan lupa vitaminnya di minum!" pinta Yasmin yang dijawab anggukan oleh Kirana.
Setelah Kirana pergi ke kamar, Yasmin mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada suaminya
Yasmin
"Mas, tolong bicara sama Raka agar menasehati Dinda, aku benar-benar tak tega lihat keadaan Kirana, dia sedang hamil muda rawan keguguran, Kiran tak boleh stres."
Tak sangka pesan dari Yasmin langsung dibalas oleh sang suami
Yudha
"Oke, Sayang, nanti Mas akan bicara dengan Raka."
Yasmin
"Makasih, Mas."
Yudha
__ADS_1
"Sama-sama, Sayangku, I Love You."
Yasmin
"I love you too, My husband."
Setelah berkirim pesan Yasmin masuk ke kamar yang dipersiapkan Afwa untuknya, ia membereskan barang-barangnya setelah berganti pakaian rumahan.
Keesokan harinya, sekitar jam sebelas siang, keponakan Imah yang bernama Nani sudah sampai di rumah dinas Afwa dengan diantar oma Dewi, Azka dan bik Imah sendiri.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Kirana yang sedang membereskan ruang tamu.
"Oma!" pekik Kirana kaget bercampur senang.
Kirana langsung menghambur memeluk sang oma, meskipun oma Dewi bukan oma kandungnya tetapi Kirana merasa sangat nyaman saat bersama oma kandung dari sang suami.
"Bagaimana kabar, Oma?" tanya Kirana setelah mengurai pelukannya.
"Kabar Oma Alhamdulillah baik, bagaimana kabar kamu baik kan?" jawab oma Dewi.
"Ya jadi pengawal para nyonya dan nona ini tentunya, memang apa lagi," jawab Azka sok cool.
"Kalau begitu terima kasih ya Azka, nanti mbak mintakan tips sama mas Afwa," ucap Kirana sambil terkikik.
"Nggak usah ah, memang aku ini bill boy apa, lagian mana kuat Kak Afwa kasih tip buat aku," cibir Azka.
"Azka sudah ah, kamu itu ya, ayo masuk!" tegur oma Dewi.
Kemudian mereka di persilahkan masuk ke dalam rumah, oma Dewi memindai rumah dinas sang cucu, ia merasa dejavu melihat kondisi rumah dinas Afwa, hal itu mengingatkannya pada dirinya sewaktu masih muda dulu yang juga pernah menempati rumah dinas militer bersama sang suami.
"Mama sudah datang, maaf tadi Yasmin di belakang," ucap Yasmin kemudian mencium tangan mertuanya lalu memeluk tubuh yang sudah menua itu namun masih terlihat cantik.
"Iya, baru saja datang, eh iya ini Nani keponakan bik Imah yang akan menemani Kirana selama Afwa tugas," ucap oma Dewi.
"Kenalkan saya, Nani, Nyonya," ucap Nani sopan sambil menyalami Yasmin dan Kirana.
" Non Kiran kalau nanti kurang benar kerjaannya mohon dimaklumi ya, tegur saja ndak apa-apa," sela bik Imah.
__ADS_1
Kirana tersenyum mendengar ucapan bik Imah.
"Bibi tak usah khawatir, aku bukan majikan yang galak, Nani di sini hanya bantu-bantu pekerjaan kecil saja biar Kiran ada temannya," ucap Kirana kalem.
Kemudian mereka semua mengobrol ditemani beberapa camilan, Oma Dewi banyak menasehati Kirana dalam menjalankan perannya sebagai istri dan ibu persit.
"Kamu harus sabar dan tabah Kiran, menjadi istri prajurit itu memang tak seindah yang di lihat orang dari luar. Meskipun sekarang gaji dan kesejahteraan para prajurit TNI sudah ditingkatkan dari waktu ke waktu. Apalagi sekarang susah mencari pekerjaan yang bisa mendapat jaminan hari tua, membuat begitu banyak yang ingin mendaftar menjadi bagian dari prajurit TNI selain gaji yang lumayan, pekerjaan menjadi TNI masih menduduki level tinggi di masyarakat kita. Banyak orang tua yang akan banga luar biasa jika anak mereka diterima menjadi prajurit TNI. Jadi syukuri apa yang sudah kamu dapat sekarang karena banyak wanita di luar sana memimpikan bisa menjadi seperti kamu," terang oma Dewi memberi wejangan pada cucu menantunya itu.
"Iya, Oma, InsyaAllah, Kiran akan selau ingat nasehat Oma, mas Afwa juga sering bilang begitu, terkadang orang luar hanya melihat indah pernikahan dengan orang militer, namun mereka tak tahu betapa kami terkadang harus hidup seperti rel coaster, betapa kami istri prajurit harus siap menerima hal yang paling buruk yang menimpa suami kita," ucap Kirana cukup mengerti nasehat sang oma, mengingat ia juga lahir dari keluarga militer.
Yasmin, bik Imah dan Nani, hanya mendengarkan saja saat oma Dewi memberi wejangan pada Kirana. Setelah mengobrol Kirana meminta semua beristirahat sebentar karena sore nanti sang oma, Yasmin dan bik Imah akan pulang ke kota K.
"Mbak Nani nanti kalau ibu dan oma sudah pulang, mbak Nani bisa menempati kamar itu, maaf mbak karena kamarnya cuma ada dua," ucap Kirana pada Nani.
"Tidak apa-apa, Non, saya sudah biasa, tidur dimana saja saya bisa," ucap Nani sopan.
"Baiklah kalau begitu saya tinggal ke kamar dulu ya."
"Iya Non, silahkan!"
Kirana lalu masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sejenak sedangkan bik Imah dan Nani masih mengobrol di ruang tamu. Sedangkan Azka tiduran di karpet sambil menonton televisi yang sedang menayangkan ProLiga.
"Nani, kalau kerja nanti yang benar ya, angan non Kiran seperti nyonya Yasmin, tenang aja non Kiran mah orangnya baik. Anak dan menantu keluarga tuan Yudha selain nggak ada yang burik, mereka punya hati yang baik dan dermawan. Kamu sudah merasakan baiknya nyonya Yasmin kan, meski baru tiga bulan kerja sama beliau."
"Iya, Budhe, baru kali ini aku lihat dan merasakan orang kaya yang baik dan dermawan nggaknkaya majikanku yang dulu, semena-mena sama art, pelit lagi."
"Makane kudu bersyuskur kamu bisa kerja ijut keluarganya tuan Yudha, dan satu lagi kalau pas keluar rumah jika ditanya orang atau tetangga apalagi yang ditanyakan adalah hal pribadi Non Kirana dan den Afwa, kamu jawab saja nggak tahu, jangan gosipin majikan apalagi buka aibnya!" ucap bik Imah yang juga tak kalah dengan oma Dewi yaitu memberi banyak wejangan sama keponakannya.
"Iya Budhe, aku ngerti," ucap Nani kemudian kembali menikmati cemilan enak yang baru ia cicipi seumur hidup.
Selepas ashar oma Dewi, Yasmin, Azka dan bik Imah bersiap pulang, Kirana memberikan buah tangan pada keluarganya yang berupa makanan khas Semarang.
"Bunda pulang dulu ya, baik-baik di sini, kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi bunda, jangan dipendam sendiri, ingat sekarang kamu tak sendirian, ada calon anak kalian yang menumpang hidup dalam dirimu!" pesan Yasmin sebelum pulang.
"Iya, Bunda."
Setelah Yasmin menyalami satu persatu anggota keluarganya dan bik Imah untuk pamitan. Yasmin dan semuanya masuk ke dalam mobil, Kirana dan Nani melambaikan tangan tanda perpisahan, setelah mobil tak terlihat, Kirana dan Nani masuk ke dalam rumah. Kirana meminta Nani memasukkan barang-barangnya ke kamar yang kemarin di tempati mertuanya, kemudian meminta bantuan Nani untuk membereskan rumah setelah kunjungan sang oma dan adik iparnya. Nani dengan cekatan membersihkan bekas makan dan menyapu bagian dalam rumah.
________________________________________
__ADS_1