
Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit Permata, Niko sudah diperbolehkan pulang sedangkan sang supir masih dalam perawatan dan Niko lah yang akan menanggung semua biaya perawatan supirnya sampai sembuh. Saat Niko akan bersiap pulang dari rumah sakit terdengar suara pintu kamar inapnya di buka dari luar.
"Permisi!" ucap sebuah suara dibarengi masuknya sosok tegap yang sangat tampan bersama seorang wanita cantik berhijab.
"Pak Afwi?"
"Anda akan pulang sekarang?"
"Iya, saya hanya perlu kontrol saja, tapi tak harus di rumah sakit ini."
"Syukurlah, oh iya perkenalkan ini istri saya, Nayla," ucap Afwi memperkenalkan Nayla.
Niko hanya tersenyum sambil memperkenalkan diri pada Nayla.
"Saya Niko, Nyonya, rekan bisnis tuan Yudha," ucap Niko.
"Saya Nayla istri Abang Afwi," ucap Nayla sambil menakupkan tangan di depan dada.
"Senang berkenalan dengan Anda Nyonya."
"Saya juga senang berkenalan dengan Tuan Niko, wajah anda mengingatkan saya pada keponakan Abang yang tinggal di Singapura."
Deg
Hati Niko langsung berdesir ketika mendengar kalimat yang barusan di ucapkan oleh Nayla. Bibirnya berusaha untuk mengulas senyum meski hatinya rasanya sesak luar biasa dan Niko sendiri tak tahu kenapa ia bisa merasakan semua perasaan tak nyaman seperti ini.
"Oh ya, Pak Afwi juga mengatakan hal yang sama, kalau saya mirip dengan keponakan anda."
__ADS_1
"Apa anda akan langsung pulang ke negara anda?" tanya Afwi karena ia tahu Niko bukan berkewarganegaraan Indonesia.
"Tidak, saya akan pulang ke apartemen saya yang ada di Jakarta, mungkin setelah tiga hari baru akan pulang ke Turki."
"Semoga anda cepat pulih, maaf kami hanya bisa melakukan ini," ucap Afwi.
"Seharusnya saya yang berterimakasih pada pak Afwi sekeluarga sudah bersedia memperhatikan saya dan maaf saya juga telah banyak merepotkan anda," ucap Niko dengan nada begitu sungkan karena sudah merepotkan keluarga Yudhatama yang notabene hanya rekan bisnis.
"Anda tak perlu sungkan, sesama manusia memang harus saling membantu," ucap Afwi seraya menepuk bahu Niko.
Niko pun tersenyum, hatinya menghangat, baru kali ini ia memiliki rekan bisnis yang begitu baik dan religius, hampir semua istri atau putri rekan bisnisnya tidak memakai hijab bahkan cenderung memakai pakaian minim ataupun menunjukkan lekuk tubuhnya. Baru kali ini ia bertemu rekan bisnis yang semua wanita dalam keluarganya memakai hijab, bahkan dua anak perempuan Fahmi juga memakai hijab saat di perjamuan.
"Semua sudah beres, saya pamit dulu," ucap Niko sambil menenteng sebuah tas.
"Mari kami antar ke depan," ucap Afwi, kemudian mereka bertiga keluar dari ruang rawat inap menuju lobby rumah sakit, dimana mobil jemputan Niko sudah menunggu di halaman depan dekat lobby. Niko melambaikan tangannya ketikan mobil yang ia tumpangi mulai berjalan pelan meninggalkan rumah sakit permata. Afwi dan Nayla membalas lambaian tangan Niko sambil tersenyum. Setelah mobil Niko sudah tak terlihat, Afwi mengajak istrinya menuju parkiran.
"Itulah mengapa Allah tidak meletakkan standar tertinggi kebahagiaan ada pada kekayaan harta, kebahagiaan itu ada di dalam hati yang diisi dengan keimanan dan ketaqwaan pada Allah. Kadang manusia menganggap rezeki itu adalah nominal uang atau benda, padahal kesehatan, anak-anak yang shaleh, istri atau suami yang shaleh itu juga rezeki, bahkan ketika kita bisa menolong orang lain dengan ikhlas itu juga rezeki, duduk bersama dengan orang-orang sholeh, ulama di majelis ilmu itu juga rezeki."
"Uluh-uluh, MasyaAllah, suamiku kata-katanya adem bener, seharusnya dulu Abang lanjut kuliah di Al-Azhar Kairo bukannya malah masuk Akpol," komentar sang istri lalu tersenyum lebar.
"Untuk paham agama nggak harus kuliah sampai Kairo, Dek. Semua itu tergantung niatnya, gregetnya untuk mengaji ilmu agama dan yang paling penting bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, jangan gedhang uwoh pakel."
"Apa itu?" tanya Nayla tak mengerti kalimat terakhir yang diucapkan Afwi.
"Ngomong gampang ngalakoni angel ( bicara mudah tapi melalukannya sulit)."
"Memang ada model orang seperti itu, Bang?"
__ADS_1
"Ya, ada, kalau nggak mana mungkin ada ungkapan seperti itu. Ya misalnya seseorang yang dianggap ilmu agamanya mumpuni dan dia juga termasuk orang yang kaya, berpidato mengajak orang lain saling membantu tolong menolong, rajin bersedekah tapi dia sendiri nggak pernah sedekah, kalau dimintai.donatur cuma kasih uang warna coklat paling banter warna ungu itupun yang maju pak RT, padahal yang hanya pedangan kecil yang penghasilannya nggak seberapa kasihnya warna biru."
Tak terasa sembari mengobrol, Afwi dan Nayla sudah sampai dimana mobil mereka di parkir, Afwi langsung membukakan pintu mobil untuk Nayla kemudian baru dirinya masuk ke mobil. Perlahan mobil keluar dari parkiran rumah sakit.
"Sayang, kamu mau pulang atau ke ruko?" tanya Afwi.
"Ke ruko saja, Bang, Nay mau cek laporan keuangan." jawab Nayla.
"Siap Tuan Putri!"
Afwi kemudian melajukan mobilnya menuju ruko tempat Nayla membuka usaha, sekaligus Ruko mahar dari Afwi dijadikan induk usahanya yang berada di Bandung. Seusai mengantar sang istri, Afwi menuju suatu tempat karena ada janji dengan seseorang.
Di sebuah taman yang ada danau buatan, Afwi menghentikan mobilnya, di sana sudah menunggu seorang pria dengan memakai kaca mata hitam dan masker, pria itu langsung menunduk hormat ketika Afwo datang.
"Mana hasilnya?" tanya Afwi to the point.
Pria tersebut kemudian mengansurkan sebuah amplop putih dengan logo rumah sakit ternama namun bukan rumah sakit Permata. Perlahan Afwi membuka amplop tersebut lalu ia membuka lipatan kertas yang berada di dalamnya. Afwi langsung menghembuskan nafas kasar ketika penglihatannya sampai di hasil akhir laporan tersebut yang tertera angka sembilan puluh sembilan persen.
Ia tak terlalu kaget jika angka kecocokan DNA sang keponakan dengan Niko mencapai sembilan puluh sembilan persen.
"Bayaranmu akan aku transfer dan terima kasih atas bantuannya," ucap Afwi pada pria suruhannya tersebut.
"Terima kasih kembali, senang bisa membantu anda," ucap pria tersebut lalu menunduk memberi hormat pada Afwi kemudian berlalu dari hadapan Afwi.
Afwi melipat kembali kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam amplop, sekarang terjawab sudah rasa penasarannya selama ini, namun ia belum berniat memberi tahukan ini pada sang adik atau ayahnya bahkan istrinya sendiri. Sementara waktu Afwi akan menyimpan hasil tes DNA Alesya dan Niko. Banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh Afwi. Banyak hati yang tersakiti dengan kenyataan ini terutama sang adik yang mempunyai riwayat kelainan jantung sejak masih bayi. Setelah sejenak berfikir di bangku taman, akhirnya Afwi memilih untuk merahasiakan hasil DNA Alesya dah Niko pada siapapun termasuk Nayla, biarlah takdir yang akan membawa Niko dan Alesya bertemu sebagai ayah dan anak, bukan karena tes DNA yang ia lakukan diam-diam.
Putra kedua Yudhatama itu meyakini bahwa sekalipun Niko.mengetahui bahwa Alesya adalah putri kandungnya, ia tak akan bisa melayangkan tuntutan apapun karena tak ada pernikahan yang terjadi antara Ibu kandung Alesya dan Niko. Apalagi yang mengadopsi Alesya adalah salah satu pemilik kerajaan bisnis baik di tanah air maupun di Asia.
__ADS_1
________________________________________