
Setelah menyebutkan namanya, Pamela menerima kantong belanjaan yang berisi dua kotak susu hamil dari tangan Aryana.
"Terima kasih, tapi lain kali kalian tidak perlu repot-repot karena saya tidak kenal dengan kalian!" pinta Pamela datar, dari sorot matanya Aryana dapat melihat seperti banyak luka di hidup wanita hamil di depannya ini. Aryana yakin sikap cuek dan sok tegar Pamela hanya untuk menutupi rasa sakitnya.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi, semoga anda dan bayi anda sehat," ucap Fahmi kemudian langsung membawa Aryana masuk ke dalam mobil. Fahmi tak ingin banyak bicara dengan orang yang baru saja dia kenal, kalau sampai terjadi sesuatu pada Aryana karena keteledorannya maka dia akan jadi boneka sasaran tembak ayah mertuanya.
"Honey, kenapa main pergi saja sih?, kan kita belum tanya dia tinggal dimana dan dia mau pergi kemana, kasihan dia lagi hamil seperti aku lho," ucap Aryana sedikit cemberut.
"Sayang..., kita tidak tahu siapa wanita itu, aku tidak mau mengambil resiko jika sampai terjadi sesuatu padamu, aku bisa gila," ucap Fahmi sambil memegang kemudi.
Sampai di rumah, Fahmi memanggil bibi Mey untuk membawa kan belanjaan Aryana, sedangkan Fahmi sendiri langsung membawa istrinya ke kamar untuk beristirahat.
"Sayang, untuk acara tujuh bulanan kamu mau acaranya bagaimana?" tanya Fahmi saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Untuk acara tujuh bulanan, biar di urus sama bunda saja di Indonesia, saudara dan sahabat banyak yang di sana."
"Berarti kita harus pulang ke tanah air?"
"Kita tidak perlu pulang, tapi bunda yang urus apa saja yang akan di kasihkan ke saudara dan sahabat yang ada di sana, nanti mami Miranda juga bisa membantu, kalau beliau tidak repot. Biasanya acara tujuh bulanan ala keluargaku simpel, hanya pengajian dan kasih makanan dan souvernir."
"Oh begitu nanti aku akan bicara sama mami untuk membantu bunda mengurus acara tujuh bulanan, jadi ini acara tujuh bulanan secara virtual begitu?"
"Iya, tujuh bulanan secara virtual."
"Uluh-uluh pintarnya istriku," ucap Fahmi sambil mencubit gemas.
Aryana langsung menghubungi sang bunda, kalau saja suaminya tak menanyakan acara tujuh bulanan, ia pasti sudah lupa. Yasmin sangat bahagia dengan rencana tujuh bulanan Aryana yang akan di laksanakan secara virtual Singapura - Indonesia. Mereka sepakat tujuh bulanan Aryana akan di adakan satu minggu lagi, acaranya di buat simpel hanya pengajian dan doa bersama agar janin dan sang ibu semua sehat selamat saat proses persalinan. Jangan lupakan jamuan makan dan souvernir yang di bagikan pasti akan wow, mengingat Aryana dan Fahmi yang terlahir dari keluarga yang memiliki kerajaan bisnis.
Seminggu berlalu, hari ini tepat diadakannya tujuh bulanan secara virtual, di negara Singa Fahmi dan Aryana sudah memakai busana muslim dengan warna putih, Aryana tampak cantik dengan baju gamis dan jilbabnya.
"Kau seperti bidadari surga, Sayang, puji Fahmi saat melihat sang istri memakai baju gamis warna putih lengkap dengan jilbabnya.
__ADS_1
"Kau juga sangat tampan, Honey dengan baju koko warna putih itu," ucap Aryana yang balik memuji suaminya.
"Kau bisa saja, Yang, oh ya jam berapa acaranya ?"
"Jam setengah delapan, Honey."
"Ini sudah hampir kalau begitu ayo kita segera bersiap, aku panggil bibi Mey dan yang lain dulu untuk juga ikut menyaksikan acara tujuh bulanan secara virtual!" ucap Fahmi kemudian memanggil bibi Mey, para art dan supir untuk menuju ruang tengah. Team IT dari Pratama group sudah stand by sejak pukul sore tadi guna membantu acara tujuh bulanan secara virtual.
Tepat pukul setengah delapan acara di mulai perangkat virtual telah tersambung, Fahmi dan Aryana juga penghuni rumah lainnya bisa menyaksikan rangkaian acara tujuh bulanan yabg di laksanakan di tanah air.
Mata Aryana berkaca-kaca melihat orang tuanya, mertuanya kakak iparnya dan semua anggota keluarga Dewantara, Mertuanya juga keluarga Danuarta terlihat tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya dan Fahmi.
"Jangan menangis Sayang, ini moment bahagia kita, lihatlah semua keluarga menyapa kita," ucap Fahmi sambil merangkul pundak istrinya dan mencium pucuk kepalanya. Sontak suasana terdengar riuh di tanah air karena adegan mesra itu terlihat di layar besar yang terhubung secara virtual. Apalagi Aryana sangat cantik dan Fahmi terlihat sangat tampan.
Acara segera di lanjut pengajian dan ditutup dengan doa bersama yang di pimpin seorang ustad dari tanah air secara virtual. Sekitar pukul sepuluh malam acara tujuh bulanan secara virtual telah selesai.
"Aku sayang ayah, bunda, papi, mami dan kalian semua, aku pasti akan sangat merindukan kalian," ucap Aryana dengan sedikit terisak.
"Kau bahagia, Sayang?" tanya Fahmi pada Aryana yang masih terisak di pelukannya.
"Iya aku bahagia, terima kasih, Honey sudah melakukan semua ini untukku," ucap Aryana dengan suara parau karena habis menangis.
"Sama-sama, Sayang, sudah kewajibanku membuatmu dan anak-anak kita nanti bahagia tanpa kekurangan suatu apapun," ucap Fahmi lalu mencium kening Aryana.
Pemandangan itu tak luput dari bibi Mey dan art lainnya juga tim IT Pratama group yang ada masih di sana. Para art sudah biasa melihat kebucinan tuan mereka pada sang istri yang masih sangat muda, namun tidak dengan tim IT Pratama group yang baru kali ini melihat secara live kebucinan ceo mereka dan keluarga besar Pratama dan Dewantara yang begitu hangat. Lima orang tim IT itu merasa beruntung bisa menjadi orang yang bisa menyaksikan acara khusus ceo mereka.
"Baru tahu aku ternyata tuan Fahmi so sweet banget sama istrinya," celutuk salah seorang pegawai IT yang bernama Denis sambil membereskan perlengkapan IT.
"Tentu saja so sweet selisih usia mereka katanya sih sekitar tujuh belas tahun, gimana nggak enak tuan Fahmi yang sudah berumur menikah dengan anak yang baru lulus SMA, cantik, baik, tajir lagi, laki mana yang bisa nolak pesona wanita sebaik nyonya Aryana," sahut pegawai IT yang lain.
Kelima pegawai IT membereskan perlengkapan IT mereka yang tadi di gunakan untuk acara virtual sang big bos, sambil bergosip tentang kemesraan ceo mereka. Pukul setengah sebelas malam kelima pegawai IT Pratama group berpamitan untuk pulang. Tak lupa Fahmi memberi bonus lebih pada kelima pegawai IT yang ia mintai tolong untuk acara virtual.
__ADS_1
Sedangkan di tanah air, semua keluarga masih berkumpul mereka saling berbincang dengan hangat terutama keluarga Fahmi yang sedang berbincang bincang dengan Yudha dan Yasmin.
"Terima kasih tuan Pratama dan nyonya Miranda bersedia hadir di acara tujuh bulanan putri kami meski dilaksanakan secara virtual," ucap ayah Yudha.
"Tuan Yudha jangan bicara begitu Aryana putri kami juga, kami senang bahwa anda menyelengarakan acara seperti ini. Keluarga anda benar-benar masih memegang teguh tradisi leluhur meskipun dengan konsep yang berbeda," ucap tuan Pratama.
"Ya begitulah Aryana dan keluarga kami, meskipun di negeri orang tapi kami selalu menanamkan jiwa cinta tanah air dan jangan pernah melupakan sejarah juga kearifan lokal tempat ia di lahirkan," ucap Yudha.
"Aryana benar-benar anak seorang prajurit, sepertinya Aryana lebih cocok punya ayah yang berprofesi sebagai tentara dari pada seorang ceo," canda tuan Pratama sambil terkekeh.
Tuan Pratama mengatakan semua itu bukan tanpa alasan, ia lebih melihat menantunya Aryana sosok yang baik, rendah hati dan sederhana. Mungkin kehidupannya sebagai anak seorang prajurit membuat dia menjadi pribadi yang baik dan sederhana.
"Anda terlalu berlebihan, tuan Pratama, putri kami masih punya banyak kekurangan, tapi dia selalu berusaha memberikan yang terbaik, perasaannya cenderung sensitif, apalagi dengan kelainan jantung yang ia derita sejak lahir membuat saya, suami dan kakak-kakaknya begitu over protektif pada Aryana. Bahkan Afwi rela tidak bersekolah di SMA Taruna Nusantara impiannya demi bisa satu sekolah dengan Aryana agar bisa menjaganya," ujar Yasmin dengan mata berkaca-kaca membuat nyonya Miranda dan tuan Pratama terharu, betapa keluarga sang besan begitu saling menyayangi dan menjaga satu dengan yang lain.
"Kami juga akan ikut menjaga Aryana, dan maafkan jika dulu saya pernah berbuat hal yang menyakiti Aryana, sungguh saya sangat menyesal dengan hal itu," ucap mami Miranda.
"Nyonya Miranda, semua sudah berlalu, kini anak-anak kita sedang berbahagia menantikan ketiga calon anak kembarnya. Kita doakan saja mereka akan selalu sehat dan baik-baik saja, terutama kita sebagai seorang ibu, yang doanya akan selalu di ijabah oleh Allah," ucap Yasmin sambil mengelus lengan nyonya Miranda sebagai bentuk dukungan agar mereka bisa bersama-sama membantu anak-anak mereka.
Hampir pukul dua belas malam, mereka berbincang hingga akhirnya tuan Pratama dan keluarganya berpamitan untuk pulang ke hotel karena besok mereka harus kembali ke Jakarta.
Di saat Fahmi dan Aryana sedang berbahagia telah sukses menyelenggarakan acara tujuh bulanan secara virtual dari dua negara, di sebuah apartemen sederhana seorang ibu hamil sedang menyeduh susu hamil untuk ia minum. Wanita itu meminum susu hamil sembari memperhatikan dua kotak susu yang ada di hadapannya.
"Siapa sebenarnya pasangan suami istri itu, kenapa mereka begitu baik padaku?, melihat penampilan nyonya itu ia bisa di pastikan ia seorang muslim. Wanita muda berhijab itu terlihat baik dan ramah tapi suaminya terlihat sangat dingin juga begitu waspada. Kelihatan ia sangat mencintai istrinya. Beruntungnya wanita itu, tidak seperti diriku yang tak pernah di inginkan oleh siapapun, termasuk bayi yang aku kandung ini, tak pernah di inginkan oleh ayahnya sendiri," gumam wanita hamil itu sambil meratapi nasibnya yang begitu miris.
_______________________________________
Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung...
__ADS_1